
Rifki yang tengah memandangi kearah laptopnya itu pun mendadak merasa gelisah, ia merasa sangat tidak tenang saat ini. Ia pun menoleh kearah kalender yang ada diatas mejanya itu, sudah waktunya bagi Nadhira untuk melahirkan jika dirinya masih hidup.
"Mungkinkah, dia akan melahirkan?"
Setetes air mata meluncur dipipinya, hal itu langsung membuat Rifki segera menghapus air matanya yang menetes dipipinya itu. Perasaannya terasa tidak tenang saat ini, ia sangat khawatir terjadi sesuatu dengan Nadhira ataupun anak yang ada didalam kandungan.
Meskipun semua orang telah mengatakan bahwa Nadhira sudah tiada, akan tetapi hatinya selalu mengatakan bahwa dia masih ada didunia ini. Rifki merasa bahwa mungkin anaknya akan lahir saat ini, Rifki pun bangkit dari duduknya dan berdiri didepan cendela kaca yang ada dikamarnya itu.
Rifki menatap kearah bulan purnama, bulan itu terlihat sangat indah dari kamarnya. Ada perasaan gelisah dan bahagia bercampur menjadi satu ketika dirinya melihat indahnya bulan purnama saat ini, ia pun semakin meneteskan air matanya.
"Dhira, apakah anak kita akan lahir saat ini? Kamu dimana sayang? Beri aku petunjuk untuk menemukan dirimu, beri aku jalan untuk menemuimu."
Air matanya semakin deras mengalir ketika mengatakan hal itu, Rifki mampu merasakan sesuatu yang rumit saat ini. Seakan akan ada ikatan batin yang sangat kuat diantara dirinya dan Nadhira, ikatan batin yang tidak dapat dipisahkan oleh apapun itu.
"Ya Allah, lancarkanlah kelahiran anak hamba saat ini. Lindungilah dia, karena Engkau sebaik baiknya pelindung baginya. Hamba serahkan apapun kepada Engkau Ya Allah, jangan biarkan dia kenapa kenapa."
Rifki pun bergegas menuju kekamar mandi untuk mengambil air wudhu, dirinya hanya bisa memasrahkan segalanya kepada sang pencipta, karana dirinya kini tengah berada jauh dari Nadhira dan sangat jauh hingga tidak bisa ditemui.
Setelah wudhu dirinya langsung bergegas untuk memakai sarung dan kopyahnya, dirinya pun lalu melaksanakan sholat karena pikirannya yang tidak tenang, dan meminta pertolongan kepada sang pencipta alam semesta.
*****
Didalam mobil ambulance desa, Nadhira tengah memegangi tangan Ibunya dengan tubuh yang bergetar lirih akibat rasa sakit yang dirinya rasakan saat ini. Keringat seakn akan tidak berhenti untuk terus membasahi tubuhnya itu, begitupun dengan air mata yang terus mengalir disela sela pelupuk matanya yang indah itu.
"Bu sakit," Keluh Nadhira sambil memegangi erat tangan Bu Siti.
"Bertahanlah kita akan segera sampai,"
Nadhira kini tengah berjuang untuk melahirkan anak yang ada didalam kandungnya itu, dengan linangan air mata beserta keringat dirinya mengejan dengan sepenuh tenaga yang dirinya miliki itu. Setibanya disebuah puskesmas terdekat, Nadhira langsung ditangani oleh para bidan.
"Ayo Bu, dikit lagi!"
"Aaa...."
Didalam ruangan itu, Nadhira ditemani oleh Bu Siti, kedua tangannya mencengkram pegangan tangan milik Bu Siti. Dengan sekuat tenaga dirinya berusaha untuk melahirkan anaknya, keringat pun membanjiri tubuhnya itu.
Rasa sakit yang teramat sangat kini dirinya rasakan, akan tetapi dia tidak mau menyerah begitu saja. Nadhira terus berusaha untuk bisa melahirkan anaknya itu, meskipun tanpa ditemani oleh Rifki disampingnya saat ini.
"Terus Bu, ambil nafas, tahan, dan keluarkan."
"Aaaa...."
Bu Siti pun terus membisikkan sholawat ditelinga Nadhira untuk menguatkan wanita itu, tak henti hentinya dirinya terus berdoa semoga Nadhira bisa melahirkan anaknya dengan selamat. Ia pun mengusap kepala Nadhira dengan perlahan lahan, usapan lembut tersebut rasanya seperti usapan Rifki yang selalu diberikan kepadanya.
Nadhira merasakana adanya kehadiran Rifki ditempat itu, meskipun raganya tidak berada disana akan tetapi Nadhira mampu merasakan adanya jiwanya ditempat itu. Hal itu, memberikannya sebuah kekuatan untuk bisa melahirkan anaknya.
"Terus Bu....."
"RIFKIIIIIII......" Teriak Nadhira.
"Oekkk... Oekkk...."
Nadhira merasa bahwa telah keluar, mendengar tangisan dari seorang bayi membuatnya merasa lega. Ia pun memandang kearah Bu Siti dengan linangan air mata, sementara Bu Siti tengah tersenyum kearahnya dengan bahagianya.
Bidan itu langsung meletakkan bayi tersebut diatas dada Nadhira tanpa membersihkannya dulu, tujuannya untuk mengeratkan ikatan batin antara Ibu dan anaknya. Nadhira dengan lemasnya itu pun memandangi kearah bayinya yang baru saja lahir, bayi imut yang masih memejamkan kedua matanya.
Tepat di jam 10 malam, anak yang ada didalam kandungan Nadhira itu lahir kedunia ini. Mitosnya jika anak itu lahir dimalam hari maka mereka akan jadi anak pemberani, dan jika anak itu lahir disiang hari maka anak tersebut akan menjadi anak penakut.
"Selamat ya Bu, anaknya cewek," Ucap Bidan.
"Terima kasih, Bu." Ucap Bu Siti dengan bahagianya.
"Rifki, anakmu sudah lahir kedunia ini, aku berhasil untuk melahirkannya sayang. Anak kita perempuan, dia cantik sekali," Ucap Nadhira dengan linangan air mata kebahagiaannya.
"Selamat ya, Nak. Dia cantik sepertimu," Ucap Bu Siti yang merasa sangat senang dan bahagianya.
"Alhamdulillah Bu, anak ini akan aku beri nama Kinara Putri Abayana,"
"Kinara, nama yang bagus."
__ADS_1
Rasa sakitnya melahirkan pun dilupakan oleh Nadhira setelah mendengar tangisan dari anaknya itu. Bu Siti terus mengusap kepalanya pelan, dirinya merasa senang ketika mengetahui bahwa anak angkatnya itu telah melahirkan dengan selamat.
Perlahan lahan kedua mata Nadhira pun terpejam, Nadhira pun tidak sadarkan diri setelahnya. Hal itu langsung membuat Bu Siti panik karena Nadhira sama sekali tidak merespon ucapan dan panggilannya itu, Bidan yang menangani kelahiran Nadhira itu pun langsung menyentuh tangan Nadhira untuk merasakan denyutan nadi miliknya.
*****
Tasbih kayu yang ada ditangan Rifki pun terlepas dari pegangan tangannya itu, didalam batinnya dirinya merasakan akan sesuatu yang terjadi dengan Nadhira. Air mata yang ada dipelupuk matanya itu pun mengalir menetes ke pipinya, dan langsung diusap olehnya itu.
"Ada apa dengan Dhira? Aku harap kau baik baik saja sayang. Aku merasa bahwa kau tengah memanggil namaku saat ini, kamu dimana sayang?"
Suara isak tangis lirih pun terdengar dari bibir Rifki yang bergetar saat ini, dirinya benar benar merasa khawatir saat ini. Rifki sama sekali tidak memahami perasaannya sendiri saat ini, entah itu bahagia ataupun bersedih, keduanya seakan akan tengah bercampur menjadi satu.
Tiba tiba angin pun bertiup kencang hingga membuat gorden yang ada didalam kamar tersebut berhembus karena tertiup angin malam itu, Rifki pun segera bangkit dari sajadahnya untuk menutup pintu cendela kaca yang ada didalam kamarnya itu.
"Dhira, aku sangat merindukanmu sayang. Kamu dimana? Cepatlah kembali, dan datang untuk menemuiku disini. Aku akan selalu menunggumu sayang, tidak akan ada yang bisa menggantikan posisimu didalam hatiku,"
Rifki pun memandang kearah rembulan yang bersinar terang itu, tatapan penuh kerinduan pun terpancar dari wajahnya. Dia sangat merindukan kehadiran dari Nadhira dalam hidupnya, satu satunya wanita yang mampu membuat semangatnya kembali.
Kedua matanya pun terus berair, kesepian yang sangat mendalam kini tengah ia rasakan. Hidup tanpa Nadhira disisinya sama sekali tidak mampu ia bayangkan, apalagi melakukannya seperti saat ini. Meskipun dirinya tidak benar benar kesepian karena masih ada orang tuanya, Adiknya, bahkan anggota Gengcobra. Akan tetapi, baginya hari harinya penuh dengan kesepian.
Begitu banyak luka yang kini tengah dirinya rasakan itu, dia benar benar menginginkan kehadiran Nadhira kembali ke dalam hidupnya. Dirinya berharap bahwa suatu saat nanti dia dapat bertemu kembali dengan sosok Nadhira, dan mampu untuk bersama sama lagi seperti sebelumnya untuk selamanya.
"Dhira, kembalilah bersamaku. Aku sangat membutuhkanmu disampingku,"
*****
Bayi kecil yang masih memejamkan kedua matanya itu pun tengah tertidur dengan nyenyaknya dengan di bedong, hidungnya sangat mirip dengan Rifki begitupun dengan bibirnya yang tipis dan cantik.
Bayi tersebut sudah dibersihkan, dan sudah terlihat cantik saat ini. Sementara disampingnya ini seorang wanita tengah terbaring tidak sadarkan diri, karena kehilangan banyak darah sehingga dirinya memerlukan tambahan darah dengan dipasangkan sebuah infus yang berisikan darah.
Tak beberapa lama kemudian, bayi mungil itu pun mengeliat karena haus, karena tidak menemukan keberadaan sumber air untuknya minum akhirnya bayi itu tengah menangis saat ini. Mendengar tangisan dari seorang bayi, langsung membuat Bu Siti menggendong bayi itu untuk menenangkannya.
Oekk... Oekkk... Oekkk....
Tangisan tersebut seakan akan menganggu Nadhira yang tengah memejamkan kedua matanya itu, dia pun mengernyitkan dahinya berusaha untuk menyadarkan dirinya. Perlahan lahan dirinya mulai membuka kedua matanya, melihat itu langsung membuat Bu Siti merasa senang.
"Alhamdulillah akhinya kamu sadar, Nak. Beberapa jam kamu tidak sadarkan diri," Ucap Bu Siti dengan bahagianya ketika melihat Nadhira sudah membuka kedua matanya.
"Sepertinya dia haus, Nak."
"Siniin Bu, biar aku beri asi untuknya. Dia pasti kehausan,"
"Apa kamu masih kuat, Nak?"
"Sudah kewajibanku jadi seorang Ibu untuk anakku, Bu. Aku ngak papa kok,"
"Baiklah,"
Bu Siti langsung meletakkan bayi tersebut didekat Nadhira untuk mendapatkan asinya, Nadhira pun memberikan asi untuk pertama kalinya kepada anaknya. Dirinya pun tersenyum ketika melihat anaknya yang sudah berhenti menangis itu.
"Minum yang banyak sayang, biar kamu cepat besar," Ucap Nadhira.
Siska yang baru pulang bekerja itu pun langsung menghampiri mereka di puskesmas terdekat, dia merasa senang karena akhinya Kakak angkatnya pun sadarkan diri disiang hari itu. Ia juga merasa bahagia, ketika mengetahui bahwa keponakannya sudah lahir kedunia saat ini.
"Assalamualaikum," Ucap Siska yang baru masuk kedalam ruangan itu.
"Waalaikumussalam," Jawab Nadhira dan Bu Siti bersamaan.
Siska pun langsung berdiri disamping bangkar dimana Nadhira tengah terbaring sambil memberi asi kepada anaknya, dirinya pun tersenyum dengan cerahnya ketika melihat bayi mungil tersebut. Tak henti hentinya untuk dia terus memandangi wajah bayi yang imut itu, tidak ada kata kata yang bisa untuk mengungkapkan perasaan bahagianya saat ini.
"Eh Adek lagi minum ya, imut sekali sih," Ucap Siska sambil menyentuh pelan pipi bayi tersebut.
"Kamu akan direpotkan dengan dia nantinya," Ucap Nadhira sambil tersenyum kepada Siska.
"Bahkan bukan hanya nanti Kak, sekarang juga ngak papa kok, Siska siap direpotkan oleh keponakanku ini. Oh iya Kak, dia cewek apa cowok?" Tanya Siska tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah bayi itu.
"Cewek, Sis."
"Beneran? Wah dirumah bakalan penuh dengan boneka nih nantinya, asik punya Adek cewek."
__ADS_1
Nadhira pun tersenyum bahagia mendengar ucapan Siska. Siska yang memakai cadar itu pun hanya terlihat kedua matanya yang menyipit, yang artinya dirinya juga ikut tersenyum saat ini. Karena terganggu dengan kehadiran Siska membuat bayi tersebut berhenti untuk minum asinya.
"Kak boleh Siska gendong?" Tanya Siska.
"Emang kamu bisa, Nak?" Tanya Bu Siti kepada anaknya itu.
"Ngak bisa sih, Bu. Tulangnya kan masih rapuh, tapi pengen gendong saja,"
"Hati hati kalo menggendongnya," Ucap Nadhira.
"Iya Kak,"
Bu Siti lalu membantu Siska untuk menggendong bayi Nadhira itu, dirinya pun menimang pelan bayi yang ada didalam gendongannya saat ini. Nampak bayi itu kembali tertidur dengan nyenyaknya, didalam gendongan Siska.
"Kakak sudah memilihkan nama untuknya?" Tanya Siska dengan penasarannya.
"Sudah,"
"Siapa namanya Kak?"
"Kinara Putri Abriyanta,"
"Lalu panggilannya Putri? Atau Kinar?"
"Panggilannya Kinara,"
"Kalo begitu aku panggil Nara saja deh."
Setelah Nadhira sadar, akhinya dirinya diperbolehkan untuk langsung pulang oleh Dokter. Siska pun langsung menuju ke administrasi untuk membayar biaya persalinannya itu, sebenarnya Nadhira merasa tidak enak karena dibiayai oleh orang lain, akan tetapi Siska terus memaksanya karena dirinya sudah menyiapkan biasaya tersebut sudah lama dan semuanya sudah dipersiapkan olehnya.
"Sis, apakah disekitar sini ada atm?" Tanya Nadhira.
"Ada Kak, mau ngapain?"
"Sebentar Kakak masih punya sedikit uang direkening yang diberikan oleh suami Kakak sebelum Kakak jatuh kejurang waktu itu, dan Kakak masih membawanya sampai sekarang,"
"Kakak simpan saja uang Kakak untuk masa depan Kinara nantinya, aku masih punya uang kok Kak. Uang Kakak, kakak simpan saja buat Kinara nantinya,"
"Itu lebih dari cukup kok, setelah Kinara sudah besar nanti, Kakak akan cari pekerjaan untuk menyekolahkan dirinya sampai besar. Kakak merasa tidak enak karena selama ini telah menyusahkan kalian dengan hadirnya Kakak,"
"Kakak sama sekali tidak menyusahkan kami kok, justru aku malah senang adanya Kakak disini, aku jadi ada temen buat ngobrol dan bercanda. Selama ini aku merasa kesepian Kak, anak anak desa selalu menjauhiku karena cadar yang aku gunakan," Keluh Siska mengingat kejadian waktu dirinya dijauhi oleh yang lainnya.
"Lalu kenapa kamu bisa terus Istiqomah memakai cadar?" Tanya Nadhira penasaran.
"Awalnya aku ingin melepas cadarku Kak, tapi kata ustadzahku disekolah, katanya lebih baik panas didunia daripada harus panas diakhirat nanti, dan wanita adalah fitnah terbesar bagi kaum lelaki. Lagian juga lebih nyaman pakai cadar daripada ngak pake sekarang, soalnya aku juga ngerasa aman dari pandangan para lelaki,"
"Kamu benar, Sis. Tapi Kakak juga belum bisa Istiqomah seperti dirimu, Kakak akan berusaha untuk terus Istiqomah,"
"Insya Allah bisa kok Kak, yang terpenting ada niatan dadi hati. Iman seseorang bisa dikuatkan dengan hati, jika hati sudah bertekad maka pikiran akan selalu mendukung."
"Iya Sis, jangan lupa ke ATM ya?"
"Ngak perlu Kak, mending uang Kakak buat masa depan Kinara saja nanti,"
"Ini juga untuk Kinara, Sis. Untuk kelahiran Kinara, Kakak ada lebih kok, selama ini uang dari suami Kakak itu tidak pernah Kakak pakai. Semua kebutuhan dia yang beli, Kakak tidak pernah mengeluarkan uang itu,"
"Kakak serius?"
"Iya, antarkan kakak ke ATM dulu sebelum pulang kerumah,"
"Baiklah Kak, jika Kakak terus memaksa."
*****
Cengkling!
Suara ponsel milik Rifki pun berbunyi, dirinya langsung melihat kearah layar ponsel itu. Terlihat sebuah pesan masuk yang memberitahukan bahwa ada seseorang yang telah menarik uang dari rekening miliknya itu, siapa sangka bahwa rekening yang dipegang oleh Nadhira itu terhubung langsung dengan ponsel milik Rifki.
"Penarikan 20 juta? Ini kan nomor rekening milik Nadhira, apa ada seseorang yang menemukan kartu rekening itu" Ucap Rifki dengan serius untuk membaca pesan penarikan itu.
__ADS_1
Disana juga tertera sebuah alamat dimana pemilik kartu itu melakukan penarikan. Rifki merasa terkejut karena sekian lama tidak ada aktivitas direkening tersebut akan tetapi kali ini tiba tiba adanya seseorang yang tengah menarik uang tunai dari rekening itu.