Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Gabungnya dua perusahaan besar


__ADS_3

Waktu kini menunjukkan waktu selesai sholat isya', Rifki memakai kopyah dan juga sarung untuk menyambut kedatangan para warga yang akan melakukan tahlilan dirumahnya itu, sementara Bi Ira dan yang lainnya tengah sibuk untuk menyiapkan jamuan dirumah besar itu.


Para warga mulai berdatangan dan acara tahlilan segera dilakukan, dan anggota Gengcobra tidak mau ketinggalan untuk itu sehingga mereka juga ikut serta kedalam tahlilan untuk mengirim doa kepada Sarah.


Rifki menatap sekilas kearah Nadhira yang berada cukup jauh darinya, ia merasa sangat terpana melihat kecantikan Nadhira yang kini tengah menakai hijab dan juga jubah yang lebar.


"Dia cantik kalo pakai jilbab seperti itu" Guman Rifki.


"Maka buatlah dia berhijab Rif" Sahut Bayu yang mendengar gumanan dari Rifki.


"Kau tidak perlu khawatir, perlahan lahan aku akan berusaha untuk merubahnya menjadi lebih baik dan akan selalu membimbingnya"


"Nah gitu dong, baru suami yang baik"


Rifki pun kembali memfokuskan pandangannya menuju ke para tamu yang datang, banyak diantara mereka kagum dengan sosok Rifki yang terlihat begitu tampan tersebut hingga mereka merasa iri dengan ketampanan milik Rifki.


"Mas ini suaminya Mbak Nadhira ya? Kok ngak pernah kelihatan" Tanya seorang lelaki yang menjadi tetangga Nadhira.


"Iya Pak, saya suaminya dan baru menikah dirumah sakit" Jawab Rifki.


"Mbak Nadhira beruntung ya mempunyai suami yang tampan seperi Mas, udah tampan baik lagi" Pujinya.


"Bapak bisa saja, justru saya yang beruntung memiliki seorang istri seperti Nadhira, mandiri dan tegas"


"Bener banget Mas, Mbak Nadhira itu baik banget, suka menolong sesama bahkan tidak takut kalo harus bertarung dengan siapapun"


"Bertarung? Apa dia pernah bertarung dihadapan warga Pak?"


"Bukan pernah saja Mas, dia bahkan sering menyelamatkan warga sekitar dari orang orang jahat seperti maling, pencopet, dan para penjahat lainnya"


"Terima kasih informasinya Pak"


" Sama sama Mas, semoga hubungan kalian sakinah mawadah warahmah ya"


"Aamiin, makasih doanya Pak, mari silahkan masuk" Rifki mempersilahkan mereka masuk.


Acara tahlilan tersebut pun dimulai, seluruhnya kini tengah memanjatkan doa doa yang dipimpin oleh seorang Pak kyai yang ada di perumahan dekat rumah Nadhira, melihat itu membuat Nadhira seketika meneteskan air matanya karena dirinya teingat kembali dengan sosok Sarah.


Meskipun saat ini Rifki berada disisinya akan tetapi rasa sakit kehilangan masih tercipta dipelupuk hatinya itu, ia merasa sedikit sesak karenaya.


"Ada apa? Kenapa menangis sayang?" Tanya Rifki yang sudah disebelahnya dan para warga yang mengikuti tahlilan sudah pulang.


Nadhira sama sekali tidak menyadari bahwa acara tahlilan itu telah selesai dilaksanakan, Rifki menghapus air mata tersebut dengan pelan karena dia tidak tau apa yang menyebabkan Nadhira menangis seperti itu.


"Aku rindu Oma Rif, aku ingin bertemu dengan Oma" Jawab Nadhira dengan sesenggukan.


"Sudah jangan menangis lagi, sekarang ada aku disini untukmu Dhira"


Nadhira menganggukkan kepalanya kepada Rifki karena sekarang dirinya sudah resmi untuk bersama sama selamanya dengan Rifki, Rifki adalah suaminya dan Rifki juga adalah miliknya seutuhnya.


"Kamu cantik Dhira kalo pake jilbab seperti ini, bolehkah aku meminta sesuatu?"


"Apa? Katakan saja Rif"


"Kalau keluar rumah, tolong pake jilbabnya, tapi kalo didalam rumah atau kamar lepaskan jilbabnya, aku ngak mau rambut indah istriku dilihatin banyak orang, nanti aku cemburu"


"Aku belom bisa Istiqomah untuk memakai jilbab Rif"


"Ngak masalah, perlahan lahan saja"


"Iya Rif, aku usahain ya"


"Ya sudah ayo kekamar"


Rifki mengajak Nadhira untuk kembali masuk kedalam kamarnya karena acara tahlilan sudah selesai dilaksanakan, kini para pekerja yang ada dirumah Nadhira terlihat sangat sibuk untuk membereskan tempat tersebut setelah acara.


Nadhira dan Rifki berjalan menuju kelantai atas tempat dimana kamar mereka berada, sesampainya dikamar tersebut Nadhira begitu terkejut ketika Rifki tiba tiba membaringkan dirinya diatas ranjangnya.


"Kita lanjutkan yang tadi ya sayang" Bisik Rifki.


"Tunggu dulu, aku mau ganti baju dulu Rif, dan melepaskan jilbabnya"


"Cepat, aku tunggu"


"Iya iya sabar"


Nadhira segera bangkit dari tidurnya untuk menuju ke lemari yang berada didalam kamarnya tersebut, ia pun melepas jilbabnya itu dan langsung mengambil sepasang pakaian didalam sebuah kotak yang berada dilemarinya itu.


Nadhira langsung menuju kekamar mandi untuk mengganti pakaiannya, setelah sekian lama menunggu akhirnya Nadhira keluar dengan sebuah gaun yang berwarna pink yang telah ia simpan beberapa tahun terakhir.


"Gaun ini" Guman Rifki ketika melihat kedatangan Nadhira dari kamar mandi.

__ADS_1


"Gimana Rif?" Tanya Nadhira sambil berjalan kearah Rifki yang sedang terbaring diatas ranjangnya.


"Kau masih menyimpannya Dhira?" Kedua mata Rifki nampak berbinar binar menatap kearah Nadhira.


"Kenapa tidak? Dulu kau bilang tidak tahan untuk melihatku memakai gaun ini karena belum halal, dan aku telah berjanji kepadamu waktu itu kalau aku akan memakainya nanti ketika kita telah menikah, dan sekarang waktu yang tepat untuk memakainya"


"Makasih Dhira, aku tidak menyangka bahwa kau masih mengingatnya sampai sekarang, duduklah disebelahku"


Nadhira segera duduk disebelah Rifki sesuai dengan permintaan dari Rifki sendiri, Rifki lalu menjatuhkan tubuhnya kedalam pelukan hangat Nadhira, gaun yang pernah dibelikan oleh Rifki waktu itu masih tersimpan begitu rapi didalam lemari Nadhira karena Nadhira yang menjaganya dengan baik.


Rifki membenamkan wajahnya dan bersandar didada Nadhira, ia mencium aroma wangi dari tubuh Nadhira yang membuatnya merasa jauh lebih tenang tersebut, tidak ada hal yang lebih menyenangkan selain hal ini.


"Rif, boleh aku meminta sesuatu?" Tanya Nadhira.


"Katakan sayang" Jawab Rifki.


"Aku ingin kau yang mengurus perusahaanku"


"Kenapa?"


"Aku ingin jadi istri yang baik, yang selalu menunggu suaminya pulang bekerja dirumah"


"Baiklah, besok aku akan mengadakan meeting untuk membicarakan hal itu, kau harus datang bersama dengan diriku nanti"


"Iya sayang, makasih ya"


Rifki mulai memainkan tangannya untuk membuat Nadhira terbaring disampingnya, Nadhira hanya mengikutinya saja karena biar bagaimanapun juga Rifki adalah suaminya dan harus menuruti keinginan dari suaminya karena itu adalah ibadah.


Setelahnya hanya mereka yang tau :v


*****


Beberapa hari kemudian, Rifki tengah bersiap siap untuk pergi bekerja dan dibantu oleh Nadhira yang tengah sibuk memasangkan dasi dileher Rifki, Nadhira pun juga bersiap siap untuk pergi ke perusahaannya karena ingin menyampaikan bahwa perusahaan tersebut akan berada dibawah kendali perusahaan Abriyanta Groub.


"Sudah siap sayang?" Tanya Rifki melihat Nadhira yang sibuk menatap kearah kaca.


"Bentar lagi, masih belom pake lipstik aku"


"Lama banget"


"Mau ku hajar kau!" Tiba tiba nada Nadhira meninggi ketika mendengar ucapan Rifki.


"Ngeri amat sayang" Rifki bergidik ngeri ketika melihat Nadhira seperti itu.


"Bener kata Papa, laki laki harus sabar menunggu cewek yang sedang make up, kalo ngak bakalan ditelan hidup hidup" Guman Rifki pelan.


Rifki pun kembali duduk disofa yang ada dikamar tersebut sambil memainkan ponsel yang ada ditangannya saat ini untuk menunggu Nadhira yang sedang sibuk dalam bermake up nya itu, satu jam kemudian akhirnya Nadhira selesai juga.


"Ayo berangkat sayang" Ucap Nadhira.


"Sudah selesai? Aku kira butuh waktu lebih lama lagi"


"Cuma sebentar saja dibilang lama"


"Iya deh iya, ayo berangkat, keburu semua orang yang ada diperusahaan pada bubar"


"Jam berapa sekarang Rif?"


"Jam 10 pagi, ada apa?"


Nadhira membelalakkan matanya disaat melihat kearah jam yang menunjukkan pukul 10 pagi tersebut, ia begitu terkejut ketika melihatnya padahal dirinya bilang kepada bawahan bahwa dia akan datang disaat jam menunjukkan pukul 9 pagi.


"Kenapa ngak bilang dari tadi sih, kan telat" Gerutu Nadhira kepada Rifki.


"Aku mau bilang gitu sayang, tapi kamunya aja yang makin marah kepadaku"


"Ya sudah ayo berangkat sebelum makin siang nantinya"


"Dhira, ngak makan dulu? Kita makan dulu ya"


"Ngak ada waktu lagi Rif, ayo cepat berangkat"


"Kalo gitu biar aku siapin bekal untukmu ya, lagian mereka pasti menunggu kedatangan kita kok"


"Rifki kelamaan, ayo sudah jam 10 nih"


"Baiklah, nanti kita beli dijalan saja"


Rifki dan Nadhira segera bergegas untuk pergi dari kamarnya tersebut, mereka pun langsung menuju kebawah, tanpa sarapan pagi keduanya itu langsung bergegas menuju kemobil karena mereka benar benar telat saat ini.


*****

__ADS_1


Sesampainya diperusahan Nadhira, keduanya pun langsung disambut dengan hangat oleh pegawai yang ada disana, mereka langsung bergegas untuk menuju keruang meeting yang telah ditentukan oleh Nadhira sebelumnya.


"Perusahaan Dewatamali Groub kini telah resmi berada dibawah bimbingan perusahaan Abriyanta Groub, dan jabatan sebagai CEO Dewatamali Groub saya serahkan kepada suami saya" Ucap Nadhira dengan tegasnya.


"Sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Nona Muda Nadhira, saya Rifki Candra menerima tawaran untuk bergabungnya Dewatamali Groub dengan Abriyanta Groub"


Mendengar itu membuat seluruh pegawai yang ada diperusahan Nadhira bertepuk tangan, kini perusahaan Dewatamali Groub telah resmi menjadi cabang dari perusahaan Abriyanta Groub dan akan dipimpin oleh Rifki sendiri.


Rifki dan Nadhira kini tengah sibuk menandatangani beberapa berkas yang diberikan oleh Citra dan juga Pak Bram, kedua perusahaan besar kini tengah bergabung menjadi satu,


"Jadi Nona Muda sudah tidak memimpin perusahaan ini lagi?" Tanya Citra dengan nada sedikit sedih.


"Tidak Cit, Dewatamali Groub akan menjadi cabang dari perusahaan Abriyanta Groub, jadi disini kau yang akan memimpinnya dibawa kendali suamiku" Ucap Nadhira sambil tersenyum kearah Citra.


"Baiklah Nona Muda, tapi jangan lupa untuk sesekali mampir kemari, aku pasti akan merindukan bercanda tawa dengan anda nanti"


"Jangan rindu dengan istriku, hanya aku yang boleh merindukan dirinya, ingat itu" Ucap Rifki dengan sensinya kepada Citra.


"Sudahlah sayang, dia kan sekertaris yang paling dekat dengan diriku selama ini" Nadhira mengusap pelan lengan Rifki.


"Baiklah, kau boleh datang kemari untuk menemui dirinya, tapi harus datang dengan diriku".


"Iya sayang"


Setelah menyampaikan semua pendapatnya didalam meeting tersebut, Nadhira pun mengajak Rifki pulang karena kepalanya sedikit pusing saat ini, entah kenapa dirinya merasa tiba tiba tidak enak badan seperti itu.


Rifki yang mendengar keluhan Nadhira itu langsung bergegas untuk menyentuh kening Nadhira, panas! Itulah yang dia rasakan saat ini, apakah Nadhira demam tiba tiba, dan hal itu membuat Rifki segera mengajak Nadhira untuk masuk kedalam mobilnya.


"Kita kerumah sakit ya Dhira, badanmu panas sekali" Rifki sangat khawatir dengan kondisi Nadhira.


"Aku ngak apa apa Rif, hanya pusing saja tiba tiba"


"Ngak, harus dibawa kedokter dulu"


"Tapi Rif.."


"Aku tidak terima penolakan sedikitpun Dhira"


"Baiklah, terserah dirimu saja".


Rifki segera menyuruh Pak Mun yang menyopir mobil itu segera menuju kearah rumah sakit terdekat dari sana, Pak Mun segera mengikuti perintah dari Rifki untuk membawa Nadhira menuju kerumah sakit karena tidak biasanya Nadhira akan terlihat seperti itu seperti saat ini.


Rifki segera menggendong tubuh Nadhira ketika mereka telah sampai dirumah sakit, sebenarnya Nadhira merasa tindakan Rifki tersebut terlalu baginya karena dirinya hanya pusing saja dan bukan berarti dia tidak bisa berjalan akan tetapi dirinya sama sekali tidak bisa membantah ucapan Rifki.


"Dhira sakit apa Dok?" Tanya Rifki ketika seorang Dokter telah selesai memeriksa kondisi Nadhira.


"Dia hanya kecapekan saja kok, tadi pagi belum sarapan ya?" Tanya Dokter itu balik.


"Belum Dok" Jawab Rifki yang baru ingat bahwa Nadhira belum sempat sarapan tadi pagi.


"Kamu ini bagaimana sih jadi suami, masak istrinya sendiri tidak diberi makan" Ucap Dokter tersebut sambil menggeleng gelengkan kepalanya mendengar jawaban dari Rifki.


"Ini kelalaianku Dok, baiklah aku akan mengajaknya untuk makan sekarang"


"Usahakan jangan diulang lagi ya Mas, dia hanya memiliki satu ginjal saja, dan tidak baik jika dia telat untuk makan" Ucap Dokter yang lagi lagi membuat Rifki semakin khawatir.


"Iya Dok, saya akan mengingatnya"


Rifki pun mengajak Nadhira untuk keluar dari ruangan tersebut setelah selesai diperiksa, ia pun segera bergegas menuju keruangan obat untuk mengambil obat sesuai resep yang telah diberikan Dokter tersebut kepadanya itu.


"Kamu duduk dulu disini ya, aku kau antri ambil obat dulu" Ucap Rifki.


"Iya sayang" Jawab Nadhira yang langsung duduk ditempat dimana Rifki menyuruhnya untuk duduk.


Setelah selesai mengantri untuk mengambil obat akhirnya Rifki mengajak Nadhira untuk kembali menuju mobilnya, ia pun tidak membiarkan Nadhira untuk jalan kaki melainkan langsung menggendong tubuhnya itu seperti sebelumnya ala bridal style.


"Rif, aku bisa jalan sendiri kok" Ucap Nadhira yang tidak enak dipandangi oleh orang yang ada disekitarnya itu.


"Ngak, aku masih sanggup kok untuk menggendong dirimu, aku tidak mau kau kenapa kenapa Dhira"


"Aku hanya pusing saja kok, bukan lumpuh sayang"


"Diamlah, aku tidak suka dibantah"


Nadhira hanya menghela nafasnya ketika Rifki mengatakan hal itu, ketika sudah berkata demikian maka Rifki tidak akan pernah mau untuk mendengarkan suara protesnya itu, dan akhirnya dirinya yang harus mengalah dengan keras kepalanya Rifki suaminya itu.


@@@@@


Yuk Kak kali aja minat di novel yang satu ini, jangan lupa mampir ya, ini blubnya


Jennie Clarissa putri cantik dari keluarga Aditya memiliki hidup yang begitu sempurna. Terlahir dari keluarga terpandang dan memiliki wajah yang cantik serta karir yang cemerlang dalam dunia modeling.

__ADS_1


Namun kesempurnaan yang dimilikinya hancur begitu saja ketika sang Kakak yang selama ini membencinya dengan tega menodainya hingga hamil. Tak hanya itu saja, beberapa rahasia masa lalu membuatnya semakin terpuruk.



__ADS_2