Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Rifki terluka


__ADS_3

Rifki menoleh kearah pasangan suami istri tersebut yang terlihat kurus dan beberapa luka lebam ditubuhnya itu, Rifki memperhatikan keduanya dari atas sampai bawah, dan hal itu langsung membuat keduanya merasa ketakutan.


Melihat ketakutan tersebut langsung membuat Rifki menghela nafas, Rifki yakin bahwa keduanya itu takut kepadanya karena keduanya telah menyaksikan aksinya tersebut hingga tempat tersebut menjadi medan pembantaian.


"Jangan takut dengan saya, saya adalah teman dari Dokter Lila, apa kalian orang tua dari Dokter Lila?" Tanya Rifki.


"Benar Tuan, bagaimana kondisi anak saya? Apakah anak saya baik baik saja?" Tanya wanita tersebut dengan kedua mata yang berkaca kaca karena khawatir dengan anaknya.


"Dia baik baik saja, kami juga sempat bertemu tadi siang, sebaiknya kita segera pergi dari sini, aku takut akan ada yang datang kemari sebelum aku bisa membawa kalian pergi dari sini"


"Alhamdulillah, baiklah"


Rifki lalu melangkah pergi dari tempat tersebut diikuti oleh anggota Gengcobra, kedua orang tersebut pun dituntun untuk pergi dari sana karena kondisinya yang lemah apalagi setelah melihat adanya darah begitu banyak ditempat itu.


Rasa mual dan mulas pun dirasakan oleh Fajar yang ikut serta ditempat itu, Fajar sendiri juga tidak pernah melihat mayat mayat begitu banyak seperti itu, dan mendadak Fajar memuntahkan isi perutnya.


"Kau ngak apa apa Jar?" Tanya Bayu.


"Ngak apa apa, hanya mules saja melihat mayat mayat itu, rasanya perutku seperti diaduk aduk dengan kuatnya" Jawab Fajar dengan keringat membasahi tubuhnya.


"Mangkanya jangan dilihat biar ngak mual"


"Ngak dilihat sih, tapi bau amisnya menyengat"


Tubuh Rifki pun terlihat sedikit sempoyongan karena banyaknya darah yang keluar dari dalam tubuhnya itu, melihat itu pun membuat Bayu segera menautkan tangan Rifki kelehernya untuk memapah lelaki tersebut agar tidak terhuyung.


"Kau ngak apa apa, Rif?" Tanya Bayu khawatir.


"Aku ngak apa apa, ini hanya luka kecil saja, kepalaku saja yang sedikit pusing" Ucap Rifki.


Andre dan beberapa anggota Gengcobra lainnya memegangi satu orang anggota penculik Nadhira itu dan mengikatnya dengan erat, mereka juga menutup kedua mata orang itu dengan kain gelap dan membawanya pergi dari tempat itu.


Setelah berjalan cukup lama akhirnya mereka telah sampai ditempat dimana mereka memarkirkan mobil mobilnya tersebut, setelah itu Bayu membantu Rifki untuk masuk kedalam mobil yang berada didepan sendiri itu, setelahnya mereka langsung beranjak pergi dari sana.


Didalam mobil tersebut Rifki lalu membuka sedikit pakaiannya dibantu oleh Bayu dan menampakkan punggung mulus milik Rifki akan tetapi terlihat sangat mengerikan karena adanya luka sayatan yang cukup panjang disana, pakaian yang bersimbah darah tersebut pun terasa sangat lengket dan amis karena bau darah.


"Luka sayatanmu begitu dalam Rif, pantas saja darahmu banyak yang keluar, lama lama kau akan kehabisan darah juga nantinya" Ucap Bayu.


"Berapa sentimeter kira kira dalamnya?" Tanya Rifki dengan sedikit meringis kesakitan.


"Paling tidak ada sekitar 5 kilometeran deh Rif"


"Emang kau pikir punggungku kedalamnya lebih dari 10 kilometer apa? Itu aja ngak tembus kejantungku" Rifki sedikit sensi menanggapi ucapan Bayu.


"Bagaimana kau tau kalo tidak tembus?"


"Kalo tembus aku sudah mati lah, lagian aku masih bisa berdiri, itu artinya tulangku juga ngak kena"


"Haha... Bercanda Rif, biar ngak terlalu tegang, lukamu sangat mengerikan Rif, bahkan tulang tulangmu saja hampir kelihatan dengan jelas karena kedalamannya, kalo diukur ukur sekitar ada 40 sentimeteran panjangnya dari pundak kiri atasmu sampai pinggang bawah kananmu"


Rifki terkejut mendengar tentang lukanya tersebut, dan beberapa detik kemudian ia kembali menetralkan wajahnya, seraya berkata, "Untung ngak mati"


"Kalo kau mati itu bagus dong, aku yang akan menggantikan posisimu sebagai CEO Abriyanta, dan juga pemimpin Gengcobra dan Surya Jayantara"


"Ngipi, kan masih ada Ayu"


"Haha... Ngak ngak Rif, kan aku juga ngak gila harta dan kedudukan, mangkanya jangan mati"


"Mati itu urusan sang pencipta kalo kau lupa, kita disini cuma numpang minum doang"


"Iya ya bawel, lebih baik kau diam, daripada lukamu tambah parah nanti"


"Bay, minta Susi untuk datang kemarkas sekarang juga, biar dia menjahit lukaku dimarkas saja, aku tidak mau kerumah sakit" Ucap Rifki yang mendadak ketika merasakan kepalanya pusing.


"Ngak usah repot repot dijahit Rif, pake lem aja biar cepet menyatuh, nanti aku bantu beliin deh kalo kamu ngak punya uang, pake lem gulkol"


"Kenapa ngak sekalian pake lem nasi aja? Sekalian biar makin kenyang"


"Boleh juga, biar aku minta Bi Lina untuk menanakkan nasi untukmu ya, tenang aja nanti aku akan bantu menambal lukamu itu dengan nasi"


"Allahu Akbar, kau baik sekali Bay"


"Aku kan memang baik dari dulu Rif, demi dirimu juga kok aku baiknya"


"Mending kau bawa Nadhira aja sekalian kemari, biar aku semakin senang gitu"


"Nadhira kan lagi disandera, mangkanya cepet sembuh biar kita bisa menyelamatkannya dengan segera"


"Mangkanya panggilkan Susi kemarkas Bay"


"Iya ya Rif, aku akan memanggilnya, mau minta dibawakan mesin jahit juga sekalian?"


"Emang kau pikir kulitku ini terbuat dari kain apa ha?" Ucap Rifki sedikit nyolot kepada Bayu.


"Bukan seperti itu maksudku, pakaianmu juga sobek, kali aja butuh mesin jahit untuk menjahitnya"


"Aku lebih butuh alat jahit untuk menjahit mulutmu itu Bay, pusing lama lama denger ucapanmu itu"

__ADS_1


"Pake plester aja sudah cukup kok Rif, jangan repot repot untuk itu"


"Mulutmu seperti perempuan Bay, sama persis"


*****


Karena baju Rifki yang sobek membuat Bayu ikut serta menyobeknya kembali hingga baju itu terbagi menjadi dua bagian, hal yang dilakukan oleh Bayu tersebut membuat Rifki menghela nafasnya kasar, karena lukanya ikut terasa perih.


"Bisa lebih pelan sedikit ngak Bay? Kau kasar sekali sih jadi cowok" Gerutu Rifki.


"Maaf Rif, biar cepet"


Keduanya kini tengah berada dikamar Rifki yang ada didalam markas Gengcobra, Bayu membantu Rifki untuk melepaskan pakaiannya yang bersimbah darah itu, setelah itu Rifki langsung tengkurap dikasurnya itu sementara Bayu langsung mengusap punggung Rifki dengan kain basah yang telah ia siapkan untuk menghapus bercak darah itu.


"Pelan dikit Bay, perih woi" Keluh Rifki.


"Katanya laki, masak gini saja sudah sakit" Ucap Bayu dengan santainya.


"Dasar temen ngak ada akhlak, udah tau temennya terluka, malah kayak gini"


"Diamlah, untung saja aku masih mau merawatmu, kalo tidak, sudah ku tinggalkan dirimu"


"Kau yang akan ku tendang terlebih dahulu dari sini"


"Kau yang sudah terluka seperti ini pun masih saja mengancam, apalagi kalo ngak terluka bisa bisa aku sampai Amerika gara gara tendanganmu"


Tak beberapa lama kemudian datanglah Susi bersama seorang Dokter laki laki keruangan kamar Rifki sambil membawa sebuah koper yang berisikan peralatan medis, melihat itu Bayu langsung bangkit dari duduknya dan menjauh dari Rifki.


"Astaga Rif, kenapa bisa kayak gini sih" Ucap Susi terkejut ketika melihat luka Rifki.


"Kalo masuk salam dulu kek, biar sopan, main nyelonong aja kayak maling kau ini" Ucap Rifki tanpa menoleh ataupun bangkit dari tengkurapnya.


"Iya deh iya, Assalamualaikum"


"Nah gitu dong, waalaikumussalam"


"Kenalin ini Dokter Afan, dia yang akan menjahit lukamu Rif"


"Kenalannya nanti dulu, cepet obati Sus, keburu darahku habis" Protes Rifki.


"Iya ya bawel"


Susi pun mendekat kearah Rifki, sementara Dokter Afan yang ikut bersamanya itu langsung membuka koper tersebut dan terlihatlah beberapa peralatan medis yang tertata rapi disana.


Dokter Afan langsung mengeluarkan sebuah suntikan dari dalam koper tersebut dan mengisinya dengan obat bius agar Rifki tidak merasakan terlalu sakit jika lukanya tersebut dijahit, Rifki merasakan jarum suntik tersebut menusuk kulitnya hingga membuat Rifki sedikit memejamkan matanya.


"Belom, mangkanya itu cepat obati biar aku bisa cepat mencarinya lagi"


"Akan butuh waktu yang lama untuk lukamu ini sembuh Rif, ini terlalu dalam"


"Dhira tidak bisa menunggu terlalu lama, aku takut terjadi sesuatu dengan dia dan juga anakku yang ada didalam kandungannya"


"Siapa sebenarnya orang yang ingin mencelakakan Nadhira? Apa kalian berdua memiliki musuh?"


"Aku juga ngak tau Sus, kalo aku tau lebih awal sudah ku obrak abik tuh tempat dimana Nadhira disekap sekarang ini"


Luka yang ada dipunggung Rifki terlihat dari punggung atas kanan sampai perut kiri, Susi pun terlihat seperti mengoleskan sesuatu, perlahan lahan Dokter Afan mulai menjahit luka Rifki, Rifki menggenggam erat selimut bantal yang ia gunakan tersebut untuk menahan rasa perihnya.


Tusukan demi tusukan jarum diberikan oleh Dokter Afan kepada punggung Rifki, meskipun sudah dibius akan tetapi Rifki masih bisa merasakan rasa perih dari setiap tusukan jarum yang diberikan tersebut.


"Sakit Rif?" Tanya Bayu yang melihat Rifki menyengir.


"Ngak, cuma kayak dikunyah harimau" Jawab Rifki.


"Emang kau pernah dikunyah Rif?" Tanya Susi.


"Jangankan dikunyah, ditelan hidup hidup saja pun pernah dia" Jawab Bayu dengan santainya.


Rifki sama sekali tidak mempedulikan ucapan dari Bayu tersebut, ia langsung membenamkan wajahnya dibantal yang ada dihadapannya itu, jahitan tersebut pun masih menutup seperempat lukanya dan proses menjahitnya masih membutuhkan waktu lebih lama.


Rasa perih yang ia rasakan saat ini, bukan hanya fisiknya saja yang terluka akan tetapi juga hatinya, Rifki merasa tidak tenang ketika dirinya belum menemukan keberadaan dari Nadhira saat ini.


Keringat Rifki pun bercucuran ketika merasakan luka tebasan tersebut dijahit, ia menggenggam erat kedua tangannya, rasa sakit itu tidak bisa dihindarkan lagi Rifki harus bertahan sampai proses menjahit lukanya itu selesai.


"Bay, turunkan suhu ACnya, panas banget disini" Ucap Rifki.


"Iya, bentar"


Bayu langsung bergegas menuju ke nakas Rifki untuk mengambil remote control AC itu, ia lalu menurunkan suhunya hingga menus sepuluh, suhu seperti itu cukup dingin bagi semua orang tapi tidak dengan Rifki yang kesakitan itu.


"Wajahmu pucat sekali Rif, kayak mayit hidup tau ngak sih" Ucap Bayu.


"Darahku habis, belikan diwarung gih" Ucap Rifki sambil memejamkan matanya.


"Mau rasa apa? Strawberry atau leci?"


"Kenapa ngak sekalian aja rasa melon, biar darahku jadi berwarna hijau berseri"

__ADS_1


"Bagus juga itu, kau mau yang jas jus atau marimas?"


"Ayukmbak ngak ada apa?"


"Ada, nanti kau bikin pabriknya sendiri, kalo Nadhira sudah ketemu nanti akan ku adukan dirimu Rif, Rifki mau mengoda Mbak Mbak"


"Berani ngomong gitu ke Nadhira, ku pastikan mulutmu tidak akan bisa ngomong lagi"


"Ups... Ngeri amat Bang" Bayu pun menutup mulutnya.


"Kau sih aneh aneh Rif, masak beli darah diwarung, kenapa ngak sekalian aja ke tukang tambal ban, kali aja lukamu langsung ditambal olehnya" Sela Susi.


"Kau benar Sus, aku mendukungmu" Bayu mengacungkan kedua jempol nya kearah Susi.


Mendengar ucapan itu hanya membuat Rifki menghela nafasnya, ia pun memeluk bantal yang ia gunakan itu dengan erat seraya memejamkan kedua matanya dan membiarkan Dokter Afan mengobati lukanya itu.


Beberapa lama kemudian luka tersebut telah selesai dijahit, Rifki lalu bangkit secara perlahan lahan dari tengkurapnya untuk duduk ditepi ranjangnya dengan bantuan dari Bayu dan juga Dokter Afan.


Setelahnya, Dokter Afan lalu mengoleskan sesuatu kepada lukanya itu, setelah itu ia juga membalut luka tersebut dengan kain kasa dan juga merekatkannya menggunakan plester, tak lupa juga dia melilitkan perban ditubuh Rifki untuk menutupi luka sayatan yang memanjang itu.


"Terima kasih Dokter Afan" Ucap Rifki.


"Sama sama, untuk sementara waktu luka jahitannya jangan sampai terkena air, dan jangan melakukan perkelahian apalagi mengangkat beban yang cukup berat, nanti akan beresiko pada luka jahitan itu, anda butuh istirahat yang cukup karena kehilangan banyak darah"


"Ngak bisa, aku harus segera menemukan Nadhira"


"Kasih obat tidur aja Dok, biar dia tidur pules, emang nih anak ngak bisa dibilangin kok, udah tau masih terluka" Ucap Bayu.


"Sejak kapan kau jadi Bapakku Bay? Rempong banget deh kayak emak emak dan ngak cocok jadi Bapak Bapak"


"Kau itu dibilangin malah ngelawan lagi"


"Ngak usah dibilangin, emang sudah bandel dari sononya"


"Kalo begitu kami pamit dulu ya Rif, masih banyak pasien yang harus kami tolong" Ucap Susi.


"Iya, jangan lupa salam" Ucap Rifki sedikit sensi.


"Iye jengen lepe selem" Susi menirukan ucapan Rifki dengan cibiran, "Ya udah kami pergi dulu, ASSALAMUALAIKUM!" Ucap Susi yang diperkeras ketika mengucapkan salam.


"Waalaikumussalam!" Jawab Rifki dan Bayu yang dibuat sedikit keras.


Susi dan juga Dokter Afan langsung melenggang pergi dari ruangan tersebut, keduanya segera berjalan dilorong markas Gengcobra, mereka berdua terlihat seperti sepasang kekasih yang sangat serasi sebagai pasangan Dokter.


"Sejak kapan kau berkenalan dengan Tuan Muda Rifki?" Tanya Dokter Afan yang mengenali Rifki sebagai CEO Abriyanta Groub.


"Dia temenku sejak kecil, eh iya aku belom cerita ya tentang itu kepadamu" Jawab Susi.


"Ku pikir orangnya galak, ternyata suka bercanda juga rupanya, sebelom kesini tadi aku sedikit gugup untuk bertemu dengannya, mendadak dapat panggilan untuk mengobatinya"


"Dia memiliki dua sisi, mungkin orang luar akan mengira bahwa dia galak dan kejam, tapi bagi kami teman temannya dia sosok yang baik hati dan juga suka bercanda"


"Pantas saja kalian bisa bercanda gurau seperti itu"


"Apa masih belom ada kabar tentang Dokter Lila?"


"Dokter Lila? Bukannya kemaren dia datang ke rumah sakit tempat Dokter Kevin bekerja?


"Iya kemaren, tapi nomernya tidak bisa dihubungi, Dokter Lila itu teman seperjuanganku, jadi aku sedikit khawatir dengannya"


*****


Kini hanya tersisa dua orang saja dikamar Rifki yang ada didalam markas Gengcobra, hanya ada Bayu dan Rifki seorang, lalu Bayu pun memberikan bantal dipunggung Rifki agar mempermudahkan Rifki untuk duduk sambil bersandar.


"Bay, buat orang itu mengaku dimana keberadaan Nadhira disekap, aku tidak bisa membiarkan Nadhira terlalu lama untuk disekap"


"Kau tenang saja, kita akan segera menemukan Nadhira secepatnya"


"Bagaimana aku bisa tenang, Nadhira sendiri saja belom juga ditemukan"


"Yang terpenting sekarang adalah lukamu Rif, anggota Gengcobra sudah menyebar untuk mencari Nadhira, orang suruhan kita juga pasti akan segera melaporkan hal itu kepada kita"


"Kenapa orang itu juga belom kembali? Apa terjadi sesuatu dengan dia?"


"Aku akan menyuruh Andre untuk melacaknya Rif, dia bisa melacak keberadaan seseorang dari kartu SD, soalnya nomor telponnya juga tidak aktif"


"Apa mungkin mereka mengetahui tentang ini? Bisa jadi nyawa keduanya dalam bahaya"


"Rif, kita harus cepat mencari mereka sebelum semuanya terlambat"


"Kau benar Bay, entah dimana Nimas sekarang, kenapa belakang ini tidak pernah muncul"


"Nimas? Siapa?"


"Penjaga Nadhira, tapi sejak Nadhira hamil dia tidak pernah muncul kembali, hanya dia yang bisa menuntun kita untuk menuju ketempat Nadhira"


"Mungkinkah dia dalam masalah?"

__ADS_1


"Aku harap dia segera muncul untuk menolong Nadhira"


__ADS_2