Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Pikiran sesama lelaki


__ADS_3

Tanpa terasa acara makan bersama tersebut telah selesai dilaksanakan, kini Nadhira beserta yang lainnya sedang asik duduk disebuah gazebo yang ada dihalaman depan rumah besar itu, mereka memakan beberapa cemilan sambil bercanda gurau.


"Ibu kapan nikah?" Tanya Nadhira tiba tiba kepada Bi Ira yang tengah asik mengupas kacang panggang.


Mendengar pertanyaan itu sontak membuat semuanya menoleh kearah dimana Bi Ira berada dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, Bi Ira lalu menghentikan apa yang sedang ia lakukan dan langsung menoleh kearah Nadhira yang berada dihadapannya saat ini.


"Soal itu..." Bi Ira mendadak tidak mampu untuk melanjutkan perkataannya.


"Sayang kenapa bertanya kepada Ibu? Kenapa tidak langsung saja kepada Pak Santo" Ucap Rifki seraya mengusap kepala Nadhira dengan sayang.


"Maksud Tuan Muda dan Nona Muda apaan?" Tanya Pak Santo sedikit menunduk.


"Pak Santo cowok kan? Kenapa sesama cowok ngak peka sih" Gerutu Nadhira.


"Kami bukan wanita yang selalu pake perasaan, kami berpikir pake logika jadi tidak akan peka seperti wanita" Ucap Stevan tentunya, kalau Rifki tidak berani mengatakan itu kepada Nadhira.


"Memang cowok ngak ada yang peka!" Nadhira sangat sebal mendengarnya.


"Aku peka kok sayang, mungkin Pak Santo nya saja yang kurang peka" Ucap Rifki yang tidak mau disalahkan disitu.


"Bilangin tuh sama mereka, masak gitu saja tidak tau apa yang aku katakan"


"Iya sayang, aku akan bilangin kepada mereka"


"Jangan dipaksa seperti itu dong Dek, ngak baik" Sela Nandhita.


"Dhira ngak maksa tuh Kak"


Tiba tiba Nandhita rasanya ingin sekali muntah, Nandhita langsung berlari kearah dimana adanya wastafel dan memuntahkan seluruh isi yang ada di perutnya itu, melihat itu membuat Stevan langsung menghampiri dirinya dan memijat pundak Nandhita.


Melihat Nandhita yang muntah muntah seperti itu membuat Nadhira mendadak merasa kasihan melihat saudaranya itu, ia pun memeluk erat lengan panjang Rifki yang ada disebelahnya.


"Apakah aku juga akan seperti itu?" Tanya Nadhira dengan nada sedikit merendah.


"Setiap kehamilan itu beda beda Nak, dan tidak harus muntah muntah juga" Jelas Bi Ira.


"Meskipun muntah muntah seperti itu, aku bakalan ngerawat dirimu kok sayang" Suara lembut Rifki.


Jawaban dari Rifki tersebut langsung membuat Nadhira memonyongkan bibirnya hingga membuat Rifki pun semakin gemes dengan tingkah Nadhira itu, ia pun memegangi bibir Nadhira dengan gemesnya hingga membuat Nadhira memukul tangan tersebut.


"Aku serius Rif, jangan bercanda lah"


"Aku juga serius sayang, aku ngak akan biarkan dirimu kenapa kenapa"


"Melihat Kakak muntah seperti itu rasanya perutku juga ikut merasa mual"


"Ya udah ayo kembali kekamar, istirahat"


"Nanti dulu, aku mau ngomong sama Ibu dan Pak Santo dulu Rif"


"Ada apa Nak?" Tanya Bi Ira.


"Aku tau kalo diriku terkesan memaksa, Pak Santo juga terlihat sangat tulus kepada Ibu selama ini, Ibu juga pernah bilang kepadaku kalo aku sudah bahagia Ibu juga harus bahagia, sekarang aku sudah bahagia jadi aku minta kalian berdua segera menikah"


"Apa yang Non Dhira katakan?" Pak Santo sama sekali tidak mengetahui arti dari ucapan Nadhira.


"Apa Pak Santo menyayangi Ibu Ira?"


Mendengar pertanyaan Nadhira itu seketika membuat Pak Santo terdiam begitu saja, sudah sejak lama dirinya menyimpan perasaan untuk Bi Ira akan tetapi dirinya tidak mampu untuk mengatakannya karena Bi Ira tidak mau menikah sebelum Nadhira hidup bahagia dengan orang yang dicintainya.


"Kenapa Bapak diam saja?" Tanya Nadhira sekali lagi ketika melihat kediaman dari Pak Santo.


"Sebenarnya saya memang mencintai Ira, tapi Ira bilang tidak ingin menikah Nona Muda" Jawab Pak Santo apa adanya.


"Bu, apakah Ibu mau menikah dengan Pak Santo?"


"Ibu tidak bisa Nak"


"Kenapa? Bukannya Ibu pernah bilang bahwa setelah Dhira menikah dan hidup bahagia bersama dengan Rifki, Ibu tidak akan menolak keinginan Dhira untuk menikah dengan Pak Santo, kini Dhira sudah bahagia bersama dengan Rifki, tolong terima Pak Santo"


"Baiklah jika itu keinginan dari Dhira, Ibu mau"


Seketika sebuah senyuman muncul diwajah mereka, Nadhira merasa senang mendengar jawaban tersebut begitupun dengan Pak Santo yang tidak mempercayai apa yang baru saja dirinya dengar itu, ini bagaikan sebuah mimpi yang begitu indah.


"Kau serius Ra?" Tanya Pak Santo sekali lagi.


"Iya, demi Nadhira apapun akan aku lakukan" Jawab Bi Ira.


"Tidak Bu, aku tidak mau ada paksaan, jika Ibu tidak suka maka tidak perlu melakukan itu" Ucap Nadhira.

__ADS_1


"Bu, jangan paksakan diri jika Ibu tidak ingin menikah, kami akan menerima apapun keputusan yang Ibu inginkan" Tambah Rifki.


"Dari hati yang terdalam, saya menerima anda sebagai suami saya" Bi Ira menatap kearah Pak Santo dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Alhamdulillah" Ucap mereka bersamaan.


"Sayang, besok pagi kita antarkan mereka ke KUA yuk" Ajak Rifki.


"Kau juga belom mengadakan resepsi pernikahan kita" Sindir Nadhira.


"Secepatnya sayang, sebelum kau hamil beneran kita akan mengadakan resepsi pernikahan nanti"


"Beneran?"


"Iya sayang, apasih yang ngak buat istri tercintaku ini, aku pasti akan menuruti semua keinginanmu"


"Sayang, aku merindukanmu" Melihat kemesraan mereka membuat Pak Mun menjerit untuk memanggil istrinya karena dirinya juga ingin bermesraan dengan sang pujaan hati.


Nadhira dan Rifki pun tertawa mendengar Pak Mun seakan akan meratapi nasibnya itu, Nandhita dan Stevan yang baru saja tiba ditempat itu pun ikut tertawa melihat tingkah dari Pak Mun itu.


"Kasihannya Pak Mun" Guman Stevan sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


"Sudah mendingan Kak?" Tanya Nadhira.


"Pusing banget ya Allah, kayak badanku lemas semua Dhira dan ngak ada tenaga sama sekali nih, makanan yang aku makan sudah keluar semua seperti tidak tersisa sedikitpun diperut" Keluh Nandhita.


"Mending Kakak istirahat dulu dikamar deh, Dhira ngak tega melihatnya"


"Sepertinya anak Kakak itu cewek deh" Rifki menebak jenis kelamin janin yang ada di perut Nandhita.


"Kok bisa tau?" Tanya Stevan.


"Hanya menebak saja, kali aja tebakanku memang benar"


"Wah beneran? Mamaku pasti senang mendengarnya kalo mereka akan punya cucu perempuan, soalnya saudaraku lainnya punya anak laki laki semua ngak ada yang perempuan"


"Bagus dong, jadi anak kalian akan menjadi cucu perempuan satu satunya"


"Semoga saja tebakanmu benar adanya Adik ipar"


"Hei kalian berdua, kasihan tuh Kakakku malah ngobrol lagi, Kakak ipar bawa dia kekamar napa sih, udah pucet kayak gitu" Ucap Nadhira menengahi kedua lelaki itu.


"Kakak ipar, sekalian digendong Kak Dhita nya kasihan kalo disuruh jalan udah pucet begitu juga, terus diterkam didalam kamar nanti pasti sakitnya langsung hilang deh" Saran dari Rifki.


"Semoga berjaya Kak, doain kami segera menyusul untuk memiliki seorang anak"


"Mangkanya lebih keras lagi dong usahanya, ronde nya ditambahin, sehari 10 kali pun ngak apa apa, kalo kamu kuat sih haha..."


"Resepnya harus seperti itu Kak? Kalo aku sih kuat tapi dianya belom tau"


"Ya harus seperti itu Adik iparku yang baik hati, jangan bilang kuat dulu, buktiin dong baru aku akui kau hebat, dijamin langsung keisi nantinya"


"Okelah aku akan coba"


Stevan hanya mengacungkan kedua jempol nya kepada Rifki dan langsung mengangkat tubuh Nandhita yang terlihat sedikit lemas tersebut karena begitu banyak makanan yang ia muntahkan sebelumnya yang membuatnya lemas.


"Ya beginilah kalo sama sama pengantin baru, pikiran sesama lelaki mulai agak oleng begini, enak mereka yang sakit itu cewek" Nadhira menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah kedua lelaki itu.


Sejak kapan Rifki begitu akrab dengan Stevan dan bahkan Stevan dan Rifki sudah seperti sababat karip saja, meskipun usia keduanya berbeda jauh akan tetapi sikap keduanya tidak jauh berbeda dan mungkin bisa dibilang saudara yang hilang.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa ada yang salah?" Tanya Nadhira curiga karena tatapan Rifki begitu lekat kearah wajahnya itu.


"Dhira, aku mau menerkammu juga saat ini"


Tanpa menunggu jawaban dari Nadhira, Rifki segera mengangkat tubuh Nadhira dan menggendongnya ala bridal style, kedua lelaki itu nampak seperti sedang bersaing untuk menunjukkan seberapa romantisnya mereka.


Rifki pun melangkah pergi dari tempat itu untuk masuk kedalam rumahnya dan langsung menaiki tangga yang akan menuju kekamar keduanya itu, dan Nadhira sendiri saat ini sedang merasakan pernafasan Rifki sedikit tidak normal.


"Apa yang kau lakukan Rifki? Turunkan ngak?" Tanya Nadhira ketika Rifki membawanya pergi.


"Menenangkan adik kecilku ini sayang, ia sudah memberontak sejak tadi untuk meminta masuk kedalam rumahnya, apa kau tidak kasihan dengan dirinya yang menegang"


"Tapi aku belom siap Rif, aku sangat pusing saat ini"


"Kau diam saja, biar aku yang berusaha saat ini"


"Terserahmu saja"


*****

__ADS_1


Keesokan paginya, seperti biasa Rifki akan membangunkan Nadhira dengan cara antiknya itu, akan tetapi sangking mengantuknya Nadhira pagi ini membuatnya sangat sulit untuk membuka kedua matanya itu, dan seakan akan adanya lem yang super kuat yang mencegahnya untuk membuka matanya.


"Sayang bangun, sudah mau adzan subuh loh, buruan mandi sana" Ucap Rifki sambil menciumi wajah Nadhira itu.


"Aku masih ngantuk Rifki, 5 menit lagi ya"


"Bangun! Atau ku makan lagi kalo ngak bangun"


"Iya ya bangun, gendong"


"Ampun deh nih bocah, baiklah kita mandi bareng pagi ini, ide yang bagus" Rifki nampak terlihat bersemangat ketika Nadhira mengatakan itu.


Nadhira pun masih memejamkan kedua matanya dengan sangat eratnya meskipun dalam gendongan Rifki, Rifki pun menurunkan Nadhira kepada bathtub dengan perlahan lahan akan tetapi Nadhira masih setia dengan tidurnya itu.


"Susah banget bangunnya, mungkin diriku terlalu nyaman kali sehingga nih anak ngak bisa bangun bangun, biasanya juga kalo bangun selalu pagi, maaf ya Dhira, salahmu sendiri tidak mau bangun"


Rifki pun melepaskan pakaiannya dan melepaskan pakaian Nadhira, ia pun menyalahkan kran air untuk mengisi bathtub tersebut, Nadhira pun mengernyitkan keningnya ketika merasakan bahwa sekitarnya telah basah karena air.


Air itu rasanya sangat dingin karena dipagi hari dan Rifki sendiri juga tidak mengalahkan kran air hangat agar Nadhira cepat bangun, Nadhira merasa bahwa dirinya akan tenggelam sehingga dia langsung membuka kedua matanya dengan cepat.


Pandangannya membulat ketika menyaksikan tubuh Rifki yang tidak tertutup oleh benang satupun, Nadhira lalu mengalihkan pandangannya pada tubuhnya sendiri dan ia begitu shock ketika tubuhnya juga telah telanj*ng bulat.


"Aaa...." Teriak Nadhira dan reflek menutupi kedua gundukan sucinya dengan kedua tangannya.


Melihat itu membuat Rifki terkekeh seketika, sudah sering kali mereka berhubungan akan tetapi Nadhira masih belum terbiasa untuk melihat tubuh lelaki yang ada didepannya itu, Rifki pun memegangi kedua tangan Nadhira akan tetapi Nadhira tetap kekeh mempertahankan tangannya itu.


"Apa yang mau kau lakukan!" Tanya Nadhira panik.


"Memandikanmu sayang, mungkin lebih tepatnya mandi bersama sama"


"Kau melecehkan diriku Rif"


"Kau kan memang sudah menjadi milikku, hanya milikku, selamanya milikku, jangan malu aku ini suamimu dan sudah melihat seluruh tubuhmu secara terperinci untuk apa ditutup tutupi lagi"


Memang benar apa yang dikatakan oleh Rifki itu bahwa Rifki sudah melihat seluruh tubuhnya dan bahkan telah melakukan hubungan suami istri dengannya tapi Nadhira masih saja tidak terbiasa ketika melihat keduanya telanj*ng bulat seperti ini.


"Berbalik lah, aku akan menggosok punggungmu"


Nadhira pun hanya mengikuti perintah dari Rifki, Rifki pun menjepit rambut panjang Nadhira hingga membuatnya seperti kuncir kuda, semenjak Nadhira memakai kalung itu tanda lahir yang berbentuk simbol rumit tersebut menghilang dari pundak kanan Nadhira.


Rifki menuangkan sabur cair ke telapak tangannya dan mengusap pelan ke punggung Nadhira, dengan pelan dan lembut Rifki membersihkan punggung Nadhira dan menciptakan sebuah sensasi nyaman kepada Nadhira.


Rifki pun menggosok seluruh tubuh Nadhira dengan spons yang disediakan dikamar mandi tersebut agar membuat sabun cair berbusa banyak, Nadhira merasa geli ketika Rifki mendekatkan dadanya dipunggung Nadhira akan tetapi tangan jailnya itu merabah kemana mana.


Meskipun Nadhira kini tengah membelakangi tubuh Rifki akan tetapi detak jantungnya seakan akan tidak normal apalagi Rifki yang paling suka untuk memegang area sensitif milik Nadhira yang telah menjadi area favoritnya itu.


Rifki perlahan lahan melakukan pijatan lembut kepada Nadhira hingga membuat Nadhira merasa sangat nyaman, entah ditangan Rifki ada apanya sehingga setiap sentuhan lembut yang ia berikan akan membuat Nadhira merasa nyaman.


Rifki pun memberi sampo ke rambut Nadhira dan memijatnya secara perlahan lahan, pijatan tersebut berhasil membuat Nadhira merasa rileks, Rifki pun membersihkan sampo itu dengan cara menyiramnya secara perlahan lahan.


"Rif" Panggil Nadhira.


"Iya ada apa sayang?" Tanya Rifki sambil memfokuskan dirinya untuk membersihkan punggung Nadhira itu.


"Aku sangat menyayangimu" Ucap Nadhira.


"Aku jauh lebih menyayangimu Dhira, kau adalah anugerah terindah bagiku yang dikirimkan oleh Tuhan kepadaku untuk aku jaga dan aku sayangi"


"Terima kasih ya, kau lelaki terhebatku, aku harap kita akan selalu bersama"


"Kita akan bersama Dhira, aku tidak peduli seberapa berat rintangan yang akan kita hadapi nanti, kita tidak akan berpisah"


"Tapi aku takut, selama keris pusaka xingsi dan juga permata iblis masih ada, aku tidak bisa tenang Rif, apalagi sampai saat ini kita tidak mengetahui bagaimana caranya untuk menghancurkan kedua benda itu"


"Jangan takut Dhira, apapun yang terjadi nantinya kita harus tetap bersama sama untuk melakukan tugas kita masing masing"


"Apa kau yakin Rif? Bagaimana jika harus saling membunuh seperti apa yang kau bilang sebelumnya?"


"Hah? Kenapa kau mengatakan itu sayang?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai kakak, kali aja berkenan untuk mampir dinovel temenku, silahkan mampir ya, heppy reading


**


Salma seorang wanita karir di bidang entertainment, harus rela meninggalkan dunia karirnya untuk mejadi ibu rumah tangga yang sepenuhnya.


Menjadi ibu rumah tangga dengan dua anak kembar sangat tidak mudah bagi ia yang belum terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga. Salma juga harus menghadapi tuntutan suami yang menginginkan figur istri sempurna seperti sang Ibunda.

__ADS_1


Di saat ia masih berjuang menopang ekonomi keluarga karena suami sempat mengalami PHK, ia harus menerima kenyataan jika suaminya ingin menikahi sahabatnya.



__ADS_2