Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Kabar yang membahagiakan


__ADS_3

Tidak ada perpisahan yang tidak menyakitkan, Rifki mengusap punggung Nadhira pelan untuk menenangkan wanita itu, sementara Nadhira sedang terisak tangis melihat kepergian dari Nandhita.


Rifki dapat melihat disebuah kaca besar bahwa Nandhita dan Stevan kini tengah memasuki pesawat tersebut, rasa ini pernah ia rasakan ketika dirinya akan pergi keluar negeri waktu itu, ada kesedihan didalam hatinya ketika dia akan meninggalkan Nadhira waktu itu.


Perpisahan dimana dirinya akan pergi melanjutkan pendidikannya dan tidak tau kapan dia akan pulang untuk bertemu kembali dengan Nadhira, rasa sedih itu masih membekas dihatinya disaat dirinya harus melihat Nadhira menangis saat mengantarkan kepergiannya dibandara yang sama.


"Ayo pulang" Ajak Rifki.


"Aku masih ingin disini Rif, pesawat yang dinaiki Kakak belom pergi"


"Baiklah, setelah ini pulang ya"


"Iya, kenapa Kakak harus pergi secepat ini sih Rif, aku masih ingin bersama dengan Kakak"


"Dhira, setelah menikah seorang istri harus mengikuti kemanapun suaminya pergi, Kak Stevan juga memiliki tanggung jawab disana, disana juga ada keluarga Kak Stevan, sampai kapanpun surga seorang anak laki laki berada pada kedua orang tuanya, Kak Stevan juga harus berbakti kepada orang tuanya sayang, kalo surga seorang wanita berada pada suaminya, seorang suami juga akan menanggung dosa istrinya, kita tidak bisa memisahkan Kak Dhita dari suaminya, disana Kak Stevan juga memiliki tanggung jawab yang besar"


"Aku tidak bermaksud untuk memisahkan mereka Rif, tapi hanya sedih saja ketika mereka pergi meninggalkan diriku begitu saja"


"Tidak ada pertemuan tanpa adanya pemisahan sayang, cepat atau lambat mereka pasti akan pergi juga nantinya"


"Jika kita dipertemukan, apakah nantinya akan dipisahkan juga? Aku tidak mau berpisah darimu Rif"


"Jika waktunya tiba, kita tidak bisa mengelak Dhira, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, tapi kita tidak tau kapan dan dimana maut akan datang untuk menjemput kita, tapi aku akan terus berdoa semoga kita dipertemukan disyurga-Nya nanti, dan akan hidup abadi bersama dialam keabadian"


"Aku sangat menantikan hal itu Rif, dimana kita akan bersama tanpa harus takut akan berpisah, selamanya kita akan bersama dialam keabadian"


"Rifki milik Nadhira, selamanya"


Rifki memeluk tubuh Nadhira dengan eratnya, akan tetapi tiba tiba dengan perlahan Nadhira mulai melepaskan pelukannya dari tubuh Rifki, tubuh Nadhira pun tumbang entah kenapa, Rifki dengan sigap langsung menangkapnya agar tidak jatuh kelantai begitu saja.


"Dhira, kamu kenapa sayang! Dhira bangun! Kamu kenapa" Rifki panik melihat Nadhira yang sudah tidak sadarkan diri itu.


Entah sejak kapan Nadhira tidak sadarkan diri, Rifki menepuk pelan pipi Nadhira berharap bahwa dia akan sadarkan diri, dengan paniknya dirinya langsung mengangkat tubuh Nadhira dan membawanya untuk pergi dari sana menuju ke mobilnya.


Rifki berlarian dengan Nadhira yang ada digendongnya untuk keluar dari tempat menunggu tersebut, hal itu membuat perhatian seluruhnya terarah kepada Rifki akan tetapi Rifki sama sekali tidak mempedulikan itu dan terus berlari.


Rifki bergegas keluar dari bandara untuk menuju kearah mobilnya, tidak biasanya Nadhira akan tiba tiba tidak sadarkan diri seperti ini hingga membuat Rifki langsung panik, Rifki takut terjadi sesuatu dengan ginjalnya hingga membuat Nadhira tidak sadarkan diri seperti ini.


"Pak cepat kerumah sakit!" Teriak Rifki memerintahkan kepada Pak Mun untuk menjalankan mobil tersebut.


"Baik Tuan Muda, apa yang terjadi dengan Non Dhira? Kenapa dia tidak sadarkan diri?"


"Aku ngak tau Pak, sebaiknya kita cepat kerumah sakit, aku takut terjadi sesuatu dengan ginjalnya"


"Iya Tuan Muda"


Pak Mun langsung bergegas untuk menjalankan mobilnya itu, Rifki panik dan memeluk tubuh Nadhira yang tidak sadarkan diri itu, perasaannya bercampur aduk disaat Nadhira tak kunjung sadarkan diri.


"Dhira kamu kenapa? Jangan buat aku khawatir seperti ini sayang, bukalah matamu sayang, Dhira sadarlah" Tubuh Rifki bergetar karena menangis.


Lelaki itu terlihat sangat ketakutan melihat Nadhira yang sama sekali tidak meresponnya, Nadhira masih berada didalam alam bawah sadarnya, Rifki menggoyang goyangkan tubuh Nadhira berharap bahwa dirinya akan sadarkan diri.


"Pak lebih cepat lagi"


"Iya Tuan Muda, ini sudah cepat"


"Dhira, bertahanlah kita sebentar lagi akan sampai dirumah sakit" Rifki mengenggam erat tangan Nadhira dan mengarahkannya kepada pipinya.


Tak beberapa lama kemudian sampailah mereka diparkiran rumah sakit, Rifki segera memanggil perawat rumah sakit tersebut dan langsung mengangkat tubuh Nadhira untuk bergegas masuk kedalam UGD.


Para perawat langsung menyediakan bangkar untuk Nadhira, salah seorang Dokter pun langsung memeriksa keadaan Nadhira yang tiba tiba tidak sadarkan diri seperti itu, beberapa saat kemudian Nadhira mulai mengernyitkan dahinya pertanda bahwa dirinya akan sadarkan diri.


"Dhira, kau sudah sadar" Rifki mampu bernafas lega ketika melihat Nadhira mulai membuka kedua matanya itu, ia pun mengenggam erat tangan Nadhira yang tengah terbaring diatas bangkar.


"Aku dimana?" Tanya Nadhira dengan memijat keningnya perlahan karena sedikit pusing.


"Kamu ada dirumah sakit sayang" Ucap Rifki.


"Ada hal yang ingin saya bicarakan, mari ikut saya" Ucap Dokter tersebut dan langsung duduk dimeja yang ada didalam ruangan itu.

__ADS_1


Rifki hanya mengikuti dirinya untuk memastikan kondisi Nadhira saat ini, Rifki langsung duduk dikursi yang telah disediakan diruangan tersebut dan langsung duduk didepan Dokter itu.


"Bagaimana kondisi istri saya, Dok? Apakah ginjalnya baik baik saja? Atau ada masalah dengan ginjalnya?" Tanya Rifki khawatir dengan kondisi Nadhira.


"Pasien hanya kelelahan saja dan butuh istirahat lebih banyak mulai sekarang, selamat ya Pak, anda akan menjadi seorang Ayah"


"Seorang Ayah? Jadi istri saya..." Rifki merasa bahagia mendengarnya hingga kedua matanya berkaca kaca sangking bahagianya.


"Benar Pak, istri anda hamil" Ucap Dokter itu memperjelas apa yang ingin Rifki ketahui.


"Ya Allah, terima kasih atas kepercayaan yang Engkau berikan kepada kami" Kedua mata Rifki tak henti hentinya untuk terus meneteskan air mata kebahagiaan.


Rifki tidak bisa berkata apa apa lagi sangking bahagianya dirinya, kebahagiaan yang dinanti nantikan kini tengah menghampiri keduanya, Rifki pun menangis karena sangking bahagianya, dengan kasar dirinya menghapus air matanya tersebut.


"Tapi, perlu saya ingatkan bahwa pasien harus benar benar menjaga kesehatannya, apalagi saat ini pasien hanya memiliki satu ginjal"


Dokter tersebut menjelaskan kepada Rifki tentang apa yang diperbolehkan untuk dikonsumsi oleh Nadhira dan juga apa saja yang dilarang untuk dikonsumsi oleh Nadhira karena kondisinya yang saat ini hanya memiliki satu ginjal dan hal itu sangat tidak mudah untuk dilalui dengan keadaan yang hamil.


Rifki memperhatikan apapun yang disampaikan oleh Dokter tersebut dengan seksama, ia tidak ingin terjadi sesuatu kepada Nadhira karena kecerobohannya sendiri yang akan membiarkan Nadhira dalam bahaya.


Rifki pun berjalan kearah Nadhira yang tengah berbaring diatas bangkar, Nadhira merasa senang ketika mengetahui bahwa didalam perutnya kini ada janin Rifki kecil yang sedang ia kandung, ia merasa sangat bahagia mendengar kabar kehamilannya itu.


"Terima kasih sayang karena telah mengandung anakku, terima kasih" Rifki pun mengecup kening Nadhira dengan lama dan penuh dengan kasih sayang dan kelembutan.


"Aku tidak salah dengar kan Rif? Aku hamilkan?" Tanya Nadhira yang masih tidak percaya dengan yang ia dengar sebelumnya.


"Iya sayang, didalam perutmu ada anakku, aku sangat bahagia sayang, terima kasih"


"Aku sangat bahagia mendengarnya Rif, kau akan menjadi seorang Ayah, keluarga kecil kita kini tengah lengkap Rif"


"Dan kau akan menjadi seorang Ibu, kita akan bersama sama membesarkan anak anak kita Dhira, aku sangat sangat bahagia"


"Iya sayang"


Keduanya pun keluar dari dalam ruang pemeriksaan tersebut dan kini keduanya melewati lobi rumah sakit, Rifki memegangi Nadhira dengan erat karena takut Nadhira jatuh, sementara Nadhira yang mendapatkan perhatian seperti itu membuatnya tertawa.


"Iya ya sayang" Nadhira tidak ingin berdebat dengan Rifki yang overprotektif itu apalagi setelah mendengar bahwa dirinya tengah hamil.


"Mau digendong?"


"Ngak usah Rifki, malu dilihatin banyak orang nanti"


"Kenapa harus malu? Kamu kan kesayanganku"


"Ngak enak dilihatin orang"


"Ya tutup mata kamu saja, kan biar kamu ngak tau mereka ngelihatin dirimu, kalo menutup mata mereka itu tidak mudah"


"Ngak mau"


Tanpa terasa keduanya sudah memasuki area parkir rumah sakit tersebut dan langsung disambut oleh Pak Mun yang sedari tadi menunggu dimobil, Pak Mun segera menghampiri keduanya untuk menanyakan kondisi dari Nadhira.


"Apa yang terjadi dengan Non Dhira, Tuan Muda?"


"Dia... Memberikanku hadiah yang luar biasa Pak" Ucap Rifki dengan bahagianya.


"Kado?" Pak Mun tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Rifki.


"Nadhira hamil Pak"


"Apa hamil? Astaga..." Pak Mun segera menutup mulutnya rapat rapat agar tidak berteriak, "Selamat Nona Muda dan Tuan Muda, keluarga kalian kini tengah lengkap atas kehadiran janin diperut Non Dhira, ini kabar yang membahagiakan".


"Terima kasih Pak, semoga ini adalah awal yang baik bagi kami berdua"


"Aamiin ya Allah, semoga dengan kehadiran buah hati kalian, hubungan kalian akan semakin erat dan tidak akan terpisahkan"


"Iya Pak, Aamiin"


Rifki pun segera mengajak Nadhira untuk masuk kedalam mobil tersebut, setelahnya keduanya langsung disusul oleh Pak Mun yang langsung masuk dikursi bagian pengemudi, dan beberapa saat kemudian mobil itu langsung bergegas untuk meninggalkan rumah sakit itu.

__ADS_1


"Pak nanti mampir di minimarket ya Pak, mau beli salad buah untuk Nadhira" Ucap Rifki.


"Baik Tuan Muda"


Nadhira hanya berdiam diri didalam mobil tersebut dan sesekali mengusap perutnya yang masih rata, ia masih tidak menyangka bahwa kini didalam perutnya akan ada kehidupan lain, Nadhira merasa sangat bahagia saat ini.


"Ma, sebentar lagi aku akan menjadi seorang Ibu sama seperti dirimu, apakah Mama akan bahagia mendengarnya? Aku ingin bercerita kepadamu Ma, tidak mudah untuk menjalani hari hariku selama ini, ku harap Mama bahagia ya disana" Ucap Nadhira pelan sambil mengusap perutnya.


"Jangan bersedih lagi ya sayang, ini adalah hari yang membahagiakan bagi kita, jangan pernah ada air mata disana" Ucap Rifki seraya mengusap kepala Nadhira dengan sangat lembutnya.


"Tiba tiba aku kepikiran sama Mama, kenapa disetiap aku ingat Mama selalu saja menangis? Padahal saat ini aku merasa bahagia bersamamu Rif"


"Mungkin karena rindu Dhira, kita doakan saja ya semoga almarhum Mama Lia tenang dialamnya sana, dia pasti juga merasa bahagia karena mengetahui bahwa anaknya sekarang bahagia, almarhum Oma juga pasti senang ketika mengetahui bahwa cucunya kini tengah mengandung"


"Terima kasih ya Rif, kau selalu menguatkan diriku disaat aku lemah, cinta yang kau berikan begitu besar kepadaku selama ini"


"Aku mencintai jiwamu Dhira, saat ini dan selamanya aku akan tetap mencintaimu"


"Seandainya aku mati terlebih dahulu apa kau akan tetap setia kepada diriku?"


"Kenapa kau tiba tiba menanyakan itu Dhira?"


"Jawab Rifki, aku hanya butuh jawabanmu saja"


"Aku akan selalu setia dengan dirimu Dhira, bahkan maut sendiri pun tidak akan pernah bisa untuk memisahkan kita berdua, jika takdir merenggutmu dariku maka aku akan berdoa agar malaikat maut juga ikut serta untuk menjemputku, aku tidak ingin kesepian didunia ini tanpa hadirmu"


"Tapi sesuatu yang hilang dapat diganti Rif, apa kau akan tetap setia kepadaku? Aku hanya takut disaat aku tiada nanti, kau justru bersama dengan wanita lain selain diriku"


"Maka dari itu, kau harus tetap ada Dhira, kau harus selalu ada disisiku, aku tidak akan membiarkan dirimu kenapa kenapa, apapun yang akan membahayakan dirimu maka harus melewati diriku terlebih dahulu"


"Berjanjilah bahwa kau akan selalu setia kepadaku Rif berjanjilah kepadaku bahwa kau akan selalu menempatkan diriku didalam hatimu"


"Demi Allah aku berjanji Dhira, dihatiku hanya ada namamu seorang, tidak akan ada yang mampu untuk menggantikan dirimu selamanya"


"Makasih Rif, aku sangat menyayangimu"


Nadhira menjatuhkan kepalanya untuk bersandar didada bidang Rifki, itulah tempat ternyaman baginya untuk melepas segala lelah, Rifki pun memeluk tubuh Nadhira dan sesekali menciumi kening Nadhira dengan penuh kasih sayang.


Nadhira adalah satu satunya wanita yang ada didalam hatinya, tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi Nadhira, Rifki sangat menyayanginya dan siapapun tidak berhak untuk bersaing dengan Nadhira demi mendapatkan hatinya karena hatinya hanya untuk Nadhira.


"Aku sangat mencintaimu Dhira selamanya" Ucap Rifki pelan ditelinga Nadhira.


Disepanjang perjalanan Nadhira bersandar didada bidang suaminya itu, sensasi sangat nyaman ia rasakan tanpa disadari bahwa keduanya telah sampai disebuah minimarket untuk membeli salad buah kesukaan Nadhira.


"Tuan Muda sudah sampai" Ucap Pak Mun setelah selesai memarkirkan mobil itu.


"Dhira ikut turun atau dimobil saja?" Tanya Rifki seraya mengusap kepala Nadhira, Nadhira yang sejak tadi memejamkan matanya itu pun mulai membuka kedua matanya lebar lebar.


"Ikut" Ucap Nadhira.


"Iya ayo" Rifki pun langsung beranjak keluar dari mobil tersebut sambil bergandengan tangan dengan Nadhira.


Keduanya pun bergegas masuk kedalam minimarket tersebut tempat dimana Rifki berbelanja pembalut sebelumnya, dengan riang Nadhira memasuki ruangan minimarket tersebut sementara itu Rifki langsung mengambil sebuah keranjang belanja untuk membantunya memudahkan untuk membawa belanjaan yang Nadhira inginkan.


Nadhira mengambil beberapa cemilan yang ia sukai sementara itu Rifki mengambil beberapa susu formula untuk ibu hamil, ia ingin Nadhira dan calon anaknya sehat sehat sehingga dirinya memilihkan susu formula yang terbaik untuk Nadhira.


"Dhira, kamu suka yogurt?" Tanya Rifki seraya membuka lemari es yang ada di minimarket tersebut.


"Ngak mau" Ucap Nadhira yang tengah sibuk untuk memilih beberapa cemilan kesukaannya.


Setelah memutar mutar minimarket akhirnya dua keranjang belanjaan mereka telah penuh, karyawan toko tersebut yang tengah melihat kedatangan Rifki bersama dengan Nadhira itu pun merasa iri dengan pasangan tersebut yang beberapa minggu yang lalu berbelanja ditempat itu untuk Nadhira.


"Rif, enakan yang rasa coklat atau keju?" Nadhira dihadapkan oleh dua pilihan rasa cemilan yang dirinya sukai itu.


"Pilih keduanya aja Dhira, keduanya juga enak rasanya, sini masukkan kedalam keranjang" Ucap Rifki dan langsung dilakukan oleh Nadhira.


Rifki paling sulit jika harus memilih, karena dirinya takut disalahkan oleh Nadhira sehingga dirinya meminta untuk memasukkan kedua rasa cemilan itu kedalam kerajaan belanjaannya tersebut dan dengan begitu dirinya tidak akan kesulitan untuk memberi jawaban kepada Nadhira atas pertanyaan yang diajukan oleh Nadhira itu.


"Rif, aku mau es cream" Ucap Nadhira dan langsung bergegas menuju kelemari es tempat dimana es cream dipajang disana.

__ADS_1


__ADS_2