
Rifki mengurung dirinya didalam kamarnya setelah mengantarkan kepergian Nadhira, dirinya mengunci pintu kamarnya dari dalam sehingga tidak ada yang bisa membukanya. Sudah 2 hari Rifki berada didalam kamar tanpa keluar, bahkan dalam waktu selama itu tidak ada makanan ataupun minuman yang masuk kedalam tubuhnya.
Rifki tengah duduk diatas kasurnya, dirinya menatap kearah sebuah foto pernikahannya dengan Nadhira. Ia tidak menyangka bahwa Nadhira akan pergi secepat ini meninggalkan dirinya, bahkan Nadhira tidak akan pernah kembali lagi kedunia untuk bersama dengan dirinya.
Dirinya seakan akan telah kehabisan air matanya, bahkan Rifki terlihat sangat terpuruk saat ini. Rifki tidak mau bertemu dengan siapapun, dan dirinya juga mengurung diri dikamarnya tanpa makan dan minum sedikit pun.
Sakit rasanya ketika ditinggalkan oleh orang yang dicintai, bahkan rasanya kehidupan ini sama sekali tidak memiliki artinya. Rifki mengenggam sebuah liontin yang belum sempat ia berikan kepada Nadhira, akan tetapi Nadhira sudah terlebih dahulu pergi meninggalkan dirinya.
Tok... Tok... Tok...
Tiba tiba terdengar suara seseorang yang mengetuk pintu kamar Rifki, akan tetapi Rifki sama sekali tidak mengalihkan pandanganya dari sebuah foto pernikahannya. Beberapa kali pintu kamar itu diketuk, akan tetapi tidak ada jawaban yang diberikan oleh Rifki.
"Rifki, buka pintunya sekarang! Atau mau pintu ini Papa dobrak sekarang?" Tanya Haris yang tengah berdiri didepan pintu kamar Rifki.
"Jangan ganggu Rifki, Pa. Rifki ingin sendiri," Jawab Rifki dari dalam kamarnya dengan keras.
"Rifki, kau juga harus memperhatikan kesehatamu sendiri, Nak. Dua hari lalu, kau baru sadar dari koma, jangan buat kami cemas seperti ini,"
"Lebih baik Rifki tidak bangun sekalian, Pa. Biar Rifki bisa pergi bersama sama dengan Dhira,"
"Jangan katakan seperti itu, Nak. Jika sampai Dhira mendengarnya, bukankah dia yang akan paling sedih? Apa kau mau melihat Dhira menangis disana karena dirimu? Rif, Papa mohon jangan seperti ini, Nak. Kau bukan hanya menyiksa dirimu sendiri, tapi kau juga menyiksa kami semua dengan bertindak seperti ini."
"Biarkan aku sendiri, Pa."
Dua hari tidak makan, membuat wajah Rifki terlihat sangat pucat dan tidak bertenaga. Tak beberapa lama kemudian, Rifki mendengar suara yang sangat keras, ternyata Haris beserta beberapa anggota Gengcobra tengah berusaha untuk mendobrak pintu kamar Rifki.
Mendengar itu membuat Rifki terlihat sangat kesal, dirinya lantas bangkit dari duduknya dan bergegas mendekat kearah pintu kamarnya. Rifki pun bergegas untuk membukanya, setelah pintu terbuka terlihat tubuh Bayu dan Reno yang menabrak lantai kamarnya.
Rifki begitu terkejut melihat dua orang yang terjatuh itu, bukan karena tiba tiba keduanya masuk tapi karena keduanya menabrak lantai dengan sangat kerasnya. Belum sempat untuk Rifki marah kepada keduanya, Haris langsung memegangi kedua pundak Rifki.
"Sudah ku bilang kan, Pa? Jangan ganggu Rifki," Ucap Rifki dengan menahan marah.
"Kamu belum makan dua hari, Nak. Bagaimana Papa bisa tenang? Kalo kamu kenapa kenapa, gimana?"
"Pa, tidak ada masalah jika Rifki kenapa kenapa. Dia juga tidak akan bisa memarahi Rifki, kan? Untuk apa Rifki peduli dengan diri sendiri?"
"Sadar Rifki. Meskipun adanya dia atau tidak, kehidupan akan terus berjalan. Jika kamu terlihat lemah, bagaimana dengan anakmu?"
"Pa, Rifki merasa sia sia belajar beladiri, tapi Rifki tidak bisa sama sekali melindungi orang yang Rifki cintai. Untuk apa semua ini? Kalo Rifki tidak bisa hidup bahagia dengan Dhira?"
"Rifki! Papa tau apa yang kamu rasakan, bukan kamu saja yang merasa kehilangan," Sentak Haris sambil menggoyang goyangkan pundak Rifki, dan dapat terlihat setitik air mata dipelupuk matanya.
Haris tidak tau lagi harus berbuat apa untuk saat ini, bahkan pikirannya sendiri pun terasa sangat rumit. Tanpa kata kata, Haris langsung menarik tangan Rifki dengan kasar untuk keluar dari kamar Rifki, Rifki pun hanya bisa pasrah ketika tarikan kuat dari Haris yang membuatnya merasa sakit.
Belum sempat Rifki protes atas apa yang dilakukan oleh Haris, Haris dengan kasar menghempaskan tangan Rifki. Rifki hampir terjatuh karena tubuhnya yang sangat lemah, akan tetapi beruntung dirinya masih mampu berpegangan pada sebuah meja yang ada didekatnya.
"Lihat mereka semua, apa yang bisa Papa lakukan? Katakan!" Sentak Haris kepada Rifki.
Rifki pun memandang kearah sekelilingnya, hanya ada tatapan kosong yang tersisa dari seluruh penghuni tempat itu. Tiada yang mampu bersemangat akan hal ini, bahkan seluruhnya terlihat sangat terpuruk karena kepergian dari Nadhira.
__ADS_1
Nadhira ibarat sebuah jantung rumah itu, tanpa Nadhira rasanya tiada keceriaan apapun yang ada disana. Kinara yang tengah bersandar di pundak Bu Siti pun terlihat murung, segala upaya telah dilakukan oleh Bu Siti dan Siska pun hanyalah sia sia belaka.
Terlihat Putri pun tengah bersandar pada sebuah sofa, akan tetapi tatapannya begitu sendu dan sangat gelap. Tiada keceriaan diwajahnya, dan hanya tersisa penyesalan karena dahulu pernah merestui hubungan keduanya yang saat ini harus seperti ini.
"Mamamu tidak mau makan sebelum kamu makan, Nak. Lihatlah dia, apa kau tega melihatnya seperti itu?" Tanya Haris sambil menatap kearah Rifki yang kini kian membisu ditempatnya.
Rifki tidak tau apa yang terjadi kepada mereka, kenapa mereka bisa jadi seperti ini pun ia tidak tau. Sangat miris untuk dilihat saat ini, semuanya seakan akan terlihat begitu terburuk tanpa ada semangat untuk bangkit lagi.
Mendengar keributan itu langsung membuat seluruhnya menoleh ke arah di mana sumber suara, Putri mendekat kearah anaknya yang sudah mau keluar dari dalam kamar. Pandangan Putri dan Rifki pun bertemu sekarang, tanpa Rifki sadari bahwa kakinya perlahan lahan mendekat kearah Putri, dan Putri langsung berlari kearahnya.
"Rifki," Ucap Putri sambil menghamburkan pelukannya kepada anak lelakinya itu.
Putri pun menangis di dalam pelukan Rifki saat ini, isak kan kan itu terdengar begitu menyayat kan bagi Rifki. Rifki pun perlahan lahan mengangkat kedua tangannya untuk memeluk tubuh wanita berupaya yang ada di depannya.
"Sampai kapan kau akan menghukum dirimu sendiri, Nak? Kau tidak seharusnya menyalahkan dirimu sendiri seperti ini, bagaimana pun juga kau tidak bersalah dalam hal ini."
"Tapi semua karena diriku, Ma. Seandainya aku segera siuman saat itu, mungkin dia masih ada disini bersamaku,"
"Memang kau bisa merubah takdir? Siapa dirimu? Meskipun kau menghukum dirimu seperti apapun itu, itu sama sekali tidak merubah keadaan apapun. Kau justru malah memperparah semuanya, Rifki. Kau bukan hanya menghukum dirimu sendiri, tapi kau juga menghukum kami semua seperti ini." Putri melepaskan pelukannya dan langsung menatap kearah wajah anaknya.
Rifki bukanlah siapa siapa yang bisa merubah segalanya yang sudah terjadi, ia tidak akan mampu untuk menghidupkan kembali orang yang sudah tiada. Seberapa pun keras dia menghukum dirinya sendiri, takdir yang telah Allah berikan tidak akan mampu untuk ia berubah termasuk juga kematian.
Sungguh sakit rasanya jika harus menentang hati sendiri, Rifki mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa Nadhira masih hidup akan tetapi keyakinannya itu salah. Seberapa pun ia mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri, akan tetapi kenyataannya begitu sangat pahit untuk dirasakan.
"Kamu tidak akan bisa menghidupkan orang yang sudah tiada, Rif. Tanah makam Nadhira pun masih belum kering, tapi kau justru membuat dirinya terhambat seperti saat ini. Dia tidak akan bisa tenang jika sikapmu seperti ini, memang kau pikir Dhira akan senang melihatmu seperti ini, ha? Dia pasti akan sedih melihat orang yang dicintainya menghukum dirinya sendiri seperti ini."
Wajah Rifki terlihat begitu sangat pucat saat ini, ia baru saja sembuh akan tetapi dirinya belum makan apapun untuk beberapa hari ini. Tubuhnya terasa sangat panas, bahkan pernafasannya pun rasanya seperti mengeluarkan uap yang sangat panas.
Karena terlalu lama berdiri membuatnya terasa sangat pusing bahkan rasanya seperti berkunang kunang, apalagi dalam kondisi seperti ini sudah lemas tapi belum kemasukkan apapun. Seketika itu juga pandangan Rifki mulai menggelap, dirinya tidak sadar bahwa kesadarannya mulai menghilang.
Dengan sigapnya, hadis yang berada tidak jauh dari keduanya langsung bergegas menangkap tubuh Rifki. Dirinya dan dibantu oleh anggota Gengcobra segera membawa Rifki masuk ke dalam kamarnya, Rifki jatuh pingsan saat itu juga karena tubuhnya yang sedang tidak baik baik saja.
*****
Rifki perlahan lahan mulai membuka kedua matanya, dirinya pun merasakan sesuatu yang lembek dan dingin tengah berada di keningnya. Ketika dirinya mulai membuka kedua matanya, ia melihat sosok seorang dokter yang tengah memeriksanya.
Tidak jauh dari tempatnya terbaring, nampak terlihat Putri yang tengah duduk dengan khawatir sambil menatap ke arah Rifki. Dokter itu pun menyuntikan sesuatu di tangan Rifki, hingga membuat Rifki mengenyitkan keningnya merasakan sebuah cairan yang perih masuk ke dalam tubuhnya.
"Jika diteruskan seperti ini, bisa bisa dia akan terkena penyakit lebih parah dan mengancam nyawanya. Lambangnya sudah tergores, karena belum ada makanan yang masuk kedalam tubuhnya dari awal dia koma sampai sekarang. Saraf di kepalanya juga belum sepenuhnya sembuh, apalagi setelah mengalami koma. Jika ini dibiarkan, maka bisa berakibat fatal," Ucap Dokter itu yang terlihat khawatir setelah memeriksa Rifki.
Mendengar itu membuat Putri nampak begitu khawatir, ia tidak mau kehilangan anak lelakinya juga setelah dirinya kehilangan menantunya. Rifki hanya mendengarkannya dalam diam, memang saat ini kepalanya terasa begitu sangat sakit, bahkan lebih sakit daripada biasanya disaat dirinya mengalami sakit kepala.
"Lantas apa yang bisa saya lakukan, Dok?" Tanya Putri khawatir dengan keadaan Rifki.
"Mohon dengan sangat, anak anda jangan sampai telat makan ataupun minum obat. Untuk hasil lebih lanjut, saya akan membawa sempel darahnya ke laboratorium untuk di periksa lebih detail."
"Iya Dok."
Dokter tersebut pun mengeluarkan sebuah suntikkan kosong dari dalam tas yang dirinya bawa, dia pun langsung menyuntikan suntikan kosong itu di tangan Rifki. Dokter tersebut pun mencoba untuk mengambil darah milik Rifki, akan tetapi sama sekali tidak ada darah yang bisa dirinya ambil karena Rifki yang tidak memakan apapun.
__ADS_1
"Tekanan darah anak Ibu hanya 70, sangat dibawah rata rata pada umumnya. Dan itu menyebabkan darahnya sulit untuk di ambil," Ucap Dokter itu sambil terus berusaha mengambil darah Rifki melalui siku bagian dalam.
Dokter tersebut terus menekan suntikkan itu hingga membuat Rifki mengernyitkan dahinya, dan dapat terlihat adanya bekas biru dibagian jarum yang sudah menancap itu. Setelah lama mencoba, akhinya dia pun mampu untuk mengambil darah milik Rifki.
"Kalau begitu, saya pamit dulu. Untuk hasilnya, nanti saya akan memberitahu anda," Pungkas Dokter itu setelah memasukkan darah milik Rifki kedalam tasnya.
"Terima kasih, Dok. Biar saya antar keluar," Ucap Putri.
Putri pun mempersilahkan dokter tersebut keluar dari kamar Rifki, dan membiarkan Rifki untuk istirahat sementara waktu. Rifki pun memposisikan tubuhnya agar terasa nyaman, sekilas dirinya melihat bayangan seseorang di kejauhan.
"Nara, kenapa berdiri didepan pintu? Masuklah," Ucap Rifki sambil mengernyitkan dahinya karena rasa sakit ditubuhnya.
Sosok Kinara pun muncul dibalik pintu kamar Rifki, dirinya pun berjalan masuk kedalam kamar Rifki dengan perlahan lahan. Kinara hanya mampu berdiam diri tanpa banyak berbicara ketika melihat tubuh Rifki yang lemah, terlihat sangat memperihatinkan untuk saat ini.
Rifki pun berusaha untuk duduk sambil bersandar di sandaran kasur, dirinya pun tersenyum kearah Kinara yang tengah berdiri tidak jauh darinya. Setelah sekian lama, baru kali ini Kinara datang untuk mengunjunginya didalam kamar itu.
"Ada apa, Nak?" Tanya Rifki dengan suara yang berat.
"Om sakit apa?" Tanya Kinara penasaran.
Rifki hanya bisa memasang senyuman tipis diwajah nya, ketika Kinara yang memanggilnya dengan panggilan 'Om' bukan 'Papa'. Rifki berpikir mungkin begitu sulit bagi Kinara untuk mengakuinya sebagai Ayahnya, apalagi Rifki yang tidak pernah ikut andil dalam membesarkan dirinya.
"Nggak papa kok, hanya kecapean saja. Nanti juga sembuh," Jawab Rifki dengan senyuman yang penuh kesedihan.
"Tapi Dokter itu bilang...."
Kinara belum sempat menyelesaikan perkataannya, akan tetapi Rifki langsung memotongnya begitu saja tanpa membiarkan Kinara untuk melanjutkan perkataannya.
"Jangan pikirkan soal itu, itu hanya sebuah tebakan saja. Kamu sudah makan?" Tanya Rifki yang mencoba untuk mengalihkan percakapan.
"Belum," Jawab Kinara datar.
"Kenapa?"
"Nggak ada makanan kesukaan Nara disini, Om. Nara nggak suka,"
"Kamu mau makanan apa? Biar Papa kasih tau sama Bi Sari untuk memasaknya,"
"Nggak. Nara mau pulang kerumah Tante Siska, Nara nggak suka disini,"
"Nara, jangan pergi, ya?"
"Nara nggak suka disini!" Sentak Kinara dan langsung bergegas pergi dari tempat itu.
"Nara jangan pergi! Jangan tinggalkan Papa, Nak! Nara!" Teriak Rifki mencoba untuk menghentikan Kinara.
Rifki berusaha bangkit dari tidurnya untuk mengejar Kinara, akan tetapi ketika dirinya berdiri tiba tiba kakinya terasa sangat lemas hingga membuatnya terjatuh. Panggilan Rifki pun diabaikan oleh Kinara, bahkan Kinara tidak peduli bahwa Rifki tengah terjatuh saat ini.
Rifki pun menaruh kepalanya di lantai karena tenaganya habis terkuras, hal itu saja sudah mampu membuat Rifki seperti tengah kehabisan nafas. Sakit, itulah yang dirinya rasakan saat ini, bukan hanya sakit fisiknya tapi hatinya juga ikut terluka karena ulah Kinara.
__ADS_1
Rifki pun menitihkan air matanya, dirinya tidak menyangka bahwa anaknya telah bersikap kasar kepadanya.
"Kesalahanku memang tidak bisa dimaafkan. Apakah begitu besar rasa bencimu kepadaku, Nara?Maafkan Papa, Nak."