Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Kekacauan 2


__ADS_3

Terjadilah pertarungan di tempat itu antara Nadhira dengan keenam orang yang ada di hadapannya, pertarungan itu terlihat sangat tidak seimbang karena satu melawan enam orang sekaligus. Nadhira yang jarang menggunakan ilmu bela dirinya pun tidak sehebat dahulu, apalagi dirinya terus terusan terkena pukulan dan tendangan hingga membuatnya menggeram kesakitan.


"Akui saja bahwa dirimu adalah Nadhira, jangan pura pura mengalah di hadapanku," Ucap Sena yang melihat bahwa wanita yang ada dihadapannya tidak mampu untuk bangkit berdiri.


"Perlu bukti apa lagi jika aku ini bukan orang yang kamu maksud, aku tidak bisa bela diri seperti apa yang kamu katakan." Nadhira tetap tidak mau melawan Sena yang ada dihadapannya itu, karena dirinya tidak mau identitasnya terbongkar dihadapan wanita itu.


"Jangan berpura pura lagi kau, Dhira. Ayo lawan aku sekarang! Atau suamimu akan mati juga ditanganku,"


"Suamiku? Apa kau tau dimana suamiku? Sudah puluhan tahun aku tidak bertemu. Apa kau mengenalinya?"


Benar benar pemain drama yang sangat handal, mendengar perkataan Nadhira membuat Sena semakin bingung dibuatnya. Nadhira yang masih duduk di atas tanah itu pun langsung ditendang oleh Sena dengan kerasnya, hal itu membuat Nadhira langsung terbaring begitu saja.


Nadhira merasakan dadanya sangat nyeri akibat tendangan itu, untung saja Sena tidak menendangnya di bagian perut yang lebih tepatnya di mana dirinya kehilangan ginjalnya. Rasanya ingin sekali muntah saat ini juga, lantaran dadanya terasa sesak akibat dari tendangan tersebut.


Nadhira memegangi dadanya yang terasa nyeri, dirinya kini tengah dikepung oleh Sena beserta anak buahnya, sehingga dirinya tidak bisa kabur dari tempat itu. Dibalik cadar yang dirinya pakai, Nadhira terlihat mengeratkan gigi giginya untuk menahan rasa sakit yang diakibatkan oleh Sena beserta anak buahnya.


"Menyerahlah sekarang, Dhira. Tunjukkan identitasmu yang sebenarnya," Ucap Sena.


"Identitas apa maksudmu? Kau menuduh orang yang salah, aku bukanlah orang yang kau maksud itu."


"Dhira yang ku kenal tidak memiliki rasa sakit, bangkitlah dan lawanlah aku sekarang!"


"Karena aku bukanlah Dhira! Sampai kapan kalian akan mendesakku seperti ini? Identitas apa yang kalian maksudkan itu? Uhukk... Uhukk..." Nadhira pun terbatuk batuk setelah mengatakannya karena rasa sesak yang menyeruak keseluruh dadanya.


"Jangan berbohong Dhira!"


"Astaghfirullah hal azim. Ya Allah sakit," Ucap Nadhira lirih sambil memegangi dadanya.


Nadhira berusaha untuk bangkit akan tetapi tiba tiba tubuhnya terhadang oleh pisau pisau yang tengah diarahkan kepadanya oleh orang orang itu. Jarak pisau pisau tersebut begitu dekat dengan lehernya hingga dirinya tidak bisa berbuat apa apa, dan dirinya melihat bahwa pisau itu sangat tajam.


"Apa kalian berniat membunuh orang yang tidak bersalah sepertiku? Tolong jangan bunuh aku. Aku tidak tau kesalahanku apa sama kalian, tolong lepaskan aku." Nadhira pun memandangi satu persatu pisau yang sangat tajam itu.


"Jangan berniat kabur dari tempat ini, Dhira. Atau dengan terpaksa kami memenggal kepalamu itu," Ancam Sena yang ikut serta menodongkan pisau kearah Nadhira.


Nadhira hanya menganggukkan kepalanya pelan, Sena lantas memerintahkan anak buahnya untuk membawa Nadhira pergi dari tempat itu. Kedua orang langsung memegangi tangannya, sementara sisanya mereka masih mengarahkan pisau yang mereka bawa kearah leher Nadhira.


Nadhira sudah merasa lemah saat ini, apalagi sebelumnya begitu banyak tendangan yang ia dapatkan, hingga membuatnya tidak mampu melawan dan butuh waktu untuk mengembalikan kekuatannya. Tanpa Sena sadari, bahwa Nadhira tengah melakukan sebuah pernafasan yang pernah diajarkan oleh Rifki untuk menghilangkan rasa nyeri akibat tendangan.


"Jangan cari aku, Rif. Kau harus tetap hidup meskipun tanpa diriku, maafkan aku, maafkan aku sayang. Aku sangat menyayangimu, seumur hidupku hanya ada dirimu dalam hatiku, cinta pertama dan terakhirku. Aku menyayangimu, lebih dari nyawaku sendiri, aku ingin kau hidup bahagia." Batin Nadhira.


Sena dan anak buahnya pun memasukkan Nadhira kedalam sebuah mobil, dirinya juga mengikat kebelakang kedua tangan Nadhira. Bahkan didalam mobil sekalipun, pisau pisau itu masih terarah kepadanya.


"Kau tidak akan selamat lagi kali ini, Dhira. Kau telah menghancurkan permata itu, dan merusak semua usahaku. Kali ini kau akan mati ditanganku," Ucap Sena dan langsung disusul oleh tawanya.


"Apa kau mengenali suamiku?" Tanya Nadhira dengan nada santai seakan akan tidak ada rasa takut akan kematian.


"Jangan harap Rifki bisa menyelamatkan dirimu."


"Tidak, bukan itu maksudku. Aku hanya ingin mati didalam pelukannya, meregangkan nyawa didalam dekapannya. Hanya itu saja,"

__ADS_1


"Kau akan mendapatkan itu setelah kau menjadi mayat."


"Aku berharap juga seperti itu."


*****


Dirumah besar milik Rifki pun terjadi sebuah pertarungan, tiga orang tumbang melawan Rifki sendirian. Disana begitu banyak orang yang menyerang, akan tetapi anggota Gengcobra belum juga sampai ditempat itu karena jarak tempuh begitu jauh dan membutuhkan waktu yang cukup lama.


"Tuan Muda, anda ngak kenapa kenapa?" Tanya salah satu anggota Gengcobra yang ada disana ketika melihat Rifki sedikit oleng.


"Nggak papa kok," Jawab Rifki.


"Sebaiknya Tuan Muda mencari tempat yang aman, biar kami yang akan menghadapi mereka disini."


"Aku nggak bisa meninggalkan kalian begitu saja, kita hadapi mereka sampai anggota Gengcobra datang."


"Tapi Tuan Muda..."


Tiba tiba salah satu musuh dari mereka pun menyerang kearah Rifki, dengan lincahnya Rifki pun menghindari serangan tersebut dan langsung melontarkan sebuah serangan balik kearah penyerang itu. Hingga lelaki yang menyerang Rifki pun tersungkur diatas lantai hingga menabrak sebuah meja sangat keras.


Bukan hanya itu saja, tiba tiba Rifki mendapatkan sedangan balik dari yang lainnya. Anggota Gengcobra pun tak luput dari serangan serangan itu, perkelahian terjadi cukup heboh didalam rumah itu.


Disatu sisi, terlihat sosok berpakaian serba hitam berdiri diluar cendela, dirinya pun memerhatikan pertarungan itu dengan sebuah jarum yang ada ditangannya.


"Aku tidak bisa menolongnya sendirian, cepatlah datang sebelum aku mati untuk menyelamatkan dia. Aku hanya bisa mengulur waktu sedikit, aku tidak hebat berkelahi tapi aku sedikit bisa beladiri. Cepatlah datang, bantu Dhira." Ucap sosok tersebut.


Untung saja Rifki dapat mengetahuinya dan langsung menghindarinya, dan jarum itu pun langsung tembus ke sebuah almari kayu yang ada disana. Rifki melihat kearah jarum itu dan mendapati adanya sebuah surat yang terlilit disana, dan dirinya langsung segera mengambilnya.


Rifki berhasil mengambil surat itu, akan tetapi dirinya langsung dihadapkan oleh beberapa serangan yang terarah kepadanya. Rasanya tenaga orang orang itu tidak ada habisnya, bahkan kebanyakan dari mereka seperti tengah mengulur sebuah waktu.


Sebuah tendangan pun melaju kearah leher Rifki, akan tetapi Rifki langsung menghindarinya dengan menyondongkan tubuhnya kebelakang. Serangan tersebut melintas begitu saja diatasnya, dan dirinya pun langsung melakukan gerakan sapuan hingga membuat orang yang menyerangnya langsung terjatuh dengan kerasnya ke lantai.


Karena lelaki yang berhadapan dengan Rifki hanya berpacu dengan satu kaki, sementara kaki yang lainnya masih diatas karena melakukan tendangan. Oleh karena itu, lelaki tersebut sangat mudah sekali untuk dijatuhkan oleh Rifki begitu saja, karena hilangnya keseimbangan miliknya itu.


Karena kerasnya lelaki itu terjatuh hingga kepalanya terbentur sebuah tembok, hal itu menyebabkan lelaki tersebut langsung pingsan begitu saja. Rifki langsung beralih untuk melawan yang lainnya dan membantu anggota Gengcobra, surat itu masih digenggamnya dengan erat agar tidak hilang.


Setelah musuh yang ada didalam ruangan itu mampu dikalahkan oleh Rifki dan beberapa anggota Gengcobra itu, tiba tiba mereka semua pun langsung kabur dari tempat itu. Hal tersebut langsung membuat Rifki terheran, jika memang mereka mengincar dirinya lantas kenapa mereka semua harus kabur? Apalagi mereka memiliki anak buah sebanyak itu.


"Tuan Muda, anda tidak kenapa kenapa?" Tanya salah satu anggota Gengcobra.


"Aku nggak papa, kalian nggak apa apa kan?" Tanya Rifki balik.


"Aman, cuma tangan Dimas sedikit tergores, biar saya bawa untuk diobati,"


Rifki pun menoleh kearah dimana orang yang dimaksud, terlihat lengan kiri orang itu sudah berlumuran darah, mulai dari lengan atas hingga darahnya menetes dari ujung jemarinya. Seperti tergores oleh senjata tajam, begitupun bajunya yang sudah terkoyak.


"Baiklah, cepat obati dia sebelum terjadi infeksi. Setelah itu biarkan dia istirahat," Ucap Rifki.


"Baik Tuan Muda."

__ADS_1


Kedua orang itu langsung pergi meninggalkan tempat tersebut, sementara Rifki langsung membuka gulungan kertas yang dirinya temukan sebelumnya itu. Entah siapa yang melemparkan itu kearahnya sebelumnya, orang itu tidak berniat untuk mencelakakannya akan tetapi mengirimkan sebuah pesan kepadanya.


Isi pesan :


Bodoh... Kakak ipar yang sangat bodoh, dengan mudahnya kau dikelabui oleh mereka. Kejar Dhira bodoh! Incaran mereka itu dia, ayo selamatkan dia


Rifki pun mengepalkan tangannya dengan sangat eratnya dengan kedua mata yang menatap nyalang, "Ck... Sial!"


Rifki langsung meremaas kertas tersebut dan melemparkannya ke sembarang arah, dirinya pun langsung berlari secepat mungkin untuk menyusul Nadhira. Jika terjadi sesuatu dengan Nadhira, dirinya tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri sampai kapanpun karena kelalaiannya.


"Tuan Muda! Anda mau kemana?"


*****


Bhukk...


"Akhh... Pantatku! Nih tembok tinggi banget sih,"


Sosok seorang lelaki nampak melompat dari sebuah pagar tembok yang tinggi, akan tetapi yang mendarat lebih dahulu adalah pantatnya untung saja dirinya mendarat direrumputan yang sedikit gembur. Dia adalah Sapta yang baru saja keluar dari rumah lama milik Nadhira, rumah itu ditinggali oleh Bi Ira dan Pak Santo.


Sapta berusaha untuk bangkit meskipun masih terasa nyeri, mungkin dengan cara ini dirinya bisa mendapatkan foto masa kecil Nadhira untuk bisa membuat Lia mengingat semuanya. Ia tidak mau membuat siapapun tau tentang Lia, dan justru akan membuat Lia dalam bahaya apalagi Lia yang telah hilang ingatan itu.


"Sejak kapan diriku jadi maling? Ayah, maafin anakmu ini ya, beneran nggak niat jadi maling kok. Tenang tenang di syurga-Nya ya Ayah, aku sayang Ayah. Jangan laknat aku dari sana ya Ayah, pliss... Aku anak baik baik kok, serius deh."


Dengan perlahan lahan, Sapta pun mencari jendela yang bisa dibuka olehnya. Hingga dirinya menemukan sebuah cendela yang memang dibuka oleh Bi Ira sejak pagi tadi. Sapta pun mengawasi lingkungan sekitarnya, ketika dirasa sudah aman dirinya baru langsung masuk kedalam rumah tersebut.


Nampaknya Pak Santo tidak ada dirumah sekarang karena masih bekerja, sementara Bi Ira terlihat sedang didalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sapta pun langsung melancarkan aksinya untuk mencari foto masa kecil milik Nadhira, dirinya berpikir mungkin dengan cara itu Lia bisa mengingat wajah Nadhira disaat kecil.


Sapta mulai mencarinya dari kamar satu kekamar yang lainnya, akan tetapi tidak ditemukan juga karena foto fotonya telah dibakar habis oleh Sena sebelumnya. Hingga dirinya masuk kedalam sebuah kamar milik Nadhira kecil, barang barang disana masih terawat dengan rapi bahkan sama sekali tidak ada yang berubah dalam kamar itu.


Bi Ira begitu menjaga kamar itu dan rutin untuk membersihkan, dia begitu sangat merindukan Nadhiranya. Tak henti hentinya dirinya memikirkan tentang Nadhira, bahkan disaat seluruh dunia mengatakan bahwa Nadhira sudah tiada tapi hati kecilnya terus memberontak menentang hal itu.


Setiap kali dirinya merindukan Nadhira, dia akan masuk kedalam ruangan itu untuk memeluk boneka kesayangan Nadhira disana. Aroma ruangan itu sengaja dibuat beraroma Nadhira, sama sekali tidak ada yang berubah.


Ruangan yang kedap suara, lantai yang selalu dibuat sandaran Nadhira ketika habis dipukuli, dan bahkan tempat dimana Nadhira tidak mampu menyembunyikan air matanya. Sapta pun menatap se kelilingnya, dirinya memandangi satu persatu ujung kamar tersebut.


"Kamar cewek, ya? Apa rumah ini sudah menjadi milik orang lain? Jadi bukan milik Om Rendi lagi? Yahhh... Jelas udah nggak ada foto tuh anak dirumah ini lagi." Sapta pun merasa kecewa dan langsung lemas begitu saja.


Dirinya pun kembali mendaratkan tubuhnya dilantai, akan tetapi tidak terlalu keras karena nyeri yang tadi masih begitu terasa di pantatnya. Dirinya pun menerawang jauh dan masuk kedalam hayalannya, kemana dirinya akan mencari selanjutnya.


"Sia sia ku berjuang, merangkak dirumah orang," Sapta pun bernyanyi pelan. "Ayah... Kenapa aku bisa jadi maling beneran? Mukaku pasti bonyok tanpa hasil, ini sangat menyebalkan sekali. Ayah maafin anakmu yang kembali dengan bonyok tanpa hasil, nyesek rasanya. Dih kenapa diriku bisa selebay perempuan sih? Sadar woi, kau ini lelaki Sapta."


Sapta pun bangkit dari duduknya, dirinya pun bersiap siap untuk keluar dari dalam kamar itu. Akan tetapi perhatiannya seketika langsung membuat dia menghentikan langkah kakinya, dan ia menatap sebuah tulisan yang ada dibelakang pintu itu yang bertuliskan, "Nadhira Novialiana Putri yang akan menyayangi Mama Lia dan Ibu Ira selamanya".


Tulisan itu mendadak membuat Sapta merasa yakin bahwa ini adalah kamar milik Nadhira, dan dirinya pun bergegas menuju kearah laci untuk mencari barang yang dia butuhkan itu. Dia mulai mencari dan mencari ke seujung kamar tersebut, akan tetapi tidak menemukan apapun yang ia inginkan itu.


Nampaknya foto foto itu telah dibakar habis oleh Sena, bahkan tak ada satupun yang tersisa disana. Hingga sebuah buku pun jatuh mengenai kepalanya, buku yang ada diatas lemari pun terjatuh hingga membuat Sapta sangat terkejut.


"Dairy milik Dhira, bener bener rezeki anak soleh. Terima kasih Ya Allah, Engkau telah membantuku."

__ADS_1


__ADS_2