Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Menculik Nadhira


__ADS_3

Nadhira sedang fokus dengan pekerjaannya saat ini, akan tetapi Nimas yang terus memperhatikannya merasa bingung mengapa Nadhira terus tersenyum disepanjang waktu ini, meskipun pekerjaannya kali ini begitu sangat menumpuk karena masih begitu banyak berkas yang harus ia priksa saat ini dan beberapa berkas yang perlu untuk ditandatangani.


Dapat Nimas lihat bahwa Nadhira sesekali melirik kearah jam dinding yang terpasang begitu rapi didinding ruangan tersebut, seketika hal itu membuat Nimas mengerti bahwa Nadhira kini tengah menunggu kedatangan Rifki untuk menjemputnya nanti, dan Nimas tertawa seketika.


Mendengar tawa Nimas tersebut membuat Nadhira segera menoleh kearahnya, melihat bahwa Nadhira tengah menatap dirinya dengan tajam hal itu membuat Nimas mencoba untuk menahan tawanya tersebut dan lebih memilih untuk diam.


"Kenapa kau tertawa seperti itu? Apa ada yang lucu ha?" Tanya Nadhira dengan penasaran.


"Ngak ada, hanya menertawai diriku sendiri, emang ngak boleh apa?" Tanya Nimas dengan sensinya.


"Ngak usah ngeles lagi, sejak kapan kau pernah menertawai dirimu sendiri? Itu bahkan tidak pernah terjadi selama ini".


"Kau bahkan sudah melupakan diriku sejak pembawa masalah itu kembali, bagaimana kau bisa mengetahui diriku yang sedikit berubah belakang ini? Huh sungguh kau begitu tega dengan diriku Dhira, sangat sangat tega sekali" Ucap Nimas.


"Kau bilang apa tadi? Pembawa masalah? Akan ku adukan kau kepada Rifki, biar dia yang akan menghukummu nanti"


"Dia tidak akan bisa melakukan itu, secara kan aku yang selalu melindungimu dan selalu berada disisimu selama ini, kalau jiwaku lenyap artinya tidak ada lagi yang akan melindungimu nantinya, bagaimana bisa aku tidak menyebutnya sebagai pembawa masalah? Sejak dia datang kau bahkan sama sekali tidak mempedulikan diriku Dhira".


"Ternyata ilmu membalikkan kata kata milikku itu menurun padamu ya, pantas saja kau bisa berkata seperti itu kepadaku Nimas".


"Akhirnya aku bisa juga mengalahkan dirimu soal kata kata seperti itu, rasanya seperti mendapatkan piala dunia yang sangat luar biasa" Nimas begitu kagum dengan ucapannya sendiri yang mampu mengalahkan Nadhira.


"Jangan bangga dulu, baru juga sekali".


"Meskipun hanya sekali itu harus harus dirayakan juga kan, bukankah ini juga bisa disebut sebagai sebuah prestasi?".


"Prestasi itu diakui oleh seluruh penghuni dunia, sedangkan dirimu? Dunia bahkan lebih dari setangah orang tidak bisa melihat wujudmu itu, lalu siapa yang akan mengakuinya?"


"Terserah apa katamu, bagiku ini tetaplah sebuah prestasi yang sangat besar".


"Menang hanya sekali saja bangga, aku yang berkali kali tuh hanya biasa saja, sudah ah sebentar lagi akan pukul 4 sore".


"Kau mau kemana? Mau kencan ya?" Tanya Nimas dengan nada menggoda Nadhira.


"Bukan urusanmu, ini waktunya pulang kau tau!".


Nadhira segera membereskan berkas berkas penting yang ada didalam mejanya ketika waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore dan langsung memasukkannya kedalam brangkas yang ada didalam ruangannya itu, setelahnya dia segera bergegas keluar dari kantornya.


Ketika Nadhira melewati pintu utama dari perusahaannya tiba tiba seseorang mengangkat tubuh dengan sangat mudah hingga membuatnya sangat terkejut dan hampir berteriak, melihat itu seluruh karyawan bergitu panik dengan apa yang terjadi kepada Nona Muda nya itu.


"Nona Muda!"


"Jangan ada yang bergerak disini! Kalau tidak Nona Muda kalian akan dalam bahaya, karena dia sudah ada ditanganku sekarang, jika kalian mendekat, aku akan mencelakainya".


Seluruh karyawan nampak begitu panik ketika Nona Muda nya akan diculik oleh seseorang yang sama sekali tidak mereka kenali itu, sementara Nadhira sendiri hanya tersenyum melihat siapa yang tengah menggendongnya saat ini, bisa bisanya Rifki melakukan hal seperti ini didepan para karyawannya.


"Biarkan pemuda ini menculikku, aku tidak ingin celaka ditangannya" Ucap Nadhira berpura pura ketakutan dengan ancaman Rifki.


"Tapi Nona Muda, dia ingin berniat jahat pada Nona Muda" Ucap Citra yang mulai merasa cemas.


"Berniat jahat atau tidak bukan urusanmu" Ucap Rifki sambil mendengus dingin.


Citra begitu panik dengan ancaman itu berbeda jauh dari Nadhira yang tampak biasa saja, akan tetapi seketika Citra teringat dengan tatapan kedua mata Rifki, dirinya pernah melihat mata tersebut sebelumnya berada didepan gerbang perusahaan.


"Eh bukannya kau adalah ojek Nona Muda tadi pagi ya? Tapi kenapa kau ingin menculik Nona Muda? Apa Nona Muda telah melakukan kesalahan kepada dirimu itu?" Tanya Citra ketika mengingat kedatangan Nadhira sebelumnya.


"Ojek? Aku bukan tukang ojek pengkolan biasa, aku adalah seorang preman kampung, jangan macam macam kalian dengan diriku, aku bisa berbuat nekat juga jika kalian terus menghalangi jalanku seperti ini" Ucap Rifki sambil menunjuk kearah Citra.

__ADS_1


Nadhira menghela nafasnya mendengar ucapan Rifki dan berkata,"Tapi ini dikota Rifki bukan kampung" Bisik Nadhira kepada Rifki yang ingin sekali tertawa akan tetapi ia lebih memilih untuk menahan tawanya.


"Eh maaf salah, aku bukan preman kampung biasa, tapi preman kota yang gagah dan pemberani" Ucap Rifki lagi lagi yang membuat mereka kebingungan.


"Aku tidak peduli siapapun kau, entah kau itu ojek, preman, pencopet, pembegal, penjual, pelukis, perancang, penjahat, pemalak, pemabuk, pencuri, penculik, pembunuh, peramal atau apapun itu, tolong lepaskan Nona Muda sekarang juga, atau aku akan laporkan kepada pihak berwajib agar kau ditangkap secepatnya karena telah berusaha untuk menculik Nona Muda kami" Ancam Citra.


Rifki meniup rambutnya yang menutupi jidatnya mendengar ucapan itu, ancaman itu seakan akan tidak berarti bagi Rifki dan Rifki seperti meremehkan ucapan wanita yang ada didepannya itu, melihat tingkah Rifki membuat Citra kehabisan kata kata untuk bisa menyelamatkan Nona Muda nya.


"Bagaimana kau tau bahwa itu semua yang kau sebutkan tadi adalah profesiku saat ini? Apa kau seorang peramal juga ha? Tapi kenapa tukang angkat barang tidak kau diikut sertakan dalam ucapanmu tadi sekalian?! Asal kau tau padahal itu juga termasuk pekerjaan sampinganku selama ini" Jawab Rifki dengan sedikit geram.


"Sejak kapan kau menjadi tukang angkat barang? Aku belum pernah melihatmu bekerja sebagai tukang angkat barang" Tanya Nadhira keheranan.


"Sejak beberapa menit belakangan ini".


Bhuk..


Nadhira memukul dada Rifki mendengar ucapan Rifki sambil cemberut, "Jadi menurutmu aku ini adalah barang begitu? Enak saja kalau bilang, aku bukan barang tau".


Mendengar perkataan Nadhira seakan akan membuat seluruh karyawannya merasa bingung, entah drama apa yang sedang mereka mainkan saat ini, siapa pemuda itu? Dan apa hubungannya dengan Nona Muda nya? Berbagai macam pertanyaan muncul dibenak mereka semua.


"Iya iya kau bukan barang tapi mirip sama drom besar, sama sama beratnya" Jawab Rifki sambil berpura pura keberatan.


"Apa kau bilang! Turunkan aku sekarang juga!"


Wanita memang begitu sangat sensitif dengan perkataan yang menyangkut dengan berat badannya apalagi dengan postur tubuhnya, mereka sangat tidak suka jika disebut berat ataupun gendut.


Nadhira mencoba untuk membuat Rifki melepaskan dirinya dari gendongannya itu, akan tetapi hal itu semakin membuat Rifki memegangi tubuh Nadhira dengan sangat eratnya agar Nadhira tidak terlepas dari gendongannya saat ini.


"Tidak, aku ingin menculikmu saat ini dan diamlah, sekarang kau kini telah menjadi tahananku, maka jadilah tahananku yang paling patuh dan jangan memberontak untuk minta diturunkan" Ucap Rifki dengan halusnya kepada Nadhira.


Rifki segera bergegas dari tempat tersebut dengan Nadhira yang masih dalam gendongannya, tatapan Rifki terarah kepada wajah Nadhira dan tersenyum lembut kepada Nadhira, sementara Nadhira ikut tersenyum ketika melihat Rifki tersenyum kepadanya.


Entah apa yang harus mereka lakukan untuk menolong Nadhira akan tetapi sepertinya Nadhira juga merasa senang ketika pemuda itu ingin membawanya pergi dari perusahaannya.


Disatu sisi sosok pemuda lain sedang berdiri sambil mengepalkan kedua tangannya ketika melihat Nadhira bersama dengan Rifki, pemuda itu tidak lain adalah Theo yang merasa sangat terbakar ketika menyaksikan kejadian disore hari ini.


"Awas saja kau Rifki, aku akan memberi perhitungan kepadamu nanti" Ucapnya dengan geram.


Rifki menggendong tubuh Nadhira untuk menuruni sebuah tangga yang akan membawa mereka menuju kedalam sebuah halaman dimana mobil Rifki tengah terparkir saat ini.


"Ini baru yang namanya menculik seorang wanita yang sesungguhnya"


"Sebentar lagi kau pasti akan menjadi buronan Rif".


"Biarlah menjadi buronan, mungkin buronan para gadis lagi, kalau buronan para polisi bukan masalah sebenarnya, sungguh sangat menyebalkan memiliki wajah setampan ini dan harus berurusan dengan wanita, kemanapun aku berada rasanya seperti tidak pernah terlepas dari pandangan para gadis gadis seperti itu" Keluh Rifki.


"Emang kau mau menjadi buronan para polisi? Bagaimana kalau ada yang melapor bahwa ada seorang lelaki yang menculik seorang wanita dari perusahaannya sendiri?"


"Kenapa tidak? Bukankah wajahku nantinya bakal terkenal dimana mana? Lalu banyak deh yang jatuh hati kepadaku".


"Akan ku kantongin tuh wajahmu nanti".


"Ngeri amat".


"Apa kita akan naik mobil? Tapi aku inginnya naik sepeda motor seperti tadi".


"Bukankah sudah ku bilang kalau kali ini kau ku culik? Bagaimana bisa menculik seorang gadis dengan sepeda motor? Yang ada mereka tidak akan percaya kalau kau benar benar memang diculik" Nadhira hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman.

__ADS_1


Ketika keduanya sampai didekat mobil pribadi milik Rifki, beberapa anak buahnya segera membukakan pintu mobil untuk keduanya, sementara itu Rifki segera memasukkan Nadhira kedalam mobilnya setelah itu dirinya sendiri yang masuk kedalamnya dan duduk disamping Nadhira.


Melihat itu membuat para karyawan Nadhira bertanya tanya tentang sosok sebenarnya dari Rifki karena dengan hadirnya beberapa anak buahnya itu membuat Rifki terlihat seperti seseorang yang sangat penting, yang tadinya Citra kira Rifki adalah seorang tukang ojek yang mengantarkan Nadhira kerja tapi sekarang dia menjemput Nadhira menggunakan sebuah mobil apalagi dengan beberapa bodyguard yang ikut bersama dengan dirinya.


"Siapa sebenarnya pemuda itu? Apakah yang Nona Muda katakan sebelumnya memang benar adanya" Guman Citra.


"Lalu sekarang bagaimana Bu Citra? Apakah kita perlu untuk melaporkan kejadian ini kepada pihak berwajib soal penculikan Nona Muda?" Tanya seseorang yang ada disebelah citra.


"Tidak perlu melakukan itu, bagaimana mungkin ada seseorang yang ingin menculik seorang wanita dengan cara seperti itu? Sudahlah, kalian pulang saja lagian tidak akan terjadi sesuatu dengan Nona Muda, mungkin itu hanya sandiwara saja".


"Baiklah kalau begitu Bu Citra, kami pulang dulu".


"Oh iya jangan ada yang berani beraninya melaporkan hal ini" Ucap Citra lagi ketika menerima sebuah pesan dari Nadhira.


Seluruh karyawan memutuskan untuk kembali pulang kerumah mereka karena waktu sudah menunjukkan bahwa mereka telah boleh untuk meninggalkan perusahaan tersebut, sementara disatu sisi Theo mendapatkan sebuah ide.


"Kalian memang benar, aku akan melaporkan ini kepada pihak berwajib, lihat saja nanti Rifki, kau akan mendapatkan sebuah kejutan dariku" Ucapnya sambil tersenyum licik menatap kepergian dari Nadhira dan Rifki.


*****


Nadhira dan Rifki saat ini berada didalam sebuah mobil yang tengah melanju memecah keramaian kota tersebut, entah kemana Rifki akan membawanya pergi kali ini, akan tetapi Nadhira merasa begitu senang jika bersama dengan Rifki.


"Kita mau kemana Rif?" Tanya Nadhira tanpa menoleh kearah Rifki dan lebih fokus untuk menatap kearah jalanan yang ramai.


"Nanti kamu juga bakalan tau" Jawab Rifki.


Mobil tersebut melanju dengan cepatnya entah kemana mereka akan pergi setelah ini, Nadhira hanya mampu menatap jalanan yang akan mereka lalui, pemandangan langit sore hari mulai terlihat perlahan memerah karena kehadiran senja.


"Rif, apa kamu percaya orang yang telah lama menghilang dan dikabarkan meninggal bisa hidup kembali" Ucap Nadhira tiba tiba.


Mendengar pertanyaan itu seketika membuat Rifki mengerutkan keningnya dan membuat Nadhira menoleh kearahnya, Rifki menatap kearah wajah Nadhira dengan kebingungan sementara Nadhira terlihat begitu diam.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Jika Allah sudah berkehendak apapun itu bisa terjadi meskipun itu hal yang tidak mungkin sekalipun".


"Papa bilang bahwa Mama masih hidup, tapi selama ini aku sudah mencarinya kemana mana beberapa tahun belakangan ini akan tetapi aku tak kunjung menemukan keberadaannya".


"Dhira apa kamu sangat yakin bahwa Tante Lia masih hidup sampai sekarang?"


"Entahlah Rif, antara yakin atau tidak, aku hanya berharap bahwa itu benar benar terjadi, dan aku berharap bisa bertemu kembali dengan Mama".


"Jika kau sangat yakin bahwa Tante Lia masih hidup, dia pasti akan tetap hidup, kamu percaya takdir kan? Meskipun kita berusaha untuk menghindarinya akan tetapi takdir akan memilih jalannya sendiri untuk mencapai tujuannya".


"Iya Rif".


Ciitttttt....


Tiba tiba mobil yang mereka naiki mengerem mendadak hingga membuat Rifki dan Nadhira terbentur oleh kursi mobil yang ada didepannya, akan tetapi dengan sigap Rifki menggerakkan tangannya agar Nadhira tidak terbentur seperti dirinya.


"Kamu tidak apa apa Rif?" Tanya Nadhira ketika mendengar suara benturan.


"Ada apa sih Pak! Kenapa mengerem mendadak seperti ini! Apa mau saya pecat sekarang juga!" Ucap Rifki dengan marahnya.


"Maaf Tuan Muda, ada anak kecil yang tiba tiba berlari ketengah jalan" Ucap sopir tersebut dengan ketakutan mendengar ancaman Rifki.


Rifki memegangi kepalanya karena terbentur tiba tiba, hingga membuat Nadhira nampak panik karena dirinya takut kalau Rifki kenapa kenapa, Rifki menoleh kearah depan mobilnya dan mendapati sosok seorang gadis kecil yang tengah terduduk ditengah jalan sambil mengibaskan tangannya karena terluka.


"Hei gadis kecil berhenti!"

__ADS_1


...Jangan lupa like, coment dan dukungannya 🥰 Terima kasih ...


__ADS_2