Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Rifki atau Theo?


__ADS_3

Rifki mendengarkan cerita Nadhira dengan perasaan penuh dengan tanda tanya, entah kenapa Nadhira bisa mengetahui hal tersebut mungkinkah itu adalah pengelihatan dari energi permata yang ada didalam tubuh Nadhira, dan Nadhira melihat itu hanyalah sebuah mimpi.


"Aku juga melihat bahwa beberapa anak buahmu segera membawamu kerumah sakit dengan begitu paniknya Rif, aku takut terjadi sesuatu dengan dirimu, tapi yang aku lihat bahwa dirimu sudah tidak terselamatkan lagi Rif, aku takut kalau itu benar benar terjadi dan aku tidak ingin kehilangan dirimu".


"Cukup mengerikan sekali mimpimu itu Dhira, kau tenang saja itu hanyalah sebuah mimpi saja, tidak akan pernah terjadi".


"Aku pikir, aku tidak akan pernah bertemu dengan dirimu lagi Rif"


"Kenapa kau berpikiran seperti itu Dhira? Bukankah aku pernah berkata bahwa aku akan kembali untuk bertemu kembali dengan dirimu?".


"Aku pikir bahwa aku tidak akan bisa hidup lebih lama lagi sejak dirimu pergi jauh dariku, kau tidak hadir disampingku disaat aku merasa benar benar hancur, dan dengan mimpi itu aku takut bahwa kau akan pergi meninggalkan diriku untuk selamanya".


"Katakan kepadaku Dhira, siapa yang telah berani menyakiti Nadhiraku selama ini? Aku tidak akan membiarkan orang itu hidup dengan tenang".


"Aku tau, kau pasti akan melakukan itu hiks.. hiks.. hiks.." Tangisan Nadhira pecah kembali.


"Ceritakan semuanya kepadaku Dhira, mungkin kau akan merasa lebih tenang" Ucap Rifki sambil menggenggam tangan Nadhira.


"Aku begitu hancur Rif, ketika Papa mengatakan bahwa aku bukanlah anaknya ....."


Nadhira menceritakan semuanya kepada Rifki mengenai ucapan Rendi dan Amanda waktu itu, mendengar itu membuat Rifki merasa sakit hati dengan apa yang dilakukan oleh Amanda kepada Nadhira selama ini, Nadhira tidak mampu mengatakan isi hatinya kepada orang lain dan hanya dengan Rifki dirinya mampu mengatakan itu.


"Jahat sekali keluargamu itu Dhira, aku akan membuat mereka menyesalinya nanti".


"Jangan Rif, aku mohon jangan sakiti mereka demi diriku, biar bagaimanapun juga ia telah membesarkan diriku selama ini, aku menceritakan ini kepadamu bukan karena aku ingin kau menyakiti mereka, aku menceritakan ini kepadamu agar perasaanku lebih tenang Rif".


"Kau tenang saja Dhira, aku tidak akan menyakiti mereka, aku hanya akan menyadarkan mereka saja tentang seberapa baiknya dirimu".


"Itu tidak perlu Rif, mengatakan hal ini kepadamu saja sudah membuat diriku merasa jauh lebih tenang daripada sebelumnya, aku merasa begitu bahagia karena dapat bertemu dengan dirimu kembali, setelah pertarungan kita beberapa saat yang lalu, aku dapat menebak bahwa kau baik baik saja".


"Jadi sebelumnya kau hanya menguji kemampuanku lewat pertarungan itu Dhira?"


Nadhira menganggukkan kepalanya, "Jika kau terluka, kau tidak akan bisa dengan mudah untuk menghindari setiap serangan yang aku berikan kepadamu tadi, sekarang aku telah yakin bahwa kau memang benar benar dalam keadaan baik baik saja".


"Kau tau, itu sangat menyakitkan bagiku Dhira, aku pikir kau benar benar marah kepadaku, sehingga kau ingin mengusirku pergi dari kehidupanmu, untuk membayangkannya saja aku tidak ingin itu terjadi apalagi itu benar benar terjadi".


"Maafkan aku karena telah membuatmu kecewa Rif, mungkin Bayu sudah mengatakannya kepadamu sebelumnya, aku sangat takut untuk bertemu dengan dirimu dan aku merasa bahwa aku tidak pantas untuk dirimu Rif".


"Bagiku kau tetaplah Nadhira ku sampai kapanpun itu Dhira, itu bukan salahmu Dhira, kau hanya dijebak oleh Manda Adik tirimu itu, Nadhira ku tidak pernah mengecewakan diriku".


"Kau tidak marah kepadaku Rif?".


"Bagaimana mungkin aku bisa marah dengan dirimu Dhira?".


Nadhira tersenyum mendengar jawaban dari Rifki, hal itu membuatnya jauh lebih tenang daripada sebelumnya, dan senyuman itu membuat Rifki ikut tersenyum karena senyuman itu sangat dirindukan olehnya sebelumnya.


"Bagaimana kabarmu selama ini Rif? Apa kau terlalu sibuk hingga tidak bisa mengabariku? Aku pikir sudah ada wanita lain yang lebih baik dari diriku, sehingga dirimu tidak pernah mengabariku".


"Maafkan aku Dhira, percayalah tidak ada wanita lain yang paling berarti bagiku selain dirimu, apakah Raka menjagamu dengan baik selama ini?" Tanya Rifki sambil menatap ruang hampa.


"Iya Rif, tapi aku tidak bisa melihat dirinya"


"Setelah ini ikut aku, dan katakan semuanya kepadaku nanti" Ucap Rifki kepada Raka yang berada tidak jauh dari Nadhira.


"Iya ya ngak usah seserius itu kali, seperti kau menganggapku sebagai buronan saja, lagian aku sudah melakukan apapun sebisaku selama ini" Jawab Raka dan hanya mampu didengar oleh Rifki dan Nimas.


"Kau bahkan hanya mengikuti Nadhira saja selama ini, yang menjaga dan melindunginya selama ini adalah aku bukan dirimu hantu kecil" Ucap Nimas yang tidak terima dengan perkataan Raka.


"Aku juga ikut berperan menjaga Nadhira juga selama ini, kau bahkan sering tiba tiba menghilang entah kemana" Bela Raka yang tidak mau dijelek jelekkan dihadapan Rifki saat ini.


"Aku menghilang karena berjaga jaga agar tidak ada seseorang yang menyakiti Nadhira, dan mencari tau apakah ada hal yang mencurigakan disekitar Nadhira atau tidak, kau bahkan yang selalu ada disamping Nadhira saja tidak bisa berbuat apa apa, dasar hantu kecil yang lemah" Bantah Nimas yang tidak mau disalahkan.


"Yang penting aku sudah melaksanakan tugasku! Aku bukan hantu kecil yang lemah! Meskipun tubuhku memang kecil tapi umurku sudah lebih dari 100 tahun"


"Emang aku peduli dengan umurmu itu hantu kecil? Ngak sama sekali, lagian kau dan aku juga lebih tua dan hebat aku daripada dirimu itu".


"Bagus deh mengaku tua, emang tua bangka kau itu, seperti sudah bau tanah saja"

__ADS_1


"Apa kau bilang!"


Nadhira sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan oleh mereka, yang Nadhira dengar hanyalah suara Nimas yang terlihat begitu sebal, Nadhira sama sekali tidak mendengar suara Raka hingga pembicaraan itu seakan akan hanya Nimas sendiri yang sedang berbicara.


"Semoga saja Raka tidak menceritakan soal Papa pada waktu kecelakaan itu kepada Rifki, aku tidak ingin Rifki mengetahui soal itu" Batin Nadhira berharap.


Mendengar pertengkaran keduanya membuat Rifki hanya menghela nafas dan sesekali memijat keningnya yang nampak begitu pusing mendengar kedua hantu itu bertengkar,


"Cukup kalian berdua! Kenapa kalian malah ribut sih? Atau mau aku masukkan kalian kedalam cangkir kayak jinnya aladin? Biar kalian bisa ribut didalam tanpa menggangu yang lain" Tanya Rifki.


"Tidak! Jangan!" Teriak kedua mahluk itu.


"Maka berhentilah untuk bertengkar!"


*****


Nadhira terbangun dari tidurnya yang nyenyak, ia melihat kearah jam dindingnya yang masih menunjukkan pukul 4 pagi, bahkan adzan subuh sudah mulai terdenger diawang awang, Nadhira mengeliat dan langsung bangun dari kasurnya yang empuk dan sangat nyaman itu untuk melakukan kegiatan rutinnya setiap pagi hari.


Seperti biasa setelah membasuh wajahnya dan melaksanakan sholat subuh, Nadhira akan turun kebawah rumahnya lebih tepatnya dihalaman depan rumahnya untuk melakukan pemanasan pagi, dan melakukan latihan rutinitasnya setiap pagi hari.


Ketika matahari mulai menampakkan sinarnya yang begitu terang membuat Nadhira kembali masuk kedalam rumahnya untuk membersihkan tubuhnya karena dirinya harus bersiap siap untuk segera pergi ke kantornya karena sudah dua hari ia tidak masuk.


Nadhira segera bersiap siap didepan cermin rias yang ada didalam kamarnya, Nadhira merasa bahwa dirinya sudah sangat rapi sehingga ia memutuskan untuk turun kebawah demi mengisi perutnya sebelum dirinya berangkat bekerja.


"Pagi Oma" Sapa Nadhira ketika melihat Sarah sedang duduk didepan televisi.


"Pagi juga sayang, tumben semangat banget" Ucap Sarah ketika melihat senyuman diwajah Nadhira yang begitu cerahnya.


"Dhira kan selalu seperti ini Oma, apa ada yang berbeda dari Dhira?" Tanya Dhira sambil menoleh kearah pakaiannya.


"Sangat berbeda, Oma perhatian sejak dari lantai atas sampai bawah Dhira terus terusan tersenyum, ada apa nih" Tanya Sarah yang penasaran.


"Oma salah lihat kali".


"Bagaimana mungkin Oma salah lihat, sudah buruan makan, mumpung masih hangat"


Nadhira segera bergegas menuju kemeja makannya, entah kenapa pagi ini dirinya merasa begitu bahagia sampai sampai dirinya tersenyum meskipun tanpa ada yang lucu, Nadhira segera menyantap makanan yang ada dipiringnya.


Tak beberapa lama kemudian Pak Santo masuk kedalam rumah tersebut dan memberitahukan bahwa ada seseorang yang telah menunggu Nadhira didepan, Nadhira hanya mengangguk saja dan berpikir bahwa itu adalah Theo karena setiap harinya dialah yang menjemput Nadhira bekerja.


Setelah selesai makan, Nadhira segera berpamitan kepada Sarah untuk pergi bekerja, dan setelah itu dirinya bergegas menuju kegerbang depan rumahnya akan tetapi dirinya tidak menemukan mobil Theo didepan sana, ketika ia sampai dipos satpam ia begitu terkejut ketika melihat Rifki sudah berada disana bersama dengan Pak Santo.


"Pagi Dhira" Ucap Rifki.


"Pagi juga Rif, ada apa ya?" Tanya Nadhira.


"Aku mau mengantarmu bekerja mulai saat ini, bukankah kamu adalah pemilik sebuah perusahaan sekarang ini?".


"Bukankah Tuan Muda juga adalah pemilik perusahaan? Apa ngak takut telat kalau mengantarkan diriku pergi bekerja terlebih dulu?" Tanya Nadhira dengan senyuman yang cerah.


"Kenapa takut telat, kalau demi Dhira mah apapun akan aku lakukan".


"Baiklah, dengan senang hati saya menerima tawaran dari Tuan Muda Rifki, tapi kita perginya naik apa?" Tanya Nadhira menoleh kesana kemari untuk mencari kendaraan yang akan mereka pakai.


"Seperti waktu dulu, kita akan naik sepeda motor bagaimana?"


"Boleh juga, tapi dimana motornya? Kenapa aku tidak bisa melihatnya?".


"Ada didepan gerbang, ayo berangkat".


Rifki segera menjulurkan tangannya kepada Nadhira, dan Nadhira segera menerima tangan tersebut dengan senang hati, melihat itu membuat Pak Santo menjadi salah tingkah sendiri, Rifki segera menarik tangan Nadhira untuk keluar dari gerbang dan Nadhira hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Rifki saat ini.


Ketika keduanya sudah sampai ditempat dimana sepeda motor Rifki terparkir dengan rapi, tiba tiba sebuah mobil berhenti dihadapan keduanya, dan seorang lelaki segera keluar dari mobil tersebut untuk menghampiri Nadhira.


"Dhira, maaf aku telat untuk menjemputmu, ayo berangkat sekarang juga" Ucap lelaki itu yang tidak lain adalah Theo.


"Maafkan aku Theo, aku ingin berangkat bersama Rifki saja" Ucap Nadhira

__ADS_1


"Tapi Dhira, kau harus berangkat bersama denganku sekarang juga, aku harus mengantarmu ke kantor Dhira" Ucap Theo dan langsung menarik tangan Nadhira dengan paksa.


"Lepaskan Theo! Aku tidak mau, aku mau berangkat bersama Rifki"


Melihat itu membuat Rifki segera memegangi tangan Theo berharap bahwa Theo akan melepaskan pegangannya dari tangan Nadhira, Nadhira pun berusaha untuk melepaskan pegangan tangan Theo dari tangannya.


"Lepaskan Nadhira sekarang juga!" Ucap Rifki dengan geramnya.


"Apa hakmu untuk memerintah diriku!" Ucap Theo dengan sedikit keras.


"Aku berhak atas Nadhira! Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Nadhira" Rifki mengeratkan pegangan tangannya dari pergelangan tangan Theo hingga membuat Theo melepaskan pegangan tangannya dari tangan Nadhira.


Melihat itu membuat Rifki segera menarik tubuh Nadhira menuju kebelakang tubuhnya untuk menjauh dari Theo dan Rifki menatap kearah Theo dengan tajamnya seperti seekor singa sedang mengintai mangsanya hingga membuat Theo hanya mampu mengepalkan kedua tangannya saja.


"Kau!" Ucap Theo sambil menuding kearah Rifki.


"Kenapa! Mau ribut!" Tanya Rifki yang ikut sedikit emosi menanggapi Theo.


"Ayo!"


Theo tanpa kata kata segera melontarkan sebuah pukulan kepada Rifki, sementara Rifki tidak tinggal diam dan langsung menangkis pukulan itu sambil disusul oleh pukulan yang lain dan ia berikan kepada Theo, sedetik kemudian terjadilah perkelahian antara keduanya dihadapan Nadhira.


Nadhira yang melihat perkelahian itu hanya bisa menepuk jidatnya saja, bingung dengan apa yang harus ia lakukan, dan membatin "Apakah setelah ini aku akan lebih sering melihat mereka bertarung seperti ini daripada berteman? Hal yang aku takutkan selama ini benar benar terjadi, huft... Apa yang harus aku lakukan selanjutnya dengan dua orang ini, dua orang saja sudah ribet apalagi kalau kedua anggota geng bertarung, haduh"


"Ini adalah deritamu Dhira, siapa suruh kau memiliki wajah cantik dan sikap baik hatimu itu, lalu siapa yang akan kau pilih nantinya? Rifki atau Theo? Aku saja sudah sangat bingung apalagi dirimu" Ucap Nimas yang ikut serta menyaksikan perkelahian antara kedua orang itu hanya untuk memperebutkan Nadhira.


"Entahlah Nimas, rasanya aku harus mulai terbiasa melihat hal ini, baru pertama kali kau memujiku cantik Nimas, apa ada yang salah dengan jalan pikirmu sekarang?".


"Sudahlah jangan dibahas, cepat hentikan keduanya itu".


Nadhira lalu menoleh kearah kedua orang yang tengah beradu kekuatan itu, Nadhira segera bergegas untuk memisahkan keduanya, ketika berada ditengah tengah Nadhira hendak terkena sebuah pukulan yang dilontarkan oleh Theo, akan tetapi Rifki segera menangkisnya dengan cepat.


"Sudah hentikan!" Ucap Nadhira dan langsung menengahi keduanya. "Theo, jaga sikapmu itu, aku sama sekali tidak suka dipaksa paksa seperti ini, aku sangat kecewa sama kamu Theo".


"Dhira aku melakukan ini hanya untukmu" Ucap Theo dan berusaha untuk memegang tangan Nadhira akan tetapi Rifki segera memblokir jalannya.


"Kau dengar sendiri kan apa yang dikatakan Nadhira barusan, jangan pernah memaksa kehendak Nadhira, atau kau akan berhadapan dengan diriku" Ucap Rifki dengan tegasnya.


"Sudah Rif, ayo kita berangkat sekarang juga" Nadhira segera menarik tangan Rifki untuk pergi dari tempat itu, "Jangan pernah melakukan hal ini lagi Theo, aku tidak ingin melihat kalian berdua berantem seperti ini".


"Tapi Dhira...".


Rifki hanya mengangguk kepada Nadhira, Rifki segera memakaikan sebuah helm kepada Nadhira dan keduanya segera bergegas meninggalkan Theo yang berada ditempat tersebut, dengan kesalnya Theo segera menendang ban mobilnya sendiri.


"Sial arghhh...., lihat saja nanti kau Rif, aku tidak akan membiarkan dirimu terus bersama dengan Dhira, aku akan membuat Nadhira sangat membencimu".


Sementara dijalanan Nadhira berpegangan erat dengan Rifki, Nadhira merasa sangat bahagia kerena dirinya bisa naik sepeda motor bersama dengan Rifki seperti dahulu, Nadhira sangat menikmati hari itu bersama dengan Rifki memecah keramaian kota.


"Kau tau Rif, aku sangat senang hari ini, ini adalah hari terindah bagiku, bisa bersama dengan dirimu seperti waktu dulu"


"Aku juga merasa hal yang sama Dhira, rasanya seperti kembali hidup lagi".


"Jangan mati".


"Kenapa harus mati jika disebelahku ada seorang bidadari seperti dirimu".


Nadhira begitu bahagia ketika bersama dengan Rifki, keduanya melanju menuju ke perusahaan milik Nadhira, ketika sampai digerbang perusahaan tersebut satpam menjaga perusahaan tersebut begitu terkejut dengan kedatangan mereka dan segera menghentikan keduanya.


"Maaf Mbak dan Mas ada yang bisa saja bantu?" Tanya satpam tersebut yang tidak mengenali Nadhira karena dirinya sedang memakai helm.


Nadhira segera melepaskan helm yang ada dikepalanya dan menatap kearah satpam tersebut, sementara satpam itu begitu terkejut ketika mengetahui bahwa atasannya sendiri yang ia hentikan sebelum sehingga satpam tersebut segera menutup mulutnya rapat rapat menggunakan kedua tangannya takut bahwa dirinya akan dipecat karena tidak mengenali Nadhira sebelumnya.


"Maafkan saya Nona Muda, karena tidak mengenali Nona sebelumnya, maafkan saya" Ucap satpam tersebut sambil berulang ulang kali menundukkan kepalanya dihadapan Nadhira.


"Tidak masalah" Jawab Nadhira santai.


Seluruh karyawan hanya mampu menatap Nona Muda nya dalam diam ketika melihat pemimpin perusahaan mereka datang bersama seorang pria dengan memakai sebuah sepeda motor yang terlihat jadul, sepedah motor itu adalah sepeda motor kesayangan Rifki.

__ADS_1


...Jangan lupa like, coment dan dukungannya 🥰 Terima kasih ...


__ADS_2