Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Dibawa keluar negeri


__ADS_3

"Tuan Muda, sepertinya saya tau tempat ini dimana, mungkinkah Nona Muda ada disini? Jaraknya lumayan jauh dari sini, butuh waktu 1 jam lebih untuk sampai disana" Ucap Andre ketika selesai melakukan pelacakan terhadap sebuah kartu SD dari salah satu anggota Gengcobra.


Mendengar itu membuat Rifki dan Bayu langsung mendekat kearah orang yang tengah mengotak atik sebuah komputer didepannya, Rifki menatap kearah monitor tersebut dengan teliti begitupun dengan Bayu saat ini.


"Rif, bukankah itu tempat yang dimaksud oleh surat yang kau terima sebelumnya? Sepertinya pengirim surat itu tau betul dengan lokasinya itu, mungkinkah dia bagian dari musuh kita"


"Iya itu tempatnya dan pengirim surat itu tidak mungkin bagian dari mereka, lantas untuk apa dia memberitahu hal itu kepada kita sebelumnya? Kita kesana sekarang"


"Tapi bagaimana dengan lukamu Rif? Baru saja dijahit dan kau tidak boleh terlalu banyak gerak, nanti akan semakin parah, apa sebaiknya kau tetap dimarkas biar aku dan anggota Gengcobra yang mencarinya?"


"Aku kan punya dirimu, yang akan bertarung adalah kau sebagai wakilku, aku akan ikut turun tangan sendiri, aku tidak mau dimarkas! Ini nyawa Nadhira dan Nadhira adalah milikku, bagaimana mungkin kau bisa menyuruhku untuk tetap dimarkas?"


"Ini demi keselamatanmu Rif, lukamu terlalu dalam dan akan berbahaya jika kau nekat untuk pergi"


"Aku tidak peduli dengan lukaku, yang aku pedulikan adalah nyawa dari istriku"


"Baiklah, kita akan berangkat, aku akan siapkan dulu anggota Gengcobra yang akan ikut bersama kita, kita akan berangkat setelahnya"


"Bawa yang banyak, kita tidak tau musuh kita seperti apa nantinya"


"Semuanya boleh?"


"Gas.."


"Baik Tuan Muda Rifki Chandra Abriyanta yang terhormat, dan tiada tandingnya"


*****


Nadhira tengah tertidur saat ini, tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain tidur, karena orang yang tengah menyekapnya itu tidak membiarkan Nadhira untuk bangkit dari tidurnya itu karena rantai yang mengikat kaki dan tangannya.


Nadhira merasa sangat lelah saat ini, setiap hari orang tersebut akan datang menemuinya untuk menekan perutnya itu, entah apa yang orang itu lakukan akan tetapi hal itu dirasakan oleh Nadhira begitu sakit setiap harinya.


Seketika Nadhira terbangun ketika merasakan kehadiran seseorang ditempat itu, ia terkejut ketika melihat adanya 10 orang lelaki yang masuk kedalam ruangan tersebut, dan hal itu juga langsung membuat Dokter Lila mendekat kearah Nadhira.


"Ada apa ini Tuan? Kenapa begitu banyak orang untuk datang kemari?" Tanya Dokter Lila ketakutan.


"Bukan urusanmu"


"Tuan, tolong jangan sakiti wanita ini"


Ya, 10 laki laki itu adalah orang yang menculik Nadhira beserta 9 anak buahnya, orang yang memerintah mereka itu sekisar berumuran sama persis seperti Nadhira, tubuhnya tinggi dan juga berotot, ia memiliki hidung yang mancung dengan kumis tipis dibawahnya.


"Kau mau apa! Jangan mendekat!" Teriak Nadhira ketakutan ketika orang itu mendekat kearah Nadhira.


"Lain kali kau harus lebih lembut Nona, kau akan menjadi milikku nanti, kau cantik, rasanya aku tidak tega untuk menyakitimu, menikahlah denganku maka aku tidak akan pernah menyakitimu" Ucapnya sambil memegangi dagu Nadhira.


"Tidak akan! Lebih baik aku mati, daripada harus hidup dengan lelaki sepertimu"


"Nyalimu sungguh besar Nona, aku suka itu, suamimu akan ku bunuh, dia akan mati ditanganku cepat atau lambat, dan kau akan menjadi milikku"


"Kau tidak akan bisa melakukan itu! Selama aku masih hidup, aku tidak akan pernah membiarkan dia kenapa kenapa"


"Apa yang bisa kau lakukan sekarang? Kau bahkan tidak bisa lolos dari tempat ini, kau sendiri dan tidak mungkin bisa lolos dari sini"


"Siapa bilang aku sendiri? Aku masih punya Allah yang selalu melindungi hamba hamba-Nya, jika Allah sudah berkehendak tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya untuk merubah segalanya"


Lelaki itu seketika menggerakkan tangannya dileher Nadhira dan memeganginya sedikit erat, hal itu membuat Nadhira merasakan sesak nafas dan terbatuk batuk akan tetapi dirinya tidak mampu untuk menggerakkan tangannya untuk menyingkirkan tangan lelaki tersebut.


"Tuan tolong jangan lakukan itu" Ucap Dokter Lila.


"Bunuh aku sekalian! Aku tidak takut" Teriak Nadhira.


"Membunuhmu terlalu mudah bagiku, jika aku melakukan itu, usahaku akan sia sia"


Tangan lelaki itu pun turun kebawah hingga mencapai perut Nadhira, Nadhira berusaha untuk melepaskan ikatannya itu akan tetapi dirinya sama sekali tidak bisa melakukan itu, lelaki tersebut langsung memberikan tekanan diperut Nadhira hingga membuat Nadhira berteriak.


"Arghhhhhhhh.... Lepaskan! Allahuakbar!"


Mendadak lelaki tersebut terpental begitu saja, dan anak buahnya itu langsung menangkap tubuhnya tersebut sebelumnya jatuh kelantai, ketika tubuh lelaki tersebut terpental membuat Nadhira bisa bernafas lega kembali.


"Janin itu melawanku" Ucap lelaki tersebut.


Nadhira kembali terlihat lemas setelahnya, dua anak buah itu langsung menangkap Dokter Lila dan mengikatnya dengan erat, sementara ketujuh orang lainnya langsung melepaskan ikatan Nadhira yang saat ini sedang lemah.


"Ada apa ini! Kenapa kalian mengikatku?" Tanya Dokter Lila.


"Berani sekali kau menemui musuhku, untung saja orang yang mengikutimu sebelumnya itu sudah mati ditanganku, ikat dia dikursi!"


"Baik Bos"

__ADS_1


Dokter cantik itu lalu diikat disebuah kursi yang tidak jauh dari kasur Nadhira, mereka juga menutup mulut Dokter Lila menggunakan kain agar dia tidak bisa berteriak, setelah kedua tangan dan kaki Nadhira terlepas ke tujuh orang itu lalu membantu Nadhira untuk berdiri.


"Kau mau apa?" Tanya Nadhira dengan lemah.


"Membawamu pergi jauh dari tempat ini, Dokter sialan itu telah membocorkan tempat ini, mereka tidak akan pernah bisa menemukan dirimu lagi"


"Lepaskan aku!" Ucap Nadhira yang berusaha memberontak dari pegangan itu.


"DIAM! Kau akan ku bawa keluar negeri agar suamimu itu tidak akan menemukan dirimu"


"Keluar negeri? Ngak mau"


"Kau tidak akan bisa menolaknya cantik, disana kau tidak akan bisa bertemu dengan suamimu lagi"


Kedua tangan Nadhira lalu diikat dengan eratnya kebelakang, Nadhira yang lemah tidak mampu untuk memberontak lagi, sementara Dokter Lila yang mendengar itu pun langsung membulatkan matanya lebar lebar, ia berusaha untuk melepaskan diri akan tetapi dia tidak mampu.


"Jangan sampai mereka membawa Nadhira pergi dari sini! Nadhira tidak boleh pergi, suaminya belum menjemputnya" Batin Dokter Lila menjerit.


"Ayo jalan!"


Nadhira menatap sendu kearah Dokter Lila yang kini tengah diikat dengan eratnya, sementara Dokter Lila yang melihat itu pun meneteskan air matanya sambil menggeleng gelengkan kepalanya kearah Nadhira.


"Tunggu! Aku ingin mengobrol dengan Dokter Lila" Ucap Nadhira.


"Ngak ada waktu, kita harus sampai dibandara secepat mungkin" Ucap lelaki itu.


"Kemana kau akan membawaku pergi?"


"Ke Jerman"


"Rifki, cepatlah datang, tolong selamatkan aku dari mereka, aku tidak mau pergi" Batin Nadhira.


Lelaki itu melenggang pergi dari tempat itu, hal itu segera diikuti oleh anak buahnya dan memapah Nadhira untuk pergi dari tempat tersebut meninggalkan Dokter Lila sendirian disana, Nadhira ingin memberontak akan tetapi hal itu langsung membuat orang yang memeganginya malah mencengkeramnya dengan erat.


"Akh.. sakit" Ucap Nadhira kesakitan karena orang yang mencengkeramnya itu.


"Apa yang kau lakukan dengan tawananku?" Tanya lelaki yang menjadi pemimpin mereka itu.


"Dia mencoba untuk memberontak Bos"


"Dia tidak akan bisa melakukan itu, cepat jalan"


"Baik Bos"


"Itulah yang akan terjadi pada suamimu, cepat atau lambat" Ucap lelaki tersebut saat tau pandangan Nadhira tertuju kemana saat ini.


"Siapa kau sebenarnya! Kenapa kau menaruh dendam pada suamiku? Apa kesalahan suamiku sebenarnya kepadamu?" Nadhira tidak mampu untuk menyembunyikan air matanya lagi ia pun mengepalkan tangannya dengan erat meskipun tangan itu kini tengah terikat.


"Suamimu telah merenggut segalanya dariku! Dan aku tidak akan membiarkan dia hidup lebih lama lagi, dia tidak pantas mendapatkan semuanya"


"Apa yang telah direnggut olehnya darimu? Dia bahkan sama sekali tidak mengenalimu, kenapa kau harus membunuh dia yang tidak bersalah"


"Dia berani mengikuti Lila dengan diam diam agar mengetahui tempat ini, sudah sepantasnya aku membunuhnya dengan cepat"


Orang itu adalah suruhan dari Rifki untuk mengikuti Dokter Lila demi menemukan tempat dimana Nadhira disekap, akan tetapi nasibnya tidak beruntung karena orang yang menyekap Nadhira mengetahui hal itu dan langsung membunuhnya dengan cepat.


Fajar lah yang mengantarkan Dokter Lila kerumah sakit waktu itu, akan tetapi Rifki menyuruh orang lain untuk mengikuti Dokter Lila dengan diam diam, Dokter Lila mengatakan kepada Rifki bahwa dia tidak mengetahui tempatnya karena disepanjang perjalanan kedua matanya akan ditutup.


Dan hal itu membuat Rifki memerintahkan satu anggota Gengcobra untuk mengikutinya secara diam diam, sebenarnya Rifki menyuruh Fajar untuk melakukan itu akan tetapi karena Fajar memiliki tugas penting untuk menjaga Ani membuat Rifki menyuruh orang lain melakukan itu.


Jika saat itu Fajar yang mengikutinya mungkin yang ada ditempat tersebut saat ini adalah Fajar, beruntunglah Fajar tidak menjadi mata mata saat itu, karena orang tersebut pasti akan membunuhnya tanpa ampun seperti saat ini.


Anggota Gengcobra tersebut terlihat menyedihkan, adanya luka goresan dilehernya dan juga beberapa pisau yang tertancap ditubuhnya itu hingga membuat pakaian yang dipakainya itu bersimbah darah, bahkan darah itu juga telah menggenang dibawah kursi yang ia duduki tersebut.


"Kau sama sekali tidak memiliki hati nurani! Cepat atau lambat suamiku pasti akan membunuhmu juga nantinya" Teriak Nadhira.


"Kita lihat saja, dan akan ku pastikan bahwa suamimu itulah yang akan mati ditanganku"


"Orang jahat sepertimu itu tidak pantas hidup lebih lama lagi, kau akan mati!"


Plakk


Dengan ringannya orang tersebut menampar pipi Nadhira dengan sangat kerasnya, tamparan keras tersebut langsung membuat ujung bibir Nadhira sobek hingga mengeluarkan bercak darah disana, rasa panas dan kebas pun kini tengah Nadhira rasakan akibat tamparan itu.


"Cepat masukkan dia kedalam mobil, sebelum kesabaranku habis karena ucapannya itu"


"Baik Bos"


"Lepaskan aku! Lepaskan sekarang!" Teriak Nadhira memberontak untuk meminta dilepaskan.

__ADS_1


Darah dibibir Nadhira pun mengalir hal itu membuat wajah Nadhira terlihat menyedihkan, dengan bekas merah dipipinya itu yang perlahan lahan akan membiru seiring berjalannya waktu, linangan air mata pun membasahi kedua pipinya.


"Rifki, cepatlah datang aku mohon, Rifki dimana kamu sayang, apa kau baik baik saja? Tolong selamatkan aku Rif, aku takut" Batin Nadhira menjerit dengan air mata yang mengalir deras.


Mereka pun bergegas meninggalkan tempat tersebut dan memegangi Nadhira yang sedang diikat itu, Nadhira dipaksa untuk terus berjalan dalam keadaan tubuhnya yang tidak stabil karena lamanya dia berbaring diatas kasur tanpa membiarkannya untuk bangkit walaupun hanya sebentar saja.


Hal itu seketika membuat kedua kaki Nadhira rasanya seperti kram, dan membuat langkah Nadhira terasa begitu berat apalagi hatinya yang tidak sanggup untuk meninggalkan negerinya, ia takut kalau dirinya tidak lagi dapat bertemu dengan Rifki.


"Cepat jalan!" Teriak seseorang kepada Nadhira.


"Kakiku sakit pe'ak! Kenapa tidak kau tinggalin aja aku disini daripada merepotkan kalian" Ucap Nadhira dengan nada sedikit tinggi.


"Kau tahanan, kenapa harus ditinggal disini ha?"


"Daripada kau ngeluh, seharusnya bersyukur karena dikasih saran yang benar"


"Apa kau sudah bosan hidup?"


"Sangat bosan, bisakah kalian cepat membawaku pergi menemui Tuhanku? Aku lelah, pengen tidur secepat mungkin, tidur yang sangat tenang, lebih cepat lebih baik"


"Setelah kau melahirkan anakmu itu, hahaha... Kami akan mengabulkan keinginanmu itu"


"Biad*b!" Umpat Nadhira kesal.


"Jangan banyak omong, cepat jalan!"


Mereka pun memasukkan Nadhira kedalam mobil yang telah mereka sediakan tersebut dengan kasarnya, setelahnya mereka semua segera bergegas menjalankan mobil tersebut menjauhi rumah itu.


Hal itu membuat perut Nadhira terasa sedikit sakit, hingga harus membuatnya memejamkan matanya dengan erat karena rasa sakit itu, kedua tangannya terkepal erat disertai ringisan kesakitan, tangannya juga terasa sakit akibat eratnya tali yang saat ini sedang mengikatnya.


"Akh... Perutku sakit, ngak bisa pelan dikit apa! Kalian kasar sekali dengan orang hamil sepertiku" Protes Nadhira kepada orang orang itu.


"Diam atau ku potong lidahmu"


"Ngak bisa!"


Orang tersebut mengepalkan tangannya dan mengambil sesuatu disebuah kotak kecil yang ada dimobil itu, iya sesuatu itu adalah sebuah gunting yang terlihat tajam, melihat itu membuat Nadhira membulatkan kedua matanya.


"Mau apa kau!"


"Mangkanya diam!" Teriak orang itu disebelah telinga Nadhira dengan keras.


"Berisik! Ngak usah teriak juga kali, aku ngak tuli"


Tanpa berlama lama lagi, orang itu kembali mengeluarkan sebuah lakban dari kotak yang sama dan langsung menempelkan lakban yang telah ia gunting sebelumnya dibibir Nadhira karena tangan Nadhira yang diikat hingga membuat Nadhira tidak bisa memberontak.


Mobil tersebut mulai menjauh dari rumah besar itu, diikuti oleh mobil mobil lainnya yang ada dibelakang mobil yang dinaiki oleh Nadhira, ada sekitar 100 orang yang tengah menjaga Nadhira agar tidak kabur dan Rifki tidak dapat merebut Nadhira kembali.


*****


Rifki dan anggota Gengcobra kini telah sampai ditempat yang dimaksud itu, ia melihat rumah besar tersebut dengan teliti akan tetapi dirinya tidak mendapati adanya orang yang menghuni tempat tersebut.


"Apa benar ini rumahnya Ndre?" Tanya Bayu kepada Andre yang duduk dibelakangnya.


"Setahuku memang ini rumahnya, tapi anehnya kenapa rumah ini sepi" Ucap Andre.


"Coba lacak lagi dimana keberadaan dari kartu SD itu" Ucap Rifki.


"Baik Tuan Muda"


Andre pun mengeluarkan sebuah leptop dari dalam tas yang ia bawa tersebut, setelah mengotak atik leptop itu ia pun menjadi semakin yakin bahwa kartu SD dari anggota Gengcobra yang hilang itu berada didalam rumah tersebut.


"Benar Tuan Muda, dia ada didalam" Ucap Andre.


"Baiklah, ayo turun" Ajak Rifki.


Anggota Gengcobra tersebut langsung turun dari mobil mereka masing masing, diikuti oleh Rifki setelahnya itu, ada sekitar 10 mobil yang terparkir didepan rumah besar tersebut, dan juga ada sekitar 150 anggota Gengcobra.


"Kalian hati hati mungkin ada banyak jebakan didalamnya" Seru Bayu.


"Baik Tuan!" Jawab mereka serempak.


...****************...


Huftt.... lelah hati ini untuk mengetik 🥺 tapi demi kalian, Author akan tetap Up


jangan lupa semangati author dengan like, komen dan dukungannya, dikasih bunga ngak papa deh apalagi dikasih kopi hangat buat teman author ngetik agar author makin semangat ngetiknya


untuk yang selalu dukung karya Author, Author ucapkan terima kasih banyak,, heppy reading ya

__ADS_1


__ADS_2