JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA

JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA
PEDANG SUCI


__ADS_3

Setelah hampir sebulan berada di padepokan Bukit Mulyo dan melaksanakan puasa di bulan romadon.


Jaka dan Dewi nampak gelisah setelah mendapat pesan dari kakeknya Resi Somala,melalui komunikasi telepati .


Beliau pun berkata bahwa Darma Wisnu sudah menguasai pulau sumatera dan menurutnya tujuan berikutnya adalah Jawa.


Di tengah ke gundahan mereka berdua,seorang murid Kiai Agung Prawoto tiba tiba mengetuk pintu dan menemui Jaka serta Dewi.


Rupanya keduanya di suruh menghadap Kiai Agung Prawoto,karena ada hal penting yang mau beliau sampekan.


Jaka dan Dewi segera bergegas menemui Kiai Agung Prawoto,setelah mengucap salam keduanya masuk dan duduk bersila di depan Kiai Agung.


Kiai Agung terlihat mengelus jenggotnya yang panjang,ia kemudian memandang wajah Jaka dengan seksama.


Kiai Agung menyuruh Jaka memejamkan matanya,dan berkonsenterasi .


Jaka segera mengosongkan pikiranya,ia segera merasakan tiba tiba dirinya berada di sebuah hutan belantara,tak berapa jauh di depanya nampak sebuah batu hitam ,yang memancarkan cahaya ke langit dan di atasnya pula,nampak sebuah pedang yang menancap di batu tersebut.

__ADS_1


Kiai Agung Prawoto segera menyuruh Jaka membuka kedua matanya,dan segera menceritakan apa yang ia lihat dalam semedinya.


Jaka segera menuturkan semua yang ia lihat,Kiai Agung pun menjelaskan bahwa itu yang di namakan pedang suci.


Sebuah pedang yang hanya bisa di pegang oleh orang orang terpilih yang mempunyai jiwa yang suci.


Pedang suci berada di dalam sebuah batu yang berada di puncak bukit Tidar.


Konon pedang suci di gunakan oleh Shyeikh Subakir untuk mengalahkan ,Sabdo Palon saat adu tanding.


Setelah Sabdo Palon menyerah ,Shyeikh Subakir memasukan Pedang Suci kedalam batu hitam yang di gunakan untuk menumbal pulau jawa.


Senjata Kujang kembar juga di jaga oleh siluman harimau putih yang bernama Maung Bodas yang terkenal sangat Sakti.


sementara senjata ketiga adalah cambuk api yang di gunakan oleh Kiai Agung Prayogo yang merupakan kakek buyut dari Kiai Agung Prawoto yang berhasil mengalahkan manusia setengah iblis yang lebih di kenal dengan nama Mak Lampir.


Cambuk Api juga telah lama hilang bahkan Kiai Agung Prawoto yang masih punya garis keturunan dari Kiai Agung Prayogo pun tak mengetahui di mana kekeknya menyimpan senjata cambuk Api.

__ADS_1


Kiai Agung menutup ucapanya,ia menegaskan bahwa senjata yang ia sebutkan hanya sebuah perantara karena yang memiliki sumber kekuatan hanya Allah SWT.


Ia pun mengisahkan kepada Jaka dan Dewi ,bahwa nabi Musa AS,juga memakai tongkat untuk melawan Raja Firaun.


Namun Nabi Musa tidak menganggap tongkatnya sakti,ia hanyalah sebagai alat karena kekuatan bersumber dari Allah SWT.


Jaka berusaha memahami perkataan Kiai Agung ,bahwa sesungguhnya segala sumber kekuatan hanyalah milik Allah ,dan tidak sepatutnya manusia menuhankan sebuah benda pusaka dan menganggapnya mampu memberi kekuatan yang maha dasyat tanpa seizin Allah Azza Wazala.


Akhirnya Jaka dan Dewi memohon Izin untuk mencari Pedang Suci yang berada di puncak Gunung Tidar.


Sementara untuk kedua senjata berikutnya,Kiai Agung baru akan mencari petunjuk tentang keberadaan senjata tersebut.


Sebelum Jaka dan Dewi pergi Kiai Agung membuka sorbanya,ia pun menyerahkan sorbanya kepada Jaka dan berpesan ,agar ia tidak melupakan kewajiban sebagai muslim,yaitu menjalankan solat lima waktu.


Jaka juga di suruh Kiai Agung agar tidak menyembunyikan jati dirinya sebagai muslim.


Dewi juga di suruh agar rambutnya tidak terurai,ia pun harus memakai tutup kepala seperti para wanita muslim yang berada di padaepokan bukit Mulyo.

__ADS_1


Jaka dan Dewi segera berpamitan ,ia pun mulai berjalan meninggalkan padaepokan Bukit Mulyo,setelah di rasa jauh dari pemukiman warga Dewi pun segera merubah wujudnya menjadi Elang dan membawa Jaka terbang menuju puncak Gunung Tidar.


__ADS_2