
Kini semua pendekar telah berkumpul di dasar Jurang Arjuna. Mereka harus menghadapi serangan dari hewan melata dengan wujud ular dan juga hewan sejenis biawak yang sangat besar . Tirta dan juga Nilam juga sedang menghadapi seekor biawak raksasa yang terus mencecarnya untuk menjadi mangsa. Berbeda dengan Mahisa dan Mayang ia sudah menemukan tempat untuk berlindung dari serangan. Kedua menemukan sebuah goa. Rupanya walaupun di bawah jurang namun dalamnya terdapat hutan yang cukup luas dan terdapat pula beberapa goa.
Banyak juga tumbuh pohon buah buahan yang sedang musim hingga mereka dapat menggunakannya sebagai makanan setiap harinya. Rupanya Mahisa dan Mayang juga hampir setiap hari di serang oleh hewan melata yang ukuranya bisa di bilang raksasa.
Hingga akhirnya mereka menemukan sebuah goa yang di rasa aman untuk berlindung. Entah kenapa hewan hewan itu selalu berbalik arah saat berada di dekat goa tersebut. Mahisa dan Mayang jadi merasa penasaran tentang apa sebenarnya yang ada di dalam goa itu.
Semntara itu para pendekar terus bertarung dengan para ular raksasa yang terus berusaha menjadikan mereka santapan lezatnya. Terlihat beberapa orang pendekar mencoba memasuki goa ,namun kejadian berulang seperti yang di alami Mahisa dan Mayang mereka juga terlempar saaat berada di mulut goa. Bahkan ada beberapa orang yang terlempar tepat di depan kepala ular hingga dalam sekejap menjadi santapanya.
Setelah sekian lama bertarung terlihat sudah banyak pendekar yang mati bahkan di antara mereka banyak yang lari mencoba mendaki tebing yang sangat tinggi,namun usaha mereka sia sia kebanyakan dari mereka kehabisan tenaga dan akhirnya jatuh hingga tewas tersangkut di atas pohon.
Mahisa dan Mayang membuka matanya setelah bersemedi untuk memulihkan kekuatannya karena selama keluar dari goa itu ia terus di serang ular dan juga biawak raksasa yang seakan tak ada habisnya begitu mereka berhasil membunuh satu hewan akan muncul kembali hewan yang sama untuk menyerangnya . Sungguh lembah yang sangat berbahaya.
Tiba tiba terdengar suara teriakan dari luar goa,Mahisa dan Mayang buru buru keluar ,mereka melihat seorang pria terkapar bersimbah darah,bahkan beberapa bagian kaki dan lenganya hilang . Rupanya ia telah menjadi santapan dari para biawak yang kelaparan.
Bahkan Mayang sampai menutup mata tak kuasa melihat kematian yang begitu tragis. Sementara itu Tirta dan Nilam mulai kepayahan karena sedari awal ular dan biawak terus berdatangan ke arah mereka seperti tidak ada habisnya. Tirta teringat omongan gurunya tentang alam ilusi atau alam ciptaan seperti halnya alam mimpi. Dia mulai berpikir bahwa hewan hewan itu sebenarnya hanya merupakan ilusi ciptaan silam penghuni lembah untuk memperdaya mereka.
Tirta segera melompat mundur ke atas pohon ,ia menggunakan penglihatan tingkat tinggi guna melihat sebenarnya apa yang sedang ia hadapi.
Tirta terkejut menyaksikan bahwa binatang yang kelihatanya begitu besar ternyata hanya cacing tanah,semntara hewan yang dilihat seperti biawak raksasa ternyata hanya kadal biasa.
__ADS_1
" Sungguh sakti musuh yang kuhadapi hingga mata ini dapat di bohongi"
Tirta segera turun dari pohon dan menyeret Nilam naik ke atas. " Tenangkan dirimu dan hilangkan rasa takutmu terhadap ular yang sedang menyerangmu. Mereka hanya ilusi dan tidak nyata,jadi kau tak usah takut!"
Nilam sempat bingung ,namun ia mencoba tenang. Ternyata perkataan Tirta benar,begitu ia berusaha tenang dan tak merasa takut justru mereka berbalik arah dan menyerang para pendekar yang sedang bertarung.
Semntara itu Mahisa dan Mayang sudah berada di depan mulut goa dan kembali bertarung dengan para ular dan hewan raksasa.
Tirta dan Nilam duduk tenang di atas sebuah batang pohon yang dapat menopang tubuh mereka. Keduanya lantas bersemedi untuk memulihkan tenaga yang terkuras.
Kini hampir semua pendekar telah tewas tersisa hanya tinggal beberapa orang saja. Di antaranya Mahisa dan Mayang yang masih bertenaga menghadapi serangan ular raksasa,sementara yang lain sudah kelimpungan kehabisan tenaga pikiran mereka sudah pasrah jika harus mati menjadi santapan ular dan para biawak.
Tirta menotok beberapa saraf mereka agar menjadi tenang dan tidak ketakutan. Nilam juga memutuskan membantu menolong para pendekar yang hampir menjadi santapan tubuhnya melesat dan menyambarnya naik ke atas pohon. Para pendekar hanya diam seperti patung hanya matanya yang bergerak. Kini mereka merasa tenang . Satu persatu mata mereka terbelalak ketika melihat ular raksasa tiba tiba hilang dan berubah menjadi cacing yang ukuranya paling sebesar jari.
Mereka pun sadar bahwa itu hanya sihir yang menipu mata mereka. Mereka juga sudah tak berambisi untuk mendapatkan pedang dan kitab sakti. Merasa justru ketakutan dan ingin kembali dengan selamat.
Pemandangan berbeda terlihat kepada Mahisa dan Mayang yang terus menggunakan kedua pedangnya menebas tubuh ular dan juga biawak yang terus menyerangnya. Tirta yang sudah menyadari hal itu justru merasa lucu dan tertawa dalam hati melihat kedua pendekar itu bertarung dengan angin. Karena pedang mereka hanya bergerak di ruang kosong. Semntara hanya cacing dan kadal biasa yang berjalan di sekitarnya.
" Kang Mahisa lihat pemuda yang ada di sana nampaknya ia tenang tenang saja ketika ular raksasa berjalan ke arahnya,tapi kenapa justru hewan hewan ini tak berhenti menyerang kita. Kayaknya ada yang aneh.Apakah ini hanya sihir dari penunggu lembah ini yang ingin menakuti kita?"
__ADS_1
Mendengar ucapan Mayang Mahisa memperhatikan pemuda yang tak jauh dari dirinya. Sambil menghindari serangan ia juga memperhatikan gerak gerik Tirta yang nampak tenang. Bahkan justru para hewan yang mau menyerangnya tiba tiba berbalik arah dan justru menyerang dirinya dan juga Mayang.
" Ia Dinda,aku mulai sadar ayo cuma kita menjauh dari kerumunan dari hewan sialan ini dan kita menenangkan diri ,kita coba memejamkan mata dan membuang rasa takut dalam diri!"
Mayang dan Mahisa melompat ke atas pohon ,namun ular yang menyerangnya seakan tak memberi ruang. Mereka terus memburu kemanapun Mahisa dan Mayang pergi.
" Ayo pejamkan matamu Dinda jangan hiraukan ancaman mereka"
Mahisa mencoba memejamkan mata dan Mayang mengikuti. Setelah cukup lama mereka melakukanya ternyata tak ada satu serangan ularpun yang hendak memangsa tubuhnya.
Bahkan sudah tak terdengar suara daun atau dahan pohon yang terinjak oleh ular raksasa. Kedua pendekar itu kin membuka matanya dan terkejut ketika melihat ke bawah dan menemukan banyak cacing dan kadal yang berjalan dalam jumlah ratusan.
" Lihatlah Dinda,apa hewan hewan itu yang sesungguhnya menjadi musuh kita?"
" Entahlah Kanda,kemana perginya ular dan biawak raksasa itu kenapa yang terlihat hanya cacing dan kadal!" Mayang masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Kedua orang itu saling pandang sambil menepuk kedua pipinya. Mereka menyalahkan diri sendiri karena sudah berminggu minggu menjadi orang terkonyol. Tidak mengetahui musuh yang sedang mereka hadapi.
bersambung.
__ADS_1