
Raja Mata Satu merasa cemas karena sudah seharian si mata mata yang di kirim ke tempat Gajah Laya tak kunjung kembali.
Terlebih lagi ketika ia melihat sebuah kabut hitam yang meluncur cepat ke angkasa sebagai tanda bahwa kedua anak buahnya dalam bahaya.
Raja Mata Satu mulai liputi kecemasan ia masih teringat kata kata terahir Resi Ramadipa yang mengatakan bahwa kelak datang seorang pendekar hebat yang menunggangi elang raksasa yang akan membunuh Raja Mata Satu dan juga para pengikutnya.
Sementara itu ia nampak pergi ke sebuah ruangan khusus untuk mengadakan ritual.
Raja Mata Satu hendak bersemedi dan berupaya mengawasi tempat Gajah Laya menggunakan ilmu penerawangan.
Namun sama seperti gurunya , ada sebuah asap tebal yang menghalangi penglihatanya.
Raja Mata Satu segera merubah wujudnya menjadi seekor burung gagak dan terbang menuju kediaman Gajah Laya.
Sementara dikediaman Gajah Laya nampak rame ternyata banyak orang yang penasaran terhadap sosok Jaka dan Dewi yang berperawakan normal seperti Gajah Laya.
Mata Satu yang menjelma menjadi gagak bertengger di sebuah pohon yang tak berdauan , matanya terus mengawasi rumah Gajah Laya.
Dengan menggunakan ilmu tenaga dalamnya ia mencoba menembus pagar gaib yang mengelilingi rumah Gajah Laya.
Dewi merasa tak enak hati, seperti ada yang sedang mengawasinya. Tanpa sepengetahuan Jaka Dewi keluar dan mengawasi halaman rumah Gajah Laya.
__ADS_1
Matanya terhenti pada sebuah pohon yang berdiri di halaman, nampaklah seekor burung gagak bertengger di sebuah dahan.
Cukup lama Dewi mengawasi burung tersebut, hingga nampak ada keanehan, burung gagak terus bertengger dan matanya menatap tajam ke dalam rumah Gajah Laya.
Dewi mencoba melihat dengan mata batinya, nampaklah sesosok manusia kerdil sedang berdiri di atas pohon, matanya jelas terlihat menatap rumah Gajah Laya dengan tajam.
Dewi berusaha menuju ke sebuah semak, ia merubah wujudnya menjadi elang tapi seukuran elang pada umumnya.
Dewi terbang dan hinggap di dahan di dekat burung gagak jelmaan mata satu.
Mata Satu yang mempunyai kanuragan cukup tinggi dapat merasakan bahwasanya ada sebuah kekuatan mendekat dan sedang mengawasinya.
Hingga ia pun tak mau mengambil resiko dan hendak pergi, namun ketika si gagak hendak terbang, si elang tiba tiba saja menyerang dari arah belakang.
Nampaklah dua ekor burung saling beradu sayap dan paruh, suara keduanya juga terdengar membahana.
Jaka mulai curiga ketika Dewi seakan menghilang, karena tak pernah ia pergi tanpa berpamitan.
Hingga Jaka menduga bahwa kedua burung tersebut bukanlah burung biasa.
Mata Satu tak ingin mengambil resiko, ketika melihat Dewi lengah ia lantas terbang melesat dengan cepat dan kembali ke istana.
__ADS_1
Dewi tak berusaha mengejar, ia tak mau kegabah karena belum mengetahui banyak tentang seluk beluk wilayah Hulu Semingkir.
Dewi memilih terbang ke sebuah tempat sepi dan kembali berubah menjadi manusia.
Dewi pura pura membawa kendi yang ia isi dengan air, agar orang orang tidak curiga.
Jaka segera mendekat, ketika melihat kedatangan Dewi dengan membawa gentong berisi air.
" Dinda, tak usah mengelabui diriku, aku tahu, burung elang tadi jelmaan Dinda, aku baru tahu bahwa Dinda dapat berubah dalam berbagai ukuran?" tanya Jaka.
Dewi mengangguk" Ketahuilah Kanda, gagak tersebut sesungguhnya adalah sebuah sosok manusia kerdil yang memiliki satu mata di tengah keningnya. Apakah dia yang juluki Raja Mata Satu seperti cerita Ki Gajah Laya?" Jawab Dewi sambil berbisik di telinga suaminya.
Jaka tak menjawab pertanyaan Dewi dan lantas pergi menemui Gajah Laya untuk mencari tahu siapa sosok yang di lihat Dewi.
Apakah betul ia adalah Raja Mata Satu yang sangat di takuti penduduk dan juga Matoa.
Gajah Laya kaget ketika melihat Jaka bercerita, tentang mahluk kerdil yang di ceritakan istrinya yang menjelma menjadi burung gagak dan nampak mengawasi rumah Gajah Laya.
Gajah Laya membenarkan sosok yang di lihat Dewi adalah Raja Mata Satu penguasa wilayah Hulu Semingkir.
Rupanya selain dapat berubah wujud, Raja Mata Satu juga memiliki ilmu sihir setingkat Dewi Kalinggi.
__ADS_1
Jaka menarik kesimpulan, ketika melihat kabut ilusi, bahkan ia menduga bahwa Mata Satu masih memiliki terah dari Dewi Kalinggi, dan kemungkinan besar mata satu juga memiliki ajian pancasona seperti yang di miliki Dewi Kalinggi.