JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA

JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA
Kadipaten Kedung Ringin


__ADS_3

Suasana di alun alun kedung ringin sangat ramai.


Terlihat dua orang yang terdiri dari seorang pria dan wanita.


Tangan dan kakinya di belenggu dan siap di gantung.


Keduanya di tuduh telah mencuri sebuah cincin mustika yang menjadi ikon kadipaten Kedung Ringin.


Cincin tersebut tersimpan rapi di ruang pusaka kadipaten.


Kedua orang yang akan di gantung bernama Arya Janu dan istrinya Sekar Ayu.


Arya Janu merupakan tangan kanan dari adipati Wiramastra penguasa Kedung ringin.


Rupanya Wiramastra menyukai istri dari bawahanya yaitu Sekar Ayu yang memang memiliki wajah rupawan.


Sudah berbagai cara Wiramastra lakukan untuk mendapatkan wanita pujaan hatinya, padalah sang adipati juga sudah memiliki tiga orang istri.


Hingga akhirnya Arya Janu mulai mengetahui bahwa sang adipati menyukai istrinya.


Dia pun memutuskan untuk keluar sebagai orang kepercayaan adipati dan memilih pergi dan menjadi rakyat biasa.


Adipati merasa sakit hati hingga terbersit di hatinya untuk melenyapkan mereka berdua.


Akhirnya supaya adipati punya alibi untuk menghukum Arya Janu, ia menyuruh salah satu emban untuk menyelipkan cincin mustika ke buntelan milik Sekar Ayu saat berkemas hendak meninggalkan kadipaten.


Tanpa menaruh curiga Arya Janu dan Sekar ayu bersama anaknya Tirta Janu yang saat itu usianya mulai Dewasa meninggalkan kadipaten.


Mereka pun kembali ke rumah kecilnya di sebuah desa terpencil.


Hingga akhirnya Adipati Wiramastra melancarkan aksinya.


Ia menyebar sebuah berita bahwa cincin mustika kerajaan hilang, hingga menyebar prajurit untuk menggeledah rumah warga.


Al hasil mereka menggeledah sampai ke rumah Arya Janu dan menemukan cincin tersebut.

__ADS_1


Arya Janu dan Sekar Ayu tak mengerti kenapa cincin tersebut bisa berada di salah satu buntelan kain yang ia bawa bersama pakaian miliknya saat berkemas.


Arya Janu yang memang mengerti tentang norma dan aturan yang berlaku hanya pasrah saat dirinya dan istri di geladang dengan tangan dan kaki di ikat dan di arak ke alun alun.


Di sepanjang jalan, mereka di lempari sampah oleh warga yang telah di hasut oleh orang orang suruhan adipati.


Sementara Tirta Janu yang mencoba melawan prajurit babak belur di pukuli lima orang prajurit saat dirinya berusaha melepaskan ikatan ibunya.


Sementara Arya Janu hanya pasrah dan menahan sesak di dada melihat putera kesayanganya di pukul dan di injak injak.


Mereka pun hanya diam saat sampah dan sisa makanan yang sudah basi di lemparkan warga hingga memenuhi muka dan juga tubuhnya.


Hingga sampelah keduanya di alun alun dan bersiap menjalani hukuman gantung.


Namun rupanya adipati hanya menghukum mati Arya Janu sedangkan istrinya Sekar Ayu di penjara.


Namun rupanya itu hanya siasat adipati yang ingin memiliki Sekar Ayu.


Eksekusi pun di lakukan, Arya Janu mati di tiang gantungan dan tidak satupun warga yang berusaha menguburkan jasadnya.


Justru mereka semua meludahi jasad yang sudah terbujur kaku karena di anggap pencuri dan tak tahu balas budi.


Adipati Wiramastra hanya tersenyum dan melepas tenaga dalamnya hingga telak mengenai dada Tirta Janu dan pingsan di dekat jasad ayahnya.


"Biarkan keduanya mati dan jasadnya di makan binatang buas, itu lebih pantas untuk orang yang tak tahu balas budi!" teriak Wiramastra.


Kedua prajurit segera mengangkat kedua tubuh dan membuangnya ke tengah hutan.


Sementara Sekar Ayu pingsan saat melihat suaminya di hukum gantung.


Tirta yang masih bernafas segera bangkit dengan sisa tenaga dan langkah gontai ia berusaha membuat lobang untuk mengubur jasad ayahnya.


Rasa sakit yang tak terkira terasa hilang saat jasad ayahnya selesai ia kubur.


Yang ada hatinya di liputi dendam. Dia pun bersumpah akan menumpahkan darah Sang adipati di atas pusara ayahnya dan membunuh semua orang yang telah menyakiti ayah dan ibunya.

__ADS_1


Karena Tirta sangat yakin bahwa ibunya tak mungkin melakukan hal keji, dan pastilah ada orang yang sengaja menfitnah mereka.


Tirta termenung lama di atas pusara ayahnya ia terus memikirkan bagaimana cara untuk balas dendam sedang dirinya tidak memiliki cukup kanuragan.


Tiba tiba terdengarlah langkah kuda mendekat, hingga Tirta mengira bahwa mereka prajurit Kadipaten,ia pun segera merangkak menuju semak semak.


" Kang kita harus cepat sampai di bukitsetan dan mendapatkan pedang setan sebelum keduluan sama pendekar lain, karena dengan pedang itu kita bisa menguasai dunia persilatan!" ucap salah satu penugang kuda.


" Baik ayo kita harus cepat!" sahut temanya dan langsung menggoyangkan tali kuda.


Tirta membulatkan tekadnya agar menjadi orang pertama yang berhasil mencapai punjak bukit.


Dengan sisa tenaga yang ia miliki tanpa merasakan rasa sakit yang ia derita Tirta mengambil banyak rotan dan di bentung tali memanjang .


Ternyata Tirta cukup tahu daerah bukit Setan yang akan cukup jauh jaraknya jika di tempuh dengan berkuda. Namun ia ingin memakai jalan pintas dengan memancat tebing yang tinggi dan curam berharap agar cepat sampai dan bisa mendapat pedang setan untuk membalas dendam kepada Adipati Wiramastra.


Tirta segera menggulung rotan yang sudah ia jadikan tali dan segera berlari menuju bukit yang berada tak jauh dari tempat ayahnya di kubur.


Sementara kedua orang berkuda terus memacu kudanya hingga berpapasan dengan banyak pendekar hitam yang sama sama mengincar pedang setan.


Mereka pun saling bertarung hingga akhirnya tak bernyawa demi ambisi mereka untuk mendapatkan pedang Setan.


Sementara itu Tirta Janu terus saja mendaki dengan mengandalkan kedua tanganya dan tali rotan ia gulungkan di lehernya.


Rupanya Tirta juga sempat mendengar bahwa setelah sampai ke puncak Bukit Setan ada sebuah jurang yang sangat dalam di mana di jurang tersebut terdapat sebuah goa yang merupakan tempat di mana pedang Setan di simpan.


Tirta terus saja memancat dengan sekuat tenaga, dendam yang sudah memenuhi jiwanya membuat tubuhnya terasa ringan hingga dengan mudah tanganya meraih akar akar dan bebatuan yang tumbuh di dinding tebing yang curam.


Ketakutan Tirta juga hilang dan hanya tekadnya untuk membalas kematian ayahnya yang memenuhi relung hatinya.


Sementara itu Jaka dan Dewi sudah cukup lama berada di Hutan Kayu, mereka pun berniat untuk kembali menemui gurunya Ki Samber Nyawa yang mereka tinggalkan di gubuknya yang berada di tengah hutan di kawasan Karang Cendana.


Entah mengapa Jaka memiliki firasat tiba tiba ia teringat akan kadipaten Karang Ringin yang memang masih wilayah kekuasaan Karang Cendana.


Ia seperti melihat banjir darah di kadipaten tersebut dan itu berarti akan ada malapetaka yang terjadi di kadipaten Karang Ringin.

__ADS_1


Cukup lama Jaka termenung di kala Dewi sudah terlelap dalam tidurnya.


Hingga membuatnya resah dan susah untuk memejamkan matanya.


__ADS_2