
Tirta dan Nilam berjalan, sesekali mereka terbang melompati dahan dahan pohon supaya cepat sampai di desa. Hal itu mereka lakukan mengingat waktu yang tak lama lagi untuk menyembuhkan Sari yang terkena pukulan pelebur raga.
Matahari sinarnya sudah terasa panas di kulit ,mereka pun sampai langsung di sambut oleh Ki Tarpa. Sementara itu beberapa orang pemuda terlihat memadangi wajah yang begitu mempesona. Mereka merasa kagum dengan kecantikan Nilam,namun begitu ingat akan keganasan Nilam sebelumnya mereka segera menarik pandanganya karena merasa ngeri dengan beberapa pemuda yang menjadi korbannya.
Nilam merasa bersalah kepada warga dan langkahnya jadi agak berat,namun ia ingin berubah menjadi orang baik. Kecanggungan ya ia hilangkan dan berjalan cepat menuju kamar Sari.
Nilam segera berkonsentrasi dan memperagakan gerakan pukulan pelebur raga. Nampak Ki Tarpa memperhatikan semua gerak tubuh Nilam dengan seksama,jantungnya berdetak kencang takala tangan Nilam yang mengepal menghantam tubuh Sari dengan keras hingga membuatnya terpental. Untunglah Tirta yang sudah tahu hal yang akan terjadi segera meluncur dan menangkap tubuh Sari.
Suasana menjadi hening semua orang terdiam melihat tubuh Sari yang mula kehitam hitaman sedikit demi sedikit kulitnya berubah menjadi putih seperti semula. Ki Tarpa mulai bisa bernafas dengan lega menyaksikan tubuh anaknya telah kembali ke rupa semula.
Setelah menunggu cukup lama akhirnya Sari membuka kedua matanya dan samar samar ia mulai dapat melihat orang orang yang berdiri mengelilinginya.
Pandangan terhenti kepada Nilam,wajahnya berubah menjadi ketakutan.
" Tolong ,tolong Ayah. Aku takut melihat gadis ini!" Sari berteriak memanggil manggil Ayahnya.
Ki Tarpa segera berlari" Tenang Anaku dia justru telah menyembuhkan mu?"
" Tidak Ayah,aku tak sudi melihat muka perempuan ini yang sudah menghabisi nyawa kang Arga. Suruh dia pergi?"
Mendengar perkataan Sari ,Nilam kembali mengingat saat saat ia menyerap hawa perjaka Arga dan meninggalkannya mati di hutan. Air matanya kembali tumpah dan berlari bersimpuh di hadapan Sari.
Sari memalingkan mukanya sambil berteriak mengusir Nilam.
" Dasar wanita beracun. Jangan kau pura pura baik di depan penduduk.Rencana apalagi yang sedang kau pikirkan apakah kematian Arga belum cukup !" Nilam hanya diam sambil beruraian air mata.
Tirta mencoba menenangkan Sari.
" Ketahuilah Sari Tuhan saja akan mengampuni dosa manusia walaupun banyaknya sampai memenuhi bumi,jika dia bertobat dengan sungguh sungguh. Nilam hanya di suruh neneknya dan ia tidak bisa menolak!"
Kali ini Tirta menggenggam tangan Sari untuk meyakinkan perkataanya. Sari terkejut ketika merasa sentuhan tangan Tirta,hatinya yang berselimut emosi serasa diguyur dengan air pegunungan yang sejuk. Dia pun memanggil Nilam untuk mendekat dan mau menerima permintaan maaf Nilam. Ia juga mencoba mengiklaskan kematian Arga yang sudah menjadi garis nasib manusia . Bahwa ada kematian setelah kehidupan.
__ADS_1
Untuk beberapa hari Tirta dan Nilam tinggal di rumah Ki Tarpa. Namun Tirta merasa bimbang karena sepertinya kedua gadis itu mulai berlomba untuk mendapatkan hatinya. Bahkan terlihat Sari wajahnya berubah masam ketika Nilam sedang ngobrol dengannya begitu juga sebaliknya.
Tirta menjadi galau bagaimana sikap yang harus di ambilnya. Disisi lain ia melihat Sari sebagai wanita cantik dan lemah lembut,pastinya ia akan menjadi ibu yang baik untuk anak anaknya. Namun jantung Tirta berdetak kencang tatkala ia beradu pandang dengan Nilam.
Dia pun mulai berpikir keras untuk keluar dari masalah itu. Tirta tak ingin membuat Sari sakit hati apalagi ia telah berkorban banyak untuknya. Namun benih benih cinta lebih tumbuh di ladang hati Nilam.
Sementara itu untuk membuat warga benar benar yakin bahwa dirinya telah berubah Nilam beberapa kali membantu warga yang terkena gigitan ular saat sedang berkebun. Lambat laun karena kebaikannya para penduduk mulai bisa menerimanya. Apalagi Nyi Andung juga kini telah banyak membantu warga yang sakit baik karena racun ataupun penyakit lainya,di samping itu Nyi Andung juga merangkap menjadi dukun bayi.
Setelah cukup lama tinggal di rumah Ki Kuwuh dan melihat Sari sudah benar benar pulih Tirta berniat melanjutkan perjalananya ke gunung Arjuna.
" Sari ,sebelumnya aku minta maaf karena telah membuatmu sakit?"
" Tidak apa apa kakang,bahkan aku rela menyerahkan nyawaku untuk keselamatan kang Tirta"
Mendengar jawaban Sari rambut di kepala Tirta serasa berdiri,ada perasaan senang yang teramat besar dirinya tersanjung.
" Aduh Sari,jangan begitu kamu kan belum kenal aku lebih jauh. Lagian disini banyak pemuda yang kaya ganteng dan gagah. Aku hanya orang biasa dan hidupku belum mapan"
" Tidak Kang Tirta aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama"
" Kenapa diam,kang Tirta?"
" E,e,emmm,maaf Sari sebelumnya jangan marah ya. Apa kamu pernah masuk kedalam kamarku saat aku tidur?"
Mendengar ucapan Tirta muka Sari memerah.
" Ia ,ia Kang. Tapi tidak ada hal yang aku lakukan terhadap kakang. Aku hanya terpesona ingin memandang wajahmu,kang!"
Tirta memandang wajah Sari yang menunduk menahan malu.
Ia cukup binggung untuk mengutarakan niatnya untuk segera berangkat ke gunung Arjuna. Terlintas di pikiranya untuk pergi secara diam diam karena takut membuat Sari sedih. Apalagi ia memang sering murung jika mengingat Arga kekasihnya yang sudah tiada.
__ADS_1
Tirta tidak jadi berniat pergi dan bermalam kembali di rumah Sari.
Sementara Nilam yang telah kembali di rumah neneknya,sering melamun memikirkan Tirta yang belum juga tiba. Kerena ia sudah berjanji untuk mengajaknya ke gunung Arjuna dan setelah itu akan membantunya mencari orang tuanya di Hutan Kayu.
" Nilam tak usah risau,pasti Tirta akan segera datang untuk mengajakmu pergi!".
"Tidak Nek,aku sedang memikirkan ayah ibuku,bukan Tirta"
" Tak usah bohong,aku juga pernah muda,hehe He?" celetuk Nyi Andung yang membuat Nilam tertunduk.
Pagi telah tiba dan Tirta segera berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Sari yang awalnya wajahnya riang berubah murung ketika Ki Tarpa memberi tahu dirinya bahwa Tirta akan melanjutkan perjalananya.
" Ayah apa kang Tirta bilang bahwa ia akan pergi dengan Nilam?"
" Kurang tahu ndo,dia hanya bilang bahwa dia harus segera pergi mendapatkan pedang naga emas sebelum jatuh ke pendekar golongan hitam".
Sari segera berlari menemui Tirta yang sedang menyantap beberapa singkong dan pisang rebus dengan secangkir teh
" Kang apa kamu tega meninggalkanku sendiri.Aku mohon sebelum kamu pergi ,aku ingin tahu perasaanmu terhadapku?" Sari memandang Tirta dengan tajam.
Tirta sedikit gugup untuk menjawab,lidahnya terasa kaku" Sari aku,aku!"
" Ayo cepat bicara Kang"? Sari terus mendesak.
" Maaf Sari aku belum bisa menjawab sekarang,biarlah waktu nanti yang akan menjawabnya. Belum tentu aku akan bisa kembali dari gunung Arjuna dengan selamat jadi aku tidak mau memberi harapan lebih kepadamu. Kalau jodoh takan kemana?" Tirta salah tingkah karena takut jika Sari akan marah.
Namun justru Sari merasa lega dengan jawaban Tirta,ia justru merasa bahwa Tirta juga memiliki rasa yang sama. Cuma karena tanggung jawab yang harus di embanya dan runtangnya memang sangat berat jadi ia tak berani ambil keputusan.
" Ia kang,aku mengerti. Baiklah pergilah dan hati hati,semoga apa yang kakang inginkan cepat tercapai dan engkau tidak melupakan diriku?".
Tirta melihat wajah Sari begitu tulus ia pun lantas memegang kedua tangannya dan berjanji suatu saat akan kembali menemui Sari.
__ADS_1
Tirta pun segera berpamitan dan pergi menuju Gunung Arjuna.
Bersambung