
Tirta sudah dua malam menginap ,tapi belum ada tanda tanda bahwa Ki Rampan dan anak buahnya datang untuk menjarah. Mungkin sang perampok tidak menemukan pemukiman tersebut yang memang tersembunyi di antara semak dan pepohonan.
Di pagi yang cerah seperti biasa Tirta di jamu oleh Ki Kuwuh makan dengan beraneka ragam.Mendapat perilaku dari Ki Kuwuh dan para warga membuat Tirta tak enak hati jika harus melanjutkan perjalananya sebelum membantu para penduduk terbebas dari Ki Rampan dan anak buahnya.
"Ki Kuwuh ,sebelumnya minta maaf karena telah merepotkan semuanya.Karena atas kebaikan semuanya bagaimana kalau Ki Kuwuh menunjukan sarang perampok tersebut,siapa tau saya bisa menasehati atau pun bisa mengalahkan dirinya supaya kalian semua bisa kembali ke desa dan hidup normal seperti biasa"
Mendengar perkataan Tirta,Ki Kuwuh merasa terharu namun dengan halus ia menolak dengan berkata bahwa mereka sudah nyaman tinggal di tempat tersebut,walaupun memang banyak juga warganya yang ingin kembali.Ki Kuwuh juga berkata bahwa Ki Rampan orang yang sangat sakti,sebenarnya dia sudah melapor ke pihak kerajaan dan beberapa kali sudah ada utusan dari kerajaan untuk menangkap Ki Rampan ,namun mereka selalu pulang dengan kekalahan.
Tirta tak mau membatalkan niatnya dan terus mendesak Ki Kuwuh untuk menunjukan letak keberadaan Ki Rampan dan anak buahnya.
Dengan berat hati,ia menyuruh salah seorang pemuda yang bernama Toro untuk menunjukan tempat Ki Rampan.Kebetulan ia secara tak sengaja pernah tersesat di hutan yang tak jauh dari pemukiman saat sedang berburu ,untungnya ia cepat menyadari bahwa hutan itu ternyata tempat persembunyian Ki Rampan dan anak buahnya.Toro yang ketakutan segera bersembunyi dengan naik di atas pohon bahkan sampai tidur di atas pohon hingga pagi. Untungnya keberadaanya tidak di ketahui anak buah Ki Rampan hingga ia bisa pulang dengan selamat.
Matahari sudah mulai meninggi,Toro berjalan dengan Tirta menuju hutan di sebelah pemukiman di sepanjang jalan mereka semakin akrab,karena usianya memang sepantaran hingga tak ada canggung antara keduanya.
Tak jarang kedua pemuda tertawa terbahak bahkan sesekali mereka saling pukul karena candaan mereka.
Tak terasa tempat persembunyian Ki Rampan sudah dekat,tapi keduanya masih bercanda tertawa berbahak yang tentunya di dengar oleh anak buah Ki Rampan.
" Hey ,mau kemana kalian? Apa sudah bosan hidup.Berani beraninya kalian masuk ke wilayah Singa".
Tirta dan Toro terkejut dan hanya saling pandang ,keduanya tak menyadari karena keasyikan bercanda justru mereka telah masuk ke sarang Singa.
" Aku tidak takut.Ha ha ha,jangankan sarang Singa.Hariamau ,gajah bahkan badak adalah temanku.Jadi aku tak perlu takut?"
Tirta meledek hingga membuat anak buah Ki Rampan murka.Tirta memberi isyarat kepada Toro supaya menjauh.
Kini sepuluh orang perampok mencabut pedangnya dan berlari mengerumuni Tirta.
Tirta telah siaga dan kakinya kuat dengan kuda kuda. Dengan berbarengan sepuluh perampok mengayunkan senjata,Tirta mengeluarkan tenaga dalamnya untuk menangkis ayunan pedang.
" Bruuukkkk,ahhhhh"
Para perampok terlempar dan berteriak kesakitan. Sementara itu di sebuah rumah yang paling bagus di antara bangunan yang lainya,Ki Rampan yang sedang mesra dengan beberapa wanita kaget mendengar teriakan dari anak buahnya. Ia berusaha membenarkan bajunya yang terbuka karena di goda para gadis.
Ki Rampan mengambil sebuah pedang yang ia taruh di atas meja ,lalu kemudian terbang melesat.
" Kurang ajar,siapa kamu anak muda,beraninya kamu membuat anak buahku babak belur,apa sedah bosan hidup?" Ki Rampan terus mengumpat sambil menyerang membabi buta.
__ADS_1
Tirta terus berusaha menghindari serangan Ki Rampan yang membabi buta,tak ayal sebuah pukulan keras mendarat di pipinya hingga mulutnya berdarah .
" Behhh,dasar Ki Tua sedeng,sudah bau tanah tapi masih membikin keonaran di muka bumi.Harusnya orang tua sudah mempersiapkan diri menjemput kematian dengan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan.Dasar wong sedeng" Tirta mengolok olok sambil menyeka bibirnya yang mengeluarkan darah.
Ki Rampan semakin gelap mata,ia mencabut pedangnya dan mengacungkanya ke langit.
Tiba tiba kilatan kilatan petir menyambar nyambar hingga membuat beberapa pohon tumbang. Toro yang ketakutan badanya menggigil dan terus berdoa supaya Tirta dapat segera mengalahkan Ki Rampan.
" Ha ha ha,kali ini terimalah serangan ajian halilintarku anak muda,mampuslah kau!" Ki Rampan mengayunkan pedangnya dan kilatan petir menyambar tubuh Tirta .
" Brukggg" tubuh Tirta terlempar dan menghantam pohon besar di sampingnya.
Namun dengan cepat ia bangkit, kedua tangannya di kepal dan di bentangkan.
" Jurus Dewa Gledek"
Ki Rampan terbelalak matanya hampir copot, ia sungguh tak menduga pemuda ingusan yang ia lawan memiliki ajian tandingan dari Pedang Halilintar miliknya itu.
" Apa,tidak mungkin pemuda yang masih ingusan mampu memiliki ajian Dewa Gledek"
Ki Rampan kembali mengayunkan pedangnya dengan lebih cepat hingga kekuatan keduanya beradu dan membuat semua orang yang mendengarnya tiarap sambil memegangi telinga mereka. Ledakan keras beberapa kali terdengar hingga ke pemukiman tempat Toro tinggal.
Ki Kuwuh sangat yakin bahwa itu adalah Ki Rampan yang sedang bertarung melawan Tirta,karena beberapa kali utusan yang di utus raja lari terbirit birit karena pedang halilintar milik Ki Rampan.
" Pengumuman kepada warga untuk beristirahat sejenak. Mari kita bersama sama berdoa kepada Tuhan supaya Ki Rampan dapat di tumpas oleh Tirta dan kita bisa kembali ke Desa dengan aman"
Mendengar perkataan Ki Kuwuh semua warga terdiam dan mengangkat kedua tangannya untuk berdoa.
Kembali ke pertarungan Titra dan Ki Rimpang.Kini suara petir telah hilang Tirta dan Ki Rampan saling bergantian menyerang. Kini keadaan berbalik Tirta semakin lincah bergerak menyerang Ki Rampan hingga Ki Rampan yang fisiknya sudah tua mulai kehabisan tenaga .
" Terimalah seranganku Ki,Pukulan Matahari"
Pukulan Matahari mendarat tepat di ulu hati Ki Rampan dan membuat luka yang cukup parah hingga pedang Halilintar yang ia pegang terlempar. Toro badanya kembali bergetar ketika pedang Ki Rampan meluncur dan menancap tepat di depan kepalanya.
Sementara itu Ki Rampan mulai memuntahkan darah segar ,ia bangkit dan justru semakin penasaran dengan pemuda ingusan yang menjadi lawannya
" Anak muda siapa kamu sebenarnya ,aku mengenal semua jurus jurusmu,bagaimana mungkin dengan usiamu yang masih sangat muda menguasai jurus yang sangat sulit di kuasai para pendekar!"
__ADS_1
Tirta hanya tersenyum" Apa kamu mengakui kekalahanku Aki Sedeng?"
" Kurang Ajar .Dasar anak ingusan.Kali ini aku akan mengakhiri riwayatmu. Bersiaplah"
Ki Rampan membuat pola gerakan dengan kaki sigsag kedua tangannya di bentangkan " Jurus Rawa Rontek" .
Kedua tangan dan kaki Ki Rampan lepas dari badanya ,secara bersama sama bergerak menyerang Tirta. Tangan kanan Ki Rampan mencekik leher Tirta sementara yang kiri memukul dada Tirta,lalu kedua kakinya bergantian menendang perut bagian bawah . Tak ayal Tirta menjadi bulan bulanan oleh serangan Ki Rampan.
Untuk beberapa saat tubuh Tirta menjadi babak belur. Namun ia mencoba tenang dan konsentrasi bagaimana pun kondisinya,ia tak boleh panik. Kini ia mengeluarkan tenaga dalamnya menyalurkan ketelapak tangan kanannya guna melepaskan cekikan yang membuatnya sulit bernafas hingga membuat kekuatannya sedikit berkurang.
Sambil meronta ia mengeluarkan tenaganya,kini lehernya telah berhasil lepas dari cekikan Ki Rampan. Namun masih ada serangan dari satu lengan dan dua kaki lainya.
" Ajian selimut asap"
Badan Tirta tiba tiba lenyap dari penglihatan Ki Rampan,hingga ia kembali menarik semua anggota badanya untuk bersatu kembali.
" Dasar bocah gemblung,kanapa aku bisa di perdaya oleh seorang bocah ingusan sialan"!
"Krak,krak,Brugg"
Tubuh Ki Rampan tiba tiba terlempar dan beberapa kali membentur pohon hingga nyaris tumbang. Kali ini ia berusaha bangkit ,namun belum sempat ia berdiri tubuhnya kembali terlempar kejadian itu berulang sampai sepuluh kali .
Bahkan tubuhnya seperti bola mainan yang di perebutkan di lapangan sepak bola.
" Ampun,ampun anak muda aku mengaku kalahhhh,ampun ampunnn"
Kini Ki Rampan badanya tidak mampu lagi bangkit dia hanya mengucap kata kata itu sambil mengerang kesakitan.
Melihat musuhnya sudah tak berdaya Tirta segera menarik ajian Selimut Asap dan berdiri tepat di hadapan Ki Rampan.
" Baiklah Ki,aku mengampuniku,tapi ada beberapa sarat yang aku ajukan"
" Ia anak muda apapun syaratmu akan aku penuhi,sekalipun aku harus menjadi budakmu aku terima,asal kau tak membunuhku. Sungguh aku melihat banyak dosa dosa atas diriku,aku takut mati dalam keadaan bergelimang dosa ,aku ingin tobat anak muda"
Tirta mendekati tubuh Ki Rampan dan memapahnya menuju kesebuah gubuk terdekat,ia lantas menotok beberapa bagian tubuh Ki Rampan untuk menghentikan pendarahan.
Tirta kemudian menyuruh Ki Rampan duduk bersila untuk menyalurkan hawa murni supaya rasa sakitnya cepat hilang.
__ADS_1
Rupanya Toro yang tadinya bersembunyi telah berbaur dengan anak buah Ki Rampan yang pada melongo melihat kejadian yang mereka lihat. Dalam hatinya tidak percaya seorang Ki Rampan yang sakti mandraguna dapat Tirta Kalahkan.
Bersambung.