
Jendral Chong dan pasukanya sudah bersiap . Rupanya mereka menghadang rombongan yang di pimpin oleh Mung Yi yang membawa sandera yang akan di pindahkan ke istana Liming.
Para prajurit telah bersiap di pos yang sudah di siapkan. Iring iringan prajurit yang membawa sandera mulai kelihatan. Rupanya sandera di bawa dengan menggunakan kereta yang berjumlah tiga kereta dengan ditarik masing masing kereta oleh tiga ekor kuda. Kereta berada di tengah sedang pasukan berada di depan dan di belakang kereta.
Ming Yi sudah mulai merasakan ada banyak hawa manusia yang sedang mengintainya. Dia lantas menyuruh anak buahnya untuk waspada dan membuat pagar untuk melindungi tawanan.
Jendral Chong memancing para prajurit Mung Yi agar pecah konsentrasinya dalam menjaga tawanan. Beliau menyuruh anak buahnya untuk membuat serangan kecil dan kemudian lari untuk memancing terpecahnya konsentrasi mereka.
Kali ini Jaka dan Dewi beraksi dengan melayang di udara sambil melepaskan tenaga dalamnya. Semua prajurit terkejut ketika melihat dua sosok manusia bercadar tiba tiba muncul di atas mereka dan melepaskan tenaga dalam yang menyebabkan beberapa prajurit terluka.
Jaka dan Dewi lantas terbang di antara pepohonan dan sekitar dua puluh orang prajurit berusaha mengejarnya.
Kelompok kedua kini beraksi mereka melepas anak panah dan dalam sekejap puluhan orang tumbang terkena anak panah.
Mung Yi mulai naik pitam melihat anak buahnya sedikit kocar kacir. Dia segera melompat dan menggunakan tenaga dalamnya berhasil menahan anak panah yang melaju mengarah ke tubuh prajuritnya. Ia komat Kamit membaca mantera dan hal aneh terjadi , anak panah terhenti secara tiba tiba dan justru berbelok arah mengarah ke pasukan Jendral Chong.
Beberapa anak buah Jendral Chong yang tak sempat menghindar terkena anak panahnya sendiri dan jatuh dengan tubuh di penuhi tetesan darah.
Jendral Chong kini menyuruh semua anak buahnya menyerang dan terjadilah pertarungan yang sengit.
Mung Yi nampak kaget melihat ratusan orang tiba tiba munjul dari balik pohon dan semak semak dan langsung menyerang para prajuritnya hingga di buat kocar kacir.
__ADS_1
Sementara Jaka dan Dewi berhenti di sebuah lahan yang cukup luas para prajurit yang mengejarnya terkepung dengan di hujani puluhan anak panah dalam sekejap mereka dapat di taklukan dan senjata mereka di lucuti.
Sementara Mung Yi dan Jendral Chong terlibat pertarungan satu lawan satu. Namun rupanya Jendral Chong yang sudah cukup berumur nampak sedikit kesulitan melawan Mung Yi yang notabennya masih berumur muda. Gerakanya juga sangat gesit dan memang memiliki kanuragan yang tinggi .
Untunglah Jaka segera datang untuk membantu.
" Biar aku yang menghadapi orang ini ,Komandan" teriak Jaka sambil berdiri di hadapan Jendral Chong.
" Baiklah pemuda asing, tubuhku sudah sedikit payah, biar bagianku para prajurit kroco saja he he he!" Jendral Chong segera mundur dan bergabung dengan anak buahnya .
Mung Yi kali ini merasakan kekuatan Jaka sangat besar dan mungkin dia tidak mampu untuk melawannya.
" Belum tau kamu pemuda, aku adalah Jendral Mung Yi si penakluk kekuasaan Ciming yang agung"! Mung Yi mencoba menggertak.
Mung Yi segera menyerang Jaka dengan gerakan yang sangat gesit. Namun Jaka juga tak mau kalah ia menggunakan jurus Taichi untuk menghadapi serangan Mung Yi.
Mung Yi semakin penasaran dengan lawan yang ia hadapi. Karena selain gerakan kungfu Jaka juga menggunakan gerak silat tanah Jawa hingga membuat Mung Yi merasa kebingungan.
Kini para prajurit sudah berada cukup jauh dari kereta yang membawa para sandera. Sekelompok orang kini beraksi dengan melompat ke atas kereta dan memacu kuda 🐎 hingga kereta melaju dengan kencang.
Puluhan prajurit mencoba mengejar namun pasukan dari pihak Jendral Chong segera menghadang.Sementara itu pihak keluarga kaisar cukup ketakutan karena mereka belum tahu siapa yang membawanya, karena semua orang memakai cadar.
__ADS_1
Bahkan Istri Kaisar Ci dan ibu suri terus berpelukan dan sudah pasrah kalau yang membawa mereka ternyata orang jahat atau perampok. Melihat kereta sandera telah di kuasai Jendral Chong segera memerintahkan anak buahnya untuk mundur. Karena tujuan mereka hanya ingin menyelamatkan keluarga kaisar.
Mung Yi yang masih penasaran dengan musuhnya merasa geram ketika pemuda yang ia lawan juga ikut lari dengan melompat memasuki hutan. Rupanya Mung Yi tak mau mati konyol hingga ia membiarkan Jaka pergi. Apalagi pasukanya kalah jumlah dan tak mengerti medan di hutan tersebut.
Mung Yi segera berkonsentrasi dan berkomunikasi jarak jauh dengan Ming Chun yang merupakan sepupu sekaligus ketua dari perguruan Iblis Merah.
Tentunya mendengar kabar tawanan telah di bawa oleh para penjahat Ming Chun awalnya marah besar dan memaki Mung Yi. Namun karena kini ambisinya adalah merebut kekuasaan kaisar Feng ia pun melunak.
Namun Mung Yi menyarankan agar Ming Chun mengirim pasukan untuk memberantas para gerombolan yang berani membawa tawananya. Kini jumlah mereka kelihatan sedikit tapi mereka sangat terlatih,bukan tak mungkin bahwa mereka adalah sisa sisa prajurit Kaisar Ciming yang mencoba menghimpun kekuatan. Hal itu juga dapat membahayakan kelangsungan kepemimpinan kaisar Ming Chun.
Atas saran Mung Yi, Ming Chun tak menampik bahwa bisa saja mereka bukan gerombolan biasa tapi para prajurit sisa Kaisar Ci yang sedang menghimpun kekuatan.
Ming Chun kini menyuruh salah satu komandan pasukanya menyusul Mung Yi dengan membawa tentara yang terbilang sangat banyak tak tanggung tanggung , Ming Chun menyuruh sekitar dua ribu pasukan menyusul Mung Yi untuk memberantas para pengacau yang berani membuat keonaran di wilayahnya.
Sementara kereta kuda yang membawa tahanan terus bergerak memasuki hutan, di susul oleh Jendral Chong dan pasukanya. Raut muka ibu suri mulai panik ketika hari sudah mulai gelap dan kereta terus melaju masuk ke dalam hutan.
Rupanya Jendral Chong sengaja menyembunyikan identitas sebelum di pastikan para sandera aman dan berhadapan langsung dengan Kaisar Ciming.
Dewi Kumalasari juga sudah tak sabar untuk memeluk ibu Suri yang lama ia tinggalkan. Sementara Liming rupanya berada dalam rombongan tawanan yang di selamatkan Jendral Chong.
Di sepanjang jalan ia terus menerka nerka kira kira siapa sebenarnya gerombolan yang telah membawanya pergi dari Mung Yi.
__ADS_1
Dia berpikir bahwa pastilah mereka bukan perampok, karena mereka tak membawa apa apa. Liming juga sempat mengintip dari celah dalam bok kereta bahwa setelah mereka berhasil membawa tawanan justru mereka mundur dan tak melanjutkan serangannya. Dia mulai berandai andai dan bilang ke keluarganya yang sekereta denganya bahwa gerombolan ini bukan penjahat tetapi mereka adalah para prajurit yang masih setia kepada mendiang Kaisar Ciming.
Kereta pun terus melaju kencang agar cepat sampai di benteng karang kekal.