JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA

JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA
Duka Wisma Kencana


__ADS_3

Setelah Dewi Kalinggi dan anak buahnya pergi.


Para prajurit berusaha memadamkan api yang masih berkobar di beberapa bangunan.


Mereka berlari untuk mengambil air untuk berusaha memadamkan api.


Jaka yang masih di liputi kesedihan karena kepergian kakeknya Resi Somala tak menyadari bahwa dirinya mampu memadamkan api yang membakar beberapa bangunan istana.


Hingga akhirnya Dewi yang sudah cukup bisa menguasai diri menyuruh Jaka segera menggunakan ajian banyu maruta untuk memadamkan api.


Jaka segera bangkit dan melayang di atas kobaran api, kedua tanganya di angkat ke atas.


Angin kencang tiba tiba menerpa, langit malam menjadi bertambah pekat hingga petir menyambar nyambah.


Hujan turun dengan sangat deras dan dalam sekejap api yang membakar istana padam.


Raja Jaya Wijaya segera menyuruh Patih Rangga Abang dengan di bantu prajurit membawa jasad Resi Somala untuk sementara di semayamkan di bilik duka sampai menunggu Dewi Ambarwati tiba di istana untuk kemudian di lakukan upacara pembakaran mayat.


Pagi mulai menggantikan malam, matahari mulai bersinar.


Namun suasana duka sangat terasa di kerajaan Wisma Kencana. Bahkan Raja dan seluruh rakyat di perintahkan oleh sang raja memakai pakaian serba putih seperti layaknya pakaian yang sering di pakai oleh Resi Somala.


Sementara itu Dewi Ambarwati dengan di temani oleh pendekar buta langsung memacu kudanya menuju istana Wisma Kencana.


Rupanya setelah berhasil keluar dari jurang kematian, pendekar Buta mengajak terbang Dewi Ambarwati sampai ke desa terdekat untuk mencari kuda.


Dewi Ambarwati mulai merasa was was ketika memasuki wilayah Wisma Kencana. Rupanya hampir semua orang yang ia jumpai memakai pakaian serba putih.


Namun ia mencoba berpikir positif dan terus memacu kudanya.


Setelah cukup lama berjalan Dewi Ambarwati mulai memasuki gerbang istana.


Kini hatinya mulai berdebar kencang dan menjadi tidak menentu melihat beberapa bangunan istana yang megah tinggal puing puing. Semua prajurit juga nampak diam dan menunjukan wajah kesedihan yang mendalam.


Dewi Ambarwati tubuhnya menjadi lemas takala Patih Rangga Abang yang datang untuk menyambut kedatanganya berkata bahwa Resi Somala telah mangkat akibat bertarung melawan Dewi Kalinggi.


Suasana yang awalnya gembira karena adanya pesta justru di liputi duka karena banyaknya nyawa yang melayang akibat ulah Kalinggi.

__ADS_1


Sementara itu suasana keheningan di bilik duka sedikit gaduh ketika salah seorang prajurit datang untuk melaporkan tentang kepulangan sang Ratu.


Prajurit berkata bahwa Ratu Ambarwati telah kembali,namun ia tak sadarkan diri setelah tahu tentang kematian ayahnya Resi Somala.


Jaka dan Dewi segera bergegas menuju kamar sang ratu, sementara Raja Jaya Wijaya tetap berusaha tegar dan berdiri di samping jasad Resi Somala yang terpejam untuk selama lamanya.


Cukup lama tabib berupaya menyadarkan Ratu Ambatwati.


Jaka lantas memeluk ibundanya setelah tersadar. Ia juga memapah ibundanya berjalan menuju bilik duka.


Tangisnya kembali pecah melihat jasad ayahnya terbujur kaku di pembaringan.


Kini sang Ratu menangis di pelukan sang raja Jaya Wijaya.


Sementara Dewi Kumalasari juga tak mampu menahan kesedihan melihat air mata ibundanya hingga ia pun terisak di pelukan Jaka Kelana.


Kini acara pembakaran mayat segera di laksanakan.


Mayat mayat di taruh di atas kayu bakar yang tersusun rapi.


Para resi pun melakukan uapacara doa sebelum akhirnya obor obor mulai di letakan di atas tumpukan kayu.


Dewi terus memeluk Jaka dengan erat begitu pula dengan Ratu Ambarwati yang terkulai lemas di pelukan Raja Jaya Wijaya.


Hari berlalu begitu cepat,keesokan harinya Raja Jaya Wijaya mengumpulkan para prajurit dan punggawa istana.


Para tamu yang selamat juga di ikut sertakan.


Dengan kesedihan mendalam ia meminta jikalau ada perbuatan mendiang ayahnya resi Somala yang kurang berkenan untuk di maafkan.


Tak lupa ia juga meminta maaf khususnya untuk para tamu dari kerajaan sahabat atas malapetaka yang terjadi di Wisma Kencana.


Raja juga berkata bahwa perayaan atas kembalinya Jaka dan juga Dewi di tunda hingga situasi kondusif.


Para tamu undangan juga di persilahkan untuk kembali ke kerajaan masing masing, tentunya dengan kawalan tambahan dari prajurit Wisma Kencana.


Kini hampir setiap saat Dewi Ambarwati di liputi kesedihan, bahkan air matanya seakan kering hingga tak tersisa hanya sesenggukanya saja yang terdengar tanpa air mata.

__ADS_1


Jaka dan Dewi terus berupaya menghibur ibundanya.


" Tidak tidak anaku, aku tidak terima atas kematian kakekmu dengan kematian yang naas! Kamu harus membuat perhitungan dengan Kalinggi dan juga antek anteknya,agar luka di hatiku jadi terobati. Berjanjilah anaku !"


Jaka pun mengangguk dan berjanji akan menumpas Kalinggi dan semua antek anteknya agar bumi pertiwi menjadi tentram dan damai.


Jadi semua rakyat yang hidup di wilayah Wisma Kencana dan juga Karang Cendana dapat hidup tentram dan damai.Hingga anak cucunya kelak.


Sementara di lain pihak Kalinggi dan anak buahnya sedang bergembira menyambut kematian Resi Somala.Bahkan ia menyuruh anak buahnya untuk berpesta dan mencuri para gadis untuk memuaskan napsu, lalu kemudian di tumbalkan untuk Patung Dewi keabadian.


Ia juga memerintahkan anak buahnya untuk waspada, karena kemungkinan Jaka Kelana akan datang untuk membalas dendam atas kematian kakeknya Resi Somala.


Setelah pesta usai Kalinggi menyuruh anak buahnya membuat banyak jebakan untuk menghambat kedatangan Jaka Kelana.


Kini sudah hampir satu purnama semenjak kejadian penyerangan.


Bangunan yang terbakar sudah selesai di perbaiki. Kini istana pun telah pulih seperti sedia kala.


Kesedihan sang Ratu juga sudah berangsur angsur hilang, namun ia tetap meminta kepada Jaka untuk segera menumpas gerobolan Kalinggi.


Ratu juga meminta agar Jaka benar benar memastikan kematian Kalinggi agar tidak bisa hidup kembali untuk kesekian kalinya.


Agar kejahatan sirna di Wisma Kencana khususnya dan pulau Jawa pada umumnya.


Tentunya permintaan ibundanya sedikit membebani pikiran Jaka, ia mencoba mencari cara agar Kalinggi benar benar mati dan tidak hidup kembali.


Keesokan harinya Jaka dan Dewi mohon pamit kepada ayah bundanya.


Jaka akan pergi menemui Kiai Agung Prawoto untuk meminta wejangan dan mencari cara untuk membunuh Dewi Kalinggi.


Tentunya Ratu Ambarwati sangat mendukung atas kepergian Jaka menemui Kiai Agung.


Sementara di sisi lain Sang Raja sedikit berat melepas kepergian kedua anaknya setelah lama tidak berjumpa, ia masih sangat rindu melihat kedua anaknya berada di istana Wisma Kencana.


" Baikalah anak anaku, dengan berat hati aku izinkan kalian pergi, walaupun rinduku belum terobati melihat kalian berdua ngger!"


Jaka dan Dewi bergantian memeluk ayahnya lalu kemudian ibundanya sebelum Dewi berubah wujud dan membawa terbang Jaka menuju ujung timur Jawa menemui Kiai Agung Prawoto.

__ADS_1


****


Author mengucap banyak terimakasih kepada semua pembaca setia, mohon maaf karena jarang updete karena pekerjaan. Niat author tulus menghibur pembaca setia, ya walaupun royalti dari novel masih minus he he..Thank you for all..🙏🙏🙏🙏


__ADS_2