JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA

JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA
Kejutan Untuk Jendral Chong


__ADS_3

Mhing Chun menyuruh para prajurit menyisir hutan mencari keberadaan orang yang membawa Jendral Kwan. Namun mereka semua tak menemukan jejaknya. Sementara itu terlihat dua orang manusia telah duduk di pinggir sungai yang cukup tersembunyi. Rupanya salah seorang merupakan Jendral Kwan. Jendral Kwan sangat berterimakasih kepada orang yang bercadar kain hitam yang telah menolongnya.


" Tuan pendekar sekali lagi saya berterimakasih atas pertolongan Tuan"! ucap Jendral Kwan.


Orang yang memakai penutup muka akhirnya mau membuka cadarnya. Jendral Kwan kaget bukan kepalang ketika mengetahui siapa orang yang telah menolongnya.


" Tuan Jaka Kelana. Apa benar ini gerangan dirimu? Tanya Jendral Kwan.


" Ia betul Jendral. Kebetulan saya di tugaskan untuk berpatroli oleh Kaisar Ci dan tak sengaja aku mendengar suara pertarungan hingga akhirnya aku melihat Jendral sedang di kepung oleh pasukan Mhing Chun" jawab Jaka menimpali.


Keduanya akhirnya saling bercakap panjang lebar. Setelah cukup lama bercakap Jaka dapat mengambil kesimpulan bahwa sesungguhnya Kaisar Feng tidak berniat menguasai daratan Tibet yang di kuasai oleh Kaisar Ciming. Rupanya Mhing Chun yang menjadi biang kerok.


Jendral Kwan juga memberi tahu Jaka bahwa Mhing Chun berniat memberontak kepada Kaisar Feng. Diapun di perintahkan untuk menumpas Mhing Chun,namun Mhing Chun memang pandai bersilat lidah sehingga dirinya dapat di perdaya.


Jendral Kwan pun mengajukan diri untuk bertemu dengan Kaisar Ciming dan berjanji akan membantu perjuangannya merebut kembali tahta kekaisaran dari tangan Mhing Chun.


Tentu saja Jaka sangat senang mendengar perkataan Jendral Kwan. Jaka pun segera membawa Jendral Kwan menuju benteng Karang Kekal untuk bertemu dengan Kaisar Ci.


Namun ketika baru berapa langkah meninggalkan sungai beberapa orang prajurit Mhing Chun memergoki seraya berteriak memanggil temanya.


Kini Jaka dan Jendral Kwan sudah terkepung. Jaka menyuruh Jendral Kwan jangan jauh jauh dari dirinya. Tak lupa Jaka juga mengambil guci yang berisi air keabadian dan Jendral Kwan di suruh meminumnya. Jendral Kwan segera meminumnya dan seketika badanya yang terasa lemas mulai berasa kekuatanya mulai pulih dan otot otot di dalam tubuhnya terasa teraliri darah dengan cepat.


Jaka berbisik supaya Jendral Kwan mengatur tenaga dalamnya di karenakan setelah meminum air keabadian tenaga dalamnya akan meningkat dua kali lipat.

__ADS_1


Jendral Kwan segera meloncat naik ke atas pohon yang tinggi dan duduk bersila. Sementara Jaka bertarung dengan ratusan prajurit yang mengepungnya. Sekian lama jumlah prajurit semakin banyak. Jendral Kwan pun sudah terjun ke dalam pertarungan. Mhing Chun pun bergegas ke lokasi setelah anak buahnya melaporkan tentang keberadaan Jendral Kwan. Sementara itu Jaka dan Jendral Kwan terus mendapat gempuran dari ratusan prajurit Mhing Chun. Hingga mulai sedikit letih.


Mhing Chun segera melayang dan memasuki area pertarungan. Jaka kembali menutup wajahnya dengan cadar dan menyuruh Jendral Kwan berhati hati dengan Mhing Chun.


Mhing Chun yang tidak ingin membiarkan Jendral Kwan kembali melarikan diri segera melepaskan Pukulan Api Neraka tingkat tiga , dia ingin segera mengahiri hidup Jendral Kwan agar tidak dapat melaporkan penghianatanya kepada Kaisar Feng.


Jaka segera bertindak cepat dengan menggunakan ajian Penyerap Daya. Kedua kekuatan beradu dan menyebabkan hawa panas yang sangat luar biasa. Kali ini Mhing Chun terkekejut dengan orang bercadar di depannya yang mampu menahan serangan pukulan Api Neraka.


Tiba tiba saja ledakan kembali terjadi. Ledakan kali ini berasal dari peluru meriam di arahkan menuju ke arah Jaka dan Jendral Kwan.


" Menyerahlah Jendral atau kalian berdua akan menjadi sasaran meriam Kaisarmu sendiri, ha ha ha !" ucap Mhing Chun sambil berkacak pinggang.


Jaka segera mendekati Jendral Kwan dan kembali berbisik agar segera meninggalkan pertarungan. Namun kali ini Jendral Kwan menganggap sebagai hal mustahil karena banyaknya prajurit yang sudah menghadangnya dari berbagai arah. Mendengar jawaban Jendral Kwan Jaka hanya tersenyum ,sambil mundur beberapa langkah. Tiba tiba Jendral Kwan terkejut ketika sebuah cahaya yang sangat menyilaukan mata terpancar dari dada Jaka.


" Ini saatnya kita pergi ,Jendral!" ucap Jaka lirih.


Jendral Kwan masih tertegun melihat cahaya yang keluar dari dada Jaka membuat semua orang menutup mata. Jaka segera menarik tangan Jendral Kwan dan membawanya terbang melewati pepohonan yang tinggi dan lebat.


Mhin Chun juga menutup mata tak kuasa menahan pancaran cahaya yang keluar dari Pedang Suci. Namun setelah Jaka dan Jendral Kwan pergi jauh kini lenyaplah sinar yang menyilaukan mata dan pandangan semua orang kembali normal.


Jendral Kwan semakin merasa kagum dengan kehebatan Jaka Kelana , dalam hatinya berkata bahwa pantaslah Kaisar Ciming membuat patung dirinya di halaman istana kerajaan.


Setelah Jaka membawa terbang Jendral Kwan dan membuat tenaga dalamnya terkuras ia lantas mendaratkan tubuhnya ketika sudah terlihat Benteng Karang Kekal sudah cukup dekat.

__ADS_1


" Jendral Kwan,disitulah Kaisar Ci berada" ujar Jaka sambil menunjukan Benteng Karang Kekal kepada Jendral Kwan.


Jendral Kwan menyuruh Jaka bergegas karena sudah tak sabar untuk bertemu dengan sahabat lama sekaligus rivalnya Jendral Chong.


Setelah berjalan cukup lama dengan menaiki bukit sampailah keduanya di pintu gerbang.


Prajurit jaga segera berteriak kepada rekanya supaya menarik tali untuk menggerakkan pintu yang terbuat dari kayu gelondongan yang cukup besar. Sekitar sepuluh orang bertubuh besar segera menariknya. Perlahan pintu mulai terbuka dan penjagapun mempersiapkan Jaka dan Jendral Kwan masuk.


Jendral Kwan menebarkan pandangan ke setiap sudut. Pandanganya seketika terhenti ketika melihat Jendral Chong yang sedang berdiri sambil mengamati pasukanya yang sedang berlatih. Kini timbulah di benak Jendral Kwan ide untuk memberi kejutan kepada Jendral Chong.


Jendral Kwan meminjam cadar yang di pakai Jaka dan mengendap mendekati Jendral Chong, seraya melepaskan pukulanya. Jendral Chong segera beringsut dari tempatnya untuk menghindar . Semua prajurit yang berlatih kini bersiaga untuk membantu Jendral Chong,namun Jaka Kelana menahan mereka.


Sementara itu Kaisar Ci,Liming dan juga Guru Chen segera keluar ketika ada suara keributan. Mereka sempat berpikir tentang siapa gerangan yang berani masuk ke wilayah benteng hanya seorang diri. Jendral Chong masih cukup gesit untuk menghindari serangan Jendral Kwan bahkan beberapa pukulanya berhasil mendarat di perut Jendral Kwan hingga terhuyung ke belakang. Jendral Kwan belum mau mengahiri pertarungan ia pun segera mencabut pedangnya. Melihat musuhnya mencabut pedang Jendral Chong yang tidak membawa pedang segera melompat mendekati seorang prajurit untuk mengambil pedangnya.


Pertarungan kini semakin seru dan di saksikan oleh sang kaisar dan juga puluhan ribu prajuritnya. Gerakan pedang Jendral Kwan terlihat lebih lincah dan cepat dan membuat Jendral Chong sedikit kepayahan. Hingga akhirnya baju Jendral Chong sedikit robek terkena pucuk pedang yang mengarah ke perutnya.


Rupanya Jendral Chong cukup hafal dengan jurus pedang milik Jendral Kwan yang memang banyak di miliki oleh pendekar dari kekaisaran Feng. Ia pun mulai menduga duga bahwa orang yang sedang ia hadapi adalah Jendral Kwan yang merupakan rival sekaligus sahabatnya.


Kini Jendral Chong pun bergantian menguci instingnya tentang siapa sebenarnya lawanya apa benar benar Jendral Chong panglima dari kekaisaran Feng yang tersohor.


Jendral Kwan kini terkejut ketika melihat Jendral Chong tak berusaha menghindari pedang yang di ayunkan ke kepalanya. Jendral Kwan segera menarik kembali gerakanya supaya pedangnya tidak mengenai kepala Jendral Chong. Dalam benaknya cukup kecewa karena merasa bahwa Jendral Chong sudah mengetahui siapa dirinya.


Jendral Kwan segera melempar pedangnya dan membuka cadarnya. Kali ini matanya sedikit berkaca kaca melihat sosok Jendral Chong yang telah di kabarkan mati dalam peperangan ternyata masih segar bugar. Kedua akhirnya berpelukan erat seperti layaknya saudara kandung yang sudah terpisah cukup lama..

__ADS_1


__ADS_2