JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA

JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA
Ratu Buaya Buntung


__ADS_3

Mahisa dan Mayang yang sudah terbawa emosi serentak menyerang Tirta. Tirta melompat dari dalam goa menuju tempat yang lega.


Gerakan Mahisa dan Mayang sangat gesit dan mulai membuat Tirta sedikit kewalahan bahkan beberapa kali ia terkena hantaman dari Mahisa yang terus mencecarnya.


Tirta mengusap bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah,lalu ia mundur ke belakang . Badanya menari nari memperagakan jurus Pukulan Matahari. Mayang dan Mahisa cukup familiar dengan gerakan Tirta,mereka juga bersiap dengan paukulan Kawah Murka.


Kedua kekuatan saling beradu hingga beberapa pohon tumbang dan membuat burung yang hinggap beterbangan. Ternyata pukulan matahari kurang bisa mengimbangi gempuran pukulan Kawah Murka,Tirta mundur dan bersiap dengan pukulan dewa gledek.


Suasana langit yang cerah tiba tiba berubah menjadi gelap,angin kencang juga menerpa pepohonan membuat daunya terseok seok.


Mahisa dan Mayang mulai waspada dengan kilat yang mulai menyambar nyambar di sertai suara yang menggelegar." Hati hati Dinda,jangan sampai terkena kilatan itu atau tubuhmu akan terpanggang"


Mayang mendekati Mahisa dan Menggabungkan kekuatanya mencoba bertahan dari amukan jurus dewa gledek.


Tirta tak mau lagi bermain main ia menambah level kekuatan dewa gledek hingga tingkat ketiga,hingga kekuatanya bertambah dua kali lipat. Mahisa dan Mayang mulai kewalahan.


" Kanda ,aku tak kuat lagi untuk bertahan,sebaiknya kita mundur saja!"


"Ia aku setuju dari pada kita mati konyol"


Keduanya mengambil sesuatu dari balik bajunya dan menaburkannya ke angkasa. Untuk sesaat padangan Tirta merasa terhalangi oleh asap merah yang tiba tiba muncul,tak berapa lama Mahisa dan Mayang lenyap entah kemana.


Tirta tidak berusaha mengejar,ia pun masuk kedalam goa untuk mencari kitab Elang Sakti. Dia masuk dan mencari keberadaan kitab Elang Sakti ke beberapa lorong goa. Cukup lama ia berpindah pindah lorong namun keberadaan kitab itu tak jua ia temukan.


Setelah pencarian cukup makan waktu dan hasilnya nol,dia mulai berpikir mungkin di goa terdapat ruang rahasia tempat menyimpan kitab sakti. Dia mengamati seluruh ruang dan mencari petunjuk tentang keberadaan ruang rahasia.


Tirta meraba raba dinding misal ada tombol rahasia atau pun petunjuk yang bisa ia dapatkan. Hingga pandanganya terhenti kepada seonggoh tumpukan tanah yang mirip seperti batu seukuran lutut,ia mendekat dan mencari petunjuk.


Namun hal yang buruk terjadi dari dalam gundukan tanah keluar ribuan semut mencoba merambat ke tubuh Tirta.Tirta menggeliat mengusapi kakinya yang mulai terasa gatal gatal. Dia pun lari menjauh namun kakinya seperti tersangkut dan ia terjatuh.

__ADS_1


Rupanya kakinya tersangkut oleh batu kecil hingga ia tak melihatnya. Dinding batu yang berada di depan Tirta terbuka,ternyata di dalamnya membentang sebuah jalan menuju sebuah sungai yang airnya terlihat jernih.


Tirta bangkit dan berjalan dengan hati hati,berpikir kemungkinan ada jebakan serangan yang tak terduga.


Rupanya ia sengaja menggenggam batu yang tadi menyangkut di kakinya. Tirta melempar batu itu ke arah sungai,ia kembali dikejutkan banyak anak panak meluncur secara tiba tiba dan menancap di batu yang ia lempar.


Buku kuduk Tirta berdiri,ia membayangkan jika dirinya yang menjadi batu itu. " Sungguh tempat yang misterius,aku tak mau berlama lama dan harus segera keluar dari lembah ini".


Tirta segera menggunakan ajian peringan tubuh dan berusaha menyeberangi sungai,matanya melotot mengawasi segala arah, sontak ia terperangah puluhan batu besar beterbangan burusaha menjepit tubuhnya. Tirta segera menggunakan pukulan matahari dan berhasil menghancurkan batu hingga berhamburan ke sungai dan airnya memercik mengenai bajunya.


Keanehan kembali terjadi ia merasakan bau harum setelah bajunya terkena air dari sungai di bawahnya. " Air apa ini kenapa begitu wangi,baiknya aku jeburkan saja badanku ke sana biar seluruh badanku menjadi wangi dan tak bau kambing"


Tirta segera menyebutkan diri kesungai. Ternyata sungai itu cukup dalam ,ia berusaha berenang ke dasar sungai dan pandanganya tertuju kepada sebuah bangunan megah yang berada di dalam sungai.


"Sungguh bagus dan megah rumah itu.kenapa ada rumah begitu bagus di dalam sungai" lamunan Tirta kembali buyar setelah kemunculan dua ekor buaya yang menyerangnya.


Tirta pun cukup lama bergumul dengan dua ekor buaya hingga ia dapat mengalahkannya. begitu buaya itu di kalahkan munculah dua sosok wanita cantik yang membuat Tirta kaget sekaligus tertegun dengan kecantikan kedua wanita itu.


Tirta seperti kehilangan akal,ia laksana kerbau yang di cocok hidungnya dan di iket dengan tali ,tanpa berusaha menolak ia menuruti semua perintah wanita yang menggandengnya.


" Silahkan masuk pangeran!"


Seorang wanita cantik yang duduk di singgasana bermahkota berbentuk kepala buaya yang menganga dengan di penuhi gigi yang runcing. Di sebelah singgasana ada patung buaya dengan ekor yang putus.


" Maaf nona ,aku tidak bermaksud mengusik kalian?'.


" Tidak pangeran,aku justru merasa terhormat kamu mau berkunjung ke tempatku"


Tirta untuk sekian kalinya merasa tak betah berada di alam lelembut yang penuh tipu muslihat.

__ADS_1


" Aku bukan pangeran ,aku hanya pengembara biasa,nona Ratu salah orang"!


" Tidak pangeran ,aku dapat melihat semua trahmu dan leluhurku,jelas kamu bukan pemuda biasa aku melihat ada pancaran cahaya putih yang keluar dari tubuhmu,kau tak bisa mengelabuiku. Perlu kamu ketahui Artaloka adalah ayahku dia juga sudah memberi tahu akan kedatanganmu!"


Tirta kembali teringat wajah Artaloka,ia sedikit geram" aku akan memberinya pelajaran setelah tugas dari guruku aku selesaikan"


" Sudah tak usah kesal Tirta,maafkan perlakuan ayahku kepadamu,itu adalah suatu keharusan yang ia emban dari para leluhurmu terdahulu. Dayang bawa Tirta ke dalam kamar untuk beristirahat!"


Tirta hanya bisa menuruti ia mengikuti dayang masuk ke dalam kamar. Karena ia sudah lelah Tirta pun segera merebahkan dirinya hingga pulas tertidur.


Ketika baru terlelap sebentar tubuh Tirta merasakan hawa dingin yang luar biasa bahkan sampai tubuhnya menggigil. Ia berusaha meraih selimut yang terbuat dari kulit harimau untuk menutupi seluruh tubuhnya namun tak membuat tubuhnya hangat. Tirta tubuhnya semakin menggigil hingga membuat ranjam yang ia tiduri bergetar.


Di saat yang sama munculah cahaya seperti pelangi yang seperti jatuh dari atap,dari cahaya itu munculah sesosok wanita ,Tirta seperti kenal dengan wanita yang dia lihat.


" Ratu tolong aku ,badanku terasa begitu dingin"? sang ratu hanya tersenyum dan berjalan naik ke atas ranjang . Tirta berusaha bangun dan hendak turun ,namun badan Tirta semakin menggigil takala selimut terbuka.


" Mendekatlah Tirta biar kamu tak kedinginan lagi" Walaupun ia terus berusaha menjauh namun seperti ada kekuatan yang menariknya. Ratu buaya mendekap tubuh Tirta dengan erat. Tirta merasa tubuhnya mulai hangat ,hasrat dalam dirinya mulai bergejolak dan akhirnya terbuai dengan kecantikan ratu buaya.


Malam telah berlalu dan Tirta terbangun dari tidurnya." Syukurlah itu hanya mimpi" tangannya meraba keseluruh anggota tubuhnya. Dia merasa bahwa mimpinya seperti nyata.


Tangan Tirta pun terhenti saat tepat menyentuh celananya yang ternyata basah.Tirta terlihat gusar mengingat kejadian yang ia alami terasa begitu nyata.


Tiba tiba ia di kejutkan oleh kehadiran dayang yang membawa banyak makanan serta membawa pakaian untuk pakaian ganti.


" Maaf pangeran,kedatangan kami untuk mengantar makanan sekaligus di suruh sang Ratu untuk membawakan ganti, ini baju khusus yang di buat sendiri oleh sang ratu untuk pangeran"


" Oya makasih dayang. Dayang tempat mandi dimana ya?" Sambil bertanya Tirta menutupi celananya yang basah hingga membuat para dayang tertawa cekikikan.


" Ada di balik kamar ini tuan Pangeran. Pangeran tinggal buka pintu itu" Dayang itu menunjuk dengan tangannya.

__ADS_1


Tirta berjalan sambil menahan malu untuk mandi hingga kembali bahan tertawaan para dayang...


Bersambung.


__ADS_2