
Tirta segera sigap menangkap tubuh Nilam yang lunglai,dia segera menyalurkan hawa murninya dan Nilam pun segera bugar kembali.
" Terimakasih atas bantuanmu Nilam,aku tak akan melupakan semua kebaikan kalian berdua. Suatu saat akan aku balas kebaikan kalian".Mayang matanya berkaca kaca tanda bahagia.
" Kalian memang pantas di pilih Tuhan menjadi sepasang pendekar hebat,aku yakin dunia akan damai dengan kembalinya sepasang pendekar Elang Raksasa yang namanya begitu termasyur di dunia persilatan" Mahisa menepuk pundak Tirta.
" Ah sudahlah Mahisa aku juga seperti dirimu,sama sama ada kekurangan dan kehilafan".
Mayang dan Mahisa kini bersujud dan menyembah Tirta sebagai tanda hormat" Maafkan atas kelancangan kami pangeran"
Tentunya Tirta merasa kebingungan"Apa maksud kalian berdua".
Nilam juga tak mengerti maksud Mahisa dan Mayang yang secara tiba tiba menyebut Tirta sebagai Pangeran .
Namun akhirnya Mahisa bercerita bahwa gurunya pernah memberitahu bahwa yang bisa mendapatkan Pedang Naga Emas dan Kitab Elang Sakti hanya orang yang memiliki trah seorang raja Jawa. Namun ia awalnya tak menghiraukan perkataan gurunya yang hanya menganggapnya sebagai dongeng belaka.
" Ah mungkin perkataan gurumu juga salah aku hanya pemuda biasa yang di mendapat amanat dari guruku untuk mengambil pusaka di gunung Arjuna"
Nilam kini juga menatap Tirta dengan sorot tajam,pandanganya juga nampak penuh pertanyaan.
" Kenapa kamu memandang seperti itu Dinda?".
" Sebaiknya kamu jujur padaku Kang,siapa kamu sebenarnya?"
Tirta yang terus berusaha menutupi jati dirinya kini tak dapat mengelak lagi.
" Baiklah aku akan berkata yang sebenarnya,tapi berjanjilah setelah kalian tahu asal usulku,kalian harus bersikap seperti biasa.Jangan memandang orang dari kasta,karena kita sama di mana Tuhan. Hanya Budi Pakerti yang akan membuat kita mulia di hadapan yang maha kuasa"
Tirta segera menceritakan asal usulnya. Kini Nilam juga ikut menyembah Tirta untuk memberi hormat.
" Salam hormatku kepada Pangeran Jaka Satria,putra mahkota penguasa raja tanah Jawa".
Tirta justru tertawa" Ha ha ,ah sudahlah kau justru merasa risau kalau di panggil nama itu ,aku lebih suka sebagai Tirta dari pada menjadi Jaka Satria,karena dengan nama itu pastinya orang akan menghormatimu karena kedudukan ku. Bukan karena perilaku atau kebiasaan ku yang masih banyak kekurangan. Awas kalau kamu masih memanggilku dengan nama Jaka Nilam, lebih baik aku pergi sendiri untuk melanjutkan perjalanan. Ini juga berlaku untukmu Mahisa,Nilam,aku harap kalian juga untuk merahasiakan hal ini kepada orang lain"
__ADS_1
Mahisa dan Mayang menyanggupi permintaan Tirta ,namun berbeda dengan Nilam yang merasa dirinya tak pantas berdampingan dengan Tirta,ia mengganggap dirinya hina karena di buang oleh kedua orang tuanya.
" Nilam,kamu juga pasti bukan wanita biasa,guruku juga pernah bilang bahwa Elang Raksasa adalah permaisuri Gusti Dewi Kumalasari yaitu ibu Jaka Satria dan itu berarti kamu juga adalah seorang Puteri raja. Artinya kalian di takdirkan untuk bersama menjadi Sepasang Pendekar Elang Raksasa. Meneruskan perjuangan Raja dan Ratu kerajaan Wisma Kencana,untuk menebar kebaikan di muka bumi. Mayang berusaha membujuk Nilam.
" Itu dengar sendiri kamu Nilam" Tirta menyahut dan memegang tangan Nilam dengan kuat.
" Lebih baik aku dan Mayang pergi sebentar untuk mencari makanan anggap saja ini sebagai hadiah atas jasa kalian berdua yang telah menyelamatkan kami dari dasar lembah".
Mahisa memberi kode agar Mayang ikut bersamanya" Ayo kita jangan campuri urusan mereka,biar Tirta bisa meluluhkan hati kekasihnya".
Mayang tersenyum dan segera berjalan bersama Mahisa.
Tirta masih menggenggam tangan Nilam dengan Kuat." Aku tak akan melepaskan tanganmu sebelum kamu mau bersumpah untuk tidak meninggalkan ku sendiri"
Nilam kali ini melihat wajah Tirta yang mengiba berharap ia untuk tetap bersamanya.
" Baiklah tapi kamu harus jujur kepadaku siapa itu Sariti?"
Mendengar nama Sariti Tirta terkejut mulutnya terasa berat untuk di buka.
Tirta segera bercerita tentang pertemuanya dengan Ratu Buaya yang merupakan anak angkat dari Artaloka. Nilam pun sangat terkejut mendengar bahwa Sariti adalah isteri dari Tirta.
Wajahnya merah tanpa berkata kata Nilam berlari. Tirta segera mengejarnya.
" Kamu jahat kang,aku sudah tak mau lagi bersamamu. lebih baik aku pergi".
Mahisa dan Mayang yang membawa buah dan beberapa ekor ayam hutan dari perburuanya merasa kaget melihat Nilam lari sambil menangis. Awalnya Mayang berusaha untuk mengejar,namun Mahisa melarangnya" Sudah jangan ikut campur"
Tak berapa lama Tirta menusul" Maaf Mahisa, Mayang ,aku tinggal sebentar"
Mahisa dan Mayang tidak menjawab dan hanya mengacungkan jempol mereka sebagai tanda .
Tirta segera melompat dan menyambar tubuh Nilam,namun setelah berhasil menangkap Nilam kakinya justru tersangkut di akar pohon . Karena posisi tanah miring Tirta dan Nilam terguling guling di tanah . Keduanya saling pandang ,hati mereka berdebar kencang hingga mereka tersadar ketika masing masing menabrak pohon yang menjulang. Tirta segera bangkit.
__ADS_1
" Dinda ku harap kau jangan pernah berpikir untuk jauh dariku. Sungguh aku sangat mencintaimu. Sariti pasti akan menerimamu untuk berbagi hati bersamaku. Sungguh yang ada di hatiku cuma kamu. Nanti kalau semua urusan sudah selesai aku akan melamarmu untuk ku jadikan istri "
Mendengar perkataan Tirta ,kemarahan Nilam terasa rontok. Detak nadinya bertambah cepat mendengar perkataan Tirta pemuda yang ia sangat cintai.
" Benarkah semua itu,apa kamu sedang tidak menggombal,Kang?"
" Ia Nilam aku tulus mencintaimu" Tirta menatap mata dengan penuh ketulusan.
" Kang Tirta aku juga mencintaimu,berjanjilah kamu tidak akan meninggalkanku. Aku rela berbagi hati dengan Sariti".
Tirta segera memeluk Nilam dengan begitu erat.
" Ehm,ehm,maaf Nilam,Tirta aku tak bermaksud mangganggu kalian. Aku hanya ingin memberi tahu bahwa ayam bakarnya sudah matang ,mari makan bersama sama,Kang Mahisa juga sudah menunggu"
Nilam segera mendorong Tirta.
" Sudah tak usah malu,aku juga bersama Mahisa sama dulu kaya kalian Bucin he he"
Nilam dan Tirta yang masih polos tak tahu apa maksud kata Bucin.
" Maksudnya Bucin itu apa" Celetuk Nilam.
" Sudah ngga usah di bahas, ayo cepat Kang Mahisa sudah menunggu".
Mereka pun segera bergegas,sementara Mahisa terlihat sedang menyiapkan makanan di atas daun pisang . Dia menaruh makanan di tempat yang teduh.
Merekapun dengan lahap menyantap makanan sambil menikmati pemandangan alam yang begitu indah dari puncak gunung Arjuna. Mahisa dan Mayang sengaja menggoda Nilam dan Tirta yang masih terlihat canggung. Mayang mengambil seklewir daging dan menyuapkanya ke mulut Mahisa begitu pula sebaliknya.
Tirta memandang Nilam sambil memberi kode ada melakukan hal yang sama.
" Ehmm, ehmmm"
Nilam tak cukup pintar . Ia malah diam, Tirta tersenyum dan mengambil sepotong daging dan menyuruh Nilam untuk membuka mulutnya. Dengan sedikit malu malu Nilam membuka mulutnya hingga Mahisa dan Mayang kembali tertawa.
__ADS_1
Bersambung.