JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA

JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA
Berdamai


__ADS_3

Persiapan dan mental prajurit terus di gembleng untuk menghadapi peperangan yang sudah di depan mata.


Jaka Kelana tampak termenung, entah kenapa kali ia merasa gundah gulana.


" Kanda kenapa dirimu termenung?" tanya Dewi Kumalasari.


" Entah kenapa hatiku rasanya gelisah, bayanganku tertuju kepada prajurit yang pastinya akan banyak mati terbunuh, entah kenapa aku tidak ingin melihat peperangan ini terjadi!" jawab Jaka dengan wajah gelisah.


"Itu artinya kita harus bertindak kanda,kita harus berupaya untuk mencari cara agar peperangan tidak terjadi!" balas Dewi Kumalasari.


Jaka menghela nafas panjang, ia mencoba untuk berpikir kira kira dengan cara apa peperangan yang sudah hampir terjadi dapat di cegah.


Dewi teringat kepada Patih Wiranata yang seyogyanya masih sangat setia kepada Raja Pandu. Mungkin dengan cara menemui beliau kita dapat meredam peperangan.


Begitulah kira kira usulan yang di utarakan Dewi Kumalasari.


Jaka menyetujui usulan istrinya, ia pun bergegas untuk segera pergi ke kerajaan Naga Emas menemui Patih Wiranata.


Agar Pangeran Nakula dan Raja Pandu tidak curiga, Jaka dan Dewi pamit untuk sekedar jalan jalan untuk mencari hawa segar, mereka beralasan bahwa tubuh mereka pegal pegal karena sudah beberapa hari hanya makan dan minum tanpa melakukan aktifitas.


Tentu saja Pangeran Nakula dan Raja Pandu tidak menaruh curiga sedikitpun.


Jaka dan Dewi segera bergegas berjalan dan mencari tempat sepi untuk mengubah diri menjadi elang raksasa.


Jaka segera melompat ke punggung elang raksasa dan terbang menuju istana Naga Emas.


Para penduduk yang sedang berladang di kebun geger dan berlarian mereka ketakutan ketika seekor elang raksasa terbang di atas langit dan mengeluarkan suara yang teramat keras memekik telinga.


Sementara kali ini Jaka dan Dewi tak menyadari bahwa para penduduk menjadi gempar.


Penduduk yang ketakutan segera melaporkan kejadian yang mereka lihat di atas langit Naga Perak.


Tentunya Raja Pandu yang sudah mengetahui tentang cerita elang raksasa segera angkat bicara, bahwa elang raksasa yang mereka lihat mungkin perwujudan dari permaisuri Raja Jaka yang bisa berubah menjadi elang raksasa.


Mendengar cerita Raja Pandu warga pun kembali tenang dan pergi menuju kebun melanjutkan pekerjaan mereka.


Tak perlu waktu lama untuk Dewi dan Jaka sampai di istana Naga Emas.


Dalam waktu singkat bangunan istana sudah mulai kelihatan, hingga akhirnya Dewi mencari tempat sepi untuk mendarat.


Penjagaan di pintu istana sangat ketat hingga tidak satu pun orang asing dapat memasukinya.


Jaka menyuruh Dewi untuk menunggu di luar tembok istana, sementara ia akan masuk dengan ajian halimun supaya tidak satupun orang yang dapat melihatnya.

__ADS_1


Jaka segera membaca mantera hingga tubuhnya kini tak terlihat, dengan santai ia berjalan melewati penjaga.


Jaka segera berjalan berkeliling istana untuk mencari Patih Wiranata.


Namun Jaka kaget ketika ada seseorang yang dapat melihatnya.


" Hei, siapa kamu? Tanya orang tersebut.


Jaka yang tidak mau menimbulkan keributan segera melompati pagar istana, namun orang itu dapat mengejar Jaka Kelana.


Hingga memasuki hutan dimana Dewi telah menunggu.


" Ada apa kanda, kenapa begitu cepat kanda kembali?" tanya Dewi.


Jaka" Hari ini kurang beruntung, ternyata di istana ada orang yang dapat melihat diriku dinda!"


Belum sempat Jaka menjawab pertanyaan Dewi tiba tiba munjulah sosok seorang paruh baya dengan berpakaian baangsawan.


"Hei kalian tak bisa kemana mana, kuharap kamu mau ikut denganku dan bersiap menerima hukuman, karena telah berani menyusup ke dalam istana!" bentak Patih Wiranata.


Jaka mencoba menjelaskan namun Patih Wiranata langsung menyerangnya.


Jaka pun terpaksa meladeni jurus jurus yang di keluarkan Patih Wiranata.


Jaka merasa terkejut karena jurus jurus milik orang yang menyerangnya sangat mirip dengan jurus pukulan matahari.


Namun Jaka tidak bisa berpikir leluasa ia harus terus menghindari serangan pukulan matahari yang sedikit berbeda dan terlihat lebih berbahaya.


" Maaf tuan, aku tidak ada niat jahat!" teriak Jaka di sela sela pertarungan.


Namun Wiranata terus saja menyerangnya, bahkan gerakanya kini bertambah cepat.


Jaka pun terpaksa mengeluarkan ajian yang sama untuk menahan jurus Patih Wiranata.


Kini justru patih Wiranata yang kaget melihat musuhnya juga sama memiliki jurus pukulan matahari.


Hingga ia mundur sejenak.


" Hai pemuda, siapa sebenarnya dirimu, kenapa kamu memiliki jurus matahari, ada hubungan apa antara dirimu dan Resi Somala? tanya Patih Wiranata.


Jaka" Ketahuilah Paman, Resi Somala adalah Kakeku!"


Wiranata begitu terkejut ketika musuhnya mengaku sebagai cucu dari Resi Somala yang merupakan saudara seperguruannya.

__ADS_1


Patih Wiranata segera menghentikan jurusnya.


"Baiklah aku percaya bahwa dirimu bukan orang jahat!" Teriak Wiranata kembali sambil berjalan mendekati Jaka.


" Siapa nama ibumu?" tanya Wiranata dengan wajah penasaran.


" Ibuku adalah Dewi Ambarwati dan ayahku bernama Jaya Wijaya!" pungkas Jaka.


Patih Wiranata segera berlutut" Maaf atas kelancanganku Raja Agung Jaka Kelana"


Jaka segera meraih Wiranata dan menyuruhnya berdiri.


Jaka pun segera memberi tahu maksud kedatanganya yang ingin mencegah peperangan terjadi.


Tentunya Patih Wiranata mendukung usulan tersebut, namun rasanya cukup sulit karena Raja Sadewa di kelilingi oleh para pendekar aliran hitam yang selalu memprofokasi karena mereka mengincar jabatan.


Kecuali jika Raja Jaka berkenan untuk mengalahkan para pendekar aliran hitam yang mengelilingi sang Raja.


Dewi yang masih di tempat persembunyian segera menampakan diri.


" Terima saja ajakan Paman Patih Kanda, aku juga rasanya sudah gatal ingin bermain main, karena sudah lama aku tidak menggunakan kanuragan!" Ucap Dewi sambil keluar dari semak semak.


Tentu saja Patih Wiranata kembali terkejut.


" Maaf Paman, dia adalah istriku Dewi Kumalasari!" ucap Jaka.


Patih Wiranata yang sudah banyak mendengar tentang sepak terjang Dewi Kumalasari terlihat memandangnya dengan heran, ia berpikir ternyata si Elang Raksasa adalah sosok wanita yang sangat cantik mempesona.


" Ehm,ehm" Jaka berdehem.


Wiranata pun segera tersadar.


" Maafkan Paman Jaka, rasanya aku tak percaya ternyata sosok raksasa yang sebenarnya adalah wanita yang sangat cantik, kamu sangat beruntung Jaka!" Ucap Patih Wiranata.


Tentunya mendengar ucapan Patih Wiranata Dewi Kumalasari menjadi tersipu .


"Jangan berlebihan memujiku Paman!"ucap Dewi.


Kini ketiganya mulai menyusun rencana untuk bisa memisahkan Raja Sadewa dengan para anteknya yang berasal dari golongan hitam terutama Surasena dan Kuda Merta.


Hingga munculah ide dari Patih Wiranata untuk mengajak Raja Sadewa berburu, bersama orang orang kepercayaanya sebelum perang di mulai.


Patih Wiranata segera kembali ke istana, ia juga memerintahkan Jaka beserta Dewi untuk menunggu kabar darinya.

__ADS_1


Mereka pun berpisah, Patih Wiranata kembali ke istana, sementara Jaka dan Dewi mencari penginapan yang berada paling dekat dengan tembok istana.


Untuk memudahkan dirinya memantau situasi dan juga dapat betemu dengan Patih Wiranata dengan mudah.


__ADS_2