
Senopati Candra Sena terus berusaha menghindari serangan Kujang Kembar namun Damar Kandi terus mencecarnya, hingga Senopati Candra Sena terkena kekuatan Kujang Kembar di dadanya.
Tubuhnya terlempar dan membentur sebuah dinding kayu hingga jebol.
" Menyerahkan Senopati aku akan mengampunimu"!
"Aku tidak mau menyerah, aku masih mampu untuk melawanmu "!
Senopati Candra Sena kembali bangkit dia mengeluarkan sebuah keris yang terselip di pinggangnya.
" Senopati Keris sentana tak akan mampu mengalahkan Kujang kembar ini! "
Damar Kandi kembali menyakitkan Kujang nya energi Kujang Kembar bergerak mendekati Senopati Candra Sena. Senopati Candra Sena berupaya menahan dengan keris Sentana yang ada di tangannya.
Namun kekuatan keris Santana masih terlalu kecil, energi Kujang Kembar dapat menembus dan tubuh Senopati Candra Sena kembali terlempar.
Sementara Tirta yang terus di serang oleh Ki Baruna dengan tenaga dalam yang sangat kuat terus berupaya mencari jalan keluar. Ajian penghancur Karang bahkan belum mampu mencebol pertahanan Ki Baruna. Bahkan Tirta hampir saja terkena jurus Tapak Waja Geni untung ia masih bisa menghindarinya.
Namun puluhan prajurit yang ada tak jauh dari pertarungan harus tewas terkena pukulan Tapak Waja Geni badan mereka menghitam gosong.
Konsentrasi Tirta juga pecah karena berpikir untuk menolong Senopati Candra Sena yang terluka parah. Ki Baruna sepertinya tak mau melepaskan Tirta begitu saja.
Tirta yang ingin menolong Senopati Candra Sena harus gigit jari karena kembali di hadang langkahnya oleh Ki Baruna.
Tak ada cara lain Tirta segera pedang Naga.
Naga emas segera muncul di angkasa.
" Wahai Naga Emas serang lelaki tua yang berdiri di hadapanmu"
Mendengar perintah tuanya, Naga Emas memuntahkan api dan melesat mengincar Ki Baruna. Ki Baruna tentu saja kaget dengan kemunculan Naga Emas, karena Pedang Naga Emas telah lama hilang dari Kerajaan Hutan Kayu.
Ki Baruna Kembali menggunakan Pukulan Tapak Waja untuk menghadapi Naga Emas yang terus memuntahkan Api.
Sementara itu Senopati Candra Sena yang sudah terluka Parah masih berusaha mengumpulkan tenaganya. Keris Santana masih tergenggam kuat.
" Lebih baik aku mati dari pada tunduk kepada seorang pemberontak"
Tentu teriakan Senopati Candra Sena membuat kemarahan Damar Kandi memuncak. Dia kembali menyerang Senopati Candra Sena dengan Kujang Kembar.
Di saat beberapa detik kekuatan Kujang kembar akan mengenai Senopati Candra Sena, Tirta berhasil menyambar tubuhnya dan membawanya menjauh.
Namun kekuatan Kujang kembar terus memburunya, Tirta kali ini menggunakan ajian Dewa gledek untuk mencoba menahanya.
Beruntung Damar Kandi tidak hanya menggunakan sebagian tenaga dalamnya hingga jurus Dewa Gledek masih mampu untuk menahan.
" Senopati izinkan aku menghadapi Damar Kandi? "
"Baiklah Panglima, berhati hatilah, Kujang itu hanya mampu di lawan oleh kembaranya yang ada ditangan Raja Burnama Kandi".
Sementara itu Tirta segera melayang menyambar pedang Naga Emas yang terbang di awang awang, Ki Baruna juga nampak heran karena Naga Emas justru pergi menjauhinya.
Rupanya Tirta menyuruh Naga Emas untuk pindah menyerang Damar Kandi untuk mengatasi kekuatan Kujang Kembar. Walaupun Damar Kandi awalnya ragu apakah Kujang itu mau menuruti perintahnya menghadapi Panglima Tirta seperti tempo hari.
Tetapi tadi rupanya Tirta membawa Senopati Candra Sena hingga energi Kujang Kembar terus memburunya..
Kali ini semburan api dari mulut Naga Emas terus ia muntahkan namun Kujang Kembar masih mampu menahanya.
Bahkan Damar Kandi kini sudah mendapatkan bantuan dari Ki Baruna yang menggunakan kembali Tapak Waja Geni hingga tenaga Kujang Kembar bertambah berkali lipat.
Sementara itu di dalam Istana Raja Burnama Kandi merasakan hal yang aneh Kujang Kembar yang di selipkan di pingganya kemudian keluar dari sarungnya dan terbang melayang layang.
Tiba tiba munculah asap putih yang keluar dan kemudian membentuk rupa seperti mendiang ayahnya Raja Ranaya Kandi.
" Ayahanda".
" Ia anaku ketahuilah bahwa sekarang cucuku berada di Kerajaan ini dan aku harus melindunginya".
" Apa maksud perkataan Ayahanda? "
Belum sempat menjawab sosok rupa yang mirip dengan ayahnya hilang. Sementara Kujang Kembar juga terbang menembus atap kemudian melayang menuju hutan.
Burnama Kandi segera melayang mengikuti arah Kujang menuju Hutan.
__ADS_1
" Apa yang sesungguhnya terjadi, Kujang itu seperti mengarah ke tempat Damar Kandi. Apa maksud dari perkataan Ayahanda".Raja Burnama terus bertanya dalam hati sambil melaju terbang mengikuti arah Kujang Kembar.
Sementara itu Naga Emas mulai kewalahan, Tirta tak mau untuk terus memaksanya bertarung dia segera memasukan Pedang Naga ke dalam warangkanya.
" Sekarang menyerahlah Panglima, kamu hanya sendiri lihatlah Senopati dan juga prajuritmu mereka juga sudah tak berdaya"
" Tidak walupun aku bukan bagian dari Hutan Kayu Emas namun aku tak akan membiarkan kejahatan meraja lela"
" Banyak omong kau anak muda, ayo kembali hadapi aku! "
Ki Baruna kembali menantang duel.
Sementara itu Damar Kandi kembali menggunakan Kujang menyerang pasukan Kerajaan.
Tentu saja para prajurit lari kocar kacir menghindari ledakan ledakan yang mengenai tanah di sekitar mereka akibat kekuatan yang di timbukkan oleh Kujang Kembar.
Namun Damar Kandi terkejut bukan kepalang tiba tiba ada kekuatan yang mampu menghentikan Kujang kembar miliknya.
" Kenapa Damar, apa kamu kaget dengan kedatanganku? "
" Burnama ,bagus akhirnya kau datang juga untuk menghantarkan nyawamu, aku tak perlu repot repot menyerang istana. Setelah kau mati akan ku pastikan kedudukan Raja menjadi miliki, ha ha ha "
" Ingat satu hal Damar, bahwa angkara murka akan sirna dan yang menang adalah kebaikan "
Merasa di nasehati oleh Burnama, Damar Kandi kembali naik pitam dan langsung menyerang Burnama. Kekuatan yang di hasilkan dari sepasang Kujang kembar sangat dasyat bahkan percikan api keluar ketika kedua senjata itu saling beradu.
Sementara itu Tirta kali ini berupaya menggunakan ajian pelebur roh untuk menyudahi perlawanan Ki Baruna.
Namun lagi lagi ia di buat geleng geleng kepala karena pertahanan Ki Baruna masih sangat kokoh. Sementara itu Ki Baruna tercengang melihat Tirta menggunakan ajian pelebur Roh ia tidak pernah menduga bahwa pemuda yang masih ingusan menguasai jurus tersebut.
Bahkan Ki Baruna mulai merasakan sakit di dadanya namun ia berupaya tetap berdiri kokoh dengan ajian Tapak Waja Geni.
Namun ia nampak mengusap dadanya dan rasa sakitnya seketika hilang.
" Anak muda, apa hubunganmu dengan Jaka Kelana . Siapa sebenarnya gurumu? "
Ki Baruna terlihat jadi semakin penasaran kepada musuhnya.
Tirta kali ini menggunakan Jurus cakar elang. Kedua tanganya di angkat ke atas jari jemarinya di bengkokan seperti kaki elang hendak menerkam mangsanya.
Ki Baruna berusaha menghindar namun beberapa bagian bajunya sobek terkena Jurus Cakar Elang.
" Sebentar lagi tubuhmu Ki yang akan aku cincang, he he"
Ki Baruna matanya menjadi merah dia tak terima di hina oleh seorang pemuda yang masih di anggapnya bau kencur.
"Dasar Panglima gendeng, di saat saat terahirmu malah masih saja bergurau"!
Ki Baruna yang sudah di kuasai amarah segera memerintahkan murid muridnya untuk menyatu dengan dirinya.. Sekarang ratusan muridnya satu persatu masuk ke dalam tubuh Ki Baruna.
Tirta tentu saja tercengang dia merasakan tenaga dalam Ki Baruna menjadi berkali kali lipat besarnya..
Bahkan Burnama dan Damar Kandi sempat menghentikan pertarungan karena energi yang terpancar dari tubuh Ki Baruna sangat kuat.
Bahkan para prajurit yang sedang bertarung juga merasakan bahwa tubuh mereka terasa seperti ada yang menekan.
Raja Baruna dan Damar Kandi menyuruh pasukan mereka masing masing untuk pergi sejauh jauhnya .
Sementara Damar Kandi sendiri juga memilih mundur mencari tempat yang aman.
Melihat Panglima Tirta dalam bahaya Raja Burnama segera meloncat berdiri membelakangi Tirta.
" Panglima aku datang untuk membantumu, berhati hatilah itu adalah ilmu penghisap jiwa, ilmu yang mampu menyerap energi orang yang menjadi pengikutnya, dengan ilmu itu kekuatanya akan bertambah berkali kali lipat"
" Tapi baginda, itu terlalu bahaya kenapa baginda datang kesini? "
" Ini semua karena Kujang kembar yang membaku kesini, Panglima"
" Tak usah banyak cakap kalian berdua sekarang terimakah serangan ku"
Energi dasyat keluar dari telapak tangan Ki Baruna, sementara itu Raja Burnama menggunakan kekuatan Kujang kembar untuk menahan, Tirta juga kembali menciba membuat pagar dengan ajian Penghancur Karang.
" Duuuuarrrrr".
__ADS_1
Kedua kekuatan bertabrakan, tubuh Raja Burnama dan juga Tirta terlempar jauh. Bahkan sampai Kujang ditangan Raja terlepas.
Raja Burnama dan Tirta terluka darah segar mengucur dari mulut mereka.
" Gusti prabu, apakah kau tidak apa apa"
" Dadaku sesak Panglima, sepertinya aku terluka dalam"
Tirta menarik nafas panjang dan mengalirkan tenaga dalamnya ke semua titik nadi untuk menyembuhkan lukanya.
Setelah itu ia memberikan sedikit hawa murninya biar Raja Burnama tidak merasakan sesak di dadanya.
" Siapa kamu sebenarnya Panglima, kamu masih sangat muda tapi kanuraganmu sangat tinggi".
" Aku hanya orang biasa paduka, tujuanku hanya untuk menemani Nilam mencari orang tuanya"
" Ia aku sudah tahu semuanya, Patih Layung Kencana sudah banyak bercerita kepadaku"
Ki Baruna yang berusaha mencari kedua musuhnya akhirnya menemukan mereka.
" Ha ha ha ha, sekarang akan aku habisi kalian berdua"
Tirta dan Burnama terkejut karena Ki Baruna sudah bersiap menyerang.
" Raja pergilah biar aku yang menghadapinya"
" Baiklah Panglima masa depan Kerajaan Hutan Kayu sekarang ada di tanganmu"
Sebelum pergi Raja Burnama menepuk pundak Tirta. Lalu ia melompat menjauhi pertarungan.
Tirta kembali mencabut pedang Naga Emas dan Naga Emas kembali muncul.
Sekarang dia menyatukan energi dewa gledek ke dalam pedang Naga.
Ki Baruna melesatkan pukukanya ke arah Naga, ternyata Naga Emas dan juga jurus dewa gledek belum mampu menahan jurus penghisap jiwa, Naga Emas dan Tirta terlempar.
Bahkan Naga Emas menyerang kesakitan.
Turta masih bisa bangkit dan menyarungkan pedang Naga ia tak mau Naga Emas celaka.
Raja Burnama menyuruh Senopati dan para prajurit untuk berdoa bersama untuk kemenangan Panglima Tirta..
Sementara itu Raja Burnama baru sadar bahwa Kujang kembar rupanya melayang di atas Tirta.
Ia baru mengetahui maksud perkataan orang yang mirip ayahnya yang keluar dari pusaka tersebut..
Raja Burnama segera memejamkan mata untuk kontak batin.
" Panglima, Panglima Tirta aku memanggilmu! "
" Ia paduka aku dapat mendengar suaramu"
" Sekarang lihatlah ke atas dan ambil Kujang itu, gunakanlah senjata itu untuk mengalahkan Ki Baruna".
" Baik paduka"
Tirta segera melompat menyambar Kujang yang melayang di atasnya. Kujang itu ia genggam dengan erat, Tirta merasakan energi masuk ke dalam tubuhnya berasal dari Kujang kembar tenaganya yang seakan mulai berkurang berangsur angsur kembali bahkan menjadi bertambah berlipat lipat.
Ki Baruna kembali melesatkan pukulanya, namun Kali ini Tirta dapat menahanya dengan Kujang yang ada di genggamanya.
Bahkan secara mengejutkan Kujang yang sedang di pegang Damar Kandi dengan erat tiba tiba terlepas dan meluncur dan berhenti persis di hadapan Tirta..
Tirta seakan sudah tahu maksud dari Kujang itu dia segera mengambilnya dan menyatukan dengan Kujang yang berwarna hitam yang ia pengang di sebelah kanan.
Tenaganya juga semakin terasa bertambah kuat.
Bahkan tubuh Tirta pelan pelan terangkat ke udara dari tubuhnya terpancar cahaya putih yang menyilaukan mata.
Ki Baruna juga terkejut ketika cahaya dari Kujang kembar melesat ke tubuhnya, ia berusaha menahan dengan ajian penghisap jiwa, namun satu persatu jiwa yang ia serap keluar dari dalam tubuhnya.
Kali ini Ki Baruna merasakan sekujur tubuhnya panas seperti terbakar api dia berteriak kesakitan. Namun tiba tiba ada sebuah asap hitam muncul menggulung tubuh Ki Baruna dan kemudian lenyap.
Bersambung
__ADS_1