
Pertarungan terus berlangsung sengit.
Terlihat Tirta masih berusaha melumpuhkan para banaspati dengan pedang setanya .
Suasana semakin mencekam, beberapa bangunan istana di lalap api dan terlihat semakin membesar.
Bahkan nampak sebuah bangunan yang di gunakan untuk menginap para tamu kerajaan atapnya mulai berjatuhan.
Raja Jaya Wijaya mulai panik hingga konsentrasinya terganggu melihat istana terus di lalap api.
Dewi Kalinggi tidak menyia nyiakan kesempatan, ia lantas menggunakan ajian penyerap jiwa.
Raja Jaya Wijaya terkejut melihat tubuhnya di liputi asap hitam, untunglah tiba tiba ada sebuah tarikan yang cukup kuat menarik tubuh sang raja.
Rupanya Resi Somala tidak terlena menghadapi serangan Kumambang dan juga Wisapati,ia sesekali memperhatikan pertarungan rajaWijaya melawan Kalinggi.
Hingga disaat sang raja dalam bahaya Resi segera melompat dan menarik tubuh sang prabu dengan kain selendangnya.
Kalinggi yang merasa raja wijaya terhisap oleh jurus penyerap jiwa menjadi kecewa ketika Resi berhasil menyelamatkan Raja Jaya Wijaya.
"Kali ini akan ku pastikan kematianmu kakek peot, biar cucumu menangis darah atas kematianmu! Kumambang,Wisapati kau hadapi Raja bodoh itu,biar kakek peot menjadi bagianku! bentak Kalinggi.
Tentunya Kumambang dan Wisapati langsung melesat menyerang Raja Wijaya.
Sementara Kalinggi dan Resi Somala terlibat pertarungan.Keduanya memilih tempat pertarungan di luar benteng istana.
Kalinggi yang sudah di liputi jengkel segera menggunakan jurus penyerap jiwa dan terus berusaha menggulung tubuh Resi Somala dengan asap hitam.
Resi Somala bergerak meliuk dan sesekali berguling di lantai menghindari asap hitam yang berusaha menggulungnya.
" Ha ha ha ha, kali ini akan ku pastikan dirimu lenyap untuk selama lamanya Somala,ha ha ha ha!"
Kalinggi terus saja berkoar koar.
Sementara sang resi mencoba untuk tidak panik,ia justru duduk bersila dan mulai membaca doa doa.
Dari tubuhnya keluar cahaya putih terang yang bergerak ******* asap hitam yang berusaha menutupi dirinya.
Dewi Kalinggi terkejut melihat asap hitam yang menggulung tubuh Resi Somala tiba tiba lenyap dan justru kini cahaya yang keluar dari tubuh sang resi mengarah ke dirinya.
Kalinggi tak sempat menghindar hingga tubuhnya terhempas mengenai pepohonan.
Kalinggi sedikit meringis kesakitan,namun ia kembali tertawa lebar dan bersumpah serapah.
Kali ini Resi Somala seakan tak memberi kesempatan di saat Kalinggi belum siap sebuah pukulan sang resi mendarat tepat pipi kananya.
" Bammmmm"
Tubuh Kalinggi juga terkena tendangan beruntun dari resi Somala hingga membuat tubuhnya kembali terhempas dan mengenai tembok istana hingga retakk.
__ADS_1
" Bedebah! kali ini akan ku akhiri hidupmu Somala!"
" Silahkan kalau kamu bisa!" jawab sang resi sedikit mengejek.
Kalinggi semakin naik pitam kali ini ia mengeluarkan tusuk konde yang di pakai di kepalanya.
Seketika tusuk konde berubah menjadi saekor ular raksasa dan melilit tubuh Resi Somala.
Resi Somala berusaha melepas lilitan ular yang secara tiba tiba munjul dan melilit dirinya.
Di saat bersamaan Kalinggi melempakan kembali tusuk kondenya yang memiliki racun yang sangat mematikan.
" Matilah kamu Somala! teriak Kalinggi sambil melempar tusuk kondenya.
Resi Somala mengerang ketika dadanya terasa ada yang menusuk dengan keras.
" Akkhhhgg, ternyata tusuk konde ini beracun!" teriak sang resi.
Lilitan sang ular pun ia rasakan semakin kuat dan mulai berusaha menghancurkan tulang sang resi.
Sementara itu Tirta yang telah berhasil mengalahkan para banaspati segera berusaha untuk menolong resi Somala,namun Kalinggi menghadang langkahnya.
" Jangan ikut campur, atau nyawamu juga akan melayang!"
Tirta tak menghiraukan seruan Kalinggi dan mulai menyerangnya dengan pedang setan.
Sementara itu Jaya Wijaya juga memilih meninggalkan pertarungan dan berusaha menolong Resi Somala.
Wisapati berusaha mengejar sambil menyerang Jaya Wijaya dengan pukulan tapak wisa.
Raja Jaya Wijaya berhasil mengelak,namun pukulan wisapati justru tak berhenti dan mengarah ke Resi Somala.
Kali ini pukulan tapak wisa mendarat tepat di bagian wajah resi Somala, beliau pun sedikit memekik menahan sakit.
Belum lagi di tambah lilitan ular dan tusuk konde yang masih menancap di dadanya.
Tubuh sang resi mulai membiru, racun mulai menyebar ke seluruh tubuhnya.
Raja Wijaya tak kuasa melihat penderitaan yang di alami ayahnya.
Dadanya kini bergejolak, emosinya meledak ledak.
Raja Jaya Wijaya di luar kendali dan menyerang Wisapati dan Kumambang dengan membabi buta.
Serangan sang Raja yang di liputi emosi justru membuat gerakanya tidak beraturan dan sangat mudah di patahkan oleh lawanya.
Bahkan Wisapati berhasil mendaratkan tapak wisanya tepat di dada Raja Jaya Wijaya.
Sementara Patih Rangga Abang berseru kepada para prajurit untuk melindungi Raja.
__ADS_1
Ratusan prajurit segera berlari menyerang Kumambang dan juga Arya Wisapati.
Namun rupanya Kuda Merta dan Surasena dan juga si mata satu, menghadang laju mereka.
Tubuh para prajurit terpental terkena pukulan sepasang tangan besi.
Sementara mata satu menggunakan kekuatan ilusinya untuk memperdaya para prajurit.
Pertarungan semakin sengit, rupanya jumlah pasukan Wisma Kencana yang sangat besar tak cukup mampu menghadapi anak buah Kalinggi yang notabenya merupakan perkumpulan para pendekar aliran hitam.
Para siluman juga terus berdatangan membantu Kalinggi.
Kini Raja Jaya Wijaya dan maha patih serta seluruh prajurit di bantu para tamu dari kerajaan sekutu, hanya bisa bertahan menghadapi gempuran dari Kalinggi dan antek anteknya.
Sementara itu Resi Somala terkulai lemas di atas tanah dengan tubuh membiru. Ular yang melilit tubuhnya telah hilang.
Kalinggi terlihat sangat bahagia melihat salah satu seteru abadinya telah terbujur kaku.
Di saat suasana sangat mencekam tiba tiba terdengar suara khas elang raksasa memekik telinga.
Cahaya putih terang juga memenuhi langit Wisma Kencana.
Semua mata terpana ketika cahaya terang tiba tiba meluncur ke segala arah, suara jeritan terdengar di mana mana.
Rupanya cahaya tersebut berasal dari pedang suci yang langsung mengincar musuh musuh Wisma Kencana.
Kini harapan kembali muncul di pihak Wisma Kencana. Rupanya cahaya yang berasal dari pedang suci telah sangat mengurangi jumlah pasukan kalinggi.
Bahkan para siluman juga banyak yang mati dan sebagian lagi justru memilih melarikan diri.
Para siluman sudah sangat tahu tentang kekuatan pedang suci yang memiliki kekuatan yang maha dasyatt.
Bahkan dalam radius ratusan meter cahaya yang terpancar dari pedang suci masih dapat membuat siluman terbakar.
Kalinggi terpaku sejenak melihat ribuan siluman terbunuh dan juga kabur meninggalkanya.
Sementara itu Dewi yang sudah berubah menjadi manusia segera berupaya menolong Resi Somala dengan meminumkan air keabadian.
Namun justru sang resi menolak,ia merasa bahwa ini memang sudah saatnya ia meninggalkan dunia ini menuju alam ke abadian.
Air mata Dewi Kumalasari mulai bercucuran,melihat kakeknya menolak meminum air keabadian.
Sementara itu Jaka yang sudah berhasil mengobati ayahnya hanya terpaku melihat kakeknya sekarat.
" Jaka, jaka, janganlah kau tangisi kepergianku. Teruskan perjuanganmu dan kakek akan sangat bahagia melihat cucunya selalu menebar kebaikan!"
Jaka tak kuasa menahan tangisnya melihat mata kakeknya terpejam untuk selama lamanya.
Sementara Kalinggi sudah merasa puas, diam diam ia pergi di saat orang orang sedang berduka atas kepergian sang Resi Somala.
__ADS_1