
Kaisar Feng merasa di hianati oleh Mhing Chun karena tak mau lagi membayar upeti. Di samping itu juga mata mata yang di kirim kaisar Feng sudah mengetahui rencana penyerangan yang akan di lakukan Mhing Chun kepada Kaisar Feng.
Oleh sebab itu Kaisar Feng marah besar dan menyuruh Jendral Kwan beserta lima puluh ribu prajurit berangkat dengan membawa persenjataan lengkap untuk menggempur Kekaisaran Ci yang telah di duduki Mhing Chun dan menangkapnya untuk di beri hukuman.
Bergeraklah Jendral Kwan dan pasukannya . Panji Panji di bentangkan sebagai tanda kebesaran Kaisar Feng.
Kali ini Mhing Chun sedikit gusar ketika mendapat laporan dari mata mata bahwa Pasukan yang di pimpin Jendral Kwan mulai mendekati wilayah yang di pimpinnya.
Mengingat sebagian pasukanya yang di pimpin Mung Yi belum kembali. Sementara pasukan yang di pimpin Mung Yi kini telah berkurang sekitar dua ribu pasukanya tewas dan sebagian lagi luka luka. Mental pasukanya juga jatuh karena melawan dua orang saja mereka kocar kacir. Mung Yi mencoba menaikan mental prajuritnya supaya tidak takut dan mau melanjutkan perjalanan menuju markas musuh.
Pasukan yang terluka tetap bertahan di tenda dan yang masih sanggup berperang ikut serta menuju markas Karang Kekal.
Jendral Chong sudah menyiapkan pasukanya dan bergerak menuju pos pos yang sudah di siapkan. Jaka dan Dewi kali ini tidak turut serta karena kaisar Ci tak mengizinkan dan justru menyuruh keduanya untuk istirahat.
Pasukan yang di pimpin Mung Yi mulai menaiki bukit. Namun mereka sedikit kebingungan karena jalan menuju benteng berlumpur dan kuda kuda mereka tidak bisa melewatinya. Mung Yi segera menyuruh pasukanya membuat jalan baru di samping jalan yang berlumpur supaya bisa di lewati kuda dan kereta yang membawa Meriam.
Namun ketika pasukan Mung Yi di sibukan membuat jalan baru. Tiba tiba suara angin berdesing ratusan anak panah meluncur ketengah tengah pasukan Mung Yi dan membuat puluhan prajurit tumbang bersimbah darah.
Belum cukup sampe di situ rupanya Jendral Chong telah membagi pasukanya menjadi empat bagian dan kini mereka bergerak mengepung pasukan Mung Yi. Perang pun pecah suara dentingan senjata beradu sementara di udara anak panah terus meluncur . Dalam sekian menit korban mulai berjatuhan di antara dua pasukan yang bertikai.
Mung Yi segera memerintahkan pasukanya menyalakan meriam. Pasukanya segera menyalakan api meledakan Bola peluru hingga terdengar ledakan di mana mana. Sekali letusan terdengar teriakan puluhan orang yang harus meregang nyawa dengan terpanggang bahkan ada yang tubuhnya hancur terkena meriam.
Jendral Chong segera berseru agar pasukan panahnya mengarah kepada para prajurit yang sedang menggunakan meriam agar pasukanya tidak turun mental melihat rekanya mati terkena ledakan.
Ternyata para prajurit menunaikan tugasnya dengan tepat. Kini ledakan meriam tak terdengar lagi dan pasukan mulai merangsak ke depan dan kembali menyerang.
__ADS_1
Kali ini Mung Yi mulai panik melihat setiap prajuritnya yang mendekati meriam langsung terkapar terkena puluhan anak panah.
Namun bala bantuan segera tiba. Anak buah dari perguruan Iblis merah segera datang dan mereka terbang layaknya burung menerobos semak dan memberikan ancaman kepada para pasukan Jendral Chong yang terus meluncurkan anak panahnya. Satu persatu pasukan iblis merah mulai membinasakannya hingga anak panah yang meluncur nyaris tak ada lagi.
Mung Yi terlihat girang dan kembali memerintahkan prajuritnya menggunakan meriam.
Jendral Chong mulai khawatir dengan pasukanya yang terus di bombardir dengan ledakan meriam yang seperti tiada henti dan membuat pasukanya banyak menjadi korban.
Namun tiba tiba di langit terlihat cahaya yang sangat terang dan kemudian cahaya itu memancar ke arah pasukan Mung Yi yang sedang menyalakan sumbu untuk meledakan meriam. Seketika para prajurit tewas tertembus cahaya dan kereta meriam satu persatu mulai meledak terkena cahaya yang terus terpancar.
Rupanya Jaka tidak bisa menahan diri. Ia diam diam pergi dari tenda bersama Dewi Kumalasari, karena bisa merasakan bahwa pasukan Jendral Chong berada dalam bahaya.
Jaka pun segera melemparkan Pedang Suci untuk menghacurkan meriam yang membuat banyak korban dari pasukanya.
Mung Yi segera bangkit dan komat Kamit membaca mantera untuk mengobati lukanya akibat pukulan Penghancur Karang yang mengenai dadanya.
Sementara itu Jaka nampak heran melihat Mung Yi kuat menahan ajian Penghancur Karang itu artinya ia memiliki ilmu yang setara dengan ilmu Pancasona tingkat tiga seperti apa yang di miliki Dewi Kalinggi.
Kali ini Mung Yi nampak geram dan segera melepaskan pukulan api neraka. Bola bola api keluar dari tubuhnya dan mengarah ke tubuh Jaka.
Suhu pun mulai terasa sangat panas dan membuat daun daun kering terbakar.
Jaka kembali teringat tentang ketua iblis merah terdahulu yang ia pernah kalahkan. Ia pun segera melayang dan bersiap menggunakan ajian pengubah Suhu.
Setelah cukup lama suhu kembali normal Jaka terus berkonsentrasi kini ia melayang tepat di atas kepala Mung Yi dari kedua tanganya keluar buliran salju yang menutupi seluruh tubuh Mung Yi hingga tak bisa bergerak.
__ADS_1
Ketika Mung Yi berusaha melawan rasa dingin dengan pukulan api neraka , Jaka tak menyiakan kesempatan ia kini mengeluarkan pukulan penghancur Sukma .
Mung Yi berteriak ketika kedua tangan Jaka mendarat di dada.
" DOOOORRR"
Seketika tubuh Mung Yi hancur menjadi abu.
Mengetahui pemimpinya tewas pasukan Kaisar Mhing Chun mulai nyalinya jatuh hingga tak berapa lama akhirnya mereka menyerah.
Melihat pasukan Mung Yi melempar senjata Jendral Chong segera memerintahkan anak buahnya berhenti menyerang dan tidak boleh menyakiti musuhnya karena sejatinya mereka adalah saudara sama sama penduduk Kekaisaran Ciming.
Mereka pun terpaksa mau menjadi prajurit lantaran ada ancaman dari Mhing Chun.
Jendral Chong juga menyuruh untuk membawa pasukan musuh ke benteng Karang Kekal.
Ia juga mempersilahkan siapa saja yang mau bergabung menjadi pasukanya untuk merebut tanah leluhur yang telah di rebut oleh Mhing Chun dan Kaisar Feng.
Kini semakin kuatlah pasukan Jendral Chong karena hampir semua prajurit musuh kini bergabung menjadi pasukanya.
Kini mereka pun mulai memperkuat senjata dengan sisa puluhan meriam yang masih utuh dan mencoba untuk memperbanyak jumlahnya untuk mengimbangi alat militer yang di miliki Mhing Chun dan juga Kaisar Feng.
Mhing Chun semakin panik ketika mendapat kabar bahwa pasukanya kembali menelan kekalahan dan Mung Yi mati di tangan Jaka Kelana serta pasukan yang tersisa justru bergabung dengan pasukan musuh. Belum lagi di tambah agresi dari Kaisar Feng yang semakin dekat dengan wilayah yang dia pimpin.
Mhing Chun mulai ketar ketir bahwa kekuasaanya akan jatuh. Dia pun berusaha menyusun rencana dengan cara akan menyerah kepada Kaisar Feng. Mhing Chun juga akan melakukan siasat adu domba supaya pasukan Kaisar Feng mau bergabung menyerang pasukan Kaisar Ciming.
__ADS_1