
Patih Layung Kencana di seret bersama para prajuritnya di jebloskan ke penjara.
"paman lebih baik kau mendukung pergerakanku dan kalau aku jadi raja aku akan tetap menjadikanmu sebagai Patih "
"Maaf gusti pangeran aku akan tetap bersama raja Burnama Kandi sebagai pemimpin yang sah"
Damar Kandi menahan amarahnya daun telinganya merasa panas atas jawaban dari pertanyaanya kepada Patih Layung Kencana.
Dia bergegas pergi meninggalkan tahanan dengan memukul dinding. Tatapanya sinis kepada sang Patih.
Sementara itu Patih Layung Kencana akan berusaha mencari jalan keluar supaya bisa kembali dan segera melaporkan kejadian itu kepada Raja Burnama Kandi. Dia melihat ke prajuritnya satu persatu, di dalam dirinya ia merasa menyesal karena menganggap remeh, dengan hanya membawa ratusan prajurit.
Patih Layung kencana berpikir bahwa dalam waktu singkat tidak mungkin Damar Kandi mengumpulkan pasukan dalam jumlah besar untuk membrontak. Ternyata anggapan itu salah bahkan jumlah pasukan Damar Kandi jumlahnya sudah ribuan orang belum di tambah dari pendekar aliran hitam yang juga mau membantunya.
Sekarang tak ada pilihan lain Patih Layung Kencana harus bisa keluar dari markas Damar Kandi dan segera kembali ke kerajaan Hutan Kayu Emas untuk menghimpun kekuatan. Patih Layung Kencana segera melepas pakaiannya dan menukarnya dengan pakaian prajurit biasa.
Dia segera bergerak melompat mencebol atap yang terbuat dari kayu dengan di tutupi ilalang kering.
Dia berjalan di atap dan melompati pagar untuk kemudian lari ke dalam hutan. Namun lagi lagi hal itu sudah dapat di baca oleh Damar Kandi yang memang sudah mengenal karakter dari Patih Layung Kencana.
Damar Kandi yang memang sengaja mengawasi segera melompat mengejar Patih Layung Kencana. Merasa ada yang mengikuti Patih Layung Kencana segera mempercepat gerakanya melompat dari satu dahan pohon berpindah ke pohon yang ada di dekatnya.
" Mau pergi kemana Paman Patih aku pasti akan menyusulmu"
Damar Kandi menghentikan kakinya sambil berlari menginjak batang pohon, dia segera meluncur ke atas dan berhasil mendaratkan kakinya menghadang Patih Layung Kencana.
" Kepandaianmu sungguh luar biasa pangeran tapi sayang budi pakertimu tidak seperti Raja Burnama Kandi"
Damar Kandi merasa anti jika ada yang membandingkanya dengan Burnama Kandi ia segera loncat dan melesatkan pukulan keras ke tubuh Patih Layung Kencana. Patih Layung Kencana menangkis dengan tangan kanannya, sekaligus mengangkat kakinya menendang ke arah muka Damar Kandi.
Damar Kandi segera membungkuk menghindar. Keduanya terus meningkatkan seranganya hingga pertarungan menjadi semakin seru.
Damar Kandi segera mengeluarkan kujang senjata warisan dari Ranaya Kandi. Raja Ranaya Kandi sama sama membagi kujang kembarnya kepada dua anaknya, Burnama Kandi juga memilikinya.
Patih Layung Kencana yang sangat paham akan kekuatan kujang Kembar segera membuka ikat kepalanya. Ikat kepala pemberian gurunya yang bernama senjata Rajah Kalantaka.
Keduanya segera mengadu kekuatan dari senjata tersebut. Suara ledakan dari benturan dua kekuatan besar membuat gaduh dan terdengar sampai ke markas.
Tentu hal itu membuat penasaran Ki Barunda segera mnerawang dan mendapat gambaran bahwa suara itu berasal dari Kujang Kembar milik Damar Kandi muridnya.
Dia lantas memejamkan mata dan tubuhnya hilang. Ketika Ki Barunda membuka matanya ia telah sampai di lokasi pertarungan. Sementara itu Tirta sudah menemukan jejak banyak langkah kuda yang memasuki sebuah jalan kecil menuju Hutan. Dia segera memerintahkan anak buahnya mempercepat lari kudanya supaya cepat sampai.
Sementara itu Nilam dan juga Nawang wajahnya terlihat cemas takut kalau ayahnya mendapatkan masalah.
" Kang ayo cepatlah perasaanku rasanya sangat gelisah, aku tak mau terjadi apa apa pada ayahku"
"Baiklah Nilam aku akan mencoba menerawang sebentar. Karena aku merasakan ada kekuatan yang saling beradu tak jauh dari tempat ini".Tirta segera memejamkan matanya dan mendapat gambaran Patih Layung Kencana sedang terluka di hadapanya berdiri dua orang lelaki.
__ADS_1
" Celaka Dinda, kita harus bergerak cepat"
"Apa yang terjadi Kang"
"Nilam aku akan masuk ke dalam hutan biar kamu tunggu di sini bersama Nawang dan juga prajurit"
Tirta segera meloncat dari atas kuda dan melayang menuju hutan.
" Nawang kamu tetap berada disini bersama prajurit, biar aku menyusul".
" Tidak Yunda, aku juga ikut"
Nilam menyuruh Nawang agar tetap bersama prajurit dan memasuki jalan masuk dengan waspada. Sementara ia sendiri melompat dari Kuda melayang untuk menyusul Paglima Tirta.
Sementara itu Patih Layung Kencana mulai terdesak karena Damar Kandi di bantu gurunya Ki Baruna. Darah juga sudah memenuhi bibirnya akibat terkena hantaman pukulan Ki Baruna.
" Menyerahlah Paman Patih dan bergabunglah denganku! "
" Tidak pangeran lebih baik aku mati berkalang tanah dari pada harus tunduk kepada pemberontak "
" Kurang ajar, Guru habisi saja orang bodoh ini! "
" Baik Damar jika itu sudah menjadi keinginanmu"
Ki Barunda bersiap dengan jurus Tapak Geni.
Layung Kencana kembali berdiri tegap ikat rajah Kalantaka ia genggam dengan kuat. Semua sisa tenaga dalamnya ia alirkan masuk ke dalam Ikat kepala yang menjadi senjatanya...
Ki Barunda segera melepas pukulan Tapak Geni, Patih Layung Kencana sudah tak mampu menahan kekuatan yang besar hingga ia mulai merasa lemas dan kemudian tubuhnya terlempar..
Namun sekelebat bayangan segera menyambar sambil melepaskan kekuatan pukulan Matahari.
" Jurus pukulan Matahari"..
Tentu saja Ki Barunda merasa terkejut karena kali ini kekuatan Layung Kencana menjadi semakin kuat bahkan dirinya merasa bahwa kekuatan musuh menjadi berlipat lipat.
" Lompat Damar cepat menghindar"
Damar Kandi segera melompat ke atas pohon, sementara itu Ki Barunda masih mencoba menahan gelombang kekuatan yang semakin membuat tubuhnya terasa berat.
Namun ia juga akhirnya melompat karena sudah tak mampu menahanya.
" panglima Tirta kau kah itu? "
" Ia gusti, sekarang gusti istirahat biar aku yang melawan mereka"
" Hati hati panglima keduanya memiliki kemampuan yang hebat".
__ADS_1
Sementara itu Nilam yang sudah sampai segera melompat dan memeluk Patih Layung Kencana hingga membuatnya jadi bingung.
" Nona apa yang kamu lakukan".
Nilam justru menangis kala memeluk Patih Layung Kencana. Patih Layung Kencana merasakan pelukan itu seperti layaknya Nawang Sari.
" Siapa sebenarnya dirimu nona"
" , Aku, aku, Nilam Sari Ayah "
Mendengar nama Nilam Sari tubuh Layung Seta seakan tak berdaya matanya menjadi berkaca kaca.
"Apa, kau Nilam Sari, anaku yang selama ini aku cari cari"
Nilam Sari segera melepas pelukanya menatap wajah ayahnya. Patih Layung Kencana melihat dengan cermat, jantungnya seakan mau copot setelah melihat wajah Nilam yang memang sangat persis dengan Arum Sari di kala ia menolongnya saat akan di terkam harimau.
" Anakku, mendekatlah nak izinkan ayah memelukmu kembali"
Keduanya kembali berpelukan dengan erat.
" Oh rupanya kamu panglima baru yang di miliki Kerajaan Hutan Kayu Emas"
" Ia sekarang menyerahlah pangeran biar aku membawamu ke hadapan Raja"
" Jangan sombong kau panglima ingusan"
Damar yang masih memegang Kujang Kembar mencoba menyerang Tirta, namun dia merasakan keanehan sepertinya kali ini Kujang Kembar tidak mau menuruti perintahnya bahkan ia sudah mengeluarkan tenaga dalamnya namun tanganya justru tak bergeming Kujang kembar semakin kuat untuk melawan perintahnya.
" Apa yang terjadi denganmu Damar? "
" Tidak tahu Guru Kujang ini rasanya malah mau menyerangku"
Kujang itu tiba tiba terlepas dari tanganya dan melayang. Kini Kujang itu bergerak ke arah Damar mau menyerang. Damar segera mengambil warangka hingga Kujang dapat ia kuasai dan masuk ke warangkanya.
" Guru sebaiknya kita mundur dulu. Nanti akan ada waktunya aku menghadapi pemuda itu".Ki Barunda mengangguk dan segera memegang pundak Damar dan kemudian menyuruhnya untuk memejamkan mata.
Mereka pun lenyap berhasil kembali ke Markas.
Tirta yang hendak mengejarnya, di tahan oleh Patih Layung Kencana.
" Jangan Tirta, sebaiknya kita cepat cepat tinggalkan hutan ini dan kembali ke istana"
" Baik Baginda. Tapi aku juga datang bersama seribu prajurit ".
" Ia aku sudah tahu dari Nilam, tapi sebaiknya kita kembali dan mempersiapkan rencana dengan matang, rupanya Damar Kandi tak bisa di anggap remeh bahkan jika ku hitung jumlah pasukannya sudah sekitar lima ribu"..
Tirta menyetujui perintah Patih Layung Kencana dan kembali bersama pasukannya menuju istana.
__ADS_1
Bersambung.