
Jaka berlari ke arah mulut goa, alangkah kagetnya wajahnya berubah masam ketika mengetahui pintu goa sengaja di tutupi kedua batu besar dengan sangat rapat.
Bahkan tak sedikitpun cahaya matahari dapat masuk ke dalamnya.
Kali ini ia berusaha melepaskan pukulan Cakar Elang namun karena tenaga dalamnya terkuras habis akibat pertarunganya melawan Wong Fei dan juga akibat latihan yang hampir lakukan seharian.
Hingga Jaka membutuhkan waktu untuk memulihkan tenaganya.
Sementara Chin Shuang merasa senang karena semakin banyak waktu agar ia bersama pemuda asing.
Walaupun ia sedang menyamar hingga pemuda asing tak dapat mengenali dirinya.
Sebenarnya Jaka sedikit mulai juriga dengan tatapan Wong Fei yang terlihat berlebihan ketika memandang dirinya.
Apalagi di beberapa kesempatan Wong Fei terlihat kemayu hingga Jaka nampak risih dengan keberadaanya.
Karena tak ada cahaya masuk Jaka tidak mengetahui waktu magrib sudah tiba.
Ia mencoba mencari sumber air dan berwudhu, untungkah di sebuah lorong terdapat sebuah air yang mengalir. Rupanya air tersebut juga biasa di gunakan untuk mandi setelah seharian berlatih.
Wong Fei menyalakan api sumbu yang terselip di dinding goa buat penerangan.
Sementara Jaka yang niatnya berwudhu justru tergoda oleh segarnya air yang mengalir hingga ia pun mandi dan melepaskan pakaianya.
Wong Fei secara tidak sengaja melihat Jaka sedang mandi ketika ia tengah menyalakan api.
Tubuh Jaka yang berotot dan kekar cukup membuat Chin Shuang terpana. Cukup lama ia memandang hingga membuat jantungnya berdebar debar.
__ADS_1
Jaka kembali mengambil pakaianya dan berwudu kemudian ia menjalankan solat magrib.
Chin Shuang terus mengamati Jaka, dari kejauhan dadanya terus berdebar kencang, bahkan pikiranya kini terbayang sedang membelai dada Jaka yang padat dan kekar.
Chin Shiang seperti tak bisa menguasai dirinya. Jaka masih merasa aneh melihat Wong Fei yang terlihat melamun.
Bahkan Wong Fei kaget ketika Jaka tiba tiba menepuk pundaknya, lamunanya segera buyar dan wajahnya memerah menahan malu.
"Hai kamu kenapa Wong, nampaknya sedang melamun?" ucap Jaka.
"Maaf, Pemuda Asing, aku hanya sedang berpikir bagaimana caranya kita keluar dari goa ini!" jawab Wong Fei.
Jaka semakin merasa aneh dengan Wong Fei, apalagi yang memanggil dirinya dengan pemuda asing hanya Jendral Chong, Kaisar Ciming dan juga Shin Shuang.
Lebih lebih Wong Fei belum lama berada di perguruan karena dia adalah murid baru.
Jaka kembali mengubur rasa curiganya, ia pun kembali ke sebuah lorong dan bersegera melaksanakan solat Isya.
Chin Shuang merasa ia juga pernah melakukan gerakan gerakan yang di lakukan Jaka.
Tiba tiba ingatanya sedikit kembali bahwa ia memang pernah melakukan gerakan solat seperti apa yang Jaka kerjakan.
Setelah Jaka menyelesaiakan solat Wong Fei mendekat, ia meminta Jaka agar mengajarkanya gerakan solat kepada dirinya.
Jaka kaget setengah mati mendengar permintaan Wong Fei, karena tak satupun orang Tionghwa yang berucap seperti itu kepada dirinya.
Namun Wong Fei masih melontarkan pertanyaan yang sama hingga akhirnya Jaka mau mengajari Wong Fei gerakan solat.
__ADS_1
Malam semakin larut kedua pemuda tersebut masih terlibat perbincangan.
Wong Fei atau Chin Shuang sengaja memancing Jaka untuk bercerita tentang sosok wanita idamanya.
Jaka terdiam sejenak hingga akhirnya ia bercerita bahwa ia sudah menikah namun kini ia terpisah dengan istrinya, raut muka Jaka berubah di rundung kesedihan ketika bercerita mengenai istrinya Dewi Kumalasari.
Chin Shuang semakin yakin bahwa Dewi Kumalasari adalah dirinya, karena semua ciri ciri yang di ceritakan Jaka sama persis dengan diri Chin Shuang.
Apalagi ketika Jaka menyebutkan bahwa ada tanda luka yang di miliki Dewi di lengan kirinya.
Chin Shuang berpura pura pergi untuk buang hajat.
Rupanya ia hendak mencari tahu tanda tersebut, Chin Shuang mendekat kepada obor yang menyala, ia memutar mutar lengan kirinya untuk mencari apakah tanda luka ada di pergelangan tanganya.
Ia melipat baju yang menutup lenganya, cukup lama Chin Shuang mencari .
Air mata Chin Shuang membasahi pipinya ketika mengetahui sebuah tanda luka di lengan di atas ketiaknya.
Ia menangis antara cemas dan bahagia, ia cemas karena ia takut bahwa Jaka marah karena merasa di bohongi oleh dirinya.
Sementara ia bahagia karena ternyata ia benar benar Dewi istri si pemuda asing yang sejak lama mengisi hatinya, bahkan ketika pertama berjumpa.
Namun Chin Shuang akan tetap menahan rasa rindunya kepada Jaka sebelum semua ingatan masa lalunya kembali.
Chin Shuang berusaha menghapus air matanya dan kembali.
Jaka nampak tertidur pulas, bagian dadanya sedikit terbuka. Chin Shuang kembali merasa jantungnya berdebar kencang, namun ia berusaha menahanya.
__ADS_1
Ia kemudian merebahkan badanya agak jauh dari tempat Jaka berbaring. Hampir semalaman Chin Shuang tak bisa memejamkan matanya dan justru terus menatap Jaka yang tertidur pulas.