
Jaka juga menyuruh mereka pergi untuk beristirahat.
Tentu saja prajurit merasa aneh karena tak biasanya Pangeran Kamandaka bersikap lunak.
Namun mereka merasa gembira dan langsung pergi.
Jaka memasuki ruangan, Dewi dan Sekar terlihat panik.
"Mau apa malam malam datang kesini?" tanya Sekar.
Jaka hanya terdiam dan mencoba berkonsentrasi untuk membuka pagar gaib yang menghalangi.
Jaka mencoba pukulan matahari namun justru ajian itu berbalik mengenai dirinya.
Dewi menjadi terkejut dan curiga.
" Hey kamu sebenarnya siapa, aku sepertinya kenal dengan jurus yang kau gunakan?" tanya Dewi penasaran.
Jaka mengisaratkan dengan cari telunjuknya yang di tempel di bibirnya dan menghadap ke atas.
Sekar dan Dewi semakin tak mengerti.
Namun Jaka segera merubah wujudnya.
" Kakanda!" teriak Dewi.
" jangan keras keras, sekarang mundurlah aku akan mencoba membuka pagar ini dengan pedang suci!" ucap Jaka lirih.
Dewi mengajak Sekar mundur ke dinding.
Jaka segera mengeluarkan pedang suci dan langsung mengarahkanya untuk menghancurkan pagar gaib.
" Prankkkk"
Tiba tiba tersengarlah suara seperti pecahan kaca.
Jaka kembali memasukan pedang suci ke dalam tubuhnya.
"Cepat keluar dinda, tuan puteri!" suruh Jaka.
Dewi Kumalasari segera membawa Sekar Mayang terbang menembus tembok dan pergi menuju raganya.
Sementara Jaka terlintas di benaknya untuk membuat kejutan untuk Kamandaka.
Dia keluar untuk mencari prajurit yang akan ia rubah wujudnya menjadi sosok Dewi Kumalasari dan juga Sekar Mayang.
Tak butuh waktu lama untuk mendapatkanya, Jaka melihat dua orang prajurit yang sedang berpatroli, dia lantas melompat dan menotok keduanya.
Kedua prajurit di papah menuju ruangan yang di gunakan untuk menyekap Dewi dan Sekar.
__ADS_1
Jaka juga mengubah wujud mereka menjadi Dewi dan sekar dengan jurus malih rupa, ia juga memagari ruangan tersebut agar Kamandaka tidak curiga.
Sementara itu Kamandaka terlihat berjalan keluar kamarnya hendak menemui tawananya.
"Pangeran Kamandaka, kenapa gusti sudah berada di sini!" tanya prajurit jaga.
" Prajurit!, kenapa kamu berada di sini bukankah tugasmu menjaga tawanan!" bentak Kamandaka.
Seorang prajurit yang satunya datang membantu temanya.
"Maaf gusti pangeran, bukankah tadi pangeran menyuruh kami untuk beristirahat?" ucap prajurit.
Wajah Kamandaka terlihat panik.
"Celaka ada penyusup yang menyamar menjadi diriku!" teriak Kamandaka sambil berlari menuju ruang tahanan.
Para prajurit mengikuti dari belakang, Kamandaka bernafas lega melihat Dewi dan Sekar sedang tidur terlelap.
Kamandaka tersenyum dan menyuruh prajurit kembali berjaga, kini muncul di dalam pikiranya untuk masuk ke alam mimpi dan berusaha melepas hasratnya yang sudah menggebu terpesona dengan kecantikan Dewi Kumalasari.
" Ini saatnya" pikir Kamandaka sambil berjalan menuju kamarnya.
Sementara itu sukma Dewi dan Sekar telah berhasil masuk ke raganya.
Dewi segera mengatur nafas dan berusaha menyetabilkan aliran darah di tubuhnya.
Ia pun bergegas keluar kamar menuju kamar puteri Sekar Mayang.
Sekar ingin sekali membelai ibundanya yang sudah sangat ia rindukan namun kondisi fisiknya masih sangat lemah.
Sementara terdengarlah suara orang mengetuk pintu hingga membuat permaisuri terbangun.
Beliau langsung turun dari ranjang dan berjalan membuka pintu.
"Ampunkan hamba, permaisuri !" ucap Dewi sambil membungkukan badan memberi hormat.
" Nona tabib, rupanya kamu telah sembuh" jawab permaisuri dengan wajah girang.
" Lalu bagaimana dengan puteriku?" tanya permaisuri.
" Syukurlah gusti, aku sudah berhasil membawa sukma puteri Sekar Mayang!" jawab Dewi.
Dewi pun segera meminta izin untuk masuk dan mengecek kondisi puteri Sekar Mayang.
Mata permaisuri nampak berkaca kaca melihat kedua mata puterinya sudah terbuka dan memandang ke arahnya.
"Puteriku kamu sudah sembuh!" ucap permaisuri sambil memeluk Sekar Mayang dengan erat.
"Maaf gusti, aku harus menyalurkan hawa murni agar peredaran darah puteri kembali normal dan kondisi badanya jadi stabil!" ucap Dewi Kumalasari.
__ADS_1
Dewi mendekati tubuh sang putri lalu kedua tanganya diletakan di atas dada sang putri dan mulai menyalurkan hawa murni.
Puteri Sekar Mayang mulai merasakan tubuhnya terasa hangat dan denyut jantungnya ia rasa semakin berdetak kencang.
Ia mencoba mengangkat kedua tanganya dan kemudian duduk.
Permaisuri semakin larut dalam keharuan melihat puteri kesayanganya telah sembuh ia menangis sesenggukan di pelukan anaknya.
Dewi merasa bahagia melihat kebahagiaan yang nampak jelas dirasakan oleh permaisuri dan puteri Sekar Mayang.
Dewi tak ingin mengganggu keharuan atas kesembuhan sang puteri, ia pun berlalu dan balik ke kamar untuk beristirahat.
Sementara itu Jaka telah kembali ke pasukanya.
Ia pun segera menceritakan keberhasilanya yang telah membebaskan sukma Dewi Kumalasari dan juga puteri Sekar Mayang.
Tentu saja hal tersebut membuat Raja Rangga Wulung sangat gembira, tanpa pikir panjang ia pun mengumumkan kepada pasukanya untuk kembali ke istana Panaruban dan membatalkan peperangan.
Jaka pun tak menolak keputusan yang di ambil oleh sang raja.
Akhirnya mereka menaiki kuda masing masing dan berbalik arah kembali ke istana Panaruban.
Sementara itu Kamandaka yang sudah terburu napsu segera bermeditasi dan mencoba menembus masuk ke alam mimpi terhadap kedua tawananya.
Setelah berhasil memasuki alam mimpi justru bukanlah rupa Dewi dan Sekar yang ia temui, Pangeran Kamandaka nampak kesal kedua wanita yang ia cari cari tidak ada dan justru yang ia temuai adalah dua orang prajurit kalingga.
Tentu saja Kamandaka langsung kembali menarik ajian pengendali mimpi dan bergegas ke ruang tahanan.
Para prajurit terkejut melihat Pangeran Kamandaka berlari dan langsung menerobos pintu.
Bahkan setelah melihat ruang tahanan, ia murka dan berusaha meledakan ruangan tersebut dengan tenaga dalamnya.
Namun kali ini ia kembali di kejutkan setelah tenaga dalamnya justru berbalik dan membuat tubuhnya terhempas hingga membentur dinding hingga jebol.
Para prajurit yang berada di luar berhamburan memasuki ruang tahanan setelah mendengar kegaduhan di dalam ruang tahanan.
Prajurit yang sedang berjaga juga kaget setelah mendengar suara ledakan dan melihat Pangeran Kamandaka terlempar hingga menembus dinding.
" Akkkhhhh, kurang ajar aku telah di tipu, prajurit segera berpencar dan tangkap penyusup yang telah membebaskan tawanan!" teriak Pangeran Kamandaka.
Segera para prajurit menyebar dan menyisir semua sudut istana , namun mereka tidak menemukan jejak apa apa.
" Maaf Pangeran Kamandaka, nampaknya penyusup sudah berhasil kabur, kami sudah menyisir semua tempat dan tidak menemukan apa apa!" lapor senopati.
Pangeran Kamandaka marah besar.
" Segera siapkan pasukan senopati, besok kita akan menggempur Panaruban kita ratakan dengan tanah, karena sudah berani menginjak injak harga diriku!" bentak Kamandaka.
" Siaaap Paduka!" jawab senopati dan langsung bergegas memberi tahu semua pasukanya.
__ADS_1
Kamandaka tidak menduga bahwa ada orang yang bisa menghancurkan pagar gaib miliknya, ia pun teringat ketika menghadapi seorang pemuda yang membawa sebuah pedang yang bercahaya sangat terang.
"Ehmmm, pastilah pemuda sialan itu yang telah membebaskan kekasihnya dan juga puteri Sekar Mayang, dasar pemuda sialan!" ucap Kamandaka dalam hati sambil meninju dinding sampai jebol.