
Peperangan masih berlangsung, kini ribuan nyawa telah melayang gurun yang gersang dengan pasir berwarna putih berubah kecoklatan akibat bercampur dengan tetesan darah dari kedua pasukan yang terus bertempur dengan gigih.
Sementara itu setelah siuman Jendral Chong terkejut menyadari bahwa dirinya berada di dalam tenda. Ia mencoba bangkit dari tempat tidurnya.
Para tabib mencoba menahan Jendral Chong yang masih terluka, namun sang Jendral justru membentak mereka, Jendral terus berjalan luka luka yang dia derita seakan lenyap karena tekadnya untuk kembali memimpin pasukan.
Jendral Chong naik ke punggung kuda dan memukul pantat kuda hingga berlari kencang ke tengah medan perang.
Jendral Chong mencabut pedangnya sambil memegang tali kuda. Satu tangan Jendral Chong memainkan pedangnya dan berhasil membuat prajurit Kaisar Liming meregang nyawa.
Jendral Chong tanpa sengaja melihat Kaisar Ciming dan juga Guru Chen mulai hilang keseimbangan menghadapi Wong Fe. Sementara Huan Zhu masih berjibaku melawan Wong Fu.
Guru Chen dan Kaisar ci terus berusaha selalu berdekatan agar untuk mengirit tenaga mereka bergantian menahan dan menyerang Wong Fe yang masih terlihat bugar.
"Jurus gabungan cakar elang naga" Guru Chen dan Kaisar Ci kembali menggabungkan jurusnya berusaha untuk mengulur waktu setidaknya sampai ada bantuan yang datang.
Wong Fe sudah tak mau di permainkan oleh kedua lawanya, ia kembali melontarkan bola bola api ke arah Kaisar Ci dan juga Guru Chen.
Sementara Jendral Chong melayang sambil berusaha menyerang Wong Fe dengan jurus pedang kematian.
Namun Wong Fe sudah membaca gerakan tersebut karena ia sudah beberapa kali melihat Guru Chen dan kaisar Ci menggunakanya.
__ADS_1
Wong Fe berusaha tenang dan konsentrasi, ia tak mau tertipu dengan gerakan pedang yang terlihat begitu cepat. Sementara begitu Jendral Chong mengarahkan sabetan pedangnya ke tubuh Wong Fe.
Wong Fe justru hanya berdiri terpaku seolah pasrah jika pedang itu menembus jantungnya.
Namun Jendral Chong terkejut begitu pedangnya berhasil menusuk tubuh Wong Fe tubuh itu hanya berupa bayanganya saja.
Sementara wujud Wong Fe yang asli berada di belakang Jendral Chong sambil mengayunkan pukulan Cakar iblis dan berhasil mengoyak punggung bagian belakang jendral Chong.
Guru Chen dan Kaisar Ci kaget begitu mengetahui Sang Jendral yang berusaha membantunya justru terkena jurus cakar iblis.
Jendral Chong meringis kesakitan namun setelah mengetahui dirinya sedang di perhatikan Kaisar Ci dan Guru Chen ia mencoba untuk menahanya dan tetap berdiri tegak sambil memegang pedangnya dengan erat.
" Tak usah banyak mulut, aku masih sanggup untuk melawanmu!" teriak Chong sambil menguatkan genggaman pedangnya.
"Baiklah sekarang bersiaplah untuk mati di depan Guru dan juga Rajamu, ha ha ha ha!" Wong Fe kembali mengejek Jendral Chong.
Jendral Chong menahan rasa sakit di tubuhnya dan berlari menyerang Wong Fe.
Wong Fe tidak berusaha bergerak dengan cepat ia hanya berusaha menghindar dengan memutar tubuhnya ke kiri dan kanan.
Setelah itu ia melepaskan tendanganya dan berhasil membuat Jendral Chong terlental ke belakang.
__ADS_1
Guru Chen berusaha menangkap tubuh Jendral Chong sementara Kaisar berlari untuk menyerang Wong Fe.
Sementara putri salju tak dapat berbuat banyak setelah pedang salju terlepas dari genggamanya, ia terus saja bergerak menghindari serangan yang terus di lancarkan Wong Fu.
Darah sudah terlihat mengering di bibir Huan Chu akibat luka dalamnya yang cukup lama.
Kali ini Fu justru menghentikan seranganya, ia berkata kepada Huan Chu untuk menyerah.
"Sudahlah nona cantik, tak usah kau lanjutkan pertarungan ini lebih baik dirimu jadi pendampingku saja!"
Tentu saja ucapan Wong Fu membuat puteri salju marah.
" Lebih baik mati dari pada aku harus menjadi pemuas napsumu manusia iblis!" ucap Huan Chu sambil meludah ke tanah.
Wong Fu merasa sangat terhina dengan ucapan Huan Chu, kali ini ia mengambil pedang salju milik Huan Chu dan segera mengayunkan ke arah kepala si puteri salju.
Sementara Huan Chu sudah pasrah ia memilih mati dari pada harus di nikahi oleh Wong Fu.
" Matilah kamu si puteri salju" teriak Wong Fu sambil mengayunkan pedang salju.
"Tongkat Pembelah Batu" sesosok tubuh melayang terlihatlah sebuah kilatan berwarna kuning meledak di tubuh Wong Fu. Wong Fu terpental ke belakang dan pedang salju melayang dan jatuh tepat di hadapan Huan Chu.
__ADS_1