
Sudah hampir sepekan Jaka dan Dewi berada di lembah tengkorak. Mereka terpaksa menunda untuk mencari Kalinggi karena ingin membantu Purwaka dan juga gurunya. Penduduk sekitar Bukit Tengkorak juga sudah mulai resah, pasalnya juga banyak warga yang mati mendadak dengan ciri yang sama yaitu tubur menghitam dan di dapati sebuah jarum tertancap di tubuh mereka.
Kini kedua perguruan yaitu macan kumbang dan tengkorak hitam bersatu untuk menangkap hidup atau mati si pembunuh yang misterius.
Cukup lama mereka mencari, namun belum ada titik terang siapa sebenarnya orang misterius tersebut.
Jaka dan Dewi juga mencoba mengintai di tempat di mana pendekar itu menampakan diri untuk membuat keonaran.
Namun memang pendekar misterius cukup lihai karena ia bisa memanipulasi tenaga dalamnya hingga keberadaanya sulit di deteksi.
Jaka juga sudah berulang kali melakukan penerawangan dengan mata batinya untuk mengetahui rupa dari pendekar jarum beracun, namun justru bayangan yang muncul adalah wajah wajah orang yang sangat di kenalnya seperti ayah dan ibundanya dan kadang juga dengan rupa yang beda.
Sementara Ki Layung Seta dan Ki Sangga Buana juga sudah menyebar murid muridnya untuk melakukan pengintaian.
Namun mereka tetap belum bisa mendapatkan informasi, bahkan sudah banyak korban yang tiba tiba mati terkena jarum beracun yang seperti melayang sendiri.
Sungguh pendekar yang sangat mengerikan. Kini sudah tak terhitung lagi nyawa yang hilang terkena jarum beracun tersebut.
Jaka dan Dewi juga tidak bisa berbuat banyak untuk membantu.
Hingga suatu malam Jaka berdoa dan memohon petunjuk kepada sang pencipta Allah SWT, dengan melakukan solat malam.
Dalam pikirnya terlintas untuk melakukan ragasukma dalam pengintaian supaya si pendekar jarum beracun tak bisa merasakan kehadiranya.
Namun ia harus melakukanya pada siang hari, karena jika malam hari akan sangat berbahaya,pasti akan banyak mahluk yang tak kasat mata akan mengganggunya.
Keesokan harinya seperti biasa, Purwaka dan murid yang lain kembali melakukan pengintaian.
Sementara Jaka dan Dewi memilih untuk bersemedi. Jaka akan melakukan ragasukma sedangkan Dewi di perintahkan untuk menjaga raganya.
Kali ini Purwaka melihat sekelebat bayangan di antara pepohonan, ia pun segera menggunakan ilmu meringankan tubuhnya dan melayang di antara pepohonan mencari bayangan yang ia lihat.
Sementara teman temanya berlari mengikuti gerakan Purwaka.
Tiba tiba Purwaka di serang oleh beberapa jarum beracun yang berterbangan.
Dengan cepat ia mengambil tumbak macan kumbang dan memutar mutar untuk membuat perlindungan.
Jarum beracun terpental dan mengenai dahan dahan pohon.
Dahan tersebut langsung layu dan seperti hangus terbakar.
" Hai pendekar pengecut, tunjukan batang hidungmu kita bertarung secara ksatria!" teriak Purwaka.
__ADS_1
Namun tidak ada suara yang menyahut. Purwaka kembali bersiap dengan tumbaknya menyambut puluhan jarum yang melayang ke arahnya.
Ia kembali memutar mutar tumbaknya.
Kini terlihat puluhan jarum kembali melayang bergerak cepat menyerang Purwaka.
Purwaka nampak mulai kesulitan untuk menghindar, namun untunglah bala bantuan segera tiba. Ki Layung Seta segera menggunakan tenaga dalamnya hingga jarum beracun berbelok arah.
Rupanya tak hanya ki layung seta, Ki Sangga Buana dan para muridnya juga sudah tiba, mereka juga mengalami hal sama puluhan jarum beracun melayang dan menyerang Ki Sangga Buana dan murid muridnya.
Ki Sangga Buana mencoba menggunakan tongkatnya untuk melindungi dirinya dan juga murid muridnya.
Kini suasana di lembah tengkorak sedikit mencekam, mereka harus berjibaku menghadapi serangan jarum beracun yang munjul tiba tiba.
Sukma Jaka terus saja melayang layang dan mengamati jarum jarum yang berterbangan.
Ia tak perlu menghindar karena sukmanya yang halus tidak bisa terkena senjata seperti layaknya asap dan udara.
Jaka terus memfokuskan pandanganya mengamati darimana pendekar misterius mengeluarkan jarum tersebut.
Jaka terlihat kesal karena tidak dapat mengetahui dari letak pendekar misterius melemparkan senjatanya.
Sementara itu korban terus berjatuhan para murid macan kumbang dan tengkorak hitam yang tidak bisa menghindar harus meregang nyawa dengan tubuh menghitam.
Sementara itu kedua ketua perguruan menjadi murka melihat murid muridnya binasa.
Ki Layung Seta mengamuk dan mengeluarkan tenaga dalamnya menyerang ke segala arah berharap salah satu seranganya berefek kepada si pemilik jarum beracun.
Begitu pula dengan Ki Sangga Buana ia juga mengamuk melihat murid muridnya mati terkena jarum beracun.
Beliau mengubah tongkatnya menjadi sosok ular raksasa dan menyemburkan api ke segala penjuru.
Namun kini justru semakin banyak jarum berterbangan ke arah mereka.
Sementara Jaka merasa ada getaran dari pedang suci, nampaknya itu adalah sinyal bahwa ia harus menggunakanya, namun itu artinya ia harus kembali ke raganya.
Sukma Jaka melayang meluncur masuk kembali dalam raga.
Dewi sempat terkejut.
" Apa yang terjadi Kanda?"
"Dinda kita harus segera menyusul Purwaka dan yang lainya mereka dalam bahaya!" balas Jaka.
__ADS_1
Keduanya segera beranjak dan bersama sama melayang di udara.
Dewi langsung menggunakan ajian Dewa Angin untuk membelokan jarum beracun yang menyerang teman temanya.
Sementara Jaka mengeluarkan pedang suci sembari berteriak.
" Siapapun kamu aku harap segera menampakan wujudmu atau pedangku ini akan mengahiri hidupmu!"
Semua orang terpukau melihat pedang bercahaya sangat terang, jarum jarum yang berterbangan juga tiba tiba lenyap lebur terkena pancaran dari cahaya pedang suci.
Sementara itu di sebuah tempat di balik semak semak nampaklah seorang wanita dengan rambut berwarna perak terpana melihat cahaya yang terang benderang, tubuhnya seakan merinding karena merasa kekuatan yang bersumber dari cahaya tersebut begitu dasyat.
" Ehmm, nampaknya kali ini aku harus pergi"
Wanita itu pun segera beranjak dan melayang meninggalkan lembah tengkorak.
Jaka merasa jengkel dan segera melepaskan pedangnya. Pedang suci melayang dan meluncur ke arah timur, Jaka mencoba mengikuti pedang suci. Sementara Dewi segera merubah wujudnya menjadi elang raksasa dan menyambar Jaka untuk naik ke punggungnya.
Sementara itu Ki Layung Seta dan juga Purwaka serta Ki Sangga Buana dan para muridnya hanya terdiam.
Mereka bingung dengan apa yang sedang terjadi.
Sementara itu si wanita berambut perak segera mempercepat laju terbangnya ia merasa ada kekuatan super dasyat yang sedang mengikutinya.
Ia juga mengambil sebuah jarum yang kemudian ia lemparkan ke belakang.
Jarum tersebut melayang dan menjadi banyak dan bergerak ke arah pedang suci.
Cahaya pedang suci kembali terpancar dan meleburkan semua jarum menjadi debu.
Pedang suci terus bergerak dan mengejar wanita berambut perak.
Kini si wanita berambut perak mencoba membelah raga menjadi tiga untuk mengecoh.
Namun rupanya Jaka yang melihat kejadian itu semakin tak bisa membendung amarahnya dan langsung memukul kedua wujud wanita berambut perak dengan ajian penghancur karang.
Kedua wujud tersebut segera hancur dan menghilang.
Kini Jaka kembali menarik pedang sucinya dan memasukanya ke dalam tubuhnya.
Dewi terus mempercepat terbangnya mengejar si wanita berambut perak.
Cukup lama mereka kejar kejaran hingga wanita berambut perak tiba tiba meluncur turun dan berlari di antara semak semak.
__ADS_1