
Di pagi buta Nilam terlihat sudah sibuk membantu para pelayan memasak. Di sela sela perbincangan juga banyak pelayan yang menganggap wajah Nilam sangat mirip dengan Nawang Sari.
Nilam yang penasaran bertanya kepada salah satu pelayan tentang Nawang Sari kenapa nama dan wajahnya juga di anggap hampir sama.
Diapun terdiam dan tak bisa berkata kata bahwa Nawang Sari merupakan anak tunggal dari Patih Layung Kencana dan juga Arum Sari. Dadanya terasa sesak, jantungnya semakin keras berdetak, namun ia berusaha untuk kembali tenang agar tidak ada kecurigaan dari para pelayan.
Diam diam Nilam pergi menuju kediaman Patih Layung Kencana untuk menyelidiki. Dia berganti pakaian serba hitam dan wajahnya di tutupi kain. Nilam mengendap endap hendak menyusup. Namun kedatanganya di ketahui prajurit jaga hingga terjadi keributan.
Nilam yang tak mau kena masalah memutuskan untuk pergi sebelum kedatanganya di ketahui oleh Patih Layung Kencana.
" Maaf Dinda aku pergi dulu sepertinya di depan ada keributan"
Patih Layung Kencana bergegas keluar dan mengecek keadaan.
" Ada keributan apa prajurit?
" Maaf Paduka tadi ada penyusup, kami tidak berhasil menangkapnya dan dia berhasil kabur"
Tentu saja hal itu membuat Patih Layung Kencana merasa aneh sebab baru kali ini ada orang yang berani mengusik ketenanganya.
Sementara Nilam telah kembali ke kamarnya dan berganti pakaian biasa, dia kembali menuju dapur untuk membantu menyiapkan makanan. kala itu Arum Sari secara kebetulan sedang mencicipi masakan yang akan di hidangkan kepada Raja.
Nilam yang berjalan buru buru tanpa sengaja menabrak dan makanan yang sedang ia pegang jatuh.
Nilam Sari segera berlutut dan minta maaf.
" Maaf Paduka, aku tidak sengaja aku tadi buru buru"
" Jleggg"
Arum Sari tercengang ketika gadis yang menjatuhkan makananya menengadahkan wajahnya.
" Kamu siapa, apa kamu pelayan baru di sini?
"Namaku Nilam Paduka, aku adalah teman dari panglima yang baru"
__ADS_1
Arum Sari kembali mengamati wajah Nilam dan ternyata memang banyak kesamaan dengan Nawang Sari. Oleh karena itu ia mengajak Nilam untuk bertemu dengan Nawang Sari.
" Ndo, apa kamu mau ikut denganku? "
Nilam yang merasa bersalah atas perbuatanya mengangguk dan mengikuti Arum Sari pergi kerumahnya.
Ia lantas memanggil Nawang Sari untuk keluar. Tentu saja Nawang Sari juga terkejut melihat gadis di depanya.
" Ibunda, siapa gadis ini bu, ko wajahnya mirip denganku"
Sementara itu Nilam tak bisa lagi menyembunyikan rasa bahagianya air matanya jatuh berlinang hingga membuat Arum Sari matanya jadi berkaca kaca.
" Apa Namamu Nilam Sari,ndo?
Nilam sudah tak bisa berkata kata dan menangis sejadi jadinya. Arum Sari kini semakin yakin bahwa Nilam Sari adalah anaknya yang selama ini ia cari ia segera memeluk Nilam dengan erat.
"Ndo, aku ini Arum Sari ibumu. Ibu sudah mencarimu kemana mana ".. mendengar nama Arum Sari tangis Nilam menjadi semakin keras. Dia juga memeluk Ibunya dengan sangat keras.
Menyadari bahwa gadis di hadapannya adalah kakaknya Nawang juga menangis haru dan memeluk Nilam dengan sangat erat. Setelah suasana mencair dan sudah tenang. Arum Sari segera menceritakan semua hal, tanpa di tutup tutupi. Dia juga sudah putus asa jika memang Nilam Sari sudah di makan binatang buas saat di buang di hutan.
Namun tiba tiba prajurit berlari mengabarkan berita bahwa Patih Layung Kencana pergi bersama prajurit untuk menyelidiki sebuah wilayah yang di jadikan oleh Darma Kandi untuk menyusun kekuatan.
Tentunya hal itu membuat Nilam harus mengubur rasa rindunya untuk memeluk sangat ayah yang sangat di rindukan.
Beberapa hari berlalu belum ada kejelasan, Patih Layung Kencana belum juga kembali, hal itu membuat raja Burnama Kandi menjadi ketar ketir. Sang Raja mengutus Tirta untuk menyusul. Nilam juga bersikeras untuk ikut bersama Tirta agar bisa segera bertemu dengan ayahnya.
Kali ini jumlah pasukan lebih banyak di bawah komando Tirta mereka segera berangkat dan membawa perbekalan, di samping itu para prajurit juga memakai baju perang.
Di sepanjang perjalanan rakyat mulai bertanya tanya melihat pasukan beriringan lengkap memakai baju perang, mereka juga ketakutan kalau sampai ada peperangan yang bakal terjadi.
Rupanya Nawang Sari juga tak mau berpisah dengan kakak tercinta yang selama ini hanya mendengar kisahnya dari ibunda Arum Sari.
Hingga ia nekat untuk ikut, walaupun awalnya Arum Sari tidak memberi izin, namun Nawang tetap pada pendiriannya tidak mau terpisah dengan Kakaknya Nilam Sari.
Tirta memakai pakaian kebesaran sebagai panglima, para gadis yang kebetulan sedang berada di tepi jalan saat rombongan lewat menjadi terpesona dengan ketampanan panglima Hutan Kayu Emas yang baru.
__ADS_1
Tak pelak hal itu membuat Nilam cemberut, sesekali Nawang wulan juga menggoda kakaknya.
" Kakak cemburu ya, kepada panglima Tirta? "
" Tidak Nawang aku hanya tak suka mereka melihat kanda Tirta dengan tatapan seperti itu"
sementara Tirta sengaja melambaikan tangan kepada para gadis hingga membuat mereka jadi salah tingkah. Sementara itu Patih Layung Kencana menyuruh dua punggawa untuk mendekati sebuah bangunan yang di kelilingi dinding tinggi yang terbuat dari kayu.
Terlihat banyak orang berlalu lalang, bahkan terlihat ada beberapa orang yang memakai baju prajurit kerajaan kayu emas yang memasukinya.
Rupanya kedatangan Patih Layung Kencana sudah di ketahui oleh Damar Kandi, namun ia sengaja membiarkan agar mereka terpancing dan dapat masuk perangkap yang sudah di siapkan jauh jauh hari. Ternyata Patih Layung Kencana tak mengetahui jika pasukanya sudah di kepung dari empat mata angin.
Patih Layung Kencana juga hanya membawa sekitar seratus prajurit, karena tujuan mereka hanya ingin mengawasi. Namun justru kini mereka terkepung oleh ribuan orang prajurit yang berhasil di himpun oleh Damar Kandi yang terdiri dari prajurit yang sepaham denganya serta warga yang berhasil di pengaruhi.
Damar Kandi juga di bantu oleh beberapa orang pendekar yang pernah menjadi gurunya. Namun itung itungan matematika mereka masih kalah banyak jika pasukan Hutan Kayu Emas mengerahkan semua pasukanya. Jadi karena itu Damar Kandi belum berani membrontak secara terang terangan.
Patih Layung Kencana terkejut dengan serbuan anak panah yang tiba tiba datang dari berbagai penjuru.
Para prajurit panik dan menggunakan tameng yang mereka bawa untuk melindungi diri dari serangan panah.
Namun karena saking banyaknya mereka akhirnya banyak yang terkapar berlumuran darah.
Di dalam kepanikan puluhan orang datang dari berbagai penjuru untuk menyerang.
Patih Layung Kencana memerintahkan untuk melawan dengan sekuat tenaga karena sudah tak ada jalan untuk mereka berlari. Pertempuran yang tidak imbang sudah jelas siapa yang akan memenangkanya.
" Menyerahlah paman Patih, atau aku akan memerintahkan pasukanku untuk menghabisi semua prajurit yang kau bawa"
Patih Layung Kencana tak mau mengorbankan semua pasukanya yang pastinya akan mati konyol dia segera memerintahkan para prajurit untuk menyerah kepada Damar Kandi.
Damar Kandi segera menyuruh pasukanya menahan Patih Layung Kencana dan juga para prajurit Hutan Kayu Emas.
Bersambung.
" Selamat Hari kemerdekaan RI yang ke 78,semoga Indonesia semakin maju di semua sektor, menuju Indonesia yang sejahtera, aaaa Amiiiin"
__ADS_1