
Nilam membuka matanya setelah merasakan ada seseorang yang menyoleknya. Antara percaya dan tidak ia melihat Tirta berada di hadapannya. Nilam segera meraih Tubuh Tirta dan memeluknya dengan erat.
" Kanda sukurlah kamu baik baik saja".
Tirta membiarkan Nilam dalam pelukannya ia bahkan membelai kepala Nilam dengan lembut..
" Maafkan Dinda ,Karena diriku kamu harus seperti ini. Kenapa kau tidak pergi saja dari hutan ini."
" Tidak Kanda,lebih aku mati bersamamu disini. Toh belum tentu juga aku dapat keluar mendaki lembah ini dengan selamat"
" Oh ia benar juga. He he terimakasih kau sudah rela kesepian di lembah ini".
Sampai akhirnya Artaloka menampakan wujudnya dan membuat Nilam segera melepas pelukannya
" Tak usah malu,itu wajar kok,pasti kamu mencintai Tirta ia?"
" Tidak kamu siapa? Aku hanya menghawatirkan keselamatannya" balas Nilam.
" Ayo cepat Pangeran kamu ambil pedang Naga Emas!"
Dengan sekali gerakan Artaloka mengangkat tanganya dan membuat air yang memenuhi telaga seketika hilang .
" Cepat ambilah sebelum air itu penuh kembali!".
Tirta segera melayang dan menyambar cahaya keemasan yang melayang layang di atas telaga.
Artaloka segera memegang cahaya itu dan mengubahnya menjadi Pedang Naga Emas.
" Tugasku telah selesai Pangeran,untuk selanjutnya kamu harus bisa menguasai mantera Elang Raksasa jika ingin keluar dari lembah ini. Jangan kau lupakan anaku Sariti jika ada waktu kembalilah untuk menemuinya"
" Clinggggggg".
Seketika Artaloka lenyap. Bersama itu pula keberadaan goa itupun hilang yang ada hanya hutan belantara.
Tentunya untuk kesekian kalinya Tirta dan Nilam terheran heran.
Tirta segera mencoba pedang Naga Emas,ia terkejut ketika cahaya keemasan melesat keluar dari pedangnya dan berubah menjadi sesosok naga raksasa dengan cahaya seperti kuning keemasan.
" Tuanku kini aku akan mengabdi kepadamu, jika kau mencabut pedang naga seketika itu pula aku akan keluar"
Tirta merasa terpukau namun karena cahaya dari naga sangat menyilaukan mata ia pun segera memasukan pedangnya ke warangka dan wujud naga segera hilang.
__ADS_1
Ia mencoba kembali mencabut pedangnya dan membuat naga emas kembali muncul.
" Apakah ada bahaya tuanku"
"Tidak naga aku hanya ingin mencobanya".
" Aduh tuanku aku bukan barang mainan"
" O ia ,maaf naga emas.Aku khilaf,baiklah sekarang masuklah kamu menyatu dengan pedang ini!"
" Siiiiiapppp tuan"
Tirta kembali menyarungkan pedangnya hingga naga berubah menjadi cahaya keemasan dan masuk kembali ke warangka.
Nilam tak habis pikir dengan kelakuan Tirta.
" Kang mbok ya jangan di jadikan mainan. Ingat jerih payahnya taruhanya nyawa. Sekarang kita harus berpikir bagaimana caranya kita keluar dari lembah ini"
" Ia Nilam tapi sebaiknya sekarang kamu istirahat saja biar aku mencari makanan dulu ,perutku rasanya sudah keroncongan"
Jaka menitipkan kitab Elang Sakti kepada Nilam beserta pedang halilintar yang telah di gantinya dengan pedang Naga Emas.
" Ia sudah hati hati Kang!"
Sementara itu secara tidak sengaja kitab sakti tertiup angin hingga Nilam tak sengaja melihatnya. Nilam berusaha mengamati dan membaca tulisan yang ada di dalam kitab Elang Sakti.
" Mantera Elang Raksasa"
Nilam kembali menutup Kitab itu,namun angin kembali meniupnya hingga terbuka di bagian yang sama. Kali ini Nilam membacanya hingga ia hafal mantera berubah wujud menjadi Elang Raksasa.
Setelah beberapa kali membaca mantera Nilam merasakan keanehan dalam dirinya ,kulitnya yang halus nampak keluar bulu seperti saekor burung. Ia justru ketakutan dan melempar kitab Elang Sakti.
Rupanya ia merasakan hal yang aneh ,Nilam segera mencari air dan kemudian bercermin.
Matanya terbelalak ketika menyadari pipinya telah di penuhi bulu. Ia pun menyadari bahwa jangan jangan dirinya yang di maksud oleh tulisan yang berisi tentang perempuan pewaris Elang Raksasa.
Ia buru buru kembali dan membuka kitab Elang raksasa,ia mencari mantera untuk kembali menjadi manusia . Setelah membaca beberapa kali Nilam hafal sejalan dengan itu bulu bulu yang memenuhi tubuhnya seketika hilang.
Ia pun membaca mantera untuk berubah menjadi Elang dan usahanya berhasil. Setelah berubah wujud Nilam mencoba terbang dengan mengepakan kedua sayapnya namun karena masih kagok tubuhnya justru menabrak pohon besar dan kemudian jatuh.
Nilam terus mencoba hingga ia dapat mengatur kedua sayapnya bahkan ia begitu girang ketika berada di Awang Awang tubuhnya dapat melihat keindahan luar biasa dari alam jagad raya.
__ADS_1
Namun tiba tiba pandangnya kabur dan jatuh tersangkut di dahan pohon besar yang menjulang tinggi. Nilam tak kuasa merasakan sakit hingga tak sadarkan diri. Sementara itu Tirta telah kembali setelah mendapatkan makanan,ia menemukan kitab dan pedang halilintar di tempat semula,namun Nilam tak kunjung datang hingga Tirta mulai cemas.
Diapun berteriak memanggil Nilam namun tak ada suara yang menyahut.
Tirta segera mengambil Kitab Elang Sakti dan memasukannya di balik bajunya. Pedang Halilintar juga di ikatkan di pinggang sebelah Kiri. Tirta terus mencari hingga matahari mulai meninggi dan hampir tenggelam.
Tirta berusaha mencari keberadaan Nilam di goa Drupadi namun goa itu kosong tak berpenghuni.
Tirta akhirnya memutuskan untuk melakukan penerawangan untuk mendeteksi keberadaan Nilam,ia pun kaget melihat tubuh Nilam yang pingsan tersangkut di atas pohon. Tirta segera melayang dan mengakat tubuh Nilam dan membawanya masuk ke dalam goa. Rupanya dua pasang mata sedaari tadi mengawasi.
Nampaknya Mahisa dan Mayang masih berambisi untuk mendapatkan Kitab dan pedang Naga agar mereka berdua bisa keluar dari lembah Arjuna. Mereka akan menyelinap masuk ke dalam goa di saat malam setelah Tirta tertidur.
Sementara Tirta merasa khawatir dengan tubuh Nilam yang begitu lemas seperti tak bertenaga ia segera menyalurkan hawa murni agar Nilam kembali memiliki tenaga dan cepat siuman.
Gelapnya malam menambah seram suasana lembah Arjuna. Tirta membuat api di depan mulut goa berharap agar hewan malam tidak mendekat.
Ia duduk di sebelah Nilam yang masih belum siuman,hingga tak terasa kantuk mulai menyerang dan akhirnya tertidur.
Mahisa dan Mayang yang sedari tadi mengawasi segera masuk,mengendap endap kakinya juga sedikit di angkat supaya gerak langkahnya tidak menimbulkan suara . Mayang segera mencari keberadaan kitab Elang Sakti namun dia melihat Kitab itu terselip di celana yang di kenakan Tirta. Hal itu tentu membuat dirinya batal mengambil kitab Elang Sakti . Justru Mahisa dan Mayang mengambil dua pedang Sakti yang di letakan Tirta agak jauh dari tempatnya berbaring.
Nilam yang kala itu sudah siuman,melihat dua sosok bayangan keluar dari goa dia pun segera bangun dan mencoba membangunkan Tirta.
" Kanda bangun,ada penyusup"
Tirta segera bangun dan tanganya mengusap mulutnya membersihkan liur karena tidur dengan posisi miring.
" Dimana pedangku ,Nilam?"
Nilam yang sudah bangun lama segera bangkit dan mencari,namun kedua pedang Tirta telah raib.
" Mungkin di bawa oleh dua orang itu ,Kang!"
Tirta segera meraba Kitab Elang Sakti dan ternyata masih terselip di celananya.
" Pasti kelakuan sepasang pendekar yang kemarin kita kalahkan. Ini bahaya Dinda ,kalau pedang itu di gunakan untuk menebar kejahatan"
" Terus bagaimana Kang. Apa kita akan mencarinya sekarang?"
" Tidak usah kita tunggu sampai waktu pagi,mereka pasti masih ada di lembah ini ,konon tak ada yang bisa keluar dari lembah ini kecuali orang yang berhasil mempelajari kitab Elang Raksasa tingkat akhir"
Nilam mematuhi perintah Tirta,keduanya pun berbaring untuk melanjutkan tidurnya.
__ADS_1
Bersambung.