JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA

JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA
Serangan Mhing Chun


__ADS_3

Ming Chun semakin geram dan menunda penyarangan terhadap kaisar Feng yang dulunya merupakan orang yang sangat berjasa bagi Mhing Chun. Karena ancaman dari para pemberontak sudah tidak bisa di remehkan.


Kini Mhing Chun kembali menyuruh Mung Yi membawa pasukan dengan jumlah yang lebih banyak sekitar kurang lebih sepuluh ribu agar bisa meluluh lantakan para pemberontak yang di pimpin oleh jendral Chong dan juga berniat untuk menghancurkan benteng pertahanan mereka.


Tak tanggung tanggung Ming Yi juga menyertakan beberapa kereta yang membawa meriam peledak untuk membombardir benteng Karang Kekal.


Rupanya Mhing Chun sebelumnya sudah melakukan meditasi untuk menembus mata batinya untuk mengetahui lokasi benteng Karang Kekal. Mhing Chun juga kali ini mengundang anak buahnya yang masih berada di padepokan Iblis Merah untuk membantu penyerangan.


Sementara itu Kaisar Ciming juga sudah berhitung dengan cermat,bahwasanya setelah kekalahan untuk kesekian kalinya pastilah Mhing Chun akan mengerahkan lebih banyak pasukanya untuk menggempur dirinya dan juga pasukanya. Walaupun Kaisar sedikit risau tapi berkat saran Jendral Chong yang memang ahli dalam strategi perang ia pun tidak terlalu khawatir.


Kali ini Jendral Chong kembali memerintahkan para prajurit untuk membuat jebakan yang lebih banyak. Jendral Chong juga menyuruh untuk jalan masuk di cangkul cukup dalam kemudian di siram air agar becek dan menyulitkan pasukan musuh untuk melewatinya. Harapannya supaya kuda atau kereta yang membawa meriam tidak bisa melintas,karena akan sangat berbahaya jika meriam sampai ke dekat benteng dan mampu menjebol dinding yang hanya terbuat dari kayu.


Jaka dan Dewi juga terlihat serius melatih para prajurit dan memberikan wejangan untuk memperkuat mental para prajuritnya.


Sementara itu Mung Yi beserta sepuluh ribu pasukanya mulai memacu kudanya di tengah tengah pasukan terlihat ratusan kereta yang membawa meriam. Mhing Chun berdiri sambil berkacak pinggang melihat pasukanya mulai keluar dari gerbang istana.


" Kali ini kalian semua akan binasa" Gumam Mhing Chun dalam hati sambil tersenyum sinis.


Setelah cukup lama menempuh perjalanan Mung Yi memerintahkan pasukanya untuk beristirahat dan membuat kemah sebelum memasuki hutan yang terjal dan berbukit. Kali ini ia lebih waspada dan tak mau jumawa seperti sebelumnya.


Sementara itu ketegangan mulai terasa ketika dua orang mata mata melapor kepada Jendral Chong bahwa musuh telah sampai di tepi hutan dan sedang beristirahat. Mata mata juga memberi laporan tentang jumlah pasukan musuh dan juga dan juga alat tempur yang mereka bawa.

__ADS_1


Jendral Chong sedikit gundah ketika mengetahui bahwa musuhnya membawa ratusan meriam dan itu tentunya sangat berbahaya untuk pasukanya.


Ia pun segera melapor kepada Kaisar Ci dan meminta saran.


Kaisar Ci berkata bahwa jumlah kereta meriam harus berkurang karena akan sangat berbahaya jika ratusan meriam di ledakan secara bersamaan maka bentengnya akan seketika hancur dan ribuan pasukanya pasti akan binasa.


Semua orang terdiam dan berusaha mencari jalan keluar. Jaka seketika mengangkat tangan dan memberi usul supaya Kaisar Ci mengizinkan dirinya pergi bersama Dewi untuk sekedar melihat kekuatan musuh sambil mencari cara untuk melenyapkan meriam meriam tersebut.


Awalnya Kaisar Ci tak mengizinkan namun Guru Chen ikut angkat bicara dan meyakinkan Kaisar bahwa Jaka Kelana dan juga Dewi Kumalasari mampu menjaga diri mereka.


" Kaisar Ci, aku sangat yakin bahwa Jaka dan Dewi dapat menjaga diri. Dan di antara kita semua memang hanya mereka yang tepat untuk melakukan tugas berat tersebut" tegas Guru Chen.


Jaka dan Dewi segera berpamitan dan kemudian melompati tembok benteng yang sangat tinggi. Para prajurit berdejak kagum melihat keduanya dapat melompati benteng yang sangat tinggi.


Suara Elang Raksasa menggema hingga terdengar oleh para pasukan musuh yang sedang asyik menyantap makanan.


Mereka pun berbincang dengan suara yang mereka dengar, sebagian orang tidak berefek tapi sebagian lagi ada yang ketakutan.


Matahari mulai condong ke barat dan langit mulai memerah, Jaka dan Dewi terlihat mengamati dari atas pohon besar dan mulai merencanakan aksinya. Keduanya akan beraksi di kala waktu sudah malam dan banyak di antara mereka yang sudah terlelap dalam mimpi.


Jaka dan Dewi segera bangkit dan melayang ke tepi sungai untuk mengambil wudhu dan bersiap untuk malaksanakan solat.

__ADS_1


Dan menunggu waktu hingga larut tengah malam untuk menjalankan aksi.


Suara lolongan Serigala 🐺 dan hewan malam mulai bersahutan udara dingin juga seakan menusuk tulang.


Jaka dan Dewi terpaksa membuat api 🔥 unggun untuk menghangatkan badan sambil membakar hewan buruan untuk makan malam.


Waktu yang di tunggu telah tiba malam semakin larut Jaka dan Dewi kembali melompat dan mendekati kemah musuh. Terlihat para prajurit telah memasuki tenda dan hanya tersisa beberapa orang yang masih berpatroli.


Jaka dan Dewi segera melesat mendekati kemah dan berniat melumpuhkan para penjaga. Namun rupanya Mung Yi mengetahui kedatanganya dan langsung menghadang.


Dalam sekejap anak buah Mung Yi juga berdatangan mengepung Jaka dan Dewi. Pertarungan tak dapat di hindarkan hingga Jaka terpaksa langsung tancap gas mengeluarkan ajian pamungkas pukulan penghancur karang dan membuat puluhan orang terhempas terkena pukulanya. Dewi juga melakukan hal yang sama ia segera mengeluarkan jurus Dewa angin dan membuat puluhan orang terlempar bahkan beberapa tenda ikut tersapu oleh gelombang angin ciptaanya dan membuat suasana kocar kacir.


Para prajurit segera bangun dan langsung bergabung mengeroyok Jaka dan Dewi. Kali ini Jaka dan Dewi berusaha memancing mereka masuk ke hutan untuk lebih memudahkan mengurangi jumlah musuh. Suasana hutan yang gelap memudahkan Jaka dan Dewi bergerak dan merobohkan satu demi satu musuh musuhnya dengan mudah, Jaka dan Dewi tak berniat membunuh dan hanya melumpuhkan mereka dan membuat mereka pingsan dalam beberapa hari kedepan. Mung Yi terus berupaya menangkap Jaka namun Jaka bukanlah orang yang mudah untuk di tangkap. Justru kali ini Mung Yi kebingungan ketika Jaka menggunakan ilmu Halimun untuk mengecohnya.


Sementara Dewi rupanya sudah menguasai ajian Raga Sewu hingga dia dapat merubah dirinya menjadi ratusan wujud dan membuat para prajurit kebingungan.


Mung Yi pun mulai di buat jengkel dengan kedatangan Dewi yang tiba tiba memukulnya dari belakang.


Belum sempat Mung Yi mengobati rasa jengkelnya tiba tiba suara petir menggelegar di malam yang gelap gulita dan suara jeritan terdengar di mana mana.


Di tengah tengah kemah juga muncul api yang tiba tiba berkobar dan membumi hanguskan kereta yang membawa meriam. Ratusan bola meriam meledak terkena panasnya api hingga ribuan orang yang masih terlelap tidur terpanggang. Mereka pun kocar kacir berlari menyelamatkan diri. Suara ledakan demi ledakan menggema hingga terdengar ke atas bukit di mana benteng Karang Kekal berada. Kaisar Ci dan Jendral Chong serta Guru Chen tersenyum , karena itu menandakan keberhasilan Jaka dan Dewi Kumalasari.

__ADS_1


Merekapun bergegas masuk ke tenda untuk beristirahat.


Sementara itu Jaka dan Dewi rupanya telah pergi kembali ke benteng, dan Mung Yi serta pasukanya masih bertarung dengan jelmaan Dewi. Namun tak berapa lama semua wujud Dewi musnah dan membuat Mung Yi semakin marah besar karena merasa di tipu hanya bertarung dengan angin hampa.


__ADS_2