JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA

JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA
Pergi Berburu


__ADS_3

Patih Wiranata sudah menyusun siasat dengan begitu matang.


Jaka dan Dewi juga sudah bersiap di tempat sesuai arahan dari Patih Wiranata.


Raja Sadewa juga tak menaruh curiga ketika Patih Wiranata mengajaknya untuk berburu sebelum berangkat ke medan perang.


Apalagi Sadewa juga sudah lama tidak menggunakan busurnya untuk membidik rusa yang banyak terdapat di hutan yang letaknya tak jauh dari istana.


Surasena serta Kuda Merta juga nampak senang ketika di ajak Raja untuk berburu.


Apalagi ia ingin menunjukan kemahiran memanahnya kepada Raja supaya di sanjung.


Begitu pula beberapa orang pendekar aliran hitam yang berasal dari Lembah Tengkorak yang berjumlah lima orang yang kemampuanya di atas rata rata.


Mereka juga ingin unjuk gigi di depan Raja,rupanya walaupun sama sama dari aliran hitam namun juga ada persaingan antara Surasena, Kuda Merta dengan orang orang dari Lembah Tengkorak.


Mereka sama sama ingin merebut simpati dari Raja Sadewa.


Mengingat semua persiapan telah siap Patih Wiranata segera memimpin rombongan menuju hutan yang tak jauh dari istana.


Patih Wiranata juga sengaja membawa sedikit prajurit untuk mengawal.


Surasena" Kuda Merta, kita harus bisa mencari simpati dari Raja jangan sampai kita kalah dari orang orang lembah tengkorak!"


"Tentu Kang, aku pasti akan tunjukan kemampuan memanahku kepada Raja!" balas Kuda Merta.


Begitu pula dengan gerombolan lembah tengkorak, mereka juga tak sudi jika terus di injak injak kehormatanya oleh Surasena dan Kuda Merta.


Tak perlu waktu lama, mereka pun akhirnya tiba di hutan, Patih Wiranata menyuruh para prajurit mendirikan tenda, sementara ia mengajak raja beserta punggawa memasuki hutan untuk mencari buruan.


Jaka dan Dewi yang sudah bersiap dengan menggunakan topeng dan jubah hitam sengaja memancing perhatian mereka dengan melepas anak panah dan kemudian terbang di antara pepohonan.


Patih Wiranata segera melompat dari kuda dan menangkis anak panah yang bergerak menuju kuda Raja Sadewa.


Sementara itu Surasena menyuruh ketua lembah tengkorak bersama anak buahnya untuk mengejar dua bayangan hitam yang melintas di atas mereka.


Dengan wajah sedikit kesal, Karpala bersama anak buahnya melompat dari kuda dan berusaha mengejar dua bayangan hitam yang melintas.


Jaka beserta Dewi sengaja berhenti setelah merasa orang yang mengejarnya sudah cukup jauh meninggalkan Raja.


Sementara Karpala dan ke empat anak buahnya segera mengepung dan menyerang Jaka beserta Dewi bersama sama.


Namun mereka kaget melihat pergerakan dua orang jubah hitam sangat cepat dan lincah bahkan dalam hitungan menit hanya tinggal Karpala seorang diri yang harus melawan dua orang berjubah.

__ADS_1


Rupanya anak buah Karpala kanuraganya masih di bawah rata rata.


Karpala mulai sedikit kewalahan harus melawan dua orang musuhnya.


Ia pun mundur untuk mencari ruang dan terlihat mengeluarkan senjata sebuah tumbak yang ujungnya berwarna ke emasan.


" Menyerahlah kalian berdua dan ikut denganku untuk menghadap Raja, sebelum tumbak kiai saketi ******* kalian" bentak Karpala.


Jaka" Hati hati dinda nampaknya tumbak itu memiliki kekuatan yang cukup dasyat!"


Melihat musuhnya saling berbisik Karpala segera menggerakan tumbaknya.


Cahaya kemerahan keluar dari tumbak Kiai Saketi, untunglah Jaka dan Dewi bergerak cepat menghindari Cahaya kemerahan yang mampu menghancurkan pohon besar yang berada di belakang mereka.


" Dooooorrr"


"Bruuuugkkk"


Pohon meledak dan kemudian roboh.


Jaka dan Dewi terus berusaha menghindari cahaya yang keluar dari tumbak kiai saketi yang seakan tak ada habisnya.


" Ha ha ha ha ha ha, mampuslah kalian berdua!" ejek Karpala sambil terus terbahak.


Namun karpala semakin kencang memutar mutar tumbak kiai saketi dan berhasil menahan hawa dingin dari jurus mengubah suhu milik Dewi Kumalasari.


Sementara Jaka hanya menonton karena Dewi terlihat begitu ambisi untuk mengalhkan Karpala.


" Hati hati dinda" Teriak Jaka ketika melihat Dewi terpental ke belakang.


" Tenanglah Kanda, aku baik baik saja, ini baru pemanasan!" teriak Dewi menjawab teriakan suaminya.


Karpala semakin emosi ia merasa di rendahkan dengan ucapan Dewi.


Karpala kini kembali menggerakan tumbak kiai saketi dengan lebih cepat, hingga tak terasa api sudah berkobar membakar rumput rumput kering di sekitar pertarungan.


" Bahaya aku harus memadamkan api ini sebelum menjalar dan membakar seluruh hutan!" pikir Jaka .


Jaka segera membuka telapak tanganya dan mencoba memadamkan api dengan jurus mengubah suhu.


Api pun dapat di padamkan.


Jaka kembali duduk untuk menyaksikan pertarungan.

__ADS_1


Sementara ke empat anak buah Karpala sudah dapat memulihkan tenaganya. Mereka pun kembali dan berniat mengeroyok Dewi Kumalasari.


Jaka tak tinggal diam sambil duduk santai ia melepaskan pukulan matahari dan berhasil membuat tanah di hadapanya meledak.


" Dooor, dooor ,doooorr"


Ledakan tersebut sempat mengenai salah seorang teman mereka hingga tewas seketika dengan tubuh yang menghitam.


Ketiga gemetaran melihat temanya mati dalam keadaan yang mengenaskan.


" Lariii" teriak salah dari mereka.


Ketiganya pun lari meninggalkan ketua Karpala yang masih bertarung melawan Dewi Kumalasari.


"Kurang ajar, kalian bertiga bukanya membantuku malah justru kabur, matilah kalian!" teriak Karpala sambil mengubah gerakan tombaknya dan mengarahkanya menuju ketiga anak buahnya.


Sinar kemerahan melesat dan kemudian meledak.


"Ahhhhhkkkkkkkk"


Ketiga murid Karpala berteriak kesakitan sebelum akhirnya tewas dengan luka yang sama seperti pukulan matahari yang mengenai temanya.


Jaka juga sempat kaget melihat kekuatan tumbak kiai saketi yang memang luar biasa.


" Menyerahlah atau kamu akan mengalami hal yang sama, mati terpanggang oleh tumbak kiai saketi, ha ha ha ha!" teriak Karpala kepada Dewi.


Dewi kini berusaha mencari ruang dan menggunakan jurus dewa angin.


Gelombang angin yang berbentuk pusaran bergerak menuju Karpala, namun ia kembali menggerakan tumbak berputar cepat dan mampu meledakan pusaran angin dari jurus dewa angin milik Dewi.


Suara ledakan terdengar sampai ke telinga Raja Sadewa.


" Paman Patih apa tidak sebaiknya kita bantu Karpala menghadapi dua orang berjubah?" tanya Sadewa.


" Mohon maaf Raja Sadewa, apa tidak sebaiknya sang raja menyuruh Surasena dan Kuda Merta untuk membantu Karpala!" jawab Patih Wiranata.


Tentu saja keduanya tidak bisa menolak saat Sadewa menyuruh Surasena dan juga Kuda Merta untuk membantu Karpala.


" Dasar patih sialan, selangkah lagi pasti kita bisa menyingkirkanya kakang " Bisik Kuda Merta di telinga Surasena sebelum akhirnya melayang menuju suara ledakan.


Patih Wiranata mengucap doa, supaya Dewata berkenan menjegah perang saudara yang hanya tinggal menghitung hari.


" Raja Sadewa, apa tidak sebaiknya kita tunda dulu berburunya dan kembali ke tenda, aku takut mereka tidak hanya dua orang dan tentu saja itu sangat berbahaya buat keselamatan Raja!" ucap Patih Wiranata.

__ADS_1


" Baiklah paman, kita kembali ke tenda sambil menunggu Karpala dan juga si tangan besi meringkus kedua pengacau itu" Jawab Sadewa sambil memutar kudanya dan berlari menuju tenda.


__ADS_2