JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA

JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA
Akhir yang Bahagia


__ADS_3

Sementara itu Jaka yang terbang dengan menaiki elang raksasa cukup kaget karena tiba tiba saja ada wujud elang raksasa lain yang tiba tiba menghadang perjalananya.


Dewi pun sontak kaget saat elang tersebut berusaha untuk menyerangnya.


""Pegangan yang kuat Kanda"suruh Dewi kepada Jaka.


Dewi segera berputar putar untuk menghindari elang raksasa yang tiba tiba menyerangnya.


Sementara itu Jaka terlihat cemas karena matahari sudah berada di atas kepala dan itu artinya Raja Sadewa sudah hampir tiba di wilayah Naga perak dan itu artinya perang tidak bisa di cegah, sebab pastilah Pangeran Nakula telah bersiap untuk melawan Sadewa.


" Dinda apakah dinda mampu untuk menghadapi elang raksasa seorang diri, aku cemas perang tidak bisa di cegah , karena pastilah Raja Sadewa sudah hampir memasuki Naga Perak!"teriak Jaka.


" Pergilah Kanda, biar aku hadapi siluman elang ini, segera cegah peperangan sebelum banyak nyawa berjatuhan, pergilah Kanda jangan cemaskan aku!" jawab Dewi Kumalasari.


Jaka pun segera mengerahkan tenaga dalamnya dan loncat dari punggung Dewi dan melesat menuju wilayah Naga Perak.


Sementara itu telisandi kembali melaporkan bahwa Pasukan Raja Sadewa telah memasuki wilayah Naga Perak.


Nakula pun segera memerintah untuk melepas semua jebakan dan juga menyuruh pasukan panah untuk bersiap menyerang.


"Celaka Raja Sadewa ternyata Raja Jaka dan Permaisuri belum sampai!" ucap Patih Wiranata setelah mengetahui suara pedang sedang memutus tali untuk melepas cebakan.


" Bersiap prajurit" teriak Patih Wiranata.


Bambu bambu runcing tiba tiba terayun dan mengarah ke pasukan Sadewa.


" Celaka Paman, kita harus melawan" teriak Raja Sadewa.


"Prajurit hati hati di sini banyak cebakan!" teriak Raja Sadewa


Patih Wiranata dan Sadewa segera melompat dari kuda dan menggunakan tenaga dalam mereka untuk mengahancurkan puluhan bambu runcing yang bergerak ke arahnya.


" Prakkkkkk".


Puluhan bambu hancur berantakan.


" Mundur prajurit biar aku dan paman patih mengurusi jebakan ini!" teriak Sadewa.


Para prajurit berjalan mundur.


Sementara Patih Wiranata dan Raja Sadewa terus bercibaku menghindari bambu bambu yang terus berterbangan ke arah mereka.


ledakan demi ledakan terjadi hingga suasana terlihat mencekam.


" Pasukan panah siiiiapppp, Seranggggg"


Pasukan panah segera melepas anak panah ke angkasa. Terlihat ratusan anak panah bergerak ke angkasa bersiap untuk menembus tubuh para prajurit Naga Emas.


" Celaka Paman" ucap Sadewa sambil melihat langit yang di penuhi ratusan anak panah.

__ADS_1


" Formasi perlindungan siapkan tameng kalian"teriak Patih Wiranata.


Para prajurit segera mengangkat tameng mereka dan bersiap menyambut ratusan anak panah yang sebentar lagi akan menghujani para prajurit.


" Celaka aku terlambat "Pikir Jaka ketika melihat ratusan anak panah meluncur ke angkasa.


" Jurus ajian dewa gledek"


Jaka segera berhenti dan berdiri sambil melayang di angkasa.


Petir tiba tiba memenuhi langit dan menyambar semua anak panah yang di lepaskan pasukan Nakula hingga hancur.


Semua orang terkejut melihat ratusan anak panah menjadi abu terkena sambaran petir.


Namun Nakula belum menyadari bahwa itu adalah akibat jurus dewa gledeg yang di lepaskan Jaka kelana.


"Prajurit jangan berhenti" teriak Nakula.


Kini para prajurit kembali melepas busur panahnya hingga terlihat langit di penuhi dengan ribuan anak panah.


Suasana ngeri kini di alami para prajurit Sadewa mereka sudah pasrah.


Mereka berpikir bahwa tak akan mampu untuk membendung ribuan anak panah yang kembali meluncur.


Namun kejadian berulang begitu panah hendak berjatuhan ke gerombolan prajurit Sadewa panah kembali di sambar petir hingga menjadi debu.


" Syukurlah Raja Sadewa Raja Jaka datang tepat waktu!" ucap Patih Wiranata sambil menunjuk ke langit.


" Tahan tahan putraku, itu sepertinya Raja Jaka, sepertinya itu tadi adalah jurus dewa gledeg!" ucap Pandu.


Pandu segera tersadar bahwa Jaka memiliki ajian dewa gledek yang bisa mendatangkan petir dan menghancurkan apa saja yang ia kehendaki.


Raja Pandu segera memerintahkan Nakula untuk menahan serangan.


Melihat anak panah tidak kembali di lesatkan Jaka segera turun dan mendarat tepat di hadapan Raja Pandu dan juga Nakula.


"Maafkan atas keterlambatanku Paman Raja, Pangeran!" ucap Jaka Kelana.


Raja Pandu dan Pangeran Nakula saling berpandangan, mereka belum tahu maksud omongan Raja Jaka.


Namun Jaka segera menjelaskan dengan gamblang bahwa Kedatangan Sadewa bersama pasukanya yaitu untuk berdamai dan akan menjemput Raja Pandu dan Juga Pangeran Nakula.


Jaka juga berkata bahwa Raja Sadewa bersedia untuk menyerahkan tampuk kekuasaanya kepada pangeran Nakula.


Setelah mendengar penjelasan Jaka, pangeran Nakula segera pasukanya menahan serangan dan membuka gerbang.


Patih Wiranata dan juga Raja Sadewa menarik nafas lega setelah anak berhenti meluncur dan mulai terdengar suara pintu gerbang di buka.


Jaka tersenyum bahagia setelah bisa menghentikan peperangan.

__ADS_1


" Maaf Paman Prabu, Pangeran aku pamit dulu ada hal mendesak yang harus aku kerjakan!" ucap Jaka kembali melayang hingga akhirnya lenyap dari pandangan.


Raja Pandu dan Nakula serta para prajurit hanya terdiam, mereka semua merasa kebingungan.


Jaka mempercepat laju terbangnya, nampaknya ia sangat mencemaskan keadaan Dewi yang sedang bertarung melawan elang yang ukuranya sama besarnya dengan wujud Dewi.


Jaka selalu memegang prinsip bahwa di atas langit masih ada langit, jadi walaupun Dewi terbilang pendekar pilih tanding tapi ia tetap khawatir, bisa saja musuh memiliki ilmu yang jauh di atasnya.


Namun Jaka dapat bernafas lega ketika mengetahui Dewi baik baik saja, rupanya elang raksasa yang menyerangnya telah menghilang.


Jaka pun kembali naik ke punggung Dewi dan terbang menuju kadipaten Naga Perak.


Sementara itu suasana haru kembali terlihat di kadipaten Naga Perak. Terlihat Sadewa sedang mencium kaki Raja Pandu untuk meminta maaf.


Bahakan Nakula dan patih Wiranata ikut terharu melihat pemandangan yang terjadi di depan matanya.


Suasana haru lebih menyentuh kalbu ketika permaisuri dan juga istri pangeran Nakula datang.


Sadewa berjalan merangkak sambil berlinang air mata berusaha meraih kaki ibundanya.


Permaisuri pun langsung luluh hatinya melihat anak kesayanganya merangkak sambil menangis.


Ia pun tiba tiba merasa lemas dan kemudian pingsan.


Semua orang menjadi khawatir.


Nakula segera berlari dan membopong ibundanya untuk masuk ke dalam ruangan.


Para tabib terlihat sibuk berusaha menyadarkan permaisuri.


" Di mana dimana anaku Sadewa" teriak permaisuri ketika mulai membuka kedua matanya.


Sadewa" Ibunda aku di sini!" Sadewa bangkit dati tempat duduknya sambil terus berlinang air mata.


Nakula juga merangkul Sadewa dan berjalan menuju tempat pembaringan ibundanya.


Tangis haru permaisuri pecah melihat dua anaknya saling berangkulan.


Tangis kebahagiaan semakin terdengar setelah Nakula dan Sadewa sama sama memeluk ibundanya dengan erat.


Raja Pandu terlihat sangat bahagia.


" Terimakasih banyak atas segala upaya yang telah engkau lakukan Paman Patih!" ucap Raja Pandu kepada Patih Wiranata.


" Maaf prabu, aku tidak melakukan apa apa, berterimakasihlah pada Raja Agung Jaka Kelana dan juga permaisuri Dewi Kumalasari, beliau berdualah yang telah berhasil membujuk Raja untuk membatalkan peperangan, tapi ngomong ngomong kemana mereka? tanya Wiranata sambil mencari cari sosok Jaka dan Dewi.


"Ia begitulah Paman patih, seperti biasa Raja Jaka pergi, katanya ada urusan mendadak!" Jawab Raja Pandu.


Tiba tiba saja tersengar suara elang raksasa membahana di atas bangunan kadipaten.

__ADS_1


Membuat semua orang keluar menuju halaman istana dan menyambut kedatangan Jaka Kelana dan Dewi Kumalasari.


__ADS_2