
Mahisa dan Mayang meneruskan untuk kembali ke Ujung Kulon. Mereka akan menerima apapun keputusan gurunya,di karenakan telah gagal mengemban tugas untuk mengambil pedang naga dan juga kitab Elang Sakti.
Pendekar Cadas Putih merupakan seorang pendekar pilih tanding yang merupakan guru dari Mahisa dan Nilam adalah sosok pendekar ilmu hitam yang sangat kejam ,bahkan ia sangat di segani oleh para pendekar di wilayah ujung kulon,tidak ada pendekar manapun yang mau berurusan dengannya. Muridnya juga tersebar hampir di wilayah Jawa bagian barat..Sedangkan Mahisa dan Mayang merupakan murid utama dari perguruan Kalajengking Hitam yang di pimpin Ki Cadas Putih.
Ki Cadas Putih sendiri terkenal dengan ajian kawah murka yang merupakan ajian andalan dari perguruan Kalajengking Hitam. Rupanya ia begitu berambisi untuk menguasai dunia persilatan hingga ia pun sedang berambisi untuk mendapatkan senjata sakti dan juga kitab kitab kuno yang mengandung ilmu tingkat tinggi.
Bukan hanya Mahisa dan Mayang yang di perintahkan untuk berburu senjata sakti kedua muridnya yang berjuluk pendekar kembar dari Ujung Kulon juga di perintahkan untuk mendapatkan senjata sakti yang berada di wilayah Gunung Tengker,berupa Tumbak kayangan yang konon merupakan pusaka dari penunggu gunung Tengker yang bisa meledakan sebuah gunung.
Jajang dan Ujang merupakan dua pendekar kembar yang sama sama menjadi murid utama Ki Cadas Putih. Mereka juga sering bersaing dalam segala hal untuk mendapat simpati dari gurunya dengan Mayang dan Mahisa ,supaya bisa di angkat menjadi pengganti gurunya untuk memimpin perguruan Kalajengking Hitam.
Rupanya Ki Cadas Putih sudah berjanji kepada keempat murid utamanya bahwa siapa saja yang berhasil dengan misi yang di embanya akan di warisi ilmu Banyu Ireng yang dapat membuat orang menjadi batu.
Sementara itu Mahisa dan Mayang sudah bertekad untuk kembali ke ujung Kulon untuk membawa anaknya dan juga ibunya keluar dari wilayah Kalajengking Hitam ,ia sudah bertekad untuk menjadi orang baik walaupun mereka sadar tidak mudah karena pasti mereka harus berhadapan dengan temanya sendiri di perguruan dan juga Ki Cadas Putih yang sudah pasti akan mencegahnya. Apalagi keduanya gagal mendapatkan pedang naga dan kitab Elang Sakti .
Rupanya sebelum pergi Mayang dan Nilam lama bercakap cakap,ia juga sempat menceritakan kemungkinan terburuk bahwa ia mungkin akan berhadapan dengan temanya di perguruan serta gurunya sendiri.
Nampak jelas kekawatiran di wajah Mayang kala berkeinginan untuk membawa anak dan juga ibunya untuk keluar dari wilayah itu untuk kemudian menjalani hidup yang damai tanpa ada gangguan dari perguruan Kelajengking Hitam.
Diam diam Jaka dan Nilam mengikuti Mahisa dan Mayang kembali ke Ujung Kulon. Rupanya Nilam bercerita tentang banyak hal mengenai kekawatiran Mayang,hingga Jaka ingin membantunya untuk bisa membawa anak dan ibunya keluar dari perguruan Kalajengking Hitam.
Hampir sepekan lamanya menempuh perjalanan akhirnya tibalah Mahisa dan Mayang kembali ke ujung kulon.
Gerbang perguruan Kalajengking Hitam sudah terlihat.
" Kanda baiknya kita istirahat dulu sebelum kembali ke perguruan, sambil memikirkan rencana ke depanya guna menyelamatkan ibu dan anak kita?"
__ADS_1
" Baiklah Dinda kita cari tempat yang teduh untuk istirahat dan memikirkan rencana selanjutnya. Bahkan aku juga takut kita tidak bisa bersama sama lagi berkumpul dengan ibu dan anak kita".
Mendengar ucapan Mahisa ,Mayang segera mendekat dan tidur di pangkuan Mahisa.
" Ia kanda aku juga sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi,semoga saja Tuhan memberi jalan,supaya kita bisa menjadi orang yang lebih baik".
" Ia mudah mudahan Dinda,semoga ada keajaiban. Andai saja bercerita dengan Tirta ,mungkin ia akan membantu. Namun aku tak enak hati karena mereka juga masih banyak urusan yang harus di selesaikan"
" Ia kanda kita sudah jahat pada mereka namun balasan mereka justru sebaliknya. Tapi berjanjilah Kanda apapun yang terjadi kita harus selalu bersama ,baik hidup atau mati. Aku tak kuasa berpisah denganmu?"
Mahisa membelai rambut Mayang dengan lembut. Rupanya percakapan mereka tidak sengaja di dengar oleh temanya dari perguruan Kalajengking Hitam. Seorang lelaki yang kala itu sedang mencari rumput untuk makanan ternak dan kuda di perguruan. Tak sengaja ia melihat Mahisa dan Nilam,dia segera menyelinap ke dalam semak untuk mengawasinya.
Lebih lebih ia sering di marahi oleh Mahisa dan Mayang di kala ia sedang beristirahat mengurus ternak di perguruan . Bahkan ia masih ingat saat Mahisa memukulnya di saat ia sedang tidur karena kelelahan mengurus kudanya.. Ia pun sakit hati dan berencana melaporkan apa yang ia dengar dari pembicaraan Mahisa dan Mayang kepada gurunya Ki Cadas Putih.
Lelaki itu bergegas membawa keranjangnya dan pura pura menemui Mahisa dan Mayang.
Mahisa dan Mayang segera bangun setelah melihat Sarto yang tiba tiba muncul dengan memanggul keranjang berisi rumput.
" Oh rupanya kamu To,sini aku bantu membawanya!"
Tentu saja hal itu membuat Sarto merasa tidak percaya ,bahkan ia mengira kalau Mahisa akan memarahinya.
" Tidak usah Tuan,aku bisa membawanya sendiri".
"Tidak usah takut lagi To,aku tak akan memukulmu lagi".
__ADS_1
Mahisa segera menyuruh Sarto menurunkan keranjangnya lalu di pun mengangkat ke punggungnya.
" Tidak usah Tuan Mahisa nanti guru akan marah" Sarto justru ketakutan kalau teman seperguruanya tahu dan melaporkan kejadian ini.
Namun Mahisa tak menggubrisnya dan menyuruh Sarto membawa kudanya ke perguruan.
Mayang sendiri sudah pergi lebih dulu ke rumah untuk menemui ibu dan anaknya setelah itu baru akan menghadap ke guru Cadas Putih.
Sarto yang masih merasa aneh dengan sikap Tuan Mahisa lama lama menjadi simpati ia pun merasa Mahisa benar benar berubah. Ia juga sempat mendengar bahwa ia sudah berubah menjadi orang baik dan akan pergi membawa anak dan ibunya keluar dari wilayah Kalajengking Hitam.
Rasa dendam Sarto perlahan hilang dan justru berniat untuk membantu.
" Maaf tuan Mahisa jika aku lancang ,aku tadi tak sengaja mendengar percakapanku dengan Nona Mayang".
" Terus apa yang kamu akan lakukan,melaporkanku kepada guru Cadas Putih"
" Awalnya ia Tuan,habisnya Tuan dulu pernah memukuliku. Tapi sekarang ngga jadi karena rupanya Tuan sudah berubah. Dan sebenarnya aku juga sudah muak dengan perilaku Guru dan juga teman teman yang berbuat semena mena kepada siapapun yang menentang keinginanya"
" Sebelumnya aku minta maaf ya To,atas perilakuku terhadapmu. Aku juga sangat berterimakasih atas niatmu membantuku. Tapi aku tak mau kamu terlibat. Kamu kan tau sendiri sifat Ki Cadas ,apalagi aku juga telah gagal dalam misiku mendapatkan pedang naga dan juga kitab Elang Sakti".
" Ia aku juga paham Tuan Mahisa. Tapi setidaknya aku ada usaha untuk membantu biar Tuhan mencatatnya sebagai suatu kebaikan untuk mengurangi dosa dosaku yang sudah terlalu banyak,Tuan"?
Mereka terus bercakap hingga tak terasa telah sampai di pelataran di depan rumah besar yang menjadi markas perguruan Kalajengking Hitam.
Beberapa orang murid perguruan yang melihat Mahisa telah kembali berlari masuk untuk memberi tahu Ki Cadas Putih.
__ADS_1
Bersambung