JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA

JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA
Pertarungan di Gunung Arjuna


__ADS_3

Tirta segera berpamitan berjalan menuju kuda yang terikat di sebuah pohon di belakang penginapan.


Tak lupa ia juga berpamitan kepada para warga yang menjadi tetangga Ki Tarpa.


Tirta menyusuri jalan desa menuju hutan yang mengarah ke gunung Arjuna. Sari nampak masih betah menunggu di depan gerbang melihat ke arah Tirta,sesekali ia melambaikan tangannya. Tirta juga sesekali menoleh ke belakang memandang Sari yang terus memadangi kepergiannya.


Setelah memastikan langkahnya sudah jauh dari desa,Tirta memmutar arah kudanya melewati jalan setapak yang mengarah ke rumah Nyi Andung.


Disisi lain Nilam terus saja bertanya tanya dalam hati kapan gerangan Tirta akan datang untuk menjeputnya ,ia terus mengamati sepanjang jalan yang mengarah ke desa berharap agar bisa melihat jika Tirta datang untuk menemuinya. Tirta yang sebenarnya memang sedikit usil sengaja lewat jalan belakang rumah. Ia sengaja mengikat kudanya dengan jarak yang agak jauh dari rumah Nyi Andung.


Nyi Andung yang sedari tadi melihat Tirta hanya tersenyum melihat polah Tirta yang memberi isyarat supaya kedatanganya tidak di ketahui oleh Nilam.


Tirta berjalan pelan mendekati Nilam dan mendorongnya hingga nyaris jatuh. Tentu saja Nilam begitu terkejut ketika tubuhnya terhuyung dan nyaris jatuh. Namun begitu ia mengetahui orang yang mendorongnya ,muka nya jadi ceria.


" Cie,cie,ada yang lagi kangen ni,hingga sedari tadi aku perhatikan bengong terus"


" Yeh,siapa yang kangen kamu kali,kangen sama aku?"


" Ia deh aku yang kangen sama kamu. bolehkan!" Kali ini Tirta mulai berani agak genit sama Nilam dan membuatnya tersipu malu.


Lalu dari belakang Nyi Andung segera menyahut.


" Ayo makan Nilam ,sebelum berangkat,,sudah beberapa hari kamu makanya sedikit kerjamu cuma melamun. Sekarang kan Tirta sudah di sini. Ayo Tirta kita makan bersama sama!"


" Kebetulan Nyi aku juga sudah laper lagi,tadi cuma sarapan sedikit di tempat Ki Tarpa"


Semntara Nilam mukanya memerah menahan malu dengan omongan neneknya kepada Tirta.


" Sudah ayo kita makan!" Tirta mencoba meraih tangan Nilam namun di tepis olehnya. Nyi Andung hanya tertawa melihat Nilam yang masih malu malu kucing.


Setelah acara makan selesai Nilam segera menyiapkan bekal untuk perjalananya.Nyi Andung memeluk Nilam dengan erat air matanya sembab menahan kesedihan ,karena harus berpisah dengan cucu yang sangat di cintainya.


Ia juga berpesan agar Tirta selalu menjaga Nilam dengan sebaik baiknya. Kedua muda mudi berjalan ,Tirta mengajak Nilam supaya naik ke atas kuda. Awalnya Nilam malu malu namun akhirnya ia mau juga.


Sementara Tirta berjalan hingga ke tempat si pedagang kuda,rencananya ia akan membeli seekor kuda untuk di jadikan tunggangannya.


" Kang Ayo naikalah bersama sama,masa kakang jalan kaki aku naik kuda."


"Sudah tak apa aku sudah biasa jalan kaki,lagian tempat penjual kuda sudah deket?"

__ADS_1


Nilam merasa sedikit malu karena ajakanya di tolak,ia merasa gagal agar bisa berduaan dengan Tirta di atas kuda.


" Sudah ngga usah berpikir yang aneh aneh,aku tahu yang sedang kamu pikirkan"


Ucapan Tirta tentu saja membuat Nilam kaget bukan kepalang. Ia tak menyangka bahwa Tirta bisa membaca pikiranya.


Tak lama keduanya sampai di tempat penjual kuda ,Tirta memilih kuda yang paling bagus dan mengeluarkan kepengnya untuk membayar. Keduanya pun kini memacu kudanya berlari cepat menuju Gunung Arjuna.


Setelah melakukan perjalanan hampir setengah hari puncak gunung nampak terlihat,namun karena sudah lelah keduanya memutuskan untuk beristirahat.


Rupanya selama di perjalanan Tirta dan Nilam juga bertemu dengan beberapa orang yang mempunyai niat yang sama. Mereka juga ingin mendapatkan pedang sakti Naga Emas untuk menjadi yang terkuat di jagat persilatan. Banyak juga pendekar aliran putih yang ikut serta.


Rupanya memang sudah ada kesepakatan dari para pendekar untuk bertarung menunjukan siapa yang terkuat di puncak gunung Arjuna. Sehingga satu sama lain tidak membuat huru hara selama di perjalanan.


Tirta dan Nilam kembali memacu kudanya setelah badan mereka kembali bugar. Mereka mulai menaiki jalan menanjak yang mengarah ke puncak Arjuna. Di tengah perjalanan banyak pasang mata yang terpukau dengan kecantikan Nilam.


Hingga ada beberapa orang yang mencoba mengganggunya. Namun Tirta selalu menasehati Nilam supaya tidak terpancing emosi. Puncak Arjuna sudah semakin dekat,suara orang bertarung juga mulai terdengar . Suara detingan pedang beradu terdengar jelas di telinga. Rupanya sudah banyak para pendekar berkumpul untuk membuktikan siapa yang terkuat dan akan mengambil pedang naga.


Dua orang pria berambut gondrong sedang bertarung dengan tubuh penuh luka luka, namun mereka tak kunjung berhenti sebelum salah satu pihak menyerah ataupun mati.


Hingga akhirnya pria gondrong berbaju merah berhasil menusuk dada pria berpakaian hitam hingga membuatnya tersungkur. Sekarang seorang pria kembali masuk ke arena untuk menantang pemenangnya .


" Nilam mending kita menunggu saja sampai giliran kita tiba sambil berjalan menikmati pemandangan"!


" Ide bagus kang ,ayo!"


Nilam dan Tirta kembali ke atas kuda dan meninggalkan orang orang yang sedang bertarung. Nampak seorang pria menghadang laju Nilam dan Tirta.


" He,tunggu nona cantik,apa kekasihmu banci sehingga begitu takut kepada kami dan harus pergi!" Ucapan pria itu terdengar oleh banyak orang hingga membuat Tirta jadi bahan tertawaan.


Nilam sudah tak bisa mengendalikan emosinya ia lantas menghentakan kakinya di punggung kuda dan melesat menendang pria yang mengejek Tirta hingga tersungkur.


Kali ini melihat si pria jatuh ,para pendekar lainya juga menertawakanya. Dia bangkit dan mencabut pedangnya. Nilam seperti orang kesurupan tubuhnya melayang dan menukik ke bahan mengayunkan pedangnya dan berhasil memotong tangan si pria sombong.


Pria itu menjerit kesakitan dan kemudian roboh dan tak bergerak lagi. Kini orang yang semula tertawa terdiam melihat Nilam menghabisi pria yang mngejeknya dengan sadis.


" Ayo siapa lagi ,maju sini!"


Nilam menantang para pendekar . Tirta segera menarik tangan Nilam dan mengajaknya pergi." Maaf tuan pendekar semuanya kami tak jadi minat untuk pedang naga,silahkan buat kalian saja!"

__ADS_1


Namun kali ini justru para pendekar merasa terhina dengan perkataan Tirta mereka justru terpancing emosinya. Keempat pendekar melompat dan menghadang Tirta.


" Tuan maaf aku ingin pergi,jangan kau halangi jalanku?"


" Tidak anak muda ,aku dapat merasakan pergolakan tenaga dalam di tubuhmu sangat besar jadi aku ingin menjajal kepandaiamu?"


" maaf tuan ,tuan salah aku hanya pengembara biasa" Tirta mencoba menutup aliran tenaga dalamnya.


Namun empat orang itu justru menyerangnya secara serentak. Tirta melompat mundur menuju tempat yang enak untuk bertarung.


" Sudah Nilam kamu duduk saja biar ini jadi urusanku. Kau yang jadi jurinya ya!" Nilam tertawa mendengar ucapan Tirta . Keempat pendekar semakin merasa di hina ,mereka segera menyerang Tirta secara bersama sama. awalnya Tirta hanya berusaha menghindar namun lama lama tenaganya cukup terkuras hingga ia pun mulai melakukan perlawanan.


Tirta bergerak memutar badanya dan mengangkat kaki kananya . Ia lantas meluncur dan berhasil membuat dua orang musuhnya terluka.


" Sudah cukup tuan,aku tak ingin perpanjang urusan ini lagi. Mending nunggu giliran saja nanti kan ada jatahnya untuk bertarung" Tirta masih mencoba berargumen.


Dia melangkah ke dekat Nilam. Namun salah seorang pendekar malah semakin marah dan menggunakan tenaga dalam berusaha menyerang Tirta dari belakang.


" Awas kang" teriak Nilam.


Tirta melompat menghindar,ia kemudian membalik badanya dan menggunakan pukulan matahari dan berhasil membuat tubuh musuhnya melepuh.


Semua orang terpana.


" Apa ajian matahari' teriak salah seorang pendekar yang mengerti jurus yang di gunakan Tirta.


Tirta tak menghiraukan teriakan pendekar itu dan meninggalkan para pendekar yang terlihat masih penasaran.


" Kita mau kemana kang,bukankah kita sudah sampai disini ko malah kamu mengajaku pergi"


" Nilam ,sia sia saja kita berada di sini mending kita langsung menuju dasar lembah untuk mencari pedang naga"


Nilam awalnya tak mengetahui maksud Tirta .Namun ia segera sadar ternyata Tirta orang yang pandai.


Mereka pun segera terjun bebas ke bawah jurang. Rupanya beberapa orang melihat Tirta dan Nilam masuk jurang. Hingga mereka juga terpikir hal yang sama.


Akhirnya beberapa orang ikut melompat kedalam jurang . Sementara itu orang yang sedang berkelahi sontak berhenti melihat satu persatu di antara mereka justru tak mengikuti aturan dan langsung berhambur terjun bebas .


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2