
Tirta berjalan mengitari rumah juragan Darso setelah cukup lama ia berhasil menemukan sebuah ruangan yang berisi tahanan yang merupakan orang orang yang mendukung Kuwuh yang lama.
Belum sempat Tirta memasuki ruangan terdengar ribut ribut dari dalam. Rupanya Ki Kuwuh bersama warga yang mendukungnya sedang bertarung melawan penjaga yang bertugas di penjara . Karena para penjaga kalah jumlah dengan musuh yang di hadapinya mereka kewalahan dan memilih lari melapor ke juragan Darso.
Juragan Darso yang kala itu sedang bersenang senang bersama beberapa gadis jelas merasa terganggu dia segera menyuruh pendekar bayaranya untuk mengatasi hal itu.
Juragan Darso sendiri melanjutkan aktifitasnya yang terganggu.
Para pendekar bayaran yang jumlahnya sekitar sepuluh orang langsung berlari menuju penjara, mereka segera menghunus pedangnya dan membuat Ki Kuwuh dan para penduduk menjadi kewalahan.
Tirta segera melakukan tindakan dengan menyerang para pendekar bayaran. Ki Kuwuh dan para penduduk kaget di saat mereka kewalahan menghadapi perlawanan pendekar bayaran yang di sewa juragan Darso, para pendekar itu berteriak dan badanya menghantam dinding yang terbuat dari kayu hingga jebol.
Para pendekar bayaran kebingungan karena tidak melihat sosok mahluk yang menyerangnya. Hingga mereka menganggap ada setan yang membantu Ki Kuwuh, mereka segera salah seorang dari mereka malah kabur dan langsung menerobos kamar Juragan Darso.
" Maaf juragan ada hantu yang membantu Ki Kuwuh " orang ini berbicara dengan nada takut.
Tentunya Ki Darso yang sedang bermain bersama para gadis merasa terganggu dan justru menendang orang yang datang melapor kepadanya hingga terkapar di lantai.
Juragan Darso segera membenarkan posisi pakaiannya dan berlari keluar.
Ki Kuwuh dan para penduduk sudah sampai di halaman dan sedang bertarung melawan anak buah Juragan Darso. juragan Darso menyuruh dua anak buahnya untuk membawa istri Ki Kuwuh ke halaman biar Ki Kuwuh dan para warga menyerah.
" Berhenti Karta, atau istrimu akan mati oleh senjataku"!
Karta segera menoleh dan melihat leher istrinya telah menempel sebelah pedang yang di pegang Juragan Darso. Karta segera membuang senjatanya dan menyerah. Namun Tirta segera bertindak dan memukul Juragan Darso hingga terhuyung, pedang yang di pegangnya juga terlempar.
" Kurang ajar siapa yang berani bermain api dengar Juragan Darso"
Tirta tak menggubris dan kembali menyerang namun kali ini Juragan Darso sudah menggunakan ilmu hatinya dan dapat melihat pergerakan Tirta. Karena sudah di ketahui Juragan Darso Tirta segera menarik ajian Selimut asap.
" Rupanya kamu bukan orang sembarangan, pantas kamu sangat di takuti oleh para warga? "
Juragan Darso memandang Tirta dengan wajah sangar. Sementara itu Ki Kuwuh dan para warga kembali melakukan perlawanan. Beberapa pendekar bayaran berusaha k3mbali menangkap istri Ki Kuwuh namun Nilam yang sedari tadi mengawasi segera melompat menghadang para pendekar yang berusaha menangkap istri Ki Kuwuh.
Ke empat pendekar tak bisa mengatasi serangan Nilam yang begitu gesit mereka pun terkapar terkena pukulan dan tendangan Nilam.
Nilam segera membawa istri Ki Kuwuh bersamanya, beberapa orang anak buah Darso kembali mengejar.
Sementara Darso sudah hilang kesabaran setelah setiap seranganya dapat di patahkan dengan mudah oleh Tirta. Mulutnya komat kamit tiba tiba dari tubuh Juragan Darso keluar mahluk seperti bayangan dengan jumlah banyak dan langsung mengepung Tirta.
" Jurus Iblis Bayangan"
Tirta sangat kenal dengan jurus itu, ia tak menduga akan bertemu orang yang memiliki jurus Iblis bayangan. Rupanya ia pernah mendengar kehebatan jurus itu dari gurunya Ki Semprul. Namun Ki Semprul tidak memberitahu kelemahan tentang jurus itu.
Tirta kini terkepung oleh mahluk hitam yang menyerangnya. Anehnya mahluk itu seperti tak berkurang setiap kali ia mengalahkan salah satunya, begitu pula akan muncul bayangan yang sama..
__ADS_1
Juragan Darso jadi besar kepala melihat misuhnya mulai kewalahan. Melihat Tirta mulai kewalahan Nilam segera membantu. ia berhasil melempar kedua bayangan hitam yang kemudian hilang namun tiba muncul dua bayangan lagi yang serupa dan menyerangnya.
" Jurus apa ini Kang kenapa mereka seperti tak ada habisnya"
" Ini adalah jurus Iblis Bayangan. Aku juga tak menyangka aki brewok ini memiliki jurus itu"
Ucapan Tirta menyinggung Juragan Darso ia pun kembali merapalkan mantera dan membuat bayangan hitam semakin kuat energinya.
" Ha ha ha rasakan kalian, berani beraninya kau mengejeku anak ingusan".
" Memang tampangmu brewok, apa harus ku panggil Ki Sedeng saja, ha ha "
Ucapan Tirta membuat Juragan Darso semakin marah.
" Kang aku tak bisa bertahan lama kalau begini terus bisa bisa tenagaku habis"
" Baiklah dinda, coba kau gunakan pedang Halilintar"
Nilam mengeluarkan pedang Halilintar untuk sementara mahluk hitam menghilang dan hancur terkena kilatan petir dari pedang Halilintar. Namun tak berapa lama mahluk hitam itu muncul kembali.
" Nilam tampaknya kita harus mundur untuk mencari kelemahan dari Jurus Iblis Bayangan. Kamu bawa Nyi Kuwuh bertemu dengan Lana sedang aku akan membawa Ki Kuwuh dan segera menyusulmu.
Jaka Satria kembali menggunakan jurus pukulan matahari ia sengaja mengincar sebuah bangunan yang paling bagus untuk mengecoh Juragan Darso.
Tirta segera membawa Ki Kuwuh dan warga lari keluar. Beberapa anak buah Juragan Darso berniat mengejar namun tidak di perbolehkan. Juragan Darso lebih memilih menyelamatkan rumahnya dari kebakaran.
Api berkobar dan mulai menjalar, Juragan Darso menyuruh anak buahnya mengambil air dalam jumlah yang lebih banyak agar api cepat di padamkan. Setelah cukup lama api berhasil di padamkan nampak beberapa ruangan habis menjadi arang. Namun Juragan Darso merasa lega karena ruangan tempat menyimpan harta benda tidak ikut terbakar.
Kini ia kembali mengumpulkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Ki Kuwuh dan juga dua orang pendekar yang berhasil menyelamatkan mereka.
Sementara itu Tirta dan Nilam sudah berhasil membawa Ki Kuwuh serta istrinya dan beberapa warga lainya menuju desa sebelah di luar kekuasaan Juragan Darso.
Para warga di titipkan kepada para penduduk di desa sebelah sementara Ki Kuwuh dan istrinya di bawa oleh Jaka dan Nilam menemui Lana. Di tempat Simbok yang dulu mengasunya saat kecil.
Tentu kedatangan mereka sudah di tunggu Lana yang segera berlari dan memeluk Ayah Ibunya.
" Terimakasih Paman Tirta dan Bi Nilam kerena telah menyelamatkan kedua orang tuaku"?
" Ia sama sama Lana" Nilam menjawab pertanyaan Lana.
Ki Kuwuh dan Istri juga menyampaikan rasa terimakasihnya terhadap Tirta dan juga Nilam. Sementara itu anak buah Juragan Darso menyebar untuk mencari Ki Kuwuh dan dua pendekar asing yang membantunya.
Mereka menyisir sampai ke desa sebelah. Banyak warga yang di siksa karena menolak memberi tahu keberadaan Ki Kuwuh dan istrinya.
Untuk beberapa hari Tirta dan Nilam bersembunyi hingga suatu saat ada seorang yang datang mengabarkan bahwa Juragan Darso dan anak buahnya menyerang Kuwuh di desa itu karena di anggap melindungi orang yang sedang mereka cari.
__ADS_1
Tirta dan Nilam segera bertindak awalnya Ki Kuwuh dan beberapa warga akan ikut, namun Tirta dan Nilam sepakan hanya akan pergi berdua untuk menghindari banyak korban.
Sementara suasana di pendopo desa ramai dengan pertempuran antara Juragan Darso dan anak buahnya melawan Kuwuh desa dengan para penduduknya.
Mayat pun mulai bergelimpangan.
Tirta dan Nilam langsung menyerang Juragan Darso yang tengah berhadapan dengan Ki Kuwuh. Juragan Darso tak mau bermain main dengan dua pendekar yang menjadi musuhnya, ia kembali menggunakan Jurus Iblis Bayangan yang menjadi ajian andalanya.
Sambil menangkis serangan mahluk hitam Tirta berpikir keras bagaimana cara melumpuhkan jurus tersebut. Dia sudah menggunakan semua jurusnya namun setiap kali mahluk hitam hancur akan muncul mahluk yang baru begitu seterusnya.
Tirta menyuruh Nilam kembali mencabut pedang Halilintar untuk menghentikan sementara para mahluk hitam, sementara dia akan bertarung dengan Juragan Darso.
Tentu saja Juragan Darso mulai ketar ketir ketika Tirta keluar dari kepungan mahluk hitam dan sudah berada di hadapanya.
" Cukup cerdas juga kau anak muda? "
" Tentu Juragan ,sekarang hadapi aku juragan Darso! "
Tirta melepas pukulan matahari tubuh juragan Darso melesat menghindar naik ke sebuah pohon besar yang menjulang di depan pendopo.
Tirta berkali kali mencecar dengan pukulan matahari, namun juragan Darso pergerakan sangat cepat berpindah dari satu pohon ke pohon lainya..
Sementara itu Nilam masih berjibaku dengan mahluk hitam yang terus mengepungnya.
" Kang Tirta cepat lakukan sesuatu tenagaku sudah hampir habis" Rupanya terlalu lama menggunakan pedang Halilintar banyak menguras tenaga dalam Nilam. Apalagi mahluk hitam itu memang seperti tak ada habisnya.
Tirta segera menggunakan ajian pelebur Roh dan menyuruh Nilam bergantian menghadapi Juragan Darso.
Sukma Tirta keluar dari tubuhnya melesat menghantam mahluk hitam dan membuat mereka menghilang.
" Aku baru sadar kalau mereka mahluk halus, jadi harus melawan mereka dengan dimensi yang sama"
Ternyata mahluk hitam itu hilang dan tak kembali lagi.
Setelah mahluk hitam menghilang tubuh juragan Darso terasa berat dan harus menerima hantaman yang bertubi tubi dari serangan Nilam.
Bahkan Nilam merasa heran karena sedari tadi Juragan Darso sangat gesit menghindari semua seranganya, namun setelah mahluk hitam dapat Tirta Kalahkan Juragan Darso seperti kehabisan tenaga. Nilam pun tak menyia nyiakan kesempatan di melepaskan serangan bertubi tubi dan membuat Juragan Darso babak belur.
Juragan Darso sudah tak kuat lagi dan akhirnya menyerah.
" Ampun ampuni aku Nona, aku mengaku kalah"
Nilam segera menghentikan seranganya dan menyeret Juragan Darso untuk di adili.
Bersambung.
__ADS_1