JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA

JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA
Pergi Tanpa Pamit


__ADS_3

Resi Somala segera bangkit dari semedinya dan bergegas menuju kamar Raja Jaya Wijaya.


Terlihat prajurit yang berjaga keheranan melihat sang Resi berjalan dengan tergopoh.


" Mohon ampun sang Resi, ada apa gerangan malam malam resi hendak menemui paduka Raja. Maaf paduka masih terlelap!" tanya seorang prajurit jaga sambil membungkuk.


Sang Resi hanya tersenyum dan memberi isyarat untuk masuk membangunkan sang raja.


Prajurit jaga tak berani menghalangi langkah beliau dan membiarkan sang Resi memasuki kamar Raja.


Rupanya sang Resi membiarkan sang raja terlelap tanpa membangunkan tidurnya.


Justru sang resi kembali mengambil sikap semedi dan mulai membaca mantera.


Tiba tiba keluarlah sesosok tubuh yang mirip seperti Resi Somala dan mencoba memasuki alam mimpi untuk berkomunikasi dengan raja yang terlelap.


Tentunya Raja Wijaya tiba tiba merasa aneh karena tiba tiba ada suara Resi Somala yang memanggilnya.


Tak mau berbelit belit sang Resi langsung berkata bahwa kerajaan dalam kondisi bahaya dan sudah sangat genting.


Tentunya hal itu sangat mengejutkan sang Raja dan langsung terbangun dari tidurnya.


Raja Wijaya nampak sangat kaget melihat Resi Somala sudah berada di kamarnya.


Resi Somala mengangguk dan semakin membuat Raja Jaya Wijaya menjadi panik.


" Ayahanda, sebenarnya apa yang akan terjadi?"


Resi Somala segera berujar bahwa Kalinggi dan anak buahnya sedang menuju istana dan akan berusaha mengacaukan pesta.


Namun belum sempat Sang Resi berujar seorang prajurit berlari dan melaporkan kejadian di luar istana bahwa telah terjadi kekacauan.


Sang Raja segera bangkit sambil mengambil keris pusaka dan mengajak Sang Resi menuju halaman istana.


Rupanya patih Rangga Abang telah berjibaku bersama para prajurit menghadapi serangan dari pendekar aliran hitam.


Terlihat juga Kuda merta dan Surasena terus saja ******* para prajurit dengan pukulan tangan besinya.


Sementara Dewi Kalinggi dan Wisapati beserta kumambang masih mengamati pertarungan dari atas benteng istana.


Bunyi ketongan pun di bunyikan dan membuat para tamu terbangun dan langsung berhamburan keluar dari kamarnya.

__ADS_1


Kali ini Kalinggi mulai beraksi ia mengeluarkan pukulan jarak jauhnya dan mengenai beberapa tamu yang berhamburan keluar menuju halaman istana.


Terlihat beberapa orang langsung terkapar dengan seluruh tubuh menjadi hitam.


Resi Somala segera melayang dan mengeluarkan selendang putihnya lalu ia kibas kibaskan untuk menangkis serangan Kalinggi.


" Wisapati, Kumambang segera kalian urus ki tua bau tanah itu!" teriak Kalinggi.


Arya Wisapati dan Kumambang langsung melesat dan menyerang Resi Somala.


Sementara itu Kalinggi rupanya sedang menunggu Raja Jaya Wijaya untuk menjadi Lawanya.


" Kali ini akan ku pastikan kematianmu Wijaya! Ha ha ha ha ha ha" teriak Kalinggi.


" Hanya Dewata lah yang berhak mengambil nyawaku wanita Iblis!" Jawab Raja Jaya Wijaya.


Sang Raja segera mencabut kerisnya, seketika cahaya kemerahan keluar dari ujung keris dan berusaha menyerang Kalinggi.


" Sialan keris patigeni dari mana Wijaya mendapatkan keris tersebut!" pikir Kalinggi sambil menghindari kilatan cahaya yang keluar dari keris patigeni.


Sementara itu dari langit terlihat bola bola api terus menghujani istana Wisma kencana dan berhasil membuat beberapa bangunan di lalap api.


" Ha ha ha ha ha, lihatlah Wijaya sebentar lagi istanamu akan habis di lalap api, bagus bagus pasukan Banaspati" teriak Kalinggi.


Raja Wijaya terlihat panik dan segera mengubah arah serangan menuju angkasa.


Namun sepertinya Kalinggi tak tinggal diam, ia justru terus berupaya menghadang langkah Raja Jaya Wijaya.


Bola bola api terus saja menghujani bangunan dan juga para prajurit, hingga menjadi kocar kacir.


Kini nampaklah seorang pemuda yang memegang pedang setan melayang di atas kepala para prajurit.


Rupanya dia adalah Tirta yang segera mencabut pedang setan dan melesat ke angkasa.


Banaspati merasa jengkel karena Tirta berhasil memadamkan bola bola api yang ia buat hingga tak sampai jatuh mengenai para prajurit dan bangunan istana.


Merekapun segera turun dan mengeroyok Tirta.


Tirta dengan santai memutar mutar pedang setan dan berusaha memberi perlawanan sengit kepada para Banaspati.


Sementara itu di jurang Kematian Jaka Kelana diam diam pergi dan menitipkan ibundanya Ambarwati yang sedang tidur kepada Pendekar Buta.

__ADS_1


Jaka tak mau ibundanya yang baru sembuh harus ikut bertarung di medan perang.


Dewi segera mengubah wujudnya menjadi elang raksasa,tanpa pikir panjang Jaka segera melompat ke punggung elang raksasa.


Elang Raksasa segera mengeluarkan suara sebelum akhirnya terbang menuju Wisma Kencana.


Sementara Dewi Ambarwati kaget ketika mendengar bunyi elang raksasa hingga membuat dirinya terbangun.


Ambarwati kaget melihat Dewi Kumalasari tak berada di sampingnya.


Dewi Ambarwati segera berlari keluar dan bertanya kepada pendekar Buta yang sedang berdiri di depan pintu.


" Ki, sebenarnya apa yang terjadi, kenapa malam malam begini kedua anaku pergi tanpa pamit?"


" E, e,anu gusti permaisuri? mungkin ada urusan mendesak hingga keduanya pergi tanpa izin gusti!


Tentunya jawaban Pendekar Buta membuat Dewi Ambarwati semakin penasaran dan berusaha mendesak pendekar buta untuk menceritakan kejadian sebenarnya.


Pendekar Buta tak bisa lagi berkelit, ia pun segera berkata bahwa Jaka dan Dewi Kumalasari pergi menuju istana yang menurut mereka bahwa istana akan di serang oleh Kalinggi dan anak buahnya.


"Degggg"


Jantung Dewi Ambarwati berdetak hebat mendengar nama Kalinggi , ia juga lantas terngiang wajah suami tercinta Raja Jaya Wijaya.


" Mohon Gusti Permaisuri tenang saja, pasti Jaka Kelana dan Dewi Kumalasari bisa mengatasinya, mereka kan pendekar top!" pendekar buta berusaha menghibur permaisuri.


" Ki,aku mohon bantulah aku untuk keluar dari Jurang ini. Tenaga dalamku belum pulih ,jadi aku ilmu meringankan tubuhku belum sempurna".


Rupanya Dewi Ambarwati bersikeras untuk kembali ke istana.


" Tapi akan sangat bahaya Gusti? Jika gusti memaksa pergi dari jurang kematian di saat malam hari. Tentunya bukan hanya binatang buas yang membahayakan tetapi juga siluman penunggu hutan juga akan menangkap gusti ratu!


Mendengar ucapan Pendekar Buta, Ambarwati terdiam ia mencoba menelaah perkataan beliau.


" Baiklah Ki, aku akan bersabar sampai fajar tiba!"


Dengan perasaan gelisah Dewi Ambarwati kembali memasuki gubuk, di dalam hatinya ia terus memanjatkan doa supaya suami tercinta dan semua orang di istana di beri keselamatan oleh Dewata Agung.


Elang Raksasa terus melesat menembus kelamnya malam ,beberapa kali sayapnya mengenai dahan pepohonan karena pandanganya terganggu karena malam begitu pekat.


Terlitas di pikiran Jaka untuk menggunakan pedang suci yang di liputi cahaya benderang untuk menjadi pelita.

__ADS_1


Kini Dewi pun dapat leluasa terbang,pandanganya tidak terganggu hingga ia terus mengepakan kedua sayapnya meluncur dan menambah kecepatan berharap segera sampai di istana Wisma Kencana.


__ADS_2