
kali ini Raja benar benar murka dengan ancaman pembrontakan dari adiknya Damar Kandi, apalagi sang Patih Layung Kencana pulang dalam keadaan terluka, tentu saja hal itu membuat sang raja geram.
kali ini Raja Burnama Kandi menyuruh Senopati Candra Sena untuk memimpin penyerangan di bantu Tirta yang sebagai panglima.
Sementara Nilam tetap berada di istana untuk mengobati Patih Layung Kencana yang terluka. keesokan harinya Raja Baruna Kandi melepas keberangkatan Senopati Candra Sena di dampingi Tirta dengan membawa pasukan sekitar lima ribu.
Mereka segera menuju hutan yang di jadikan markas Damar Kandi. Sementara itu Damar Kandi telah bersiap menyiapkan pasukan setelah mendapat sebuah surat yang di antar oleh seekor merpati.
Rupanya ibunya yang mengirim surat memberi tahu bahwa Senopati Candra Sena berangkat bersama lima ribu pasukan untuk menyerangnya.
Damar Kandi juga menyuruh gurunya mendatangkan semua murid perguruan untuk membantunya. Satu persatu murid perguruan Tapak Hitam segera bermunculan membentuk barisan lengkap dengan senjata.
Damar Kandi yakin akan mampu memukul mundur pasukan Candra Sena yang berjumlah lima ribu orang , karena jumlah pasukan yang di miliki jauh lebih besar sekitar tujuh ribu orang. Apalagi jalan masuk kesitu sudah di pasang banyak jebakan.
Damar Kandi sudah dapat memprediksi pasukan musuh akan banyak yang menjadi korban sebelum sampai mendekati markas.
Setelah menempuh perjalanan cukup lama, mereka sudah memasuki wilayah hutan melalui jalan yang hanya memiliki lebar sekitar satu meter jadi mereka membentuk barisan dengan dua ekor kuda berjejer sampai panjangnya ribuan meter membentuk seperti kereta yang sangat panjang.
Candra Sena menghentikan langkah pasukanya. Dia menyuruh mereka untuk meninggalkan kudanya dan memperlebar jalan dengan membabat semak belukar agar bisa leluasa masuk.
Setelah di rasa cukup lebar sebagian mulai masuk menaiki kudanya mendekati sebuah bangunan yang di kelilingi pagar dengan gelondongan Kayu yang cukup tinggi.
" Maaf Senopati izinkan aku untuk mengecek jalan di depan siapa tahu ada banyak jebakan yang berbahaya? ".
" Ia baiklah panglima".
Tirta segera memacu kudanya, namun baru beberapa langkah melayang puluhan bambu lancip hampir saja membuat Tirta menjadi sate. Untung ia sigap meloncat menghindari luncuran bambu yang mengarah ke tubuhnya
__ADS_1
Tirta memutar tubuhnya seperti Tornado, dia mengeluarkan tenaga dalamnya hingga membuat bambu berhenti bergerak dan kemudian hancur.
Tirta kembali melayang mendekati arah benteng, kali ini kayu gelondongan meluncur dan hampir meremukan tulang belulang Tirta. Lagi lagi pukulan Matahari mampu membelah kayu itu dan hancur berkeping-keping. Senopati Candra Sena berdejak kagum dengan kemampuan yang di miliki Panglima Tirta.
Kini ratusan anak panah meluncur hendak mencicang Tirta, namun lagi lagi Senopati Candra Sena di buat tercengang. Tirta dengan gesit mampu menghindari semua anak panah yang siap menjadikanya daging cincang. Bahkan kali ini beberapa anak panah mampu ia balik arah dan meluncur mengenai para pemanah yang bersembunyi di balik pohon.
Beberapa orang yang melihat kejadian itu melompati pagar dan berlari untuk melaporkan kejadian yang ia lihat.
" Maaf gusti pangeran jebakan yang telah si siapakan dapat di hancurkan oleh panglima dari Kerajaan kayu Emas"
" Apa katamu prajurit, itu tak mungkin terjadi" Damar Kandi tidak percaya.
" Tapi begitulah kebenarannya gusti"
Ki Baruna yang masih penasaran dengan Tirta tanpa pikir panjang segera memejamkan matanya dan menghilang.
Damar Kandi menyuruh semua prajurit bersiaga untuk berperang, mereka di suruh pergi ke pos pos yang sudah di siapkan. Sementara itu pasukan Senopati Candra Sena sudah semakin dengan benteng namun pergerakan mereka di hentikan oleh Ki Barunda dan murid muridnya. Mereka langsung terbang dan menyambetkan senjatanya ke kerumunan prajurit.
Sementara itu Tirta melompat mendekati Ki Baruna.
" Halo aki tua kita bertemu lagi, he he"
" Kali ini aku tidak akan membiarkanmu pergi anak bodoh".keduanya saling mengejek sebelum memulai baku hantam hingga pertarungan sengit tak dapat di elakan. Ki Baruna yang tidak mau bermain main segera mengeluarkan pukulan tapak Geni, tapi dengan level yang masih awal.
Tirta kali ini menangkis dengan jurus yang sama yaitu pukulan Matahari.
Kekuatan keduanya berimbang, Ki Barunda menambah level pukulan Tapak Geni kali ini keluar cahaya kemerahan dari kedua tanganya dengan dan membuat hawa menjadi panas.
__ADS_1
Tirta menggunakan pukulan penghancur Karang untuk melawanya. Ki Barunda tercengang dengan jurus yang pernah ia hadapi di masa lalu rupanya ia pernah berhadapan deng resi Somala.
Ki Baruna dulu pernah kalah dengan jurus penghancur karang dan ia selama bertahun tahun menciptakan jurus baru untuk mengakahkanya, namun di saat jurus sudah tercipta dia tidak pernah bertemu kembali dengan resi Somala, sampai sang resi meninggal dunia.
Dia menamai jurus itu dengan Tapak waja Geni, kekuatannya bisa tiga kali lipat dari jurus Tapak Geni level tiga.
Ki Baruna segera menggunakan jurus Tapak Waja Geni dan mampu menahan kekuatan jurus penghancur Karang.
Tentu saja giliran Tirta yang terpana karena baru ada satu kekuatan yang dapat membalikan Jurus Penghancur Karang miliknya.
Dia melompat menghindar, dan tenaga pukulan penghancur Karang menghantam dinding pembatas hingga jebol.
para prajurit yang sedang bersiaga kaget bahkan beberapa orang yang dekat dengan dinding terkena ledakan hingga tewas.
Damar Kandi bahkan terkejut dengan pemuda yang menjadi lawan gurunya. Bahkan selama bersama Ki Baruna baru kali ini ia menggunakan jurus pamungkas nya.
Tirta kali ini mengganti jurusnya dengan Dewa gledek namun jurus itu belum mampu menembus kekuatan Tapak waja Geni.
Sementara Senopati Candra Sena segera memerintahkan pasukanya sebagian memasuki benteng melalui dinding yang jebol. Damar Kandi segera memberi aba aba untuk pasukan panah meluncurkan anak panahnya. Sementara prajurit yang di pimpin Candra Sena membuat pertahanan dengan jongkok dan menutupi kepala mereka dengan tameng besi.
Setelah desiran suara anak panah mulai sepi mereka segera berlari merangsak masuk ke dalam benteng.
Pertarungan berlangsung sangat seru, suara detingan senjata beradu di barengi suara jeritan dari para prajurit di kedua belah pihak yang terkena senjata.
Damar kandi kembali menggunakan Pusaka Kujang Kembar dia melompat sambil mengayunkan Kujang ke bawah.
Kekuatannya yang dasyat membuat pasukan Senopati Candra Sena kocar kacir. Sementara itu Candra Sena mencoba menghentikan Damar Kandi dia melompat melepaskan pukulanya mengarahkan kepada badan Damar Kandi namun lagi lagi Damar Kandi dengan mudah menahanya dengan kekuatan Kujang Kembar. Bahkan kali ini Senopati Candra Sena harus berjibaku menghindar dengan melompat dan berlari menghindari hantaman dari kekuatan Kujang Kembar.
__ADS_1
Prajurit Senopati Candra Sena mulai kocar kacir karena kalah jumlah. Bahkan sebagian mereka mulai panik hingga dengan mudah dapat di kalahkan.
Bersambung