
Logending juga sudah bersiap menggunakan ajian Lembu Sekilan, Tirta mulai dapat merasakan kembali sebuah energi kekuatan besar bergejolak di dalam tubuh Logending. Tirta mencoba menggunakan pukulan matahari untuk menahan jurus Lembu Sekilan, jika jurus itu belum mampu baru ia akan menggunakan ajian penghancur Karang.
Logending segera melepas ajianya, Tirta berupaya menahan dengan kekuatan pukulan Matahari. Namun kekuatan pukulan Matahari belum mampu menahan kekuatan Lembu Sekilan hingga tubuhnya harus terpental , untung Tirta masih dapat menguasai dirinya hingga tidak terjadi hal fatal.
Logending tersenyum lebar seakan sudah merasa menang. " Kisanak sebaiknya kau cepat serahkan pedang Naga sebelum kamu celaka! "..
Tirta tak menggubris perkataan Logending justru dia fokus dengan menarik nafas panjang tangan dan kakinya di bentangkan.
" Sekarang terimakah ini ".
Logending kaget ketika merasakan sebuah tenaga yang sangat kuat meluncur kepadanya, dia kembali menarik nafas dan menguatkan kedua kakinya. Jurus penghancur Karang melawan Lembu Sekilan.
Kali ini giliran Logending yang tubuhnya terlempar dan membentur kayu besar.
" Beh, kurang ajar" Logending bangkit dan kembali melepaskan pukulan Lembu Sekilan. Namun Jaka sudah menunggu dan menambah kekuatan jurus penghancur Karang. Kali ini Logending mulai merasakan tubuhnya sulit untuk bergerak.
" Kebo Kenongo tolong aku".
Mendengar Logending berteriak tentu saja membuat Kebo Kenongo menjadi panik ia segera melepas jurus Lembu Sekilan dan berhasil melempar tubuh Nilam. Melihat Nilam masih mencoba mengembalikan posisi kuda kudanya setelah tubuhnya terlempar Kebo Kenongo segera melompat ke belakang Logending kedua tanganya ia tempelkan di punggung Logending.
Logending merasakan kekuatanya menjadi bertambah dengan demikian kekuatan Lembu Sekilan juga dapat memukul mundur ajian penghancur Karang, tubuh Tirta kembali terlempar cukup jauh.
Melihat musuhnya terpental Kebo Kenongo justru mengajak Logending pergi, rupanya ia baru sadar bahwa musuh yang Logending hadapi memiliki kemampuan di atasnya, jadi mereka memilih pergi. " Logending sebaiknya kita mundur dulu, nanti kita mengajak guru buat menghadapi pemuda itu" Logending mengiyakan dan kemudian keduanya melesat pergi meninggalkan pertarungan.
Tirta sengaja membiarkan keduanya pergi dan lebih memilih mengecek kondisi Nilam.
" Dinda, apakah kamu baik baik saja?.
" Ia kanda aku tak apa, aku hanya butuh istirahat untuk memulihkan tenagaku ".
" Baiklah lebih baik kita kembali ke penginapan saja! "
__ADS_1
Tirta dan Jaka berjalan menuju ke penginapan untuk beristirahat.
Sementara itu Logending dan Kebo Kenongo, segera berhenti dan masuk di sebuah pondok yang berada di Hutan Kayu, nampak seorang lelaki tua membuka pintu ketika Logending mengetuknya.
" Guru, aku menemukan dua pedang sakti yang pernah guru katakan kepada kami berdua"
" Maksudnya pedang Halilintar dan Pedang Naga Emas? "..
" Betul guru"Kali ini Kebo Kenongo yang menjawab sambil memasuki rumah.
Mereka pun bercakap cakap dan menyusun rencana agar bisa mendapatkan dua pedang sakti.
Ki Munding nampak kaget ketika Logending menceritakan ilmu yang di miliki oleh pemuda yang membawa pedang Naga. Karena dapat mengalahkan kekuatan Lembu Sekilan miliknya, bahkan seandainya bila Kebo Kenongo tak cepat menolongnya mungkin sekarang sudah celaka.
" Setahuku hanya ada beberapa ilmu yang dapat mengalahkan jurus Lembu Sekilan diantaranya yaitu, jurus penghancur Karang yang sekarang di miliki oleh Jaka Kelana namun ia sudah tak pernah berkelana, dia juga memiliki ajian pelebur Roh dan juga ilmu penyerap daya, setahuku hanya ilmu itu yang mampu menandingi Lembu Sekilan. Apa berarti ia kembali turun gunung? ".
" Saya pastikan bukan dia guru, orang itu masih sangat belia"
" Entahlah menurut kabar yang bersliweran anak dari Jaka Kelana, hilang di bawa pendekar misterius dan sampai saat ini belum di temukan. Bahkan dia saat itu masih kanak kanak, jadi Jaka Kelana belum sampai mengajari anaknya jurus jurus yang ia kuasai"
Ki Munding dan dua muridnya akan menunggu pagi untuk kemudian mencari keberadaan Tirta dan Nilam. Sementara Nilam membuka matanya setelah duduk bersila berusaha memulihkan kekuatanya sementara itu di kamar sebelah Tirta sudah tidur dengan nyenyak.
Nilam merasa gelisah ingin segera bertemu dengan kedua orang tuanya, namun ia bingung kemana harus melangkah memulai pencarian tentang jati dirinya. Malam semakin sunyi hanya semua orang di penginapan sudah terbuai dalam mimpi, tiba tiba ia di kejutkan oleh suara ora memanggil.
" Puteriku pergilah ke sebuah pondok di hutan Kayu di sana kau akan menemukan jawabanya" Ternyata Nilam hanya mimpi. Ia pun sangat penasaran atas mimpinya itu, dia juga tak mau membangunkan Tirta yang belum juga keluar dari kamarnya. Di pagi buta Nilam pergi seorang diri menuju Hutan Kayu.
Tirta terkejut setelah mengira bahwa Nilam belum bangun ketika matahari mulai terbit, dia mengira bahwa Nilam mungkin kecamatan. Namun setelah lama menunggu di depan pintu akhirnya ia mengetuk dan memanggil. Secara tak sengaja pemilik kedai melihatnya, ia mendekat dan memberi tahu Tirta bahwa Nilam pergi menuju Hutan Kayu di saat fajar.
" Maaf tuan, nona tadi pagi keluar seperti buru buru, kelihatanya ia berjalan menuju Hutan Kayu"
Tentu saja Tirta merasa ada yang aneh dengan Nilam karena sebelumnya ia tak pernah tertutup.
__ADS_1
Dia pun segera keluar menyusuri jalan masuk Ke dalam Hutan. Sementara itu Nilam terus berusaha mencari keberadaan rumah yang seperti di katakan dalam mimpinya, Setelah mencari cukup lama nampaklah sebuah pondok, Nilam pun berjalan mendekat.
Namun belum sampai ia mengetuk pintu dua orang lelaki menghadang jalanya.
" pucuk di cinta ulam pun tiba, orang yang sedang kita cari malah datang sendiri. Apa kamu sendirian Nona cantik? "
" Maaf Ki sanak berdua, aku bukan ingin berurusan dengan kalian aku hanya ingin bertanya apa di pondok ini tinggal seorang kakek ? "
Logending memandang Kebo Kenongo dia nampak heran kenapa wanita itu bisa tau tentang gurunya Ki Munding.
Namun mereka tak menjawab pertanyaan Nilam dan mengajaknya untuk bertarung. Nilam segera waspada dan membuka kuda kudanya . Begitu Logending dan Kebo Kenongo mengangkat kakinya hendak menendang Nilam melayang dan bertengger di atas pohon.
Logending segera menjejakan kakinya ke tanah dan bertengger di sebuah dahan pohon. Pertarungan terjadi di atas pohon keduanya sama sama lincah saling adu serang. Sementara itu Kebo Kenongo hanya mengawasi dari bawah.
" Tak usah berlama lama, gending hanya buang buang waktu? "
"ia kang , aku hanya ingin pemanasan dulu. Sebaiknya kamu menyerah Nona dan cepat kau serahkan pedang Halilintar"!
" Langkahi dulu mayatku baru kamu bisa mendapatkan pedang Halilintar. Sekarang aku akan gunakan pedang ini biar kamu tak penasaran"
Nilam segera mencabut pedangnya dan suara gemuruh serat kilat nampak. menyambar nyambar. Sementara itu Ki Munding yang kebetulan masih tertidur jadi kaget dan segera bangun. Dia lantas mengambil kerisnya dan buru buru keluar.
" Ada apa Kebo Kenongo? "
" Itu guru wanita pemilik pedang Halilintar datang dan mencari guru"
Tentunya hal itu membuat Ki Munding merasa heran, ada apa kiranya wanita itu datang untuk mencarinya.
Sementara itu Logending mencoba bertahan dari Pedang Halilintar, namun rupanya jurus Lembu Sekilan tak bisa lama ia gunakan lama lama jurus itu seperti menyerap semua energinya, dan akhirnya Logending jatuh untungkah Ki Munding cepat bergerak menangkap Logending yang jatuh Ke tanah.
Ki Munding segera mencabut kerisnya dari keris itu keluar cahaya merah yang memancar beradu dengan Kilatan petir yang menyambar . Kedua kekuatan beradu hingga terjadi ledakan berkali kali. Bahkan beberapa pohon terlihat mulai terbakar.
__ADS_1
bersambung.