
Jaka segera memasuki rumah pendekar buta .
Dewi Kumalasari dan Pendekar buta nampak kaget,namun rasa kaget berubah menjadi bahagia.
Jaka segera berusaha meminunkan air keabadian yang ia dapat dari istana dasar laut.
Tubuh Dewi Ambarwati mulai bereaksi setelah beberapa saat berhasil meminum air keabadian.
Jaka langsung memegang tangan ibundanya yang mulai bergerak gerak, pelan pelan Dewi Ambarwati mulai membuka kedua matanya.
Dewi Kumalasari tidak bisa menahan keharuan hingga ia menangis sambil memeluk Dewi Ambarwati.
Sementara itu setelah Patih Rangga Abang tidak menemukan sang Ratu di kadipaten Karang Ringin,beliau segera kembali ke istana.
Raja Jaya Wijaya nampak sedih,namun ia berusaha tetap tenang karena undangan sudah terlanjur di sebar.
Wisma kencana pun terus berbenah untuk mempersiapkan pesta yang akan di adakan dalam rangka menyambut sekaligus memberitahukan kepada hulu balang bahwa Raja Kelana masih hidup.
Sang raja juga mengundang rakyat Wisma Kencana untuk turut serta berpesta merayakan kepulangan sang raja Jaka Kelana.
Sementara itu Dewi Kalinggi juga tak rela untuk melihat kebahagiaan Raja Jaya Wijaya dan keluarga yang merupakan musuh bebuyutanya, hingga ia terus berupaya mengumpulkan kekuatan untuk menggagalkan acara tersebut.
Pendekar golongan hitam juga sudah banyak berdatangan mereka kebanyakan adalah musuh dari Jaka Kelana yang ingin menuntut balas.
Terlihat pula sepasang tangan besi dan mata satu yang ikut bergabung dengan Dewi Kalinggi.
Sungguh ancaman yang tentu saja sangat berbahaya jika mereka semua berusaha menggagalkan pesta yang akan di adakan oleh raja Jaya Wijaya.
Sementara itu kita kembali ke wilayah jurang kematian di mana Jaka dan Dewi beserta ibundanya sedang larut dalam kebahagiaan.
Namun di saat Jaka sedang bercengkrama dengan ibundanya tiba tiba hatinya bergetar dan tiba tiba ia merasakan firasat bahwa akan terjadi malapetaka di kerajaan Wisma Kencana.
Dalam benaknya Jaka seperti melihat istana Wisma Kencana di penuhi api yang berkobar.
Namun ia tak mau mengatakan firasat yang ia rasakan kepada ibundanya, karena takut ibunda Ambarwati yang baru sembuh harus merasakan kecemasan atas firasatnya.
__ADS_1
Sementara itu satu persatu tamu undangan dari kerajaan sekutu sudah mulai berdatangan.
Mereka datang dengan membawa para pengawal pilihan.
Patih Rangga Abang juga terlihat sibuk dan terus mengintruksikan kepada para prajurit untuk terus waspada dan memeriksa dengan ketat setiap tamu yang datang.
Sementara itu Dewi Kalinggi bersama anak buahnya bersama para sekutu dari pendekar aliran hitam mulai bergerak dengan menunggang kuda, mereka sengaja melewati jalan hutan biar tidak menimbulkan kecurigaan.
Malam telah menjelang di istana Wisma Kencana nampak seseorang sedang berjalan dengan memakai pakaian serba putih.
Rupanya sosok tersebut adalah Resi Somala yang terihat resah.
Sambil menengadah ke langit sang resi nampak semakin risau melihat cahaya rembulan tak kunjung terlihat akibat di tutupi awan hitam.
" Ehm,ehm"
Resi Somala berdehem untuk menghilangkan sejenak sesak yang ia rasakan.
" Oh Dewata,apa gerangan yang akan terjadi dengan Wisma Kencana? Aku tak pernah merasakan kecemasan sehebat ini!"
Sementara di Jurang Kematian Jaka juga terus saja gelisah dan matanya susah sekali untuk di pejamkan.
Sementara Dewi Kumalasari dan juga Ibunda Dewi Ambarwati sudah pulas dalam tidurnya.
Jaka memilih keluar untuk bertemu Pendekar Buta,namun rupanya Pendekar Buta justru terdengar mendengkur dengan keras.
Jaka memutuskan untuk keluar dari gubuk. Ia lantas berjalan dan duduk bersila di atas batu kedua matanya di pejamkan.
Entah mengapa kini nampak bayangan Resi Somala hinggap di pikiranya. Jaka segera berusaha untuk melakukan kontak batin dengan kakeknya.
" Kek! Kakeku resi Somala apakah engkau bisa mendengar panggilanku?
Tak selang berapa lama Resi Somala yang sedang bersemedi mendengar suara yang sangat tidak asing di telinga.
"Cucuku! Cucuku Jaka Kelana,apakah ini dirimu ngger?
__ADS_1
" Ia kek! Aku Jaka Kelana cucumu."Sahut Jaka.
Raut wajah Resi Somala menjadi semringah karena cucu yang sangat ia banggakan benar benar masih hidup.
"Kek,kek! Kenapa kakek diam?
Resi Somala menjadi terkejut dan kembali berkonsentrasi.
" Maafkan aku Jaka, aku larut dalam perasaan bahagia karena mendengar suaramu, suara yang hilang selama bertahun tahun!
Karena Reso Somala begitu rindu dengan Jaka hingga ia pun melakukan rogo sukma. Dalam sekecap sukma Resi Somala terbang melesat menuju Jurang Kematian.
Jaka juga tak bisa menahan keharuan melihat Kakeknya yang sangat ia cintai nampak sudah semakin menua.
Cukup lama keduanya bercengkrama melepas kangen hingga akhirnya Jaka mengungkapkan firasat yang tiba tiba ia rasakan mengenai situasi di Wisma Kencana.
Tentunya Resi Somala juga merasakan hal yang sama dan itu berarti memang akan ada pihak pihak yang akan membuat kekacauan di istana Wisma Kencana.
Jaka juga menegaskan bahwa pastilah ancaman tersebut berupa Dewi Kalinggi dan anak buahnya yang pastinya akan mengacaukan pesta di Wisma Kencana sebagai ajang balas dendam.
Resi Somala manggut manggut,ia bahkan mencoba menerawang untuk mengetahui keberadaan Kalinggi.
Wajah Resi Somala pucat pasi,rupanya nampak iring iringan orang berkuda yang sedang menuju kerajaan Wisma Kencana yang jumlahnya cukup banyak.
Nampak juga Dewi Kalinggi dan muridnya serta beberapa ketua pendekar dari aliran hitam yang berbahaya.
Jaka yang penasaran melihat raut wajah Kekeknya segera bertanya.
" Kek,apa yang kakek lihat! Kenapa wajah kakek nampak begitu cemas?
Resi Somala membuka matanya dan mendesah.
Ia pun segera menceritakan apa yang ia lihat dalam penerawanganya.
Tentunya itu sangat berbahaya karena sebentar lagi rombongan musuh sebentar lagi akan sampai di istana.
__ADS_1
Resi Somala segera pamit dan kembali ke raganya untuk memberitahukan perihal yang ia lihat dalam penerawanganya kepada Raja Jaya Wijaya.