
Dewi harus susah payah menghadapi serangan Kalinggi dan sepasang tangan besi.
Sementara Kiai Agung merasa bahwa dirinya masih cukup mampu melawan lampir, ia kemudian menyuruh Jaka Kelana membantu Dewi Kumalasari.
Jaka segera meninggalkan gurunya dan membantu Dewi mulai sedikit kesulitan menghadapi serangan Kalinggi dan kedua muridnya.
Sementara itu Kumambang dan Arya Wisapati menghadapi keroyokan para santri Kiai Agung.
Kini bulan purnama kembali sempurna dan membuat Kalinggi merasa tenaganya semakin bertambah.
Ia segera terbang ke angkasa dan bersiap dengan ajian penyerap Jiwa, sementara Jaka yang mengetahui maksud Kalinggi juga melakukan hal yang sama dengan ilmu penyerap daya.
Kini gumpalan awan hitam telah memenuhi langit, sinar bulan pun tidak dapat menembusnya.
Hingga puncak bukit menjadi gelap gulita.
Jaka juga terus berupaya menyerap kekuatan alam sebanyak banyaknya untuk mengimbangi jurus penyerap jiwa milik Kalinggi.
Sementara orang orang yang berada di bawah justru menghentikan kekuatan, mereka memilih menjauh dari pertarungan antara Jaka dan Kalinggi.
Kalinggi mengarahkan gumpalan awan menuju Jaka kelana.
Jaka pun menyambut dengan jurus penyerap daya.
Kedua kekuatan saling beradu, goncangan kembali terjadi dan membuat bebatuan yang berada di dinding bukit berjatuhan.
Para santri mencari tempat aman karena beberapa pepohonan ikut tumbang.
Sementara Kiai Agung dan Lampir terus saja bertarung tanpa memperdulikan keadaan di sekitarnya.
Kiai Agung kembali melempar tasbihnya dan kembali menjerat tubuh lampir, kiai Agung juga menggunakan sorbanya untuk menggulung tubuh lampir.
Lampir masih kebingungan dengan apa yang akan di lakukan Kiai Agung terhadapnya.
Ia tak pernah menduga bahwa kiai agung menyuruh muridnya melempar Peti yang sudah di siapkan.
Lalu beliau bergerak menyambar tubuh lampir dan memasukanya ke dalam peti.
Peti pun segera di tutup.
Lampir belum menyadari bahwa tubuhnya di masukan ke peti karena hampir semua tubuhnya terlilit kain sorban milik Kiai Agung.
Lampir terus saja berupaya melepaskan diri ,namun belum sempat ia menggunakan kekuatanya tasbih dan sorban yang menggulung tubuhnya hilang.
Lampir menjerit ketika mengetahui dirinya telah masuk di peti, ia pun teringat ketika Kiai Prayogo memenjarakan dirinya di dalam peti.
Kiai Agung menyuruh muridnya menjaga peti yang berisi lampir.
__ADS_1
Mereka juga duduk melingkari peti dan membaca doa doa yang telah di ajarkan Kiai Agung.
Dari dalam peti lampir menjerit jerit sejadinya karena tubuhnya merasa terbakar, saking panasnya lampir tak tahan hingga akhirnya pingsan.
Kiai Agung segera membantu murid muridnya yang kembali bertarung menghadapi Kumambang dan Wisapati.
Mereka sudah banyak yang terluka terkena tapak wisa dan juga cakaran manusia serigala Kumambang.
Kiai Agung kembali melempar tasbihnya dan berhasil menjerat Wisapati sementara kumambang di lilit menggunakan sorbanya.
Kedua penjahat tersebut kesulitan melepaskan jeratan dari sorban dan juga tasbih kiai Agung.
Kiai Agung kembali menyuruh muridnya melempar kedua peti yang masih kosong lalu mamasukan Arya Wisapati dan kumambang ke dalam peti dan lalu menutupnya.
Sementara itu Kuda Merta dan Surasena merasa ketakutan melihat kedua rekanya di masukan ke peti mati.
mereka pun saling bertatapan dan berniat melarikan diri.
" Kalian tidak bisa lari!" teriak Dewi yang langsung menggunakan ajian pengendali pikiran.
Kini Kuda Merta merasa tidak bisa mengontrol pikiranya dan malah menyerang surasena.
Surasena terkejut melihat pergerakan Kuda Merta yang berusaha menyerangnya.
Keduanya pun terlibat pertarungan,Dewi tertawa melihat tingkah mereka.
Sementara itu Jaka dan Kalinggi masih berada di udara dan terus berduel.
Namun Kalinggi sempat tersentak ketika aura kekuatan yang di miliki lampir tiba tiba hilang.
Kini nyalinya sedikit menciut karena ia menduga bahwa Kiai Agung sudah berhasil mengalahkan lampir.
" Apakah lampir telah mati, tidak aku tak mau bernasib sama seperti dia!"
" Kenapa kau menghentikan seranganmu apa kamu takut nenek sihir?" teriak Jaka.
"He he he he, tak usah banyak omong Jaka!"
Kalinggi kembali menggunakan ajian penyerap Jiwa dan kali ini ia menghantamkan pukulan awan hitamnya ke tanah hingga membuat para santri kembali panik.
Bahkan Dewi dan matasatu terkena jurus Kalinggi dan membuat keduanya terlempar.
Jaka menjadi emosi melihat istrinya terlempar akibat jurus penyerap Jiwa.
Kini ia pun berupaya untuk menggunakan ajian pelebur karang.
Kalinggi bersiap menyambut kekuatan dari ajian penghancur karang dengan kembali menggunakan ajian milik Jaka dan membaliknya.
__ADS_1
Jaka terkejut ketika merasa jurus yang ia lepaskan berbalik ke arahnya.
" Celaka Kalinggi dapat mengembalikan jurusku!"
Jaka segera mengeluarkan pedang suci dan menangkis kekuatan jurus penghancur karang yang bisa saja meledakan dirinya.
Dewi dan juga Kiai Agung terlihat cemas, mereka juga bisa merasakan bahwa ajian penghancur karang dapat di balikan oleh Kalinggi hingga menyerang Jaka.
Kali ini Jaka tak mau menggunakan ajianya lagi, ia segera menggunakan pedang suci yang mengeluarkan cahaya sangat terang hingga puncak bukit menjadi benderang.
Warga kampung dan juga seluruh santri yang berada di padaepokan bukit mulyo juga keheranan melihat bukit yang menjadi markas lampir berubah menjadi terang.
Kali ini kalinggi mulai sedikit ketakutan melihat kekuaan pedang suci, ia mencoba mencari cara untuk bisa mengalahkan Jaka Kelana.
Jaka segera melempar pedang suci dan bergerak meluncur , Kalinggi dengan sekuat tenaga menahan kekuatan cahaya yang terpancar dari pedang suci.
Namun ia tak kuasa dan justru memilih langkah seribu.
Namun pedang suci serasa tak ingin melepaskanya begitu saja ia terus bergerak mengejar kalinggi.
Kalinggi kembali melempar tusuk kondenya dan berubah menjadi saekor naga.
Namun kekuatan yang di miliki pedang suci langsung membuat perwujudan naga lebur terkena pancaran cahayanya.
Kini Kalinggi memanggil anak buahnya yang langsung bermunculan terdiri dari siluman genderuwo dan banaspati.
Jumlah mereka cukup banyak dan cukup mampu di jadikan tumbal untuk memuluskan pelarian Kalinggi.
Kalinggi segera lenyap dan pedang suci terus bergerak menyerang para siluman hingga tak tersisa.
Pedang suci memutar arah kembali ke tuanya Jaka Kelana.
Jaka yang sudah bersama Kiai Agung dan juga Dewi dapat merasakan kekuatan pedang suci bergerak kembali ke arahnya , ia segera bersiap dengan menarik nafas dalam dalam . Pedang suci meluncur dari langit dan langsung masuk kembali ke tubuh Jaka Kelana.
" Guru ternyata Dewi Kalinggi lolos lagi!" ucap Jaka.
" Memang belum takdirnya wanita iblis itu lenyap dari muka bumi!" Jawab Kiai Agung sambil menyeka keringatnya yang membasahi pipi.
Kiai Agung pun segera menyuruh para santri membawa peti masuk ke dalam goa.
Ia merasa bahwa tempat itu juga cocok untuk menyimpan peti yang berisi lampir,karena letaknya hampir tak bisa di jangkau oleh manusia biasa.
Bahkan pendekar dikdaya pun pikir pikir kalau mau mencapai tempat itu di karenakan letaknya yang sangat sulit di jangkau.
Setelah di pastikan semua berjalan dengan semestinya. Kiai Agung menutup goa dengan menggunakan batu besar dan mulai memagari goa dengan tenaga dalam.
Fajar mulai tiba dan suara kokok ayam hutan terdengar bersahutan.
__ADS_1
Kiai Agung mengarahkan muridnya mencari sumber air untuk berwudhu dan melakukan solat baru setelah itu mereka akan kembali ke padaepokan.