
Sementara itu Jaka dan Dewi sudah bersiap meninggalkan istana Hutan Kayu.
Setelah mengobati rindu bertemu dengan ayah dan ibunya.
Jaka pun mengajak Dewi menuju ke gubuk gurunya, namun sebelum itu ia mengajak Dewi untuk singgah sebentar di kadipaten Karang Ringin untuk memastikan tentang firasatnya.
Sementara Adipati Wiramastra nampak kaget setelah mengetahui laporan prajuritnya bahwa Bajra terlihat sangat panik dan memaksa ingin bertemu dengan dirinya.
Wajah Wiramastra pucat pasi setelah mendengar pengakuan dari Bajra, bahwa ada seorang pemuda yang berhasil mendapat pedang Setan dan terus menyebut nyebut nama Adipati Wiramastra.
Wiramastra nampak mulai ketakutan ketika Bajra menuturkan tentang ciri ciri dari pemuda yang mengancam Adipati.
Wiramastra segera memanggil prajurit.
" Prajurit bukankah Tirta dan Arya telah mati?"tanya Wiramastra kepada prajuritnya.
" Ampun tuan adipati, kemungkinan Tirta masih hidup, karena beberapa waktu lalu ada berita dari penduduk yang melihat sebuah kuburan di tengah hutan yang bertuliskan nama Arya Janu dan kemungkinan Tirta masih hidup dan dialah yang telah mengubur jasad ayahnya!" jawab prajurit.
Tiba tiba munjulah sesosok wanita yang berwajah cantik berlari dan berteriak teriak.
" Ha ha ha ha ha, kematianmu sudah dekat , Wira, Dewata akan segera mendatangkan karma untukmu, ha ha ha ha ha ha!" teriak si wanita yang tak lain adalah Sekar Ayu ibu Tirta.
Rupanya ia menjadi gila setelah di paksa melayani napsu bejat Wiramastra dan jiwanya terguncang melihat suami tercintanya mati di tiang gantungan.
Namun karena yang di butuhkan Wiramastra adalah tubuhnya saja untuk memuaskan napsunya, ia tetap menyuruh para emban untuk merias Sekar Ayu dan merawatnya.
Sekar Ayu terus memukuli dada Wiramastra sambil tertawa cekikikan.
" Enyahlah dari sini wanita gila! Prajurit bawa perempuan ini dan kurung di kamarnya!" teriak Wiramastra.
Bajra pun nampak keheranan.
" Itu siapa gusti, cantik cantik kok gila,apa itu selir gusti?" tanya Bajra.
" Ah sudahlah! Tak usah kau hiraukan dia." jawab Adipati.
Sebetulnya adipati mulai cemas dan ketakutan, jika pemuda itu benar benar Tirta yang akan membalas dendam.
Dia segera menyuruh Bajra membawa semua anak buah yang tersisa untuk bergabung dengan prajurit.
__ADS_1
Adipati juga terlihat memberikan dua buntelan uang koin perak dan emas, ia juga menawarkan Sekar Ayu jika Bajra tertarik padanya.
Tentunya Bajra lebih memilih dua buntelan emas yang adipati berikan, Bajra justru takut dengan Sekar yang gila.
Sementara itu Jaka dan Dewi seperti biasa menyamar menjadi rakyat biasa dan singgah di sebuah kedai.
Para tamu pun terdengar berbincang mengenai tragedi di alun alun hingga membuat Jaka dan Dewi penasaran.
" Maaf kisanak, bolehkah kami mendengar cerita Kisanak? Kebetulan kami masih famili dari Arya Janu yang berasal dari Karang Cendana!" ucap Jaka.
Rupanya Jaka cukup mengenal Arya Janu dan juga Sekar Ayu, Arya Janu merupakan salah satu prajurit di kerajaanya, namun setelah peperangan dan berhasil mengalahkan Dasarupa, hingga berhasil merebut tahta Karang Cendana,Arya Janu memilih pensiun dan bersama istrinya kembali ke Kadipaten Karang Ringin.
Jaka merasa sangat kaget mendengar cerita dari warga mengenai kematian Arya Janu yang di hukum gantung karena mencuri cincin mustika kadipaten.
" Kayaknya ada yang tak beres Kisanak? Aku sangat mengenal paman Arya, ia tidak mungkin mencuri!" pungkas Jaka.
" Awalnya kami juga kaget tuan! Karena Arya Janu dan Sekar Ayu orang baik, bahkan mereka tak pernah sombong dengan kedudukanya walaupun menjabat sebagai wakil adipati, beliu tak segan untuk membantu warga yang kesusahan,tidak seperti Adipati Wiramastra"timpal warga.
" Husshh! Jangan membawa bawa nama adipati nanti kamu kena batunya kaya si Arya."jawab salah seorang warga.
Tentunya jawaban itu membuat semua orang menjadi penasaran dan ingin bertanya.
Rupanya seorang warga tadi adalah suami dari emban yang di suruh adipati untuk menaruh Cincin mustika saat Sekar berkemas hendak meninggalkan istana.
Si Warga juga bercerita bahwa sesungguhnya Adipati menyukai Sekar Ayu, namun ia di tolak dan menyuruh Arya Janu untuk kembali menjadi rakyat biasa.
Sang Warga juga menyebut bahwa Sekar tidak di penjara dan di paksa menjadi selir hingga akhirnya menjadi gila.
" Apa benar benar seperti itu ki kejadianya? tanya Jaka.
" Benar tuan, bahkan kini istriku menjadi sakit sakitan karena rasa bersalahnya hingga akhirnya di pecat!" jawab warga sambil tertunduk lesu.
" Waduhhh, berarti kita sudah melakukan kesalahan!" ucap beberapa warga sambil memegang kepalanya, mengingat saat mereka ikut melempari tubuh Arya dan Sekar dan juga meludahi mayat Arya Janu.
" Begitukah perlakuan kalian!" bentak Jaka yang terbawa emosi hingga membuat meja hancur berantakan.
Jaka segera meminta maaf, setelah mengetahui para penduduk ketakutan.
" Kanda apa yang terjadi? Dewi segera bersuara.
__ADS_1
Jaka menarik nafas dan memberikan uang untuk membayar makanan dan ganti rugi meja yang ia hancurkan.
" Maaf ki, aku tak dapat menahan diriku dengan perlakuan kalian yang tega meludahi jasad yang sudah tak bernyawa!" Jaka tertunduk lesu, hingga membuat warga semakin merasa bersalah.
Dewi yang penasaran segera bertanya.
Singkat cerita Dewi sudah mengetahui duduk perkaranya ia juga nampak sedih mengetahui Arya Janu mati di gantung dan Sekar Ayu gila.
" Kanda kita harus membuat perhitungan dengan Adipati Wiramastra dan menyelamatkan bibi Sekar!" ucap Dewi sambi mengepalkan jari jarinya.
Jaka pun menahan Dewi untuk mengontrol emosinya dan mengajak Dewi menuju rumah warga yang pernah menjadi emban untuk mencari kebenaran.
Dewi begitu iba melihat sesosok wanita tua tergolek tak berdaya, suaminya juga nampak kedua kantung matanya hitam akibat kurang tidur menjaga istrinya.
Jaka segera memeriksa,ia pun menduga ada aliran darah di otaknya yang tersumbat akibat rasa bersalah yang terus menerus memenuhi kepalanya
hingga menjadi gumpalan.
Jaka segera mengalirkan hawa murni untuk menghilangkan penyumbatan di otak wanita tua hingga peredaran kembali lancar.
" Pak ,bapak aku merasa tubuhku terasa sehat pak, aku sembuh pak!" teriak si wanita yang langsung bangun dan memeluk suaminya.
" Terimakasih tuan pendekar berdua!"
Jaka dan Dewi hanya tersenyum, lalu Dewi mengambil sebuah buntelan dan mengambil beberapa koin emas untuk bekal sehari hari Ki Roso dan Nyi Muri.
" Sebenarnya siapa tuan berdua ini?" tanya Ki Roso.
"Kami hanya pengembara biasa Ki!" balas Dewi.
" Tidak aku tak percaya, aku jadi teringat akan tuan Raja Jaka dan Dewi yang merupakan seorang Raja dan Ratu yang baik hati suka membantu rakyat kecil, andai saja keduanya masih hidup!" wajah Ki Roso nampak sedih .
" Jangan terlalu berlebihan Ki, kami takut sombong kalau di bandingkan dengan Raja Jaka Kelana dan Dewi Kemalasari" jawab Jaka.
Ki Roso pun penasaran dan ingin mengetahui nama keduanya.
Jaka menyebut namanya Jaka Umbara dan Dewi sebagai Kumala.
Nyi Suri pun segera mengetahui tujuan Jaka dan Kumala, ia pun segera bercerita tentang semua kejadian yang menimpa Arya Janu dan keluarga hingga mata Nyi Suri berlinang air mata wajahnya pun berubah murung penuh penyesalan.
__ADS_1