
Pasukan Panaruban bergerak ke wilayah perbatasan untuk menghadang pasukan Kalingga yang akan memerangi Panaruban.
Jaka sudah meminta kepada Raja supaya ia menahan serangan sebelum Jaka menyudahi pertarungan dengan pangeran Kamandaka.
Sementara itu Pangeran Kamandaka menghentikan pasukanya ketika sudah berada di batas wilayah Kalingga dan juga Panaruban.
Sayup sayup mulai terlihat pasukan Raja Rangga Wulung bergerak mendekati perbatasan.
Pangeran Kamandaka memberi perintah agar senopati Kebo Anabrang tetap bersiaga di tempat sambil menunggu perintah selanjutnya.
Sementara itu Raja Rangga sengaja menghentikan pasukan sedikit jauh dari batas wilayah.
Jaka di temani Dewi Kumalasari serta Sekar Mayang yang bersikeras untuk ikut segera memacu kudanya mendekati pasukan Kalingga.
" Ha ha ha ha, rupanya punya nyali juga kau !" teriak Kamandaka kepada Jaka Kelana.
" Aku adalah ksatria pantang mundur bagiku sebelum aku dapat mengalahkanmu hingga hura hara akibat ulahmu berakhir!" balas Jaka.
Sementara Dewi dan Sekar
berada agak jauh di belakang Jaka Kelana.
Jaka dan Kamandaka masih terlibat perdebatan hingga akhirnya kamandaka menghentakan kakinya di punggung kuda dan kemudian melompat.
Melihat Kamandaka melompat Jaka juga melakukan hal yang sama, hingga keduanya pun bertemu di udara dan saling menyerang.
Gerakan keduanya sangat gesit dan cepat, semua mata memandang ke pertarungan.
Kamandaka terus berupaya untuk bergerak cepat melepaskan tendangan dan pukulan yang penuh aliran tenaga dalam, namun Jaka juga masih bisa bergerak menghindar dan sesekali menangkis pukulan Kamandaka.
Hingga beradulah dua kekuatan tenaga dalam yang besar dan memporak porandakan situasi di sekelilingnya.
Senopati Kebo Anabrang merasa khawatir takut prajuritnya menjadi korban, hingga ia pun menyuruh para prajurit mundur menjauhi lokasi pertarungan.
Sementara Jaka dan Kamandaka semakin meningkatkan tenaga dalamnya, Jaka kali ini bersiap menggunakan pukulan matahari dan langsung mengarahkan pukulanya mengincar bagian dada Kamandaka.
Kamandaka segera bersiap, ia menggunakan ajian tameng waja, yang membuat tubuhnya sekeras baja.
Jaka melepaskan pukulan matahari namun dengan cepat jurus tameng waja dapat menahanya hingga keduanya pun sama sama terpental.
Ledakan kembali terjadi.
"Dooor"
" Kriieettttt"
" Bruuukkk"
Ledakan menghantam pohon besar dan roboh seketika.
__ADS_1
Para pasukan Kalingga panik dan kembali mundur menjauhi area pertarungan.
Jaka dan Kamandaka masih berimbang keduanya masih sama sama menjajaki kekutan musuhnya.
" Kekuatanmu lumayan pemuda bodoh, tapi apa kamu bisa menahan seranganku ini?" teriak
Kamandaka sambil mengeluarkan sebuah boneka dari balik bajunya.
Kamandaka mencoba memukul kepala boneka tersebut hingga Jaka mulai merasa kepalanya sakit.
" Aku terkena teluh" pikir Jaka sambil memegangi kepalanya yang sakit.
Kamandaka tertawa melihat Jaka mulai bereaksi memegang kepalanya dan mengerang menahan serangan Kamandaka yang mulai menusuk bagian dada boneka yang ia pegang.
Sementara Jaka mencoba untuk tenang lalu kemudian duduk bersila membaca doa dan memasrahkan keselamatan dirinya kepada Allah SWT.
Hingga rasa sakitnya mulai hilang.
Kamandaka keheranan melihat boneka yang ia tusuk sudah tidak memberikan reaksi terhadap Jaka, bahkan Kamandaka kaget ketika boneka di tanganya tiba tiba meledak dan hancur.
Dewi dan Sekar terlihat cemas dan terus mengamati pertarungan.
Dewi juga sudah merasa tanganya gatal dan segera ikut bertarung melawan Kamandaka, namun Jaka melarangnya, karena dialah yang langsung mendapat tantangan dari pangeran Kamandaka.
Dewi pun tak mau di anggap nanti kalau ia membantu justru malah akan memberikan citra butuk kepada Jaka, yang di anggap tidak ksatria.
" Bagaimana pangeran boneka mainanmu telah hancur! sekarang apalagi yang akan kamu lakukan?" teriak Jaka.
Kamandaka semakin emosi mendengar kata kata Jaka.
Ia lantas mengeluarkan guji penarik sukma untuk menyedot tubuh Jaka masuk ke dalamnya.
"Ha ha ha ha, kita lihat saja apa kamu mampu menahan guji saktiku ini!" jawab Kamandaka sambil mengangkat guji tersebut.
Angin tiba tiba saja mengitari tubuh Jaka dan berusaha menariknya masuk ke dalam guji.
Jaka pun segera memusatkan pikiranya dan mencoba jurus pelebur sukma, sukma Jaka segera keluar dan terbang menghantam guji tersebut hingga hancur.
Bahkan tubuh Kamandaka ikut terlempar hingga jauh dan menimpa para prajurit Kalingga.
" Pangeran, apa engkau tidak apa apa? tanya Senopati Kebo Anabrang.
"Apa kita segera bergerak untuk menyerang" imbuhnya.
Kamandaka masih bisa bangkit dan mengangkat tanganya, memberi tanda kepada senopati untuk menahan serangan.
Kamandaka kembali menghentakan kakinya ke tanah dan terbang kembali dan mendarat tepat di depan Jaka Kelana.
"Sekarang tunjukan jati dirimu yang sebenarnya sebelum aku membunuhmu?" bentak Kamandaka.
__ADS_1
Rupanya ia mengetahui sedikit tentang jurus pelebur roh atau sukma yang telah berhasil menghancurkan guji saktinya.
" Baiklah biar kamu tidak mati penasaran, aku adalah Jaka Kelana anak dari Raja Jaya Wijaya penguasa Wisma Kencana! Sekarang bersiaplah untuk menemui ajalmu, Kamandaka?" teriak Jaka.
Kamandaka nampak tak percaya mendengar orang yang ia hadapi adalah Raja Agung Jaka Kelana,.
Orang yang berhasil mengalahkan Darma Wisnu, nyalinya pun menjadi ciut.
" Tahan tahan seranganmu Baginda, aku menyerah! Mohon ampuni aku!"pinta Kamandaka sambil berlutut di hadapan Jaka.
Jaka yang sudah terlanjur mengeluarkan pedang suci yang cahayanya membuat semua mata takjub kembali memasukan senjata itu kedalam tubuhnya, hingga cahaya yang menyilaukan mata kembali hilang.
Senopati Kebo Anabrang tidak percaya melihat Pangeran Kamandaka berlutut di hadapan Jaka Kelana.
" Siapa sebenarnya pemuda itu, mengapa Pangeran sampai berlutut menyembahnya" pikir Kebo Anabrang.
Para prajurit juga saling pandang mereka kebingungan melihat junjunganya menyembah musuhnya.
"Baiklah Pangeran Kamandaka, kali ini aku ampuni dirimu, sekarang kembalilah ke Kalingga bersama pasukanmu dan Jangan lagi berbuat ulah kepada Puteri Sekar Mayang serta mencoba mengusik Kerajaan Panaruban!" ucap Jaka.
Kamandaka pun berjanji tidak akan mengulangi perbuatanya dan akan memimpin rakyatnya lebih baik lagi.
Kamandaka segera berbalik badan dan melompat kembali ke pasukanya.
Senopati Kebo anabranng mencoba mendesak Pangeran Kamandaka tentang pemuda yang menjadi lawanya, namun justru Pangeran Kamandaka membentaknya supaya menyuruh pasukanya untuk kembali ke Kalingga.
Senopati tidak berani mendesak Pangeran, ia segera menuruti perintahnya.
"Pasukan kita kembali ke Kalingga!" teriak senopati.
Para prajurit segera membalikan kuda mereka dan segera memacu kudanya kembali Ke Kalingga.
Sekar Mayang nampak keheranan melihat Kamndaka berlutut dan kemudian pergi bersama pasukanya ke Kalingga.
Sementara Dewi sangat bersyukur melihat Jaka baik baik saja dan dapat membuat jera pangeran Kamandaka.
" Syukurin kamu pangeran cabul" pikir Dewi sambil memacu kudanya menghampiri Jaka dan mengajaknya naik kuda yang sama.
Perasaan Sekar Mayang menjadi tak karuan melihat Jaka dan Dewi menaiki kuda bersama dan terlihat sangat mesra, Dewi bahkan sengaja memeluk Jaka dari belakang.
"Mari tuan puteri kita pulang!"ucap Jaka.
"ia ia ia Kanda, Eee, maaf tuan Jaka!"balas Sekar Mayang gugup.
Tentu saja jawaban Sekar yang gugup membuat Dewi di penuhi banyak pertanyaan yang berkecamuk di hatinya yang ia lampiaskan dengan mencubit perut Jaka.
" Aduh sakit Dinda! teriak Jaka sambil menarik pelana kudanya.
Namun Dewi tak menghiraukan hingga membuat Sekar yang mengetahui hal tersebut menjadi terlihat canggung.
__ADS_1