JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA

JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA
Serasa Mimpi


__ADS_3

Setelah kondisi gurunya sudah stabil, Jaka bersama Dewi segera mendesak Ki Samber Nyawa untuk menceritakan apa yang terjadi.


Ki Samber Nyawa juga tak tahu pasti, ketika ia sedang berpatroli di istana Karang Cendana tiba tiba ada sesosok bayangan yang menyelinap.


Lalu Ki Samber Nyawa mengejar bayangan tersebut hingga masuk kedalam hutan .


Karena malam hari Ki Samber Nyawa tak bisa memastikan bahwa orang yang bertarung denganya seorang pria atau wanita, yang ia ingat orang itu sangat sakti dan mampu mengembalikan semua jurus dan ajian yang ia keluarkan untuk menyerangnya.


Terakhir aku menggunakan jurus Dewa Gledek dan justru berbalik menyerang tubuhku, hingga aku tak sadarkan diri dan tahu tahu sudah berada di dalam goa, semua kulitku terasa panas dan melepuh terkena jurus Dewa Gledek.


Ki Samber Nyawa menyudahi ceritanya sambil terdengar menarik nafas panjang, matanya terlihat kosong kembali terbayang saat pertarungan menghadapi orang misterius yang sakti mandera guna.


Jaka beserta Dewi Mencoba menelisik kira kira siapakah orangnya yang memiliki kesaktian yang luar biasa.


Namun Jaka cukup yakin jikalau orang tersebut adalah Dewi Kalinggi atau Lampir.


Sementara itu di goa Wlirang tempat yang di gunakan untuk menyekap Ki Samber Nyawa nampak sosok kelima orang yang menjaga Ki Samber Nyawa hanya terdiam, terlihat seorang wanita dengan memakai jubah hitam sedang mengoceh tiada habisnya.


Ia nampak sangat marah ketika mengetahui bahwa tawananya telah berhasil kabur.


Nampaknya sosok wanita itu memang Dewi Kalinggi.


Terlihat wajahnya sedikit berubah ketika mendengar penuturan anak buahnya bahwa yang telah menolong Samber Nyawa adalah sepasang pendekar muda.


Salah seorang muridnya juga berkata bahwa orang tersebut memiliki ajian penghancur karang dan juga Dewa angin, serta yang paling mereka ingat adalah sebuah pedang yang memancarkan cahaya dan membuat seisi hutan menjadi terang benderang.


Tentunya Kalinggi terkejut bukan kepalang.


"Kurang ajar, kedua manusia itu masih hidup rupanya,cuuiihhh, sial sial, aku kira mereka sudah mati!" teriak Kalinggi sambil menjambak rambutnya yang gimbal.


" Aku harus memanggil Kumambang dan Arya Wisapati !" pungkas Dewi Kalinggi.


Sementara itu Ki Samber Nyawa sudah mulai bertingkah konyol, ia terlihat minum arak dan memperagakan sebuah jurus yang ia beri nama, jurus Aki Tua Mabok.


Walaupun terlihat sempoyongan namun setiap gerakanya mengandung unsur tenaga dalam yang sangat mematikan.


Rupanya setelah kekalahanya Ki Samber Nyawa sengaja membuat jurus yang nyleneh berharap agar musuhnya tidak dapat membaca gerakanya hingga tak dapat membalik jurus tersebut.


Sementara itu Jaka dan Dewi sudah sangat merindukan ayah dan ibunya , Raja Jaya Wijaya dan Dewi Ambarwati.


Namun keduanya bingung setelah mengetahui bahwa mereka sudah di anggap mati saat pertarungan melawan Darma Wisnu.


Walaupun Dewi Ambarwati awalnya sangat yakin kalau keduanya masih hidup.


Namun ia pun akhirnya menyadari setelah bertahun tahun tidak ada kabar berita tentang putra putrinya, hingga ia juga menganggap bahwa Jaka dan Dewi telah mati.


Tentunya Jaka dan Dewi merasa sedih, mereka justru belum merasa siap untuk bertemu Raja Jaya Wijaya dan Juga Dewi Ambarwati.


Dewi juga berlinang air mata ketika mengingat kejadian bahwa ayahnya tubuhnya hancur terkena pukulan meteor milik Darma Wisnu.


Jaka pun mencoba menghiburnya dan mengajak Dewi menemui ibundanya di kerajaan Hutan Kayu Emas.

__ADS_1


Tentu saja Dewi langsung mengusap air matanya dan berubah menjadi riang.


"Ayo kita berangkat Kanda!"


Jaka tersenyum dan mengangguk.


Keduanya segera menemui Ki Samber Nyawa dan meminta izin menuju kerajaan Hutan Kayu Emas.


Dewi segera mengubah wujudnya menjadi elang raksasa dan bersama Jaka terbang menuju hutan Kayu Emas.


Dari angkasa terlihat dua sosok bagunan yang menjulang tinggi, Jaka terlihat sedih campur bahagia, kenanganya kembali ke masa lalu saat melihat kedua kerajaan hancur lebur karena ulah Darma Wisnu.


Namun wajahnya sumringah dan hatinya lega melihat kedua kerajaanya telah kembali berdiri kokoh dan terlihat megah.


Hingga tak terasa telah sampailah mereka di hutan Kayu Emas.


Dewi dan Jaka sengaja menyamar untuk masuk istana menjadi rakyat biasa.


Nampaklah kerajaan Hutan Kayu terlihat semakin megah dengan warna dinding berlapis emas dan memancarkan warna kuning emas yang begitu menawan.


Rakyatnya juga terlihat adem ayem.


Dewi segera memohon izin kepada prajurit jaga untuk masuk dan menemui ratu Tunjung Biru.


"Maaf ki dan Nyisanak, ratu sedang sakit keras dan tidak bisa di temui, paling Raja Ranaya Kandi yang berkenan menemui kalian!" jawab prajurit.


Tentunya Dewi menjadi sangat cemas mendengar ibundanya sedang sakit, namun ia merasa bahagia mendengar ayahandanya Raja Ranaya Kandi masih hidup.


Jaka segera menggenggam tangan Dewi.


" Tenanglah Dinda, kendalikan dirimu, bukankah kita sedang menyamar!"


"Maaf prajurit bukankah sang raja telah mangkat saat tubuhnya hancur oleh pukulan Darma Wisnu?"tanya Jaka menimpali.


Prajurit:" Kami sangat bersyukur rupanya yang menjadi raksasa dan meledak hanya salah wujud sang raja yang sedang membelah diri!"


Tentunya Dewi dan Jaka menjadi sangat bahagia dan segera bergegas memasuki istana.


Ranaya Kandi:" Maaf Ki,Nyi, ada keperluan apa kalian berdua menemuiku?"


Dewi sudah tak dapat menahan perasaanya hingga ia berlari dan memeluk erat tubuh Ranaya Kandi.


Semua tamu kebingungan melihat rakyat biasa berani melakukan hal tersebut kepada rajanya.


" Pasti ia akan di hukum, lancang sekali berani memeluk raja!" ucap salah satu tamu, hingga jadi bahan gunjingan.


Sementara Jaka sengaja membiarkan, ia hanya berdiri mematung sambil mendengarkan gunjingangan para tamu terhadap istrinya.


Dewi segera membuka cadar yang menutupi wajahnya dan melepaskan pakaianya yang di gunakan untuk menyamar.


Semua orang kaget dan segera menghentikan perdebatanya, Raja Ranaya Kandi menangis sejadi jadinya.

__ADS_1


" Putriku, putriku, Dewi Kumalasari, ini benar benar dirimu,nak, apa aku sedang bermimpi?"


Dewi memegang kedua tangan ayahnya dan di gunakan untuk menyapu wajahnya.


" Ia ayah aku Dewi anakmu, aku masih hidup ayah!"


Keduanya pun kembali berpelukan dan hujan air mata.


Semua tamu juga ikut larut dalam keharuan,mereka juga sangat bahagia karena sang puteri yang baik hati ternyata masih hidup dan kini telah kembali ke kerajaan Hutan Kayu Emas.


Jaka pun segera membuka penyamaranya hingga semua orang yang hadir mengenalinya, mereka pun segera berlutut memberi hormat.


Raja Ranaya Kandi segera berjalan ke arah Jaka dan kemudian memeluk menantu kesayanganya yang sangat ibanggakan.


"Hidup Raja Jaka Kelana dan Juga Ratu Dewi Kumalasari"


"Hidup"


" Hidup"


"Hidup"


Mereka terus menyebut nyebut nama Jaka dan Dewi hingga mereka berlalu untuk bertemu Ratu Tunjung Biru.


Terlihat sang ratu tergolek lemas di atas kasur yang berlapis emas dan permadani.


Dewi segera berlari dan menangis tersedu di samping ibundanya.


" Siapa siapa kamu, kenapa kamu menangis?" Tanya sang Ratu.


" Ibunda aku aku, Dewi Kumalasari anakmu!" teriak Dewi dengan tersedu sedu.


" Tidak tidak anaku telah mati, kamu jangan mengada ngada!" Teriak sang ratu.


Dewi pun berusaha memegang tangan ibundanya yang meronta.


" Tidak, tidak , anaku telah mati!"


Raja Ranaya Kandi segera mendekat dan berusaha menenangkan Sang Ratu.


" Dinda tenanglah, sekarang perhatikan wanita di hadapanmu!" Perintah Sang Raja.


Ratu Tunjung Biru berusaha duduk dan memandang wajah wanita yang mengaku sebagai anaknya.


" Dewi, Dewi anaku"


Sang Ratu segera bangkit dan meraba raba wajah Dewi.


" Ia benar Kanda Raja, ini Dewi, jadi, jadi kau masih hidup!"


Ibu suri berteriak histeris dan langsung mendekap tubuh Dewi tangis bahagia pun pecah, cukup lama keduanya larut dalam keharuan hingga tak menghiraukan Raja dan juga Jaka yang berada dalam satu ruangan.

__ADS_1


Namun Jaka juga merasa sangat bahagia, ia lantas berjalan dan kembali memeluk mertuanya Raja Ranaya Kandi.


__ADS_2