
Raja Mata Satu terkejut ketika seorang mata mata yang berhasil menyamar menjadi rakyat biasa, melapor tentang sepasang pendekar yang sangat di elu elukan oleh Gajah Laya dan para penduduk sekitar yang nantinya akan mengembalikan kerajaan Hulu Semingkir seperti sedia kala, ketika masih di pimpin oleh Arya Semingkir.
Raja Mata Satu segera menyuruh anak buahnya untuk memanggil guru besarnya yang merupakan jin yang mengaku sebagai dewa api dan dewa matahari.
Beberapa prajurit membawa kemenyan yang berukuran cukup besar, lalu mereka membakarnya sambil mukutnya komat kamit membaca mantera.
Bau kemenyan yang harum ke segala arah dan tiba tiba munculah asap hitam yang seakan jatuh dari langit dan kemudian membentuk sesosok tubuh yang tinggi besar dan kepalanya memiliki tanduk.
" Hua ha ha ha ha, ada apa kamu memanggilku, Mata Satu!" bentak mahluk tersebut.
Mata Satu" Maaf guru, aku terpaksa memanggilmu karena ada hal yang ingin aku tanyakan!"
" Cepat katakan tak usah basa basi!" Bentak jin tersebut.
" Guru ada sepasang pendekar asing yang berhasil masuk ke kawasan Hulu Semingkir, bukankah kita telah menyelimuti seluruh kawasan hulu semingkir dengan pagar gaib agar orang luar tak dapat memasukinya.Apakah gerangan kedua orang ini adalah sang penyelamat seperti ucapan Resi Ramadipa sebelum menemui ajalnya. Bahwa kelak akan ada sepasang pendekar yang merupakan seora pemuda tangguh yang datang mengendarai burung besar yang akan mengembalikan kerajaan Hulu Semingkir seperti seperti sedia kala" ucap Raja Mata Satu.
Raja jin yang mengaku sebagai dewa api lantas melakukan penerawangan, namun kala itu rupanya Jaka dan Dewi sedang berdzikir setelah sebelumnya melakukan solat, hingga yang nampak hanyalah kabut putih yang penutup penerawangan Raja jin tersebut.
Namun karena ia tak mau di remehkan Raja Mata Satu hingga berusaha berbohong dengan mengatakan bahwasanya kedua orang tersebut bukanlah orang yang di maksud oleh Resi Ramadipa.
Raja jin kemudian hilang, Raja Mata Satu sedikit curiga dengan pertanyaan gurunya, hingga ia mengutus beberapa orang untuk kembali menyusup ke rumah Gajah Laya.
Sementara itu setelah berhasil mendapatkan pedang suci Jaka berusaha untuk berlatih keras agar bisa memadukan kekuatanya dengan pedang suci.
__ADS_1
Sementara Dewi terus menyempurnakan ajian penyerap daya agar hasilnya lebih maksimal.
Sementara terlihat dua orang kerdil sedang bertamu di rumah Gajah Laya, kedua orang tersebut berusaha mengorek informasi tentang sepasang pendekar asing yang memasuki wilayah kerajaan Hulu Semingkir.
Matoa nampak mulai menaruh curiga karena kedua tamu Gajah Laya kelihatan sangat antusias mencari tahu tentang kedatangan Jaka dan Dewi.
Gajah Laya juga sudah dapat membaca situasi, rupanya ia sudah mengetahui bahwa kedua orang kerdil tersebut adalah mata mata dari Raja Mata Satu.
" Baiklah aku akan memberi tahu tentang kedua orang tersebut asal kalian mau jujur kepadaku!" Bentak Gajah Laya.
" Maksud tuan Gajah bagaimana?" Jawab kedua tamunya yang nampak kebingungan.
Matoa segera berdiri dan menyuruh para warga untuk menangkap mereka.
" Aduh celaka kita ketahuan" ucap salah seorang mata mata sambil mengeluarkan sebuah guji.
Untunglah Jaka dan Dewi sudah mengahiri latihanya dan segera bergegas ke rumah Gajah Laya.
Jaka dan Dewi curiga ketika mereka melihat dua orang manusia kerdil berlari kencang keluar dari rumah Gajah Laya.
Jaka dan Dewi segera mengejar dan berhasil menangkap kedua manusia kerdil dan di cangking masuk kembali untuk menemui Gajah Laya.
Akhirnya kedua manusia kerdil mengaku bahwa ia adalah mata mata utusan dari Raja Mata Satu, yang di tugaskan untuk mencari tahu tentang sosok pendekar asing yang memasuki wilayah Hulu Semingkir.
__ADS_1
"Kanda ini adalah kabut ilusi, seperti yang biasa di gunakan oleh bangsa jin untuk mengelabui lawanya" ucap Dewi sambil mengamati asap yang belum sepenuhnya hilang.
Jaka nampak mengamati, ia mulai berpikir bahwa jangan jangan tanah yang gersang dan tubuh kerdil hanya akal akalan Raja Mata Satu untuk menakuti penduduk.
Dan semua hanyalah ilusi, bahwa ada sebuah kekuatan yang membatasi penglihatan, yang seolah olah negeri Hulu Semingkir menjadi gersang dan tandus, serta para warga menjadi bertubuh kerdil.
Jaka mencoba meletakan kedua telapak tanganya di lantai, kemudian dia berdiri dengan posisi kepala di bawah.
Jaka kaget ketika melihat bahwa sesungguhnya tubuh para warga juga nampak normal, dan nampak jelas pohon juga di penuhi dengan daun yang hijau.
Semua orang yang berada di rumah Gajah Laya, kebingungan melihat polah Jaka yang di anggap nyeleneh.
" Dinda ternyata selama ini kita sudah tertipu dengan apa yang kita lihat!" Bisik Jaka di telinga Dewi Kumalasari.
" Maksud Kanda?" jawab Dewi lirih sambil nampak muka penasaran.
" Sudah , nanti biar aku jelaskan di kamar!" ucap Jaka kembali berbisik di telinga Dewi Kumalasari.
"Ehm,ehm,ehm" Matoa berdehem.
" Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Matoa kepada Jaka dan Dewi.
Dewi:"ohh, tidak ada apa apa Matoa, kami hanya sedang membicarakan tentang kedua manusia kerdil yang tadi kami tangkap!"
__ADS_1
Matoa cuma membalas perkataan Dewi dengan senyuman.
Sementara itu Gajah Laya bersama warga sedang mengintrogasi kedua mata mata yang berhasil di tangkap.