
Malam mulai menyelimuti langit wilayah Kaisar Ci. Pasukan Ciming danJendral Kwan beristirahat di tenda sambil menunggu waktu pagi. Tak terasa dua hari sudah Jaka dan Dewi belum juga kembali. Sementara itu nampak Jendral Chong dan Jendral Kwan terus bersiaga berpatroli untuk mengecek para prajurit yang mendapat giliran Jaga.
Sementara itu Guru Chen nampak gelisah hingga tak bisa tidur. Beliau pun memutuskan untuk keluar dari tenda dan berjalan berkeliling berharap agar kantuk segera ia rasakan.
Di sisi lain di istana kekaisaran nampak Dewi Kalinggi sedang membaca mantera untuk memanggil pasukan silumanya untuk membuat kekacauan terhadap pasukan Ciming.
Para siluman segera datang dan langsung meluncur terbang menuju kemah pasukan Ciming. Rupanya Guru Chen mulai merasakan hawa siluman semakin lama semakin pekat. Dia pun bergegas menjari Jendral Chong dan juga Jendral Kwan untuk berbincang.
Tak selang berapa lama ketiganya bertemu dan berbincang mengenai adanya hawa mahluk tak kasat mata yang terus mendekat ke kemah pasukanya.
Jendral Chong segera menyuruh prajurit jaga untuk membunyikan lonceng supaya pasukanya bangun dan bersiaga.
Para prajurit segera bangun dan mengambil senjata lalu bergegas berkumpul dengan siap berperang .
Jendral Chong memberi penjelasan supaya para prajurit bersiaga dan waspada dan bersiap jikalau ada serangan tiba tiba.
Langit yang benderang karena bulan bersinar seketika di tutupi awan. Guru Chen segera duduk bersila bersama kedua Jendral Yaitu Chong dan Kwan. Sementara para prajurit terdiam kebingungan.
Kaisar Ci yang baru keluar dari tenda segera berteriak agar pasukanya kembali memukul lonceng sambil mengucap mantera doa sesuai dengan kepercaya'anya masing masing yang tujuannya untuk mengusir aura kegelapan yang semakin kuat ia rasakan.
Riuh suara lonceng terdengar ramai di barengi mantera mantera doa. Awan yang menutup bulan purnama perlahan lahan bergeser hingga cahaya bulan kembali bersinar terang.
Aura siluman pelan pelan juga semakin menjauh dan menghilang.
Guru Chen dan kedua Jendral bangun dari duduk semedinya. Sementara para prajurit juga menghentikan pukulan loncengnya.
Namun tak selang berapa lama aura siluman kembali mendekat di barengi kepulan asap hitam di antara tenda tenda yang kemudian menjelma menjadi beberapa sosok tubuh mahluk yang mengerikan.
__ADS_1
Dengan membabi buta mereka menyerang para prajurit dan membuat mereka ketakutan.
Para mahluk tersebut juga kebal terhadap senjata.
Kepanikan menguasai ribuan orang yang terus membabi buta menyerang ratusan mahluk yang muncul dari asap. Guru Chen kembali berteriak supaya para pasukan tenang dan kembali memukul lonceng dan membaca mantera doa.
Usahanya kini berhasil beberapa siluman merasa kepanasan dan kembali menemui tuanya.
Sementara itu Dewi Kalinggi merasa geram anak buahnya kalah dan kembali dengan tubuh kepanasan. Kali ini ia mencoba bersabar dan akan menunggu malam berikutnya, dia yang akan langsung memimpin penyerangan. Tentunya hal itu akan sangat berbahaya bagi pasukan Kaisar Ci, walaupun jumlah mereka puluhan ribu orang namun Dewi Kalinggi mampu untuk mengurung mereka semua masuk ke dunia ilusi hingga satu persatu dari prajurit Kaisar Ci akan binasa.
Sementara itu Jaka dan Dewi setelah mendapatkan dua pusaka dari gurunya Kiai Agung Prawoto yang berupa Gogok Sakti dan Cambuk Api segera terbang kembali menuju Tibet. Mereka juga merasa was was jikalau Dewi Kalinggi menggunakan Ajian Kabut ilusinya untuk memperdaya pasukan Kaisar Ciming.
Dewi Kumalasari menambah kecepatan terbangnya dengan meminum air keabadian yang mampu melipat gandakan kekuatanya . Jaka pun berharap bahwa sebelum waktu malam mereka sudah sampai di Tibet.
Langit mulai senja,kali ini Jendral Chong menyuruh para prajuritnya untuk bersiaga dan tidur bergantian,karena kemungkinan serangan akan kembali datang dan kini jumlah mereka akan semakin banyak .
Guru Chen juga membuat mantera mantera yang ia tulis pada lembaran lembaran kertas dan di pasang mengelilingi kawasan tenda pasukan.
Mhing Chun juga akan ikut serta setelah di beri ilmu kesaktian yang mengubah dirinya menjadi mahluk setengah siluman, kekuatan tenaga dalamnya juga meningkat berpuluh kali lipat.
Kini keduanya memimpin pasukan siluman pergi ke perbatasan menuju kemah musuh. Jendral Chong juga sudah menyiapkan para prajurit untuk berjaga dan tidur bergantian . Tangan mereka juga memegang lonceng yang biasa di gunakan untuk sarana doa. Sementara kertas kertas mantera yang di pasang di tiang seperti umbul umbul tertiup angin. Desiran angin semakin lama semakin kencang dan bererapa di antaranya ada yang lepas dan sobek karena angin terus bertambah kencang.
Kalinggi dan Mhing Chun telah sampai di atas kemah musuh. Kalinggi dan para siluman tiba tiba merasa kepanasan dan tidak dapat menembus pagar mantera yang di pasang mengelilingi kemah. Mhing Chun segera mendapat perintah dari Kalinggi untuk menggunakan Pukulan Api Neraka yang tujuannya untuk membakar seluruh mantera yang terpajang hingga mereka dapat masuk ke area kemah dan membuat huru hara. Mhing Chun segera bersiap dengan menarik nafas panjang dan mengalirkan tenaga dalamnya berpusat pada kedua telapak tangan hingga keluar berupa bola bola api yang langsung melesat membakar mantera mantera yang di pasang mengelilingi kemah.
Guru Chen dan semuanya menjadi kaget karena seluruh mantera yang di pasang terbakar api. Jendral Chong segera berteriak agar prajuritnya membunyikan lonceng sambil membaca mantera doa.
Kalinggi tak mau tinggal diam, ia kini membuat pusaran angin dengan gelombang bergulung gulung dan di hantamkan ke tengah tengah prajurit yang sedang berdoa.
__ADS_1
Pusaran angin meluncur sangat cepat namun seakan ada tabir yang menahanya. Rupanya itu adalah energi yang berasal dari doa doa yang di panjatkan oleh para prajurit. Kalinggi merasa kecewa karena kekuatan doa masih mampu menahan serangannya.
Kini Mhing Chun kembali beraksi dengan terjun ke tengah tengah prajurit yang sedang berdoa sambil melepaskan pukulan Api Neraka,hingga membuat mereka terbakar api dan konsentrasi menjadi hilang. Tabir pelindung mulai melemah dan pusaran angin ciptaan Kalinggi mampu menembusnya dan memporak porandakan apapun yang berada di sekelilingnya.
Situasi menjadi kacau balau. Jendral Chong juga tak mampu untuk membuat pasukanya untuk tidak panik.
Sementara itu Guru Chen bersama Kaisar Ciming segera menyerang Mhing Chun, agar konsentrasi para prajuritnya kembali seperti semula.
Mhing Chun terus berlari menjauh sambil melepaskan bola bola api dari tangannya dan memancing Guru Chen dan Kaisar Ci agar terus mengejarnya masuk ke dalam hutan.
Sementara Jendral Kwan dan Juga Jendral Chong kini berhadapan dengan Dewi Kalinggi. Para prajurit juga bertarung berjibaku dengan pasukan siluman. Sementara api semakin lama semakin besar dan menjalar ke tenda, hingga langit yang gelap menjadi terang benderang.
Jaka kelana terus menyuruh Elang Raksasa untuk mempercepat laju terbangnya, karena perasaanya semakin was was dengan keadaan pasukan kaisar Ci yang ia tinggalkan.
Dewi terus mengepakkan kedua sayapnya dengan cepat, akhirnya semenanjung Tibet sudah mulai terlihat. Perasaan Jaka kelana semakin tidak karuan ketika mendapati langit yang tepat berada di atas kemah pasukanya terang benderang berbeda dengan langit di sekelilingnya yang terang karena cahaya rembulan yang bersinar.
Pertempuran masih terus berlangsung dan di antara dua kubu sudah banyak makan korban jiwa.
Rupanya siluman juga kalah dengan ledakan meriam dan mereka juga mati terkena hantamanya.
Sementara itu Kalinggi sudah tidak mau bermain main dengan kedua lawanya. Dia segera membuat kedua Jendral masuk ke alam ilusi ciptaanya. Jendral Kwan dan Jendral Chong merasa kebingungan tiba tiba tubuhnya terhempas dan masuk kedalam ruangan yang sangat gelap dan tidak ada cahaya.
Puluhan semut yang ukuranya hampir separuh tinggi tubuhnya bermunculan hendak menerkam. Kedua Jendral berusaha menghindar dan mengeluarkan pedangnya untuk membunuh para semut raksasa.
Semakin banyak semut yang mati justru jumlah mereka juga seakan tak berkurang hingga membuat keduanya merasa kebingungan.
"Kwan ,kita berada di mana dan ini semut jenis apa. kenapa ukuran mereka besar sekali dan seperti tak ada habisnya!" teriak Jendral Chong sambil terus mengayun pedangnya.
__ADS_1
" Entahlah, yang penting kita harus terus melawan mereka. Jangan sampai kita berdua menjadi santapan. Geli rasanya kalau semut semut itu sampai menyentuh kulitku!" Balas Jendral Kwan.
Sementara itu Kalinggi berganti menyerang para prajurit setelah berhasil mengurung kedua pimpinannya masuk ke alam ilusi.