
Ming Chun segera menyuruh para prajuritnya menyusul Mung Yi. Tidak tanggung tanggung dua ribu pasukan telah berangkat dengan peralatan perang yang lengkap.
Ming Chun ingin memastikan bahwa tidak ada lagi antek antek dari prajurit Kaisar Ci yang ingin menggulingkan kekuasaanya.
Sementara itu Jendral Chong segera menghadap ke kaisar Ci dan melaporkan bahwa mereka telah berhasil menyelamatkan keluarga kaisar. Tentunya kaisar Ciming sangat gembira akan bertemu dengan saudaranya. Jendral Chong juga meminta maaf karena membuat keluarganya ketakutan karena telah menyembunyikan identitas para prajuritnya dengan menyamar layaknya perampok.
Kaisar Ciming segera keluar dan menemui keluarganya.
Ibu suri merasa dan istri kaisar merasa ketakutan ketika gembok yang di pasang di pintu kereta di hancurkan oleh beberapa orang dengan memakai cadar.
Namun setelah kerangkeng di buka ketakutan Ibu Suri dan Shin Sui yang merupakan istri Kaisar Ci berubah menjadi tangis bahagia.
Rupanya Kaisar Ciming telah berdiri di depan pintu kerangkeng menunggu ibu suri dan Shin Sui keluar dan turun dari kereta.
Mereka saling berpelukan untuk melepas kerja kerinduan. Bahkan Shin Sui sampai pingsan melihat suami yang telah di anggap mati justru masih seger bugar tidak kurang suatu apapun.
Dewi Kumalasari berjalan mendekati ibu Suri dan segera melepas penutup wajahnya. Tentu saja kebahagiaan Ibu Suri semakin bertambah , anak yang selama ini pergi telah kembali ke Tibet dan menemuinya di saat saat yang sangat genting di mana jiwa ibu suri goncang ketika harus menerima kenyataan bahwa Kaisar Ciming telah tiada dengan kondisi yang hangus terbakar.
Berbeda dengan Liming ia langsung bisa menebak siapa manusia bercadar Yang ada di hadapannya.
" Jendral Chong,segera buka cadarmu . Aku sudah menduga bahwa ini bukan gerombolan begundal biasa. Ternyata filingku benar adanya" ucap Liming yang langsung membungkukkan badan kepada sang Jendral.
Jendral Chong:" Aku tak menyangka kamu masih bisa mengenaliku tuan,padahal aku sudah menyamar sedemikian rupa!"
Kini keduanya juga saling berpelukan.
Suasana keharuan dan kebahagiaan berubah menjadi sedikit ketegangan ketika dua orang mata mata datang dan melaporkan kepada Kaisar bahwa ada iring iringan pasukan kerajaan yang jumlahnya besar sedang menuju ke arah benteng Karang Kekal.
Jendral Chong segera mendekat dan bertanya kepada mata mata tentang jumlah pasukan musuh yang sedang mengarah ke benteng.
__ADS_1
Sang mata mata pun menjelaskan bahwa jumlah mereka sangat banyak dan tidak lebih kurang dari dua ribu orang pasukan dengan senjata dan baju perang lengkap.
Jendral Chong segera menyiapkan pasukan dan akan menghadang mereka di luar benteng yang jaraknya kurang lebih sekitar lima ratus meter dari gerbang benteng. Supaya mereka tidak tahu tentang lokasi yang sebenarnya.
Hal itu juga bertujuan seandainya mereka tak mampu menghadang musuh pasukan masih bisa mundur menuju benteng hingga mereka akan memasuki jalan yang sudah di pasangi banyak jebakan.
Kali ini Jendral Chong mengumpulkan pasukan panah sekitar lima ratus orang dan di suruh berangkat lebih dulu untuk mencari lokasi yang sesuai agar lebih mudah membidik para musuh.
Pasukan itu di pimpin oleh Jaka Kelana dan Juga Dewi Kumalasari. Sementara Jendral Chong akan berangkat bersama seribu lima ratus pasukan, walaupun mereka tidak di lengkapi baju perang tapi tekad mereka akan melapisi tubuhnya hingga menjadi kuat.
Sementara Liming juga ingin ikut andil dalam peperangan namun Ciming tidak mengizinkan.
Liming di suruh beristirahat sampai kondisinya pulih setelah di kurung selama berbulan bulan di penjara.
Mung Yi bersama pasukanya terus menyusuri jejak kuda dan kereta yang nampak di sekitar jalan yang mengarah ke benteng Karang Kekal. Mung Yi juga memerintahkan agar pasukanya berhati hati mengingat hutanya cukup lebat dan pastinya musuhnya juga telah masang banyak jebakan.
Pasukan terus bergerak menaiki jalan yang sedikit menanjak. Tiba tiba saja terdengar suara berdesing di udara. Ratusan anak panah melaju dengan kencang.
Melihat pasukan panahnya tidak bisa maksimal Jaka segera menyuruh Dewi membuat serangan Dewa angin untuk membuat pertahanan musuh porak poranda.
Gelombang angin besar segera berhembus dengan membentuk lingkaran dengan gelombang tinggi menghantam pasukan Mung Yi.
Tubuh para prajurit terpental dan pertahanan mereka porak poranda. Ratusan anak panah kembali di lesatkan dan kali ini cukup efektif. Jeritan kesakitan saling bersahutan saat anak panah menembus kulit pasukan Mung Yi.
Mung Yi merasa murka dan kemudian melayang di atas kepala para prajuritnya.
" Jurus Guntur api neraka"
Api tiba tiba muncul di sertai suara keras layaknya petir yang membakar habis anak panah yang di lesatkan pasukan Jaka Kelana.
__ADS_1
Jaka menyuruh pasukanya mundur dan melanjutkan rencana berikutnya. Pasukan berlari dan membuat pasukan Mung Yi mengejarnya naik ke atas bukit.
Jendral Chong segera memberi aba aba agar beberapa orang prajuritnya segera melepaskan jebakanya di kala musuh sudah masuk di perangkap.
Suara teriakan kembali memekik yang berasal dari pasukan Mung Yi yang terkena jebakan puluhan bahkan ratusan orang tiba tiba masuk ke dalam lubang besar yang menganga yang di dalamnya telah menunggu bambu runcing yang siap menusuk sekaligus membunuh mereka.
Mung Yi menyuruh para prajuritnya memutar arah namun hal yang sama juga terjadi batang batang pohon besar tiba tiba melayang menghantam pasukanya dan membuat mereka tidak bernyawa.
Di tengah kebingunga musuh Jendral Chong segera menyuruh pasukanya maju dan menyerang. Peperangan tak dapat di hindarkan dan dalam hitungan menit ratusan nyawa telah melayang dari kedua belah pihak.
Ternyata dengan tekat baja dalam tubuh pasukan Jendral Chong mampu membuat mental prajuritnya kuat hingga mampu memukul mundur pasukan Mung Yi yang berseragam baju besi dan senjata lengkap.
Melihat kondisi yang di luar dugaan Mung Yi segera menyuruh pasukanya untuk mundur.
Jendral Chong berteriak dan menahan pasukanya ketika berusaha mengejar musuh.
Jendral Chong terlihat puas dengan hasil kemenangan yang kedua kalinya dan ia pun kembali membakar semangat pasukanya agar tidak bernyali ciut Dengan lawan yang terlihat lebih banyak dan lebih kuat dari diri kita.
Kini mereka pun kembali ke benteng dengan kegirangan dan bernyanyi gembira atas kemenangannya.
Kini Jendral Chong mengumpulkan seluruh pasukanya dan kembali berorasi membakar semangat seluruh pasukanya.
" Kita tidak boleh jumawa dan harus bersiap dengan perang terbuka, karena esuk pastilah akan datang prajurit musuh yang paling banyak dan juga sangat kuat. Mereka pasti akan berusaha untuk menghabisi kita semua. Makanya kita harus bersiap dengan apa yang akan terjadi.
Kaisar Ciming juga keluar dari tendanya dan ikut menyemangati semua pasukanya.
" Saudaraku terimakasih atas dukungan yang selalu di berikan kepadaku. Walaupun saat ini kehormatan kita sedang di injak injak oleh musuh tapi percayalah Tuhan akan selalu bersama orang orang yang mengedepankan kebenaran dan keadilan. Yakinlah bahwa perjuangan kita akan mampu untuk merebut kembali tanah air kita dan mampu mengalahkan para penjajah yang telah mengambil tanah air kita dengan paksa"
Mental para prajurit kembali membaja dan seakan menghilangkan sedikit ketakutan menjadi keberanian yang membara di setiap hati para pasukan.
__ADS_1
Sementara itu Ming Chun meluapkan kemarahanya melihat Mung Yi dan pasukanya kalah dari musuhnya yang di anggapnya hanya sebagai begundal kecil yang harusnya mampu di taklukan oleh dua ribu lebih pasukanya.