JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA

JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA
Berita Gembira


__ADS_3

Berita kembalinya Jaka Kelana dan Elang Raksasa kini menyebar kemana mana.


Hingga sampailah ke teliksandi kerajaan Wisma Kencana.


Dia pun segera melapor kepada sang raja Jaya Wijaya yang sedang bersama Dewi Ambarwati.


Tentu saja Dewi Ambarwati sangat antusias dan gembira mendengar kabar dari teliksandi.


Teliksandi juga berkata bahwa mereka kini berada di kadipaten Karang Ringin yang masih merupakan wilayah Karang Cendana.


Teliksandi juga kembali menimpali perkataanya bahwa Raja Jaka dan Ratu Dewi sudah banyak membantu terutama polemik yang terjadi di kadipaten Karang Ringin.


Tentunya hal itu membuat Raja Jaya Wijaya dan Ratu Ambarwati menjadi semakin bangga dan sekaligus bersyukur kalau benar benar anaknya masih hidup.


Permaisuri pun segera memerintahkan prajurit untuk menyiapkan pasukan dan ia akan memimpin langsung untuk menjemput kedua anak kesayanganya.


Namun rupanya Jaya Wijaya menolak.


" Tidak usah Dinda, pasti mereka memiliki alasan mengapa sampai saat ini belum kembali untuk menemui kita!"


Ambarwati pun nampak bersedih namun ia cepat merespon kata kata suaminya.


" Ia Kanda, mungkin di luar sana masih banyak angkara murka dan banyak rakyat yang sengsara jadi mereka lebih mementingkan kehidupan rakyatnya dari pada kepentingan pribadinya!"jawab permaisuri.


" Aku setuju anaku, kau memang wanita yang bijaksana!"


Rupanya Resi Somala mendengar percakapan Raja dan Ratu dan ikut menimpali.


Raja Wijaya segera menyuruh prajurit membuat woro woro bahwa Raja Jaka dan Ratu Dewi masih hidup.


Penduduk pun disuruh melepaskan karangan bunga yang di taruh di atas lukisan Jaka dan Dewi.


Raja juga mengumumkan akan membuat pesta rakyat sebagai ucapan sukur kepada Dewata, karena orang yang di anggap sudah tiada kini telah kembali.


Raja juga menyuruh juru tulis istana untuk membuat undangan yang akan di sebar ke setiap kerajaan dan kadipaten yang masih menjadi wilayah kekuasaan Karang Cendana ataupun Wisma kencana.


Sementara para pendekar aliran hitam seperti kalang kabut mendengar berita kembalinya Jaka dan Dewi, namun ada sebagian lagi yang sudah tak sabar menjajal kemampuan baru mereka untuk membalas sakit hatinya kepada Jaka dan Dewi atas kekalahanya tempo dulu.


Sementara itu di sebuah hutan dekat goa Wlirang terjadilah pertarungan sengit antara Dewi Kalinggi dan juga Lampir.

__ADS_1


Rupanya keduanya sedang adu tanding untuk menentukan siapa yang paling hebat dan pantas menjadi pemimpin terkuat di aliran hitam.


Nampak juga Kumambang serta Arya Wisapati yang ikut berkumpul dan banyak pendekar aliran hitam yang hadir di Goa Wlirang.


Lampir dan Kalinggi terus melancarkan seranganya. Keduanya juga sama sama memiliki ajian Pancasona dan Rawa Rontek.


Namun kelihatanya keduanya memiliki kekuatanya berimbang hingga para anggota yang menonton berseru untuk menghentikan pertarungan dan sama sama menjadi ketua aliran hitam.


Namun nampaknya Lampir tidak suka dengan keputusan itu dan memilih pergi.


Kaliinggi merasa sudah menang melihat lampir pergi.


Ia segera mengukuhkan kembali dirinya sebagai pemimpin aliran hitam baik di alam manusia atau pun alam jin.


Sementara itu kabar akan di senggelarakanya pesta di kerajaan Wisma Kencana telah menyebar ke berbagai wilayah.


Kalinggi juga sudah mengetahuinya hingga ia pun tentunya sangat merasa muak dan ingin mengacaukan acara tersebut.


Ia pun mengumpulkan para pendekar aliran hitam untuk menyusun rencana.


Sementara itu Jaka dan Dewi cukup kaget ketika ada beberapa prajurit utusan dari raja Jaya Wijaya yang memberikan undangan kepada Tirta selaku adipati Karang Ringin.


Tentunya ia juga merasa senang atas perayaan yang akan di lakukan ayahandanya.


Jaka dan Dewi pun segera pamit kepada Bibi Sekar Ayu dan juga Tirta beserta para penduduk untuk segera kembali ke Wisma Kencana.


Sementara itu Ratu Ambarwati terus saja di liputi kerinduan ingin segera berjumpa dengan kedua anaknya.


Ia pun diam diam meninggalkan istana untuk menyusul Jaka dan Dewi yang menurut teliksandi kerajaan, mereka berada di Karang Ringin.


Tak lupa Dewi Ambarwati menulis sepucuk surat sebelum ia pergi meninggalkan Wisma Kencana.


Sang Raja pun kaget tak kala bangun dan tidak menemukan istrinya berada di sampingnya.


Wajahnya berubah menjadi tegang setelah melihat sepucuk surat dari Sang Permaisuri yang pergi untuk menemui Jaka Kelana dan Dewi Kumalasari.


Raja Wijaya berlari dan menyuruh patih Rangga Abang membawa prajurit dan segera menyusul Dewi Ambarwati ke Kadipaten Karang Ringin.


Berangkatlah Patih Rangga Abang dengan di temani 50 prajurit.

__ADS_1


Sementara itu Dewi Ambarwati lebih memilih berkuda lewat jalan tengah hutan untuk mempersingkat Jarak dan waktu.


Tak di sangka Dewi Ambarwati justru melewati area hutan goa Wlirang yang menjadi markas Kalinggi dan antek anteknya.


Hingga anak buah Kalinggi curiga karena ada suara kuda yang melintas.


Mereka semula menyangka bahwa itu adalah kawan mereka yang baru saja pulang merampok di desa desa terdekat.


" Siapa kalian mengapa mengganggu perjalananku?" bentak Dewi Ambarwati.


Tentunya ucapan Ambarwati membuat para pendekar aliran hitam senang bukan kepalang setelah mendengar suara penunggang kuda yang mereka hadang adalah seorang wanita.


" Wah kebetulan kami sedang mencari kesenangan! Ayo segera kita tangkap lalu kita gilir beramai ramai!" teriak salah seorang pendekar hitam.


Tentunya Ambarwati merasa geram dan segera melompat dan mencabut pedangnya.


Perkelahian tak dapat terhindarkan Dewi Ambarwati di keroyok oleh sekitar sepuluh orang pendekar aliran hitam.


Namun karena mereka masih terbilang pendekar kroco hingga Amabarwati pun dapat segera mengalahkan mereka.


Mereka pun lari dan segera melapor kepada kumambang dan Arya Wisapati.


Merasa tempat itu cukup berbahaya Dewi Ambarwati segera memutar arah dan berniat melewati jalan desa.


Namun karena ia tidak hafal betul tentang kondisi hutan, Dewi pun kembali tersesat.


" Celaka aku hanya berputar putar di hutan ini,tidak ini bahaya pasti mereka akan membawa jumlah orang yang lebih banyak untuk menangkapaku, Celaka!" pikir Dewi Ambarwati.


Ia pun terus memacu kudanya berharap segera bisa keluar dari hutan tersebut dan segera sampai kedesa terdekat.


Rupanya Kumambang telah menyebar anak buahnya dan segera memberi tanda jika melihat sosok penunggang kuda yang telah membuat anak buahnya babak belur.


Tiba tiba Dewi Ambarwati mendengar ada orang bersiul seperti layaknya burung yang bertengger di atas pohon.


" Aduh celaka mereka menemukanku!" gumam Dewi Ambarwati sambil melompat dari kuda dan melompat menebaskan pedangnya dan tepat mengenai orang yang sudah mengintainya.


"Akkhhhgg"


Orang itu berteriak ketika pedang Dewi mengoyak tubuhnya, ia kemudian jatuh dengan bersimbah darah.

__ADS_1


Dewi Ambarwati kembali ke ats kuda dan segera memacu kudanya dengan cepat, namun rupanya di belakangnya terdengar suara banyak kuda yang berupaya mengejar dirinya.


" Celaka aku harus cepat keluar dari hutan ini" pikir Dewi sambil terus memukul kudanya.


__ADS_2